Saturday, August 25, 2012
Menulis
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
(Pramoedya Ananta Toer -- dalam "Anak Segala Bangsa")
Monday, November 23, 2009
DOA MOHON KUTUKAN

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya
dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri
dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru
ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia
hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu
jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hamba
Mumenjadi terang benderang karena keikhasan
jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu
jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya
jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku
jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan,
maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu
demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan
demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadaku
EMHA AINUN NADJIB
Puisi karangan Cak Nun ini dulu ngetop dibacakan para demonstran sesaat sebelum reformasi untuk mengutuk despotisme di masa itu. Gw gak pernah menyangka bahwa puisi ini ternyata harus bergema kembali di masa sekarang. Terutama saat kita menyimak berbagai pemberitaan akhir-akhir ini.
Hari ini, pemerintah resmi memblokir blogspot lewat berbagai ISP. Entah kapan matari akan bersinar di negeri ini... Tuhan, selamatkan kami!
Image from: http://silentwhisperss.wordpress.com/tag/anger-ruins-everything/
Sunday, March 02, 2008
O Blogger Where Are Thou?

So after months of pondering the options, I still have nothing concrete to offer. I do know that if I keep my blog, I want to keep it somewhat more of a place to discuss random thoughts and views than a personal journal. I moved back to my old digs at the personal stuff, such as it is but haven't found anything either. Anyway, later I find myself with Google (so far anyway- I tried about a bazillion combos) so I could find any ideas. I do comment on a few blogs that require you to have a blogger login, so I will probably stay up if for no other reason than that . But still, nothing's new under this blog. O my bloggy spirit, where are thou?
Truthfully, I don't feel like I have very interesting things to say at this point in my life, mainly because I don't have/take the time to think. I'm kind of prone to tunnel vision anyway, and being a full-time working slave has simply narrowed my focus even more. I hardly watch the news or keep up with current events and causes that I used to be passionate about have fallen by the wayside. I've appeased myself to some degree with the realization that many people in this condemned town have this problem, and that as we get older we will find time for other things again. Please, someone- tell me (even if you have to lie) that someday I will have a life...Well, speaking of boring, I think I'll stop here. Just wanted to post a "Hey I'm still here" note for anyone still hanging around.
Saturday, September 01, 2007
well..

From: Wulan's Story
Their words are only make believe
'cause even perfection bleeds
through crackled imagery
The terrifying feeling
when all good intentions fail
(Amandine, For All Marbles)
History always has its classic part, something considered as a benchmark. It might not be repeated in the same way though but the substance remains the same. We call it as a more humane way. Let’s say that in the so-called primitive era, people used to sacrifice the weak human being like baby or somebody’s daughter to worship invisible power, paying homage to a nowhere ancestors. In a more modern way, we might refer to what happened to Marie Antoinette ..well this might not be a compatible reference but we all remember her as a genuine spoiled brat ever existed. We seldom remember how she lost her life once her mother trapped her in an arranged marriage. It was a huge crisis and people needed someone to blame for what happened. She had become an evil icon, satanic version of human, an over-indulgent-woman who had an endless desire to please herself. The fact that it was her only way to escape from reality, as people around her felt that they owned her body, thought and life as a whole has been considered merely a drama, a sparkle of spice powder to bring some taste to a juicy story. Nobody has ever thought it as a point that mattered most. The day she was sent to guillotine, people clapped their hands. The day she was beheaded off was a symbolic celebration to end a collective misery of people.
So what’s the lesson of this?
I have learned since then that every difficult situation requires someone to blame and to point finger at. Everyone claims that they have been hurt. Too bad, they do not even bother to know that I also get hurt as much as they do. Someone asked me how I feel, if only I could express it verbally, I would tell out loud how I feel like having bruises all over my body, badly battered, feeling that the world has turned against me and shattered.
I know how it feels to be so dependent, indecisive not because I could not make up my mind but I lived under one’s control and property and homeless. I just never thought that my life could be so annoying for others. Well then people are manipulative. In order to feel right, they make others feel guilty. In order to feel good, they make others feel bad. It’s a primitive game yet an everlasting one. People sacrifice someone to make them look as if they were the better ones. I might owe much to people I have met and spent time with along my life, I just know that I will find a way to pay back my debt but not with my life. Another lesson is that we do not have to be bad to be considered bad and we do not have to be cruel to be considered cruel. People, again, happily put those stamps in our faces once we dare to refuse to be part of automaton conformity. Just wanna break free and disappear....
Tuesday, August 28, 2007
Kepala Tiga

Menjalani 2 x 24 jam pertama berkepala tiga, belum banyak hal baru yang gw rasakan. Kaki gw seperti masih terantai di masa lalu. Gw masih menghadapi masalah yang itu-itu juga. Well, ternyata benar, age is just number. Banyak hal yang gw rencanakan. Banyak idealisasi yang berusaha gw wujudkan, tetapi kayanya semua masih semu. Masih jauh banget rasanya dari sebuah dermaga tempat berlabuh dalam perjalanan mencari jati diri. Padahal sudah usia begini tua... Hahaha... It's a heck of a place to find yourself.
Sebenarnya gw sudah paham bahwa bagaimanapun bukan apa yang tersimpan di lapisan kognisi gw itu nggak ada artinya. Seperti kata Rachel Dawes di Batman Begins, "It's not who I am underneath, but what I do that defines me."
Jadi masalah besarnya adalah di diri gw sendiri. Gw harus mampu membangun something that will define me. Sudah nggak cukup cuma membangun pemahaman dan pemikiran, sekarang waktunya bertindak. Sementara rutinitas sudah mengikat kaki gw dan melahirkan keterbatasan baru. Gw sekarang harus berani mendobraknya. I cannot blame it on my youth lagi. I'm no longer twentysomething and I have to prove it.
Entah kenapa gw sangat menganggap besar perkara memasuki kepala 3 ini. Gw merasa bahwa gw sangat ketinggalan dari apa yang seharusnya. Sampai hari gini, gw masih krisis prestasi. Ada sesuatu yang jelas-jelas butuh perspektif baru dari dalam diri gw. Perspektif yang lebih condong ke action. Sesuatu yang akan membuat gw akan lebih ada. There must be some easier way for me to get my wings.
Saturday, August 25, 2007
The Flaming Cake

I would like to write something on the last couple hours of my 20s. Finally, here is the end of my youth and the dawn of a new era. Maturity, is it?
I am a poet only for a few moments. My tale will be over in a few moments. My laughter lasts only for a few moments. My youth will end in a few moments. I am a poet only for a few moments. Many poets came and went before me. Some left sighing. And some left singing, Their story only lasted a few moments. I too will only live a few moments. Tomorrow I will be taken from you, But for today, I am yours. I am a poet only for a few moments. Tomorrow new tunes will arrive, like freshly bloomed flowers to be plucked. There will be better storytellers than me, and better listeners than you. Tomorrow, someone might remember me... But why should anyone remember me? For my sake, why should this busy world waste its time? I am a poet only for a few moments...
When all the Friends were expecting Rachel's 30th birthday, everybody's trying to remember how they were turning 30 (somehow, Phoebe actually missed her 30th birthday, and she found out about it, a year later on her 31st birthday). Nevertheless, the reaction was all rejection inside each one of them. They contained with the feeling of unsafe, incompetent, immaturity, lack of achievement, the fear about what will happen, and identity crisis. End of the story, they all turned out to be just fine. Otherwise, the status of thirtysomething, has taught them many lesson and opened many doors.
Well, now I am in an indifferent position. The shadow of doubt about what will come next haunts my last couple hours of 20s and resulted in a mild nervous breakdown. Sometimes I hope that my 20s will last forever and I think age is a very high price to pay for maturity. And I admit that I'm not ready. Ooo God, nooooooo.... (I was imagining Joey, when I wrote this line).
Yes, I have lost much, endured much, sacrificed greatly and I cling to the memory of my sacrifices of all the things I have lost or left behind. They drag behind me like chains of my own making. They can have a terrible power over me, the power of grief, and loss, and of regret. Yes, I can let go of the people, places and things, but I have not let go of the pain. I not forgiven myself.
People said that the trick is to keep moving forward, to let go of the fear and the regret that slow us down and keep us from enjoying a journey that will be over too soon. Yes, there will be unexpected bends in the road, shocking surprises we didn't see coming... but that's really the point, don't you think? There's nothing I can do. It is something that I have to face it, whether I like it or not. Maybe, I can make a small notion on what have I gone through.
First, I'd like to tell today's youth that no matter where life takes you, big cities, small towns - I started being twenty at Jatinangor (a small campus city at the southwest of Sumedang) and ended it supposedly at Blitz Megaplex Grand Indonesia, at the very heart of Jakarta -, you'll inevitably come across small minds. People who think that they're better than you are. People who think that material things, or being pretty or popular automatically makes you a worth while human being. I'd like to tell today's youth that none of these things matter unless you have strength of character, integrity, sense of pride, and if you're lucky enough to have any of these things... don't ever sell them. Don't ever sell out. So when you meet a person for the first time, please don't judge them by their station on life, because, who knows, that person just might end up being your best friend.
Secondly, when you're a victim, that's everything. Stick with it out. At least until you solve your first. And after that, if you don't feel like King Kong on cocaine, then you can quit. But if you stay, with my right hand to God, you will never regret it.
Third, good things aren't always what they seem. Too much of anything, even love, is not always a good thing. When you were a kid, it was Christmas candy. You hid it from your parents and you ate it until you got sick. In college, it was the heavy combo of youth, tequila and well, maybe some forbidden ecstasy. You take as much of the good as you can get, because it doesn't come around nearly as often as it should. You will never imagine that it will lead you to something really... really bad.
Earlier this day, my mother called my cell phone. She tried to give me some strength after my sister told her about my mild nervous breakdown. Amazingly, she said,"If you're feeling frightened about what comes next... don't. Embrace the uncertainty. Allow it to lead you places. Be brave as it challenges you to exercise both your heart and your mind as you create your own path towards happiness. Don't waste time with regret. Spin wildly into your next action. Enjoy the present - each moment as it comes - because you'll never get another one quite like it. And if you should ever look up and find yourself lost, simply take a breath and start over. Retrace your steps and go back to the purest place in your heart, where your hope lives. You'll find your way again... You gotta embrace your inner freak. 'Cause the only thing you'll regret is denying who you really are."
Oh my sweet ma. Now, I hope that everything is gonna be just fine...
HAPPY BIRTHDAY TO ME
Tuesday, November 14, 2006
Jalan Menikung

Remember U2? Remember Stuck in A Moment? Remember my posting about "Mandeg"?
Tak seburuk dugaan gw, ternyata hari-hari itu bisa dilalui dengan mulus. Bahkan beberapa hari di antaranya adalah hari-hari terindah dalam hidup gw. Akhirnya setelah terus menerus bekerja keras mebanting tulang dari pagi sampai pagi lagi, gw berkesempatan menikmati cuti yang cukup untuk menarik nafas. Ternyata masa-masa cuti malah melahirkan segudang ide-ide baru yang sedang berlangsung upaya manifestasinya saat ini.
Well, life is funny and wierd. The late John Lennon said,"Life happens when you're busy making other plans." And then, somebody shot him. You know, life's funny that way. Once you let go of the wheel, you might end up right where you belong.
Tetapi tantangan dan godaan itu memang senantiasa hadir dalam hidup manusia, seperti juga pahit dan manis. Hidup gw pun ya seperti wajarnya hidup-hidup orang lain ternyata. Tak lebih dan tak kurang.
Dalam novelnya, Jalan Menikung, Umar Khayyam alias Pak Ageng (ini untuk membedakannya dengan Ummar Khayyam yang pujangga Timur Tengah itu) menceritakan sebuah keluarga yang dihadapkan pada serangkaian pilihan berat dalam melanjutkan eksistensinya. Novel ini sendiri adalah sequel dari masterpiece-nya Pak Ageng, Para Priyayi.
Hidup memang penuh pilihan. "Opto Ergo Sum - Aku memilih maka aku ada," kata Dee dalam Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Atau HJC Princen menyebutkan semua itu adalah, "A matter of choice."
Gw sekarang sedang di persimpangan jalan. Antara sepenggal cita-cita dan kesukaan atau balas budi dan pelajaran. Dua-duanya sama berat. Dua-duanya mempertaruhkan masa depan. Dua-duanya melibatkan hal-hal yang gw sukai dan gw cari. Dua-duanya berkaitan dengan orang-orang yang gw kagumi. Oooh bantu aku???
And on really romantic evenings of self, I go salsa dancing with my confusion
Saturday, August 26, 2006
Another Trip Around The Sun

Salah satu oleh-oleh yang berhasil gw dapatkan dalam dua pekan liburan ke Bali adalah sekeping pelajaran. Yaitu tentang Maut. Menarik sekali membandingkan pendekatan tentang maut yang diyakini masyarakat Bali dengan pendekatan dari belahan bumi lainnya, terutama dari perspektif samawi. Pendekatan yang mereka yakini tentu saja sangat dipengaruhi latar belakang filsafati Hindu yang berkembang di tempat itu. Apa yang gw tuliskan di sini hanyalah hasil penangkapan otak gw yang dangkal ini, dari keseluruhan kosmologi spiritual masyarakat Bali. Jadi tidaklah perlu dihakimi dengan macam-macam sematan.
Selama ini gw selalu membayangkan maut dalam sebuah narasi yang berakhir dengan tanda tanya, tanda seru atau tanda titik, namun tidak demikian di Bali. Bagaimana mungkin?
Di Bali, ternyata maut tidaklah semencekam gambaran umum di kalangan Samawi. Peristiwa maut digambarkan sebagai peristiwa yang banal. Kehadiran sang ajal seolah-olah hanya peristiwa peralihan belaka, sebuah tahapan jamak. Jauh dari narasi tentang akhirat, kiamat atau neraka. Tetapi tetap dekat dengan narasi pembalasan.
Dalam ajarah Hindu Bali, maut tak lebih dari suatu proses yang tidak menyentuh hakikat kedirian seseorang, yaitu Atma. Hanyalah sebuah proses mengubah jubah ragawi (menjelma) sebagai akibat perbuatan lampau yang disebut Karma. Peralihan raga ini adalah bagian dari suatu proses peralihan energi kosmis, di mana setiap unsur senantiasa terbawa mengikuti gerakan perubahan yang menyeluruh. Pada tahap ini Atma mengalami Samsara. Proses pembalasan atas karma tersebut di kehidupan baru. Proses ini akan terus menerus berulang. Manusia baru akan terlepas dari Samsara, bila mampu menyadari proses ini, lalu membenahi Karma-nya. Mengubah jalur energinya menuju tahap pelepasan atau moksa.
Seperti daun-daun yang berguguran ke muka bumi, lantas menjadi humus yang kemudian menyuburkan tanah. Seperti bibit yang terlepas dari bunga, lalu tumbuh menjadi tumbuhan baru.
Begitulah tentang maut. Jika maut saja hanya sebuah peralihan, maka apa artinya sebuah ulang tahun. Mungkin tepatnya hanya disebut sebagai penanda. Sebuah penanda atas berakhirnya sebuah perjalanan mengelilingi matahari. Sebuah penanda bahwa perjalanan baru telah dimulai.
Hari ini gw menuntaskan perjalanan yang ke-duapuluhsembilan kalinya mengelilingi matahari. Selanjutnya adalah hari-hari yang disebut Bos Arya sebagai the last 365 days of being twenty-something. But, it really is only another number...
I hope someday I can finish the whole journey, fulfill my karma and reach the eternity...
ANGELS
Robbie Williams
I sit and wait
does an angel contemplate my fate
and do they know
the places where we go
when we´re grey and old
´cos I´ve been told
that salvation lets their wings unfold
so when I’m lying in my bed
thoughts running through my head
and I feel that love is dead
I’m loving angels instead
and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead
when I’m feeling weak
and my pain walks down a one way street
I look above
and I know ill always be blessed with love
and as the feeling grows
she breathes flesh to my bones
and when love is dead
I’m loving angels instead
and through it all she offers me protection
a lot of love and affection
whether I’m right or wrong
and down the waterfall
wherever it may take me
I know that life wont break me
when I come to call she wont forsake me
I’m loving angels instead
Friday, August 04, 2006
Mandeg

Sedang tidak banyak yang bisa gw kerjakan. Akhir bulan lalu gw mengambil sebuah keputusan radikal. Entah bakal gw sesali atau nggak. Yang jelas keputusan itu mengubah orientasi dan pola hidup gw. Semua yang dulu ada rumusnya sekarang bergerak secara abstrak maju-mundur, naik-turun dalam dinamika yang tidak tertebak. Chaos!
Absurd? Mungkin. Kacau? Bisa jadi. Tidak apalah. Jika memang ini yang mesti dibayarkan untuk sebuah kejernihan dan kejelasan. It's just something that I have to do. Untuk memahami pelajaran-pelajaran hidup yang sudah singgah tapi tidak sempat termaknai karena hidup terlalu sibuk untuk berlari dan membudak pada peradaban kota. Kini gw ngelepas semua belenggu itu. Mungkin gw juga tengah memasung diri gw dalam belenggu-belenggu baru. Entahlah.
Telah berjalan sejenak kini. Gw mulai uring-uringan. Rasa sesal atas masa lalu yang kelam dan tidak menguntungkan pun hadir. Tapi untungnya semua datang sebagai pemahaman. Betapa gw sudah pernah begitu beruntung. Bagaimana hal-hal kecil yang kadang-kadang tidak bisa gw hargai ternyata bernilai penting.
Ah sudahlah. Yang penting ada untungnya. Bagaimanapun kan gw masih orang Indonesia juga. Yang selalu bisa melihat titik cerah dalam kepekatan kabut. Yang selalu bisa menemukan sisi baik dari sebuah cerita kelam.
Masalahnya sekarang hidup masih terjebak dalam kabut? Biarlah. Biarkan semua derita mendera dulu. Bukankah Roy Marten saja bisa menyimpulkan kalau hidup kadangkala butuh penghinaan dan penganiayaan agar kita bisa mendapat kepahaman.
Cuma sebuah hati yang senantiasa bersenandung: Semoga badai pasti berlalu!
PS. Sebuah quote dari film, "Waiting..." (2005) tanpa diduga-duga mewakili apa yang harus gw lalui sekarang, "So, when things in your life become stagnant - you know, you're no longer happy with what you're doing - then you figure out what's important to you. Then create your own showing game."
Stuck in The Moment
U2
I'm not afraid of anything in this world
There's nothing you can throw at me
That I haven't already heard
I'm just trying to find a decent melody
A song that I can sing in my own company
I never thought you were a fool
But darling, look at you
You gotta stand up straight, carry your own weight
These tears are going nowhere, baby
You've got to get yourself together
You've got stuck in a moment and you can't get out of
Don't say that later will be better
Now you're stuck in a moment and you can't get out of it
I will not forsake the colours that you bring
But the nights you filled with fireworks
They left you with nothing
I am still enchanted by the light you brought to me
I still listen through your ears
And through your eyes I can see
And you are such a fool to worry like you do
I know it's tough and you can never get enough
Of what you don't really need now, my oh my
You've got to get yourself together
You've got stuck in a moment and you can't get out of it
Oh love, look at you now
You've got yourself stuck in a moment and you can't get out of it
I was unconcious, half asleep
The water is warm till you discover how deep
I wasn't jumping, for me it was a fall
It's a long way down to nothing at all
You've got to get yourself together
You've got stuck in a moment and you can't get out of it
Don't say that later will be better
Now you're stuck in a moment and you can't get out of it
And if the night runs over
And if the day won't last
And if our way should falter
Along the stony pass
And if the night runs over
And if the day won't last
And if our way should falter
Along the stony pass
It's just a moment, this time will pass
Friday, March 31, 2006
Time To Say Goodbye

Everything that has a beginning has an end. Well, it's finally rolled around. Today is my last day with SemutApi Colony. Actually, this wasn't an easy decision, because of incredible team I met here and worked with. I am grateful for the great jobs I've had with SemutApi Colony.But after long hours of consideration, my decision is now final.
Well, I guess. Now, it’s time to say goodbye. I would like to apologize for everything I’ve done that disturb you. I also would like to thank everyone in SemutApi Colony, for great time that we’ve shared here. I'll miss working here and experiencing even more of what SemutApi Colony loved has to offer, but I look forward to beginning my new life.
Hopefully, I will get to know and respect my next career like I have in SemutApi Colony. I wish SemutApi Colony and PT. Merah Cipta Media every good fortune and I would like to thank you for having me as a part of your team. And I hope we can still be friends for years...
Wish me luck!!!
PS. Sing this song!
Now and Forever
Carole King
Now and forever, you are a part of me.
And the memory cuts like a knife.
Didn't we find the ecstasy, didn't we share the daylight.
When you walked into my life.
Now and forever, I'll remember.
All the promises still unbroken.
And think about all the words between us.
That never needed to be spoken.
We had a moment, just one moment.
That will last beyond a dream, beyond a lifetime.
We are the lucky ones.
Some people never get to do all we got to do.
Now and forever, I will always think of you.
Didn't we come together, didn't we live together.
Didn't we cry together.
Didn't we play together, didn't we love together.
And together we lit up the world.
I miss the tears, I miss the laughter.
I miss the day we met and all that followed after.
Sometimes I wish I could always be with you.
The way we used to do.
Now and forever, I will always think of you.
Now and forever, I will always be with you.
Wednesday, August 24, 2005
Shooting Star

Dalam kunjungan ke Bali 30 Juli - 1 Agustus yang lalu, gw sempatkan mampir ke de ja vu di malam pergantian bulan. Tempatnya begitu cozy dengan halaman yang menghadap ke pantai Kuta. Gw berangkat ke sana bareng Nita dan ditemani teman baru, seorang DJ asal Bali bernama Wanti.
Setelah meminum beberapa teguk cocktail, kami bersantai di halamannya menikmati malam penuh bintang, sayang tak ada bulan. Tak berapa lama duduk di halaman yang nyaman itu, kami mulai sedikit terapung. Saat itulah gw baru mulai mengamati bintang-bintang yang rasanya sangat jarang ditemui di langit Jakarta yang selalu tertutup polusi. Ketika sedang menikmati keberuntungan menikmati hamparan bintang yang membentang seluas mayapada itu, gw melihat setitik obyek terang bergerak cepat di langit. Gw terkejut dan otomatis berteriak,"Shooting star!! Shooting Star !!" Nita pun langsung menyabut dengan berteriak, "Make a wish!! Make a wish!!"
Sontak kami terdiam dan berusaha memanjatkan sebuah doa entah pada siapa. Namun ketika harus memanjatkan doa itu gw tertegun. Apa yang kini paling gw harapkan. Gw takut memanjatkan doa yang salah. Sesuatu yang bukan prioritas utama bagi gw. Namun ternyata menemukan prioritas dalam hidup bukanlah pekerjaan gampang yang bisa ditunggu sebuah bintang jatuh. Akhirnya bintang jatuh itu memudar dan tenggelam dalam kegelapan. Gw hanya bisa mengutuk dalam hati, "Damned, I missed the moment!"
Kenyataan itu benar-benar membuat gw bertanya-tanya selama beberapa hari. Ternyata gw tengah menjalani sebuah hidup tanpa tujuan. Tanpa sesuatu pun gw harapkan secara nyata. Hidup gw tengah berjalan acak saja tanpa arah. Apalah artinya sebuah hidup tanpa arah. Rasanya seperti celoteh Chairil Anwar, hidup hanya menanti kekalahan. Di tengah upaya menata kembali hidup gw seperti gw ceritain di beberapa posting sebelumnya, maka hal ini sebenarnya barang haram. Karena deep down inside, gw sadar sesungguhnya gw sangat butuh pertolongan.
Gw pun mulai menyusun prioritas yang akan gw ajukan jika gw mendapat kesempatan lagi untuk memohon sesuatu pada you know who. Butuh beberapa hari bermenung-menung untuk merumuskannya. Syukurlah, gw kemudian mampu menyusun my wish list itu. Tanpa sadar, gw pun acapkali mengulang my wish list itu menjadi my wish di berbagai kesempatan. Sebelum tidur, dalam jalan kaki menuju dan pulang kantor, di kendaraan, di tengah masa-masa suntuk bekerja. Rasa kehilangan moment di Bali itu memotivasi gw untuk berharap pada kekuatan di luar gw itu untuk menata chaos internal.
Minggu lalu 19-20 Agustus yang lalu, gw berkesempatan berangkat ke Bali lagi untuk datang ke rave party Vertigo Goes To Bali di Garuda Wisnu Kencana. Gw bareng Mety dan Mely-Boris Malam itu dalam kondisi mengapung total di bawah kaki patung Garuda, kembali gw melihat sebuah bintang jatuh. Namun kali ini gw hanya sendirian, jadi tak ada yang perlu diteriakan. Kali ini gw sudah punya my wish list untuk dipanjatkan.
It wasn't that I believe all those superstition's crap. It was just worth to try... It's good to re-arrange your life priorities, anyway... Hehehe...
When You Wish Upon A Star
Louis Armstrong
When you wish upon a star
Makes no difference who you are
Anything your heart desires
Will come to you
If your heart is in your dreams
No request is to extreme
When you wish upon a star
As dreamers do
Fate is kind
She brings to those who love
As sweet fullfillment of their secret drowns
Like a boat out of the blue
Fate steps in and see's you through
Moma when you wished upon a star
Your dreams come true
(instrumental break)
Fate is kind
She brings to those who love
As sweet fullfillment of their secret drowns
Like a boat out of the blue
Fate steps in and see's you through
Baby when you wish upon a star
Your dreams come true
When you wished upon a star
Makes no difference who you are
Your dreams come true
Thursday, June 02, 2005
JEMU
Susan Sontag
Sudah beberapa bulan ini gw mencanangkan niat untuk berbenah hidup. Seperti biasa pernah gw lalui. Hal-hal semacam ini gw mulai dengan wacana. Tanya sana-sini tentang hidup. Nonton film-film referensi yang tepat. Menyusun konsep perubahan yang harus gw lalui. Lantas mulai mengaplikasikannya. Namun, seperti biasa pula, menerapkan rancangan perubahan kepribadian itu tidak berjalan mulus bak Ksatria Baja Hitam berubah dari manusia biasa menjadi alter ego-nya.
Lucunya ada hal-hal yang secara sadar telah menjerat hidup gw terlalu dalam. Mengikatkan tali temali begitu rupa pada kaki gw sehingga gw tidak bisa melangkah bebas. Dari minggu ke minggu gw berusaha bergulat untuk lepas darinya. Tetapi ketika peluang itu datang, gw terjebak lagi exactly the same. Terjeblos ke lobang yang sama. Seperti keledai bodoh! Tak tertuliskan betapa jemunya gw menjalani lingkaran setan yang gw perbuat sendiri ini. Lantas gw cuma bisa menyalahkan hidup yang tidak adil.
Sekarang gw tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak banyak rencana yang bisa dijalankan, sebelum gw benar-benar menerapkan perubahan yang gw rencanakan itu pada diri gw. Misalnya mengurangi kebiasaan a dan b. Lantas mulai menabung. Detik ini dengan sisa-sisa kekuatan, gw hanya bisa berharap, semoga ada kekuatan lain yang membantu gw. Mengangkat gw dari lembah ini. Lalu gw menjalani sisanya dengan bersahaja.
Kesalahan jelas ada pada diri gw sendiri. Sekarang pertanyaannya sampai kapan gw akan tetap berkubang di sini, meratapi nasib dan melihat ke atas sambil menyesali diri kenapa tidak tercipta menjadi orang lain. Ah EwinK! Setiap orang punya masalahnya sendiri. Yang bisa dilakukan hanya menjalani kehidupan kamu dengan berhati-hati sesuai dengan kapasitas kamu. Jika kamu siap dan berani melakukannya. Maka niscaya semua akan berlalu baik-baik saja. Ewink, buka matamu! Bukankan sejak akhir masa remaja kamu sudah diberi tahu Ayu Utami bahwa hidup itu tidak adil. Yang harus dilakukan adalah melakukan pilihan-pilihan untuk mengatasinya. Kamu punya kelebihan lain yang bisa kamu manfaatkan, sehingga kamu harus juga punya cara kamu sendiri untuk berbahagia. Tidak perlu ikut cara orang atau jadi orang lain.
Vanity Fair, sebuah film baru yang akan mulai beredar minggu ini di Indonesia mengajarkan gw tentang banyak hal. Tentang cita-cita yang tak tercapai, tentang gairah berusaha, tentang kesalahan-kesalahan yang mungkin kita perbuat dalam hidup, tentang ups and downs. Tentang hidup! Film ini digarap Mira Nair, sineas India yang gw kagumi. Film ini dapat ponten 100 dari Roger Ebert di metacritics.com. Tak banyak teman gw yang suka film ini. "Nggak jelas poinnya," kata mereka. Cuma kisah perjalanan seorang social climber yang kebetulan suka berkesenian. Entah kenapa film ini seolah-olah mewakili gw banget pada saat ini. Dari film ini gw dapet wawasan bahwa pada akhirnya toh, kalo kita berjalan di jalur yang benar lantas berpasrah diri life will end up just fine. Untuk sementara gw harus menetapkan diri untuk tidak perlu mencita-citakan hidup sebagai orang lain. Semoga saja segala hal bisa berlangsung semudah di tulisan. Semoga kali ini gw bisa menetapkan niat gw. Bukankah sekarang gw memiliki motivasi untuk mengejarnya.
Semoga kali ini bisa gw buktikan...
Dengan wajah kuyu tertunduk lemas tanpa daya, monitor gw memunculkan kata-kata bijak yang dikutip mas Budiman Hakim dari milis CCI:
You will never be the person you can be, if pressure, tension, and discipline are taken out of your life.
(James G. Bilkey)
Friday, May 13, 2005
CERAI
Dalam pembicaraan gw dengan tulang gw yang bijak, gw mendapatkan kesimpulan bahwa hidup memang sebuah pergerakan. Dari titik A menuju titik B menuju titik C. Sudah galibnyalah dalam sebuah gerak perpindahan akan terjadi penemuan-penemuan baru dan kita harus kehilangan hal-hal yang lama. Kadang-kadang hal yang lama itu adalah sesuatu yang memang secara sengaja kita lepaskan, atau bisa juga kehilangan itu hanyalah konsekuensi dari pergerakan itu sendiri. Jangan pernah lupakan bahwa memutuskan tidak bergerak pun bukan berarti tanpa konsekuensi. Hubungan termasuk salah satu dari hal-hal yang dimaksud. Pada akhirnya tolak ukurnya mau tidak mau memang individual. Mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia atau mencapai eksistensi yang lebih aktual. Dalam hal ini akhirnya kehilangan-kehilangan itu akan mendapat bayaran yang setimpal. Mau tidak mau hal itu harus diterima.
Ketika berbicara tentang kelompok yang makin menjauh ini, mamiku yang cantik hanya berkata, "Jika kita akhirnya teruji sebagai sahabat sejati, maka we'll get over it. Mami sih yakin kita akan berhasil." Sungguh kata-kata yang menenangkan.
Semalam, setelah habis diterjang progressive trance spinned by DJ Boy George (anak 80-an itu), gw pulang sambil berpikir sambil sedikit melayang-layang. Gw lantas teringat kata-kata Sonny Yuliar seorang teman long... long... time ago... Dia pernah berkata bahwa pada dasarnya sesuatu yang tidak dipersatukan secara alami, maka sangat mungkin diceraikan atau dipisahkan. Bahkan yang secara alami dipersatukan pun, mungkin saja dipisahkan seperti anggota tubuh atau hubungan anak dan orang tua. Ini sesuai dengan doktrin tak ada yang abadi di dunia, kita harus siap untuk kehilangan. Tapi lantas mengapa 'penyatuan' itu pake pernah ada segala, kalau memang akhirnya mungkin berpisah?
Pikiran gw pun lantas melayang-layang membayangkan wajah-wajah yang pernah hadir, akrab, membekas di hati atau di kepala gw yang kini jejaknya hilang entah ke mana. Tahun-tahun berlalu ternyata semakin menambah album wajah-wajah yang hilang itu. Dari SD, SMP, SMU, kuliah, teman-teman main, teman-teman kerja teman-teman mabuk, teman-teman tidur dan teman-teman-teman-teman lainnya. Datang dan pergi. Berbekas namun hilang. Lantas untuk apa mereka hadir dalam hidup gw? Lalu menyisakan perih ketika gw sadar gw gak bersama mereka lagi.
Makin pagi ketika makin hang over akan alkohol dan kantuk yang menerjang, pikiran gw pun semakin terlayang-layang. Tiba-tiba gw sadar. Mereka mungkin pergi tetapi ada bagian dari mereka yang tetap mereka tinggalkan. Hubungan-hubungan itulah yang pada dasarnya menjadi substansi pembangun gw. Gw yang sakarang ini adalah resultan dari hubungan-hubungan sebelumnya itu. Hubungan yang melapiskan pelajaran demi pelajaran. Pelajaran yang kemudian akan mengantar gw menemukan pelajaran-pelajaran lain. Dan sebuah pelajaran tak pernah usang ataupun pupus selama kita sadar. Demikianlah lantas gw tertidur. Dalam tidur gw menyanyikan lagu Iwan Fals.
BELUM ADA JUDUL
Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Di gilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah . . . . . lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai sa'at kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara . . .
Di hati . . . . . .
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga sa'at kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat
Memikirkan tragedi ini, gw tiba-tiba jadi ingat sebuah famous line dalam film St. Elmo's Fire (1985) :
Kirby: I always thought we'd be friends forever.
Kevin: Yeah, well forever got a lot shorter all of a sudden.
Ya, sudahlah! (Ya ampun, ternyata film itu dah 20 tahun yang lalu yah...)
Monday, February 14, 2005
AND LIFE GOES ON...
Beberapa hari terakhir ini gw lewati dengan kemurungan. Gw menjuluki hari-hari terakhir ini sebagai the downfall. Tetapi semua sudah berakhir. Gw sudah membulatkan tekad bahwa hari ini adalah deadline-nya. Hari ini adalah hari kejatuhan yang penghabisan dan esok semua akan langsung berubah. Ewink Resurrection; everything will be counted adalah panji-panji yang akan gw kibarkan beberapa hari ke depan. Semoga semua akan berjalan dengan lancar dan mulus. Dan gw akan kembali berjaya, karena hidup akan terus berlangsung hingga saatnya tiba...
Dan mungkin bila nanti
Kita kan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggalmati
Seperti hari kemarin
Saat semua di sini...
(Mungkin Nanti, Peterpan)
Wednesday, February 09, 2005
FLY ME TO BANDUNG
Sayang di Bandung hanya sebentar saja, karena maspion. Tetapi setidaknya sekarang gw punya alasan baru untuk sering ke Bandung. Tetapi meskipun gw tidak mampu ke Bandung, ibarat kisah finding neverland, sayap-sayap imaji akan menerbangkan gw ke Bandung. Bukankah gw sukmolelono???
Tuesday, January 25, 2005
PATAH HATI

Dalam buku bagus banget yang berjudul The Curious Incident of the Dog in the Night-Time (Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran - KPG, 2004), Mark Haddon sang pengarangnya menceritakan seorang anak bernama Christoper Boone. Christopher ini mengidap penyakit bernama Sindrom Asperger, sejenis autisme. Para penderita penyakit ini adalah orang yang mahir komputer, Matematika, Astronomi dan Fisika tetapi kikuk berkomunikasi dan membenci metafor. Kalau pernah menonton Rain Man (Barry Levinson, 1988), kurang lebih digambarkan mirip karakter Raymond Babbitt yang memberikan Dustin Hoffman Piala Oscar ke-2-nya.
Kembali ke Christopher, salah satu kata yang dibencinya adalah Patah Hati. Dia berpikir bagaimana mungkin sebuah hati yang terdapat di dalam tubuh manusia bisa mengalami kejadian berupa patah dengan alasan bla... bla... bla...
Yah, intinya betapa enaknya menjadi seorang penderita sindrom asperger karena tidak percaya bahwa there's such thing as broke heart, maka dia tidak akan merasakan patah hati. Sayang berapa orang sih di dunia yang menderita sindrom ini. Pada tahun 1944 saja ketika penyakit ini pertama kali dikemukakan oleh Hans Asperger baru ditemukan 34 kasus. Sementara di sisi lain berapa banyak coba karya seni atau bahkan karya ilmiah yang lahir dari patah hati. Sudah tak terhitung jumlahnya.
Memang banyak sisi dari sebuah patah hati. Ada sisi kreatifnya, ada sisi hancurnya, ada sisi cinta dan kerinduan ada juga sisi dendam. Yang jelas sebuah patah hati ternyata bisa mengantar kita ke mana saja. Tetapi bagi seorang yang sedang patah hati, berbagai sisi itu bisa muncul, namun yang jelas patah hati itu tetap tidak enak. Perasaan terabaikan, ditinggalkan, tidak berarti dan dikhianati akan lebih mendominasi. Maka bersyukurlah para penderita sindrom asperger karena mereka tidak merasakannya.
Tapi pernyataan terakhir di atas bukan berarti doa agar bisa menderita sindrom asperger. Lebih condong kepada sikap positive thinking dalam segala kondisi. Jadi kalau kebetulan memiliki saudara atau kerabat atau keluarga yang menderita sindrom ini, yah lihat juga sisi positifnya lah. Setidaknya dia tidak akan pernah patah hati.
In The Wee Small Hours of The Morning
Composed by Hillard Mann, Sung by Jamie Cullum
in the wee small hours of the morning
while the whole wide world is fast alseep
you lie awake thinking of the girl
never even think of counting sheep
while the whole wide world has learned it's lesson
she'd be yours if only she would call
in the wee small hours of the morning
is the time i miss her most of all
BETAPA...
Dan gw, bak manusia pra sejarah melaluinya tanpa tercatat. Maafkan daku... Maafkan daku...
Apa daya teknologi mengembang, tangan tak sampai. Kali ini gw coba untuk posting lagi. Semoga berhasil dan jika berhasil, semoga keintiman ini akan berlanjut kembali...
Monday, March 08, 2004
KARMA
Waktu gw ikut yoga, Didi Jyotipraba selalu mengajarkan. Apa pun yang kita lakukan akan kita dapatkan bayaran atau ganjarannya pada kehidupan selanjutnya. Ganjaran itu namanya karma. Hal ini tentu saja karena Didi mempercayai konsep next life. Tentu saja, gw juga percaya itu, terutama setelah pengajaran Didi yang begitu membekas.
Tapi ternyata kian gw temukan bahwa bayaran itu tidak selalu datang di kehidupan yang akan datang, Didi.
Semakin lama gw sadari, kadang-kadang bayaran itu selalu datang, agar selalu jadi pelajaran bagi kita dalam satu masa kehidupan ini. Berbagai aspek baik dan buruk terjadi dalam hidup sebagai bayaran dari apa yang kita lakukan pada kehidupan saat ini. Mungkin justru itu artinya hidup. Bagaimana cara kita terus menerus membayar keburukan yang kita lakukan, sehingga semua impas dan kita tinggal menerima ganjaran atas perilaku baik kita.
Rantai keburukan itu tidak akan pernah berakhir, sebelum berhasil kita tebus dengan pelajaran yang membuat kita tidak akan pernah berbuat keburukan itu lagi. Mungkin rantai kebaikan juga bisa putus, kalau suatu waktu kebaikan itu kita putus sendiri juga dengan kejahatan kita. Semoga hal kedua ini selalu dijauhkan dari kita.
Akhirnya soal dosa dan pahala mentok di sini. Akhirnya lebih penting menyadari bahwa apapun hal buruk yang kita lakukan akan segera kita bayar. Maka bayarlah setunai mungkin. Petiklah pelajaran sebanyak mungkin. Karena seperti kata Celine Dion,"It's all coming back to me..."
Ngomong-ngomong gw jadi pingin nonton film Hukum Karma yang diperankan Marissa Haque waktu masih muda banget. Dalem gak ya maksud Hukum Karma di film itu? Ada yang udah pernah nonton?
Kembali soal yoga, sebenarnya sejak tinggal di Jakarta gw udah lama kehilangan kontak dengan kelompok yoga Ananda Marga ini. Tapi beberapa hari yang lalu gw search ternyata ada kontaknya di internet. Mungkin ada yang tertarik, bisa coba klik ke sini:
Persatuan Ananda Marga Indonesia
Kalo gw sih rekomen banget deh, karena waktu gw masih aktif hasilnya positif banget. Kalo gak jauh dan dah berhasil mengikis rasa malas ini, kali gw akan ikut dr awal lagi.
Tuesday, December 23, 2003
CANDU
Addict berasal dari kata dalam bahasa latin addictus, sebuah bentuk past participle of addicere to favor. Mulai umum digunakan sekitar tahun 1534. Arti resminya adalah: to devote or surrender (oneself) to something habitually or obsessively . Something disini bisa mengobyek pada segala hal. Jelas bisa narkoba (seperti yang sering digembar-gemborkan beberapa tahun terakhir), bisa jabatan, bisa pekerjaan, bisa gelar, bisa pengetahuan. Bahkan kalau Karl Marx menyebut agama sebagai salah satu obyek kecanduan. "Religion as Opium of the People", kata Marx.
Untuk hal ini perlu gw jelaskan pemahaman yang gw terima atas sabda Marx itu. Menurut Marx, agama adalah sebuah ekspresi dari realitas material dan economic injustice. Dengan demikian, problem dalam agama adalah sepenuhnya problem masyarakat. Agama bukan lah penyakit, tapi lebih merupakan sebuah symptom. It is used by oppressors to make people feel better about the distress they experience due to being poor and exploited. Ini lah sebenarnya asal usul komentarnya bahwa religion is the "opium of the masses" - tapi seperti kita lihat sekarang, pemikirannya jauh lebih kompleks dari pada commonly portrayed.
Sekarang kita bicara soal yang gampang-gampang saja, Drug Addiction. Menurut pengalaman gw, kalau lagi on, orang jadi mudah berhalusinasi. Ketika itu pula terjadi ekstensifikasi dari realitas yang ada. Kekacauan sense of everything. Emosi kita lebih ter-magnified, dll. Gak heran dalam film nasional yang tipikal, seperti Neina di Biarkan Bintang Menari, cowok biasa lebih mudah memperkosa ceweknya kalau sedang mabuk. Lhah kalo itu sih mabuk? Kalau nyandu khan beda lagi...Mencandu itu sendiri kan terjadi ketika kita tidak mampu lagi menolak dorongan untuk mengkonsumsi drugs. Kalau dimasukkan dalam kerangka definitif diatas.We devote, we surrender to drugs habitually, or obsessively!. Kalau sudah nyandu, kita sudah gak bisa lagi dibilangin. Ini salah, itu salah, ini benar, itu benar semua sudah di luar nalar kita. Pokoknya obyek kecanduan itu harus kita dapatkan. Untuk Drugs Addiction, eksesnya banyak. Berbagai kriminalitas yang dimuat Buser, dimulai dari drugs. Kita akan melakukan segala hal untuk memenuhi kebutuhan kita akan candu itu.
Salah sendiri, siapa suruh pakai narkoba? Sendiri suka sendiri rasa eoeee sayang...
Tapi apa cuma drugs yang kecanduannya merugikan. Tentu tidak. Kecanduan pada nature-nya adalah tindakan yang berlebih-lebihan atau melebihi takaran. Kecanduan alkohol jelas merugikan juga (malah ada istilah khusus alcoholic, buat para pecandu alkohol). Walaupun statusnya dilegalkan pemerintah, tapi tetap saja benda yang memabukkan. Begitu juga kecanduan terhadap jabatan, terhadap pekerjaan, terhadap gelar, terhadap agama. Contohnya kecanduan terhadap agama, akhirnya membabi buta, menyalahkan siapa saja yang berbeda, tanpa disadari telah menjadi Tuhan atas Tuhan. Yah, itu lah ekstensifikasi realitas tadi. Bahkan bookaholic pun ada efek negatifnya. Jadi kuper, lupa waktu dan yang jelas bikin kaca mata tambah tebel dan tambah mahal.
Khusus untuk drugs, dikenal juga istilah Functional Drugs Addict. Istilah ini merujuk orang yang menghasilkan karya kreatif ketika dia sedang menggunakan drugs. Dia seolah-olah jadi lebih kreatif ketika sedang menggunakan drugs. Kalau di party , ketika menggunakan alkohol atau drugs, kayanya lebih pede kalau ngedeketin cewe. Apa ini berarti drugs ada sisi baiknya juga? Ya, bisa aja sih, seperti banyak hal lain juga yang ada sisi baiknya. Tapi masalahnya yang harus kita pikirkan ketika sedang sadar adalah apakah benar bahwa penggunaan drugs itu menstimulasi kreativitas? Apa sebenarnya hanya kita saja yang menciptakan circumstances itu? Kita seolah-olah tidak mampu mencapai puncak prestasi tanpa drugs, padahal itu karena kita sudah tergantung saja sama obat. Coba kalau dia menciptakan drug free circumstances , mungkin saja dia bisa berkarya sebaik ketika on. Selain itu, perlu juga dihitung apa cost-nya sepadan dengan hasilnya?
Anyway, tujuan gw nulis ini sebenernya bukan untuk ikut-ikutan ngelarang pake drugs. Silakan aja sih, kalau memang itu pilihan sendiri dan siap ditanggung konsekuensinya sendiri. Point gw sendiri sebenarnya justru untuk lebih menunjukan bahwa sebenarnya kepada apa pun kecanduan itu punya efek merugikan. Jadi tidak jauh berbeda antara para pecandu drugs dengan pecandu kursi di parlemen. Sama-sama punya efek negatif pada publik. Tapi yah gak pa-pa juga selama emang itu pilihan sadarnya sendiri dan siap menganggung konsekuensinya sendiri.
Gw sih asik-asik aja lagi....
Monday, December 15, 2003
YUDISTIRA
Setelah seluruh proses transisi kekuasaan berlangsung dengan mulus tanpa darah setetes pun, berangkatlah Pandawa Lima plus Drupadi ke puncak Mahameru. Di tengah jalan mereka bertemu seekor anjing kurap yang mengikuti mereka. Mereka tak keberatan, lalu melanjutkan perjalanan bersama si anjing.
Beratnya perjalanan ternyata mengorbankan Pandawa satu per satu. Dimulai dari Drupadi yang tidak kuat menanggung bebannya, dia pun terjatuh lalu tewas seketika. Selanjutnya berturut-turut tumbang Sadewa, Nakula, Arjuna lalu Bima. Tinggallah seorang Yudistira ditemani seekor anjing kurap melanjutkan perjalanan. Sampai di puncak ternyata Yudistira sudah di tunggu oleh se- Dewa (ayo apa satuannya untuk Dewa?), Betara zumthing lah namanya. Sementara itu si anjing pun menjelma menjadi se- Dewa lainnya yang namaya juga Betara zumthing juga deh. Kedua Betara itu lalu menuntun Yudistira untuk perjalaan selanjutnya yakni moksa dan memasuki nirwana, tanpa proses kematian.
Kisah pun dipersingkat hinga Yudistira kini sudah sampai di Nirwana. Alangkah terkejutnya Yudistira ketika menyaksikan nirwana ternyata berisi para Kurawa yang sedang bersantai memuaskan hawa nafsu, ditemani bidadari-bidadari cantik luar biasa yang senantiasa perawan. Setelah tour menyakitkan ke nirwana, Yudistira pun dibawa ke neraka. Alangkah terkejutnya lagi Yudistira, karena isi neraka ternyata seluruh keturunan Kunti yang nota bene adalah orang-orang baik banget. Ada Karna, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Drupadi, Gatot Kaca, Abimayu dkk. Mereka semua rotten in hell. Yudistira disuruh memilih, ke mana ia hendak bergabung. Setelah perjalanan yang begitu jauh dan penuh pengorbanan, akhirnya Yudistira memilih bergabung di neraka, bersama saudara-saudaranya. 30 hari kemudian kalo gak salah, mereka diberi tahu bahwa semua neraka dan nirwana yang mereka hadapi adalah semu. Itu hanya untuk menguji mereka saja. Mereka pun ditukar dengan Kurawa. Pandawa mengecap nikmatnya nirwana untuk selama-lamanya, sedangkan Kurawa terlempan ke eternal hell juga. Nah, coba in the 1st place Yudistira memilih bergabung di Nirwana, maka dia pasti ikut membusuk di neraka bersama Kurawa. Jadi inget EwinK, semua ha gak selalu seperti kelihatannya, jadi pasrah aja dan ikuti pilihan hatimu sendiri!!