Showing posts with label Politics. Show all posts
Showing posts with label Politics. Show all posts

Friday, September 30, 2016

Berdialog dengan Peradaban Lain di NHK World



Di akhir dekade 1990-an, saya sempat sangat tertarik dengan pemikiran Presiden dan Politisi Reformis Iran MohammadKhatami, Dialogue Among Civilizations atau Dialog AntarPeradaban. Saking tertariknya saya dengan pemikiran Khatami ini, saya menjadikannya topik skripsi. Rupanya saya bukan satu-satunya orang yang begitu terpukau dengan pemikiran ini, PBB bahkan mendeklarasikan tahun 2001 sebagai the United Nations' Year of Dialogue Among Civilizations atas usulan Khatami.

Tak sekadar konsepsi, pemikiran Khatami yang sebenarnya respons atas teori Politik Internasional Clash of Cizilization yang dikembangkan Samuel P. Huntington pasca Perang Dingin ini sudah memiliki berbagai teori dan langkah operatif. Dialog antar kebudayaan dan peradaban ini memang sejak awal menghadapi berbagai pertanyaan teoritis dan praktis. Pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai peradaban dan kebudayaan dan berbagai upaya intelektual dan ilmiah untuk menjawabnya bukanlah tindakan sia-sia dan menjadi warisan sangat berharga bagi keberlangsungan umat manusia, khususnya memasuki milenium ketiga, saat itu.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di antaranya seperti: What is diversity? What can people do to open the lines of communication and redefine the meaning of diversity? How can we better understand diversity? What is the overall perception of diversity? Kemampuan Khatami berdiplomasi berhasil mendorong banyak negara untuk mulai mempertanyakan hal ini dan menyusun jalan, serta kontribusi yang bisa mereka berikan pada dialog akbar ini.

Khatami sendiri mengungkap,"Kita tidak bisa mengajak masyarakat dan pemerintah untuk beralih pada paradigma yang mengajurkan dialog antar kebudayaan dan peradaban ini tanpa benar-benar belajar dari sejarah, tanpa secara menyeluruh menyelidiki alasan di balik bencana utama dunia di abad ke-20 dan dampaknya hingga saat ini, tanpa dicemari penilaian terhadap paradigma dominan yang didasarkan pada dialog kekuasaan dan glorifikasinya". Dengan beraninya, Khatami sebagai Presiden Republik Islam Iran mengakui kekagumannya pada Peradaban Barat yang tumbuh di Amerika Serikat, padahal Iran dan Amerika Serikat sudah menjadi musuh bebuyutan sejak Revolusi Islam Iran di tahun 1979.

Bagi Khatami, dialog antar peradaban dilihat dari perspektif etis, faktanya merupakan sebuah undangan untuk mencampakan keinginan berkuasa atas peradaban lain. Dalam hal ini, hasil dari dialog tersebut adalah empati dan kepedulian, bahkan belas kasih. Jika zaman itu politik internasional masih didominasi negara sebagai aktornya, Khatami sudah mengusulkan bahwa aktor dalam dialog antar peradaban ini adalah para pemikir, pemimpin, seniman, anak-anak muda dan intelektual yang menjadi perwakilan sejati setiap kebudayaan dan peradaban itu sendiri.

Kini hampir dua puluh tahun kemudian, di era digital ini, kita bisa menyaksikan ide-ide Khatami ini semakin aktual dan menjadi kenormalan baru yang kekinian. Didorong oleh teknologi digital yang memudarkan batas-batas antar negara, kini kita bisa melihat dialog itu berlangsung masif dalam bentuk trending topics dan bentuk-bentuk lainnya yang mewarnai kehidupan sehari-hari kita.

NHK World, Sang Agen Sejati Dialog Antar Peradaban
Awal minggu ini, seorang kawan mengajak saya berkunjung ke POP UP booth dan pameran Domo-kun yang diadakan oleh NHK World channel yang diadakan di Kota Kasablanka. Kebetulan di pameran yang mengesankan ini, kami sempat berbincang-bincang dengan perwakilan NHK World mengenai program-program di NHK World yang ternyata bisa diakses dengan mudah di Indonesia.

Memahami NHK World lebih jauh mendorong saya mengapresiasi kehadiran mereka sebagai agen sejati dialog antar peradaban. Hal ini bahkan tercantum sebagai salah satu misi NHK World: To foster mutual understanding between Japan and other countries and promote friendship and cultural exchange. Program NHK WORLD ini mencakup berbagai kategori, di antaranya berita politik dan ekonomi, budaya dan gaya hidup masyarakat Jepang, hingga program belajar Bahasa Jepang disiarkan ke 150 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. There’s shows about pretty much everything from Kabuki to robotics.

NHK World Newsline yang ditayangkan oleh NHK World adalah salah satu program berita yang paling banyak ditonton di muka bumi. Dengan standard pemberitaan, salah satu yang terbaik di dunia, NHK World tumbuh menjadi sumber informasi yang tepercaya dan dapat diandalkan, serta mengangkat perspektif unik Jepang dan Asia pada umumnya, seperti tagline NHK World sendiri "Gateway to Japan and the rest of Asia".

Fokus lain NHK WORLD adalah memberikan informasi mengenai pariwisata di Jepang, seperti dalam sebuah tayangan yang berjudul “Journeys in Japan”, tayangan ini menarik karena menampilkan wartawan-wartawan dari luar negeri untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di Jepang dari sudut pandang wisatawan asing pada saat bepergian ke Jepang. Lewat acara ini, kita bisa memahami bagaimana mudahnya pengajuan visa kunjungan ke Jepang dan juga semakin banyaknya fasilitas publik bagi wisatawan Muslim.

Salah satu favorit saya juga adalah acara berjudul "Asia Insight". Potret secara mendalam tentang Asia hari ini, meliputi dinamismenya sebagai pusat pertumbuhan serta berbagai tradisi yang terpengaruh kemajuan globalisasi. Lalu ada pula "J-Trip Plan", sebuah travel show yang menawarkan informasi tempat wisata, atraksi wisata dan how to experience Japan, like an expert. Seru banget deh!

Bosan dengan yang terlalu serius, bisa coba tonton J Melo, which is definitely the go-to program for j-pop and j-rock. Lalu, coba juga tonton Kawaii International, for anything and everything Kawaii.

Mengenal NHK World ternyata memanjakan berbagai fantasi saya tentang Jepang dan mendekatkan mereka dengan kita. Untuk menontonnya pun ternyata sangat mudah. Di negeri kita, NHK World bisa ditonton melalui tv kabel seperti Indovision, Okevision, Top TV, BIG, First Media, Biznet Home, My Republic, Transvision, XUM dan DensTV, bahkan bisa juga ditonton di Web dan smart phone app! Website NHK World sendiri tersedia pula dalam Bahasa Indonesia.

NHK World benar-benar menjadikan Dialog among Civilizations sesuatu yang mudah dan menyenangkan dilakukan. Rencananya, NHK World masih akan hadir di  Garuda Indonesia Travel Fair pada 7-9 Oktober 2016 yang akan datang. Check them out!

Tuesday, July 31, 2012

“Sensitivitas dan Inisiatif Pemimpin Negara Melaksanakan Aturan HAM Belum Maksimal.”


Wawancara dengan Usman Hamid pada 2009 
Perjuangan yang dilakukan oleh mendiang Munir Said Thalib, mungkin telah berhenti pada 7 September 2004, ketika racun arsenik telah menghentikan detak jantungnya. Namun perjuangan belum selesai, ketika itulah Usman Hamid tampil ke muka dan meneruskan perjuangan Kontras untuk menegakkan HAM di Indonesia.
Baru-baru ini Anda menolak sebuah penghargaan karena sebuah iklan yang mereka tayangkan di televisi, padahal penghargaan itu kan artinya pengakuan terhadap berbagai upaya yang Anda lakukan?
Entahlah. Waktu itu, spontan saja saya menolaknya. Mungkin anda benar soal iklan itu. Penghargaan memang bisa berarti pengakuan. Tapi pengakuan yang sejati idealnya menuju pada konsistensi satu nilai, agar tidak hipokrit.
Begini, iklan partai tersebut di televisi itu adalah iklan politik. Ia menempati bidang kontestasi yang mempertemukannya dengan kelompok atau partai lain. Nah, setiap kelompok atau partai memiliki klaim atas tradisi dan pendasarannya sendiri. Tradisi ini harus dihormati karena merupakan bagian dari kekhasan serta identitas perjuangan setiap partai atau kelompok. Dalam konteks kontestasi, iklan itu menjadi ofensif karena pengambilan identitas atau tradisi yang lain selalu diartikan sebagai taktik untuk mengurangi yang lain.
Kedua, iklan itu menempatkan Soeharto sebagai pahlawan dan sama dengan pahlawan atau tokoh bangsa seperti Muhammad Natsir, KH Ahmad Dahlan serta KH Hasyim Asy'ari. Tokoh-tokoh ini amat saya kagumi karena integritas pribadi, keberanian dan pengorbanannya menentang kejahatan dan membela kaum yang lemah. Hingga kini belum ada penggantinya.
Sedangkan Soeharto berbeda, akhir hayatnya berstatus tersangka korupsi. Tak ada amnesti atau abolisi dari Presiden SBY. Kasus hukumnya tak dideponir Jaksa Agung. Nama Soeharto pun berada di peringkat tertinggi sebagai pemimpin terkorup di dunia. Kasus pidananya berhenti bukan karena tak ada bukti, tapi lebih karena kesehatannya. Itulah mengapa Kejaksaan lalu menggugat harta kekayaan yayasan Soeharto karena dianggap hasil korupsi. Nah, Partai ini selalu mengklaim sebagai partai anti korupsi. Lalu, iklan itu mau memberi pengakuan apa?
Kalau mereka mengakui aktivitas Anda, bukankah berarti mereka menerima prinsip-prinsip Anda juga?
Benar. Semakin banyak orang, apalagi partai menerima prinsip-prinsip HAM akan membuat HAM menjadi semakin universal dan perjuangannya menjadi lebih baik. Nah, sayangnya, penegasan prinsip ini tak jelas. Kalau dilihat dari penjelasan Sekjennya, iklan itu adalah ajakan rekonsiliasi. Pernyataan ini membuat prinsip itu kian tak jelas. Siapa yang mau direkonsiliasi? Apa yang direkonsiliasikan?
Sebagai pemimpin, Soeharto mundur dari jabatannya saat rakyat susah karena sembako, utang luar negeri dan krisis moneter 1997/98. Bagi saya, bukan pemimpin jika mundur begitu saja, apalagi jika dituduh KKN. Pemimpin harus berani bertanggungjawab. KKN itu bukan perkara politik. KKN adalah sebuah kejahatan atau tindak pidana. Pelakunya harus dihukum. Hasil korupsinya harus dikembalikan pada negara dan dibagi pada yang miskin, yang membutuhkan.
Itulah mengapa ada TAP MPR XI/1998 yang menegaskan bahwa Negara wajib mengusut praktik KKN Soeharto dan kroni-kroninya. Inilah amanah reformasi yang harus kita hormati. Itu baru satu. Belum lagi jika kita bicara pelanggaran HAM seperti di Aceh.
Prinsip saya, negara hukum (rechtstaat) dan penghormatan martabat manusia. Untuk apa? Agar ada keadilan. Tanpa menghormati nilai ini, maka itu bukan rekonsiliasi. Rekonsiliasi elite tak akan banyak membawa perubahan, kecuali sekadar pencitraan menjelang Pemilu 2009.
Apa mungkin Anda takut/enggan dijadikan komoditas politik salah satu kubu menjelang Pemilu?
Saya kira pertimbangan waktu itu jauh melampaui sekadar kekhawatiran dijadikan komoditas politik. Seperti telah saya terangkan sebelumnya.
Mengapa Anda berpikir bahwa menerima penghargaan ini tidak ada manfaatnya untuk perjuangan Anda?
Saya tidak tahu. Mungkin kalau pun ada manfaat, saya merasa lebih banyak mudharatnya...(haha) Iklan partai itu itu adalah iklan politik elektoral, bukan perjuangan politik hak asasi manusia. Elektoral karena iklan dibuat untuk membangun pencitraan menjelang Pemilu 2009. Langkah ini prematur karena kontes Pemilu belum mulai. Iklan itu terbuai oleh asumsi yang lemah bahwa orang rindu akan Soeharto dan orang-orang ini bisa menjadi pemilih potensial. Padahal, masyarakat kita punya rasionalitas. Partai tak akan banyak berkembang jika cuma mengandalkan simbol figur tertentu. Partai harus mulai mengedepankan nilai, platform, manifesto atau ideologi. Kesetiaan pada nilai itulah yang dilihat pemilih.
Di masa Orde Baru, kita sering mendengar catatan pelanggaran HAM diumumkan setiap tahunnya, tetapi pasca reformasi justru tidak lagi luas pemberitaan mengenai ini, apakah semuanya memang sudah baik-baik saja?
Tentu tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Lihat saja begitu banyak masalah hak asasi manusia yang dikabarkan oleh media massa. Distribusi keadilan tak merata. Petani kesulitan mengakses tanah, anak-anak fakir miskin terlantar dan putus sekolah, diskriminasi perempuan, protes upah buruh berakhir dengan PHK sampai lumpur Lapindo. Meskipun begitu, saya tetap mensyukuri keadaan sekarang, daripada yang dulu. Kita punya kebebasan politik untuk memperjuangkan rakyat. Kebebasan sangat penting. Tanpa kebebasan, sulit mencapai hak-hak lainnya. Kekuasaan Negara tak lagi terpusat di tangan satu orang. Aksesibilitas politik lebih terbuka. Penggunaan kekerasan jauh berkurang. Kalopun masih ada represi, relatif terkontrol.
Dulu, yang namanya bunyi letusan senjata hampir tiap hari di Aceh. Tapi sekarang, berubah. Konflik bersenjata berakhir. Kehidupan mulai normal. Kekerasan memang tak hilang, tapi suasananya jauh lebih aman. Nah, pemerintah juga perlu mikirin gimana supaya perundingan damai Aceh dibawa ke Papua. Wilayah ini kaya sekali, tapi saudara kita di sana banyak yang hidup susah dan tak mendapat apa yang diharapkannya. Ini yang harus kita pikirin, bukan terus memenjarakan orang Papua karena pengibaran bendera. Ambil hikmah, bahwa bendera itu adalah pengingat agar kita lebih serius perhatikan orang asli Papua.
Dalam pergaulan dunia, Indonesia tak lagi menutup diri. Kalau dulu, pemerintah kita bersikap anti kritik, anti hukum HAM internasional, selalu merasa punya HAM sendiri, HAM-nya Asia, HAM-nya orang Timur. Padahal yang namanya manusia di manapun perlu hak yang sama dan sederajat karena diciptakan Tuhan Yang Esa. Nah, sikap itu berubah. Sepuluh tahun reformasi, sudah enam dari delapan instrumen HAM pokok diratifikasi. Mulai dari perlindungan bagi anak, anti diskriminasi terhadap perempuan, diskriminasi rasial, anti penyiksaan, dan dua kovenan induk untuk hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Yang belum adalah konvensi perlindungan buruh migran dan statuta pengadilan kejahatan internasional. Semua ini telah menjadi hukum kita. Tinggal bagaimana pelaksanaannya di lapangan. Apakah masih ada penyiksaan, apakah masih ada orang yang dilarang memiliki keyakinan politik atau agamanya sendiri.
Hal apa yang menjadi catatan Anda dalam penegakan HAM di Indonesia pada tahun 2008?
Waduh, banyak banget. Kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani di Kendal, Blora Jawa Tengah sampai Bengkalis Riau. Masalah ini masih terus terjadi karena pemerintah terus menunda realisasi kebijakan agrarian untuk meredistribusi tanah delapan juta hektar. Belum lagi kasus salah tangkap, eksekusi hukuman mati. Akhir tahun 2008, banyak orang diPHK dan ini adalah persoalan HAM tersendiri yang serius.
Persoalan HAM paling menonjol di tahun 2008 adalah eksekusi mati terhadap 10 orang narapidana. Angka ini rekor tertinggi pasca Orde Baru. Padahal mayoritas Negara di dunia menghentikan eksekusi mati. Ini tanda bahwa ratifikasi konvensi internasional belum sepenuh hati. Contoh lainnya, ratifikasi Statuta Roma yang dijadwalkan tahun ini tak dilaksanakan. Meskipun tetap tak terlalu jelek karena Indonesia meratifikasi Piagam ASEAN menuju pembentukan Badan HAM ASEAN.
Tahun ini terjadi diskriminasi dalam memeluk agama. Negara lewat SKB tiga menteri melarang aktivitas organisasi Jamaah Ahmadiyah dan sempat memicu lahirnya tindak pemaksaan dan kekerasan. Keputusan semacam ini mengerosi kualitas kebebasan politik dan ruang dialog sosial masyarakat. Kekerasan terhadap aksi damai di Monas, pada 1 Juni 2008 adalah bentuk ketidaksiapan kelompok tertentu melihat perbedaan.
Di tahun 2008, banyak peraturan daerah yang terindikasi bertentangan dengan kepentingan umum atau undang-undang. Meski ada perda yang dibatalkan atau dalam proses dibatalkan, kita kemudian disibukkan lagi dengan munculnya produk hukum baru bermasalah. Undang-undang penanaman modal, mineral dan batu bara hingga undang-undang badan hukum pendidikan. Berbagai protes mahasiswa dan masyarakat diabaikan.
Sensitivitas dan inisiatif pemimpin politik negara melaksanakan aturan sesuai HAM belum maksimal. Ada gap antara peraturan dengan fungsi lembaga-lembaga negara di bidang hukum dan HAM. Aturan perlindungan saksi sudah dibuat 2006, komisionernya baru dipilih 2008 sehingga dampaknya belum terlihat. Banyak orang masih takut menjadi saksi. Pemimpin diam saja terhadap hasil-hasil penyelidikan Komnas HAM. Komisi Yudisial tegang dengan Mahkamah Agung, BPK konflik dengan MA. Rencana revisi hukum pidana umum dan hukum pidana militer berakhir buntu di Pansus DPR.
Ketiga, penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat berjalan stagnan. Faktor penyebabnya, minimnya dukungan politik dari eksekutif (Presiden) dan legislatif (DPR RI). Presiden dengan kabinet kurang solid dalam menyikapi polemik kasus ini. Presiden saat menemui KontraS dengan perwakilan korban pelanggaran HAM masa lalu  berjanji menggelar rapat kabinet khusus membahas kasus-kasus ini. Kenyataannya, janji ini tak terealisasi. Bagi kami, ini biasa terjadi selama 10 tahun reformasi, janji lalu tak ditepati. Masalahnya, Presiden SBY akan semakin terkesan tak punya kewibawaan di mata bawahannya saat mengucap janji.
Di tengah kondisi ini, Mahkamah Agung juga menolak gugatan kompensasi restitusi dan rehabilitasi para korban pelanggaran HAM di Tanjung Priok 1984. Persis seperti ketika gugatan korban Lapindo juga dikalahkan oleh pengadilan.
Ketiga, penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat di Aceh masih belum menyentuh korban-korban konflik bersenjata. Bahkan menurut catatan Kontras Aceh, kekerasan masih kerap terjadi. Salah satunya peristiwa Atu Lintang, 5 dari 6 orang anggota Komite Peralihan Aceh tewas akibat penyerangan sekelompok orang tak dikenal.
Dalam menyelesaikan masalah Timor Timur, pemerintah berubah. Dulu selalu menolak bahwa yang terjadi di sana adalah konflik horizontal masyarakat. Sekarang, pemerintah mengakui telah terjadi crimes against humanity. Laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste menyimpulkan adanya tanggungjawab institusional militer. Sayangnya, kedua Negara ini tak berani memutuskan penuntutan kepada pelakunya. Secara politik, kasus ini diambil alih pemerintah. Tapi secara hukum, pengakuan crimes against humanity membuka peluang penuntutan pelaku di masa depan, tanpa batas waktu dan tidak bisa diamnesti.
Anda telah dikenal sebagai pejuang HAM sejak masih mahasiswa, apakah tidak lelah?
Jujur saja, pasti ada lelahnya lah.. Saya itu lumayan sering sakit dan keluar masuk rumah sakit dan juga akupunktur. Di saat-saat itu saya sadar bahwa mungkin saya kurang peka terhadap bagian-bagian penting di tubuh. Saya sering memaksanya terus bekerja tanpa kenal lelah dan terus berpikir mengikuti imajinasi dan keinginan. Padahal itu tak akan ada habisnya. Malah jika itu tak terkendali, manusia menjadi serakah. Mungkin ini dialami banyak orang. Kita lupa berterima kasih pada organ-organ tubuh, akal pikiran, tangan, kaki, sampai jantung. Kalau mengikuti keinginan terus, jadi repot. Seperti tidak menerima kenyataan.
Nah, saya punya cara untuk menenangkan batin saat berada dalam situasi itu. Dulu, sebelum meninggal, ibu saya adalah sumber energi untuk bangkit dari kelelahan. Bepergian bersama, shalat dan mengaji bersama atau sekadar obrolan lepas biasanya membuat saya lantas bugar lagi. Ada juga cara yang lain. Biasanya saya menemukan spirit pergerakan lagi saat bertemu teman-teman lama aktivis mahasiswa atau keluarga yang kehilangan anak-anaknya. Atau mungkin saat meluangkan waktu bermain musik sendirian seperti bermeditasi. Atau bermeditasi langsung dalam kesunyian. Waktu kecil, saya paling takut kalau sendirian di ruangan atau tempat yang sepi. Tapi sekarang malah menemukan kedamaian hati. Meskipun itu tak selalu mudah.
Hal apa yang pada awalnya menarik perhatian Anda terhadap permasalahan HAM?
Barangkali hal yang terjadi di sekitar keluarga orangtua di kampung. Mereka rata-rata bertani setiap hari, dan tradisi hidup itu sudah berlangsung turun temurun. Saat kecil saya melihat  keadaan semacam ini sangat membahagiakan dan membanggakan. Tapi belakangan, setelah besar mulai terasa ada yang aneh. Mereka seperti kesulitan untuk menghidupi keluarga atau sanak famili. Padahal tanah yang mereka miliki tidak sedikit. Lebih tertarik lagi setelah saya belajar tentang hukum agraria di universitas Trisakti. Saya merasa ada begitu banyak persoalan tanah seperti di kampung saya. Mulai dari perjanjian bagi hasil yang tak menguntungkan bagi petani yang menggarap tanah sawah sampai dengan hilangnya akses petani atas lahan akibat keserakahan pelaku bisnis dan pelaku politik. Selama puluhan tahun, yang dipikirkan penguasa hanya keuntungan ekonomi sesaat lewat investasi asing. Pemerintah tak melindungi petani. Di tengah suasana bathin saat kuliah itulah terjadi penembakan mahasiswa di kampus, 12 Mei 1998. Ya sudah, makin jauh saya terlibat dalam pergulatan masalah hak asasi manusia.
Apa yang selalu menjadi keyakinan Anda, sehingga semangat Anda tidak pernah padam dalam hal ini?
Bahwa manusia pada dasarnya saling membutuhkan. Bahwa manusia jauh dari sempurna.
Semakin kita melihat kenyataan di berbagai tempat, semakin kita merasa tidak sempurna. Di tengah situasi itu, saya ingin merasakan kehadiran Tuhan. Kehadiran itu tak terasa saat saya hanya memikirkan diri sendiri. Atau tak peduli pada yang lemah. Keyakinan pada Tuhan itu hilang saat kita takut melawan pelanggar HAM, atau bahkan takut untuk sekadar menemani mereka yang lemah. Dengan menemani korban, memperjuangkan hak itu semampunya, saya merasa yakin apa yang saya lakukan ini adalah benar. Di situ saya merasakan kehadiranNya.
Begitu pula dengan kasus Munir, sepertinya Anda tidak pernah lelah mengusahakan kebenaran meskipun seringkali mentok dalam proses peradilan?
Benar, memang sulit jika kita menaruh harapan itu hanya ada peradilan. Sering mentok. Dalam dunia nyata kita, peradilan itu tak otomatis memberi keadilan. Socrates dulu seperti dipaksa pengadilan untuk menenggak racun hemlock. Ia seperti memilih bunuh diri. Satu pilihan tragis saat ia memperjuangkan budaya demokrasi di Athena. Ia tak menolak hukuman itu, tapi mematuhinya sebagai wujud ketaatan seorang warga atas keputusan pengadilan yang telah dijatuhkan kepada dirinya. Padahal Socrates paham betul bahwa vonis kepadanya telah menghilangkan unsur-unsur keadilan dan kebenaran, dengan lebih banyak memberikan putusan pada jenis pertimbangan yang keliru yakni menghabisi nyawanya sendiri. Nah, saya setuju dengan Socrates. Atau mungkin lebih tepatnya, saya tak ingin tragedi Socrates terulang dalam bentuknya yang lain di kasus Munir. Kita tak boleh menyerah pada putusan pengadilan yang membebaskan Muchdi. Karena itu bukan putusan yang adil. Tak ada fakta kebenaran yang kita dapat di balik pembunuhan Munir, selain kebenaran bahwa pengadilan ini berwawasan sempit dan gagal memahami denyut nadi keadilan yang menjadi tuntutan kita.
Sebenarnya fakta-fakta apa yang Anda miliki sehingga Anda begitu yakin memperjuangkannya?
Wah, pada awalnya malah tanpa fakta. Keyakinan itu timbul begitu saja, alamiah. Waktu itu, saya masih ingat betapa gelapnya kasus ini. Dari mana mulainya? Bayangkan saja, kematian Munir itu terjadi di dalam pesawat pemerintah dengan penerbangan internasional. Kematiannya misterius. Tanpa luka dan kekerasan. Ia hanya sempat terlihat sakit di atas pesawat, lalu tiba-tiba tidur dan tak bangun lagi menjelang mendarat. Tak ada yang bilang atau melihatnya dibunuh.
Itulah mengapa meski punya kecurigaan, kami tak menuding siapa pun. Upaya pencarian fakta kami lakukan sendiri, tanpa polisi dan jauh sebelum Presiden membentuk Tim Pencari Fakta. Kami datang ke Garuda, bertemu sejumlah pejabat dan karyawan Garuda. Semua orang yang kami temui tutup mulut. Tapi saya melihat sorot mata mereka banyak yang tak jujur. Sebagai karyawan, mungkin ada ketakutan tersendiri. Tapi untuk pejabat, saya yakin mereka sengaja menutupi. Sedikit demi sedikit mulai ada yang aneh.
Di situlah pertama kalinya kami punya kecurigaan terhadap orang Garuda, namanya Pollycarpus. Dilihat dari sosok, cara dan isi pembicaraannya orang ini bukan pilot murni. Tapi kecurigaan ini tak cukup. Perlu bukti yang kuat. Coba bayangkan, alat membunuhnya racun arsenik. Racun jenis ini tergolong kelas tinggi dan tak bisa ditemukan sembarangan. Tak berwarna, Tak berbau.
Lalu siapa yang bisa melihatnya? Setelah saya ikut delegasi kepolisian dan tim forensik ke Belanda, mulai banyak informasi masuk. Dari situ terus berkembang sampai kami menyimpulkan bahwa pembunuhan ini adalah pembunuhan konspirasi. Pelakunya dari pembunuh di TKP, pembantu di dalam Garuda, sampai operatornya yang ada di dalam Badan Intelijen Negara saat itu.
Sebagian besar fakta seperti dokumen, petunjuk dan saksi sudah terlihat di sidang kemarin kan. Terdakwanya Muchdi Pr, yang ditahan sejak Juni tahun lalu. Sayangnya, para saksi dari BIN takut sehingga mengubah kesaksiannya di depan pengadilan. Terdakwa Muchdi pun sama, tak berani mengakui terus terang apa yang terjadi. Kita lihat saja nanti bagaimana. Yang pasti kita tak bisa berhenti.
Mengapa bangsa Indonesia tidak boleh "lupa", bahwa kasus Munir belum terselesaikan?
Munir adalah pejuang, berani menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim. Dan banyak yang mengakui hal itu, baik kalangan pemerintah, militer maupun warga sipil biasa, baik di dalam maupun di luar negeri. Nah, dengan begitu maka pembunuhan terhadap seorang pejuang ini bisa menjadi ancaman bagi masa depan kehidupan kita, masa depan demokrasi, hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Pembunuhan ini juga bisa terjadi pada siapa saja, pada Munir, pada saya dan juga pada anda, pada siapa pun. Tugas kita adalah membuka semua tabir yang masih tersembunyi.
Kasus pembunuhan Munir bukan saja menunjukkan adanya konspirasi jahat yang begitu rapih dan terencana. Lebih dari itu, dalam konspirasi ini ada penyalahgunaan kekuasaan negara, dalam hal ini kekuasaan institusi intelejen, untuk mencapai tujuan kekuasaan tertentu dengan cara menghilangkan nyawa Munir. Komitmen untuk membongkarnya bukan saja dari kalangan masyarakat, tapi juga kalangan pemerintah, dari  Presiden hingga DPR. Presiden menegaskan kasus ini adalah 'a test of our history' sebuah ujian bagi sejarah kita. DPR pun menyimpulkan ini sebagai kejahatan politik atau kekerasan negara.
Kini kita ditantang untuk melawan lupa. Melawan kebiadaban para pembunuh yang masih siap menerkam kita jika lengah. Kita ditantang untuk memenangkan pertarungan ini; melawan orang-orang yang telah menyakiti tubuh kemanusiaan entah atasnama apa. Mereka mencoba bersembunyi di balik topeng nasionalisme dan agama. JIka kita biarkan, berbahaya untuk masa depan anak cucu kita.
Muchdi PR akhirnya dibebaskan dalam kasus Munir dan Anda mengekspresikan kekecewaan  besar terhadap ini. Sebenarnya bagaimana harapan Anda terhadap penanganan kasus ini?
Harapan saya penanganan kasus ini berakhir dengan terbukanya semua fakta yang merupakan kebenaran. Mengapa Munir dibunuh pada saat itu? Siapa saja yang terlibat dan mendalangi konspirasi jahat ini? JIka ini terungkap maka sejarah baru penegakkan keadilan bisa diciptakan untuk mewujudkan masa depan yang tanpa beban. Tentu saja mereka yang terlibat terutama yang mendalangi perbuatan pengecut ini bisa diadili dan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Jawaban-jawaban yang jujur atas pertanyaan dan harapan inilah yang saya harapkan kelak diketahui oleh anak-anak kita dan anak-anak Munir, Alief dan Diva.
Di luar mereka, saya hanya berharap makin banyak yang berjuang menebarkan virus perdamaian dan anti kekerasan. Agar tak ada lagi orang yang dengan seenaknya menghilangkan nyawa orang lalu secara pengecut menyangkal segala bentuk perbuatan yang telah dilakukannya.
Apa langkah selanjutnya yang Kontras persiapkan?
Ada beberapa langkah yang kami persiapkan untuk membawa kembali Muchdi ke Pengadilan. Pertama, menggalang dukungan untuk mendorong terjadinya kasasi Jaksa ke Mahkamah Agung. Dalam hal ini kami berharap semua pihak, dari pimpinan pemerintahan seperti  Presiden hingga kalangan Dewan Perwakilan Rakyat dapat mendukungnya.
Kedua, mengumpulkan bahan pendapat ahli hukum untuk menguji kualitas putusan hakim yang membebaskan Muchdi. Dalam hal ini kami sedang meminta beberapa lembaga independen seperti Komisi Yudisial dan Komnas HAM untuk turut berperan sesuai kewenangan masing-masing.
Ketiga, saat ini kami juga berkonsentrasi memeriksa kembali semua dokumen bukti, petunjuk dan saksi sekaligus mencari bukti-bukti tambahan melalui bantuan masyarakat. Kami membuka Pos Informasi Hotline di kantor kami.  Targetnya adalah bukti baru. Langkah ini kami siapkan untuk mengantisipasi skenario buruk selanjutnya, seandainya upaya kasasi juga mengalami kegagalan. Jika berhasil, bukti ini pun tetap akan kami kembangkan agar proses hukumnya bisa menyentuh aktor utama di balik konspirasi pembunuhan Munir.
Jadi, kami tak akan tinggal diam apalagi menyerah. Kami ingin punya pemimpin yang berani menegakkan keadilan di rumah kita Indonesia.

Monday, November 23, 2009

DOA MOHON KUTUKAN



dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya




dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru
ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia
hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hamba
Mumenjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku

jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan,
maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu
demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadaku

EMHA AINUN NADJIB


Puisi karangan Cak Nun ini dulu ngetop dibacakan para demonstran sesaat sebelum reformasi untuk mengutuk despotisme di masa itu. Gw gak pernah menyangka bahwa puisi ini ternyata harus bergema kembali di masa sekarang. Terutama saat kita menyimak berbagai pemberitaan akhir-akhir ini.

Hari ini, pemerintah resmi memblokir blogspot lewat berbagai ISP. Entah kapan matari akan bersinar di negeri ini... Tuhan, selamatkan kami!

Image from: http://silentwhisperss.wordpress.com/tag/anger-ruins-everything/

Friday, January 23, 2009

Teks Pidato Barack Obama saat Pelantikan




Amerika Teman Seluruh Bangsa



Teman-teman,




Hari ini, saya berdiri di sini, siap menghadapi tugas-tugas yang menghadang, bersyukur atas kepercayaan yang Anda berikan, menghargai pengorbanan para pendahulu kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush karena sudah menuntaskan pengabdiannya pada negara, juga atas kemurahan dan kerja samanya selama masa transisi.

Sekarang, genap sudah empat puluh empat warga Amerika yang mengikrarkan sumpah kepresidenan. Janji sudah diucapkan di tengah meningkatnya kemakmuran dan terperliharanya perdamaian. Meskipun, sering kali pengambilan sumpah terjadi saat awan berarak-arak dan badai mengancam. Sampai saat ini, Amerika masih mampu bertahan bukan semata-mata karena kemampuan atau visi mereka yang menduduki jabatan penting, tapi lebih karena kita sebagai rakyat tetap setia pada ideologi para pendiri negara dan memegang teguh dokumen-dokumen fundamental.

Fakta bahwa kita berada di tengah krisis, kini bisa dipahami dengan baik. Bangsa ini sedang menghadapi perang melawan lingkaran kejahatan dan kebencian yang sulit diuraikan. Perekonomian kita benar-benar lumpuh, dampak keserakahan dan tidak bertanggung jawabnya sekelompok kecil orang. Tapi, juga karena kegagalan kita memberikan pilihan-pilihan dan mempersiapkan bangsa ini menyambut era baru. Rumah disita, pekerjaan lepas, bisnis kacau. Jaminan kesehatan pun menjadi sangat mahal; pendidikan tidak terjangkau seluruh kalangan; dan tiap hari semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa gaya konsumsi energi kita kian mempertebal rasa permusuhan dan mengancam keselamatan bumi.

Data dan statistik yang muncul mengindikasikan bahwa kita sedang menghadapi krisis. Satu yang tidak kalah penting tapi sering diabaikan adalah semakin berkurangnya rasa percaya diri di seluruh pelosok negeri - sebuah komplain yang mengandung kekhawatiran bahwa tenggelamnya Amerika tidak terelakkan. Dan, generasi berikutnya juga harus memangkas ekspektasi mereka.

Hari ini, saya tegaskan kepada Anda sekalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi itu nyata adanya. Semua itu serius dan majemuk. Semua itu tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Tapi, ketahuilah ini Amerika - seluruh tantangan itu akan mampu kita hadapi bersama.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan ketimbang ketakutan dan persamaan kepentingan daripada konflik dan perselisihan.

Pada hari ini, kita datang untuk memproklamasikan berakhirnya keluhan-keluhan yang picik dan janji-janji palsu. Berakhirnya saling tuding dan penerapan dogma-dogma yang tidak perlu, yang sudah terlalu lama mewarnai panggung politik kita.

Negeri ini masih tetap dianggap muda, tapi meminjam istilah Alkitab, sudah tiba masanya untuk menyudahi sifat kekanak-kanakan. Waktunya sudah tiba untuk menyalakan kembali semangat juang kita; untuk memilih sejarah yang lebih baik; untuk tetap memelihara anugerah istimewa, ide-ide yang mulia, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yakni, bahwa Tuhan memandang semua orang sama. Semuanya memiliki hak yang sama untuk menikmati kebebasan dan berhak mengejar kebahagiaan masing-masing.

Menegaskan kembali kebesaran bangsa ini, kita harus benar-benar memahami bahwa keagungan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja. Itu harus diupayakan. Perjalanan kita bukanlah jalan pintas dan sama sekali tidak mudah. Bukan perjalanan mereka yang suka santai - yang lebih memilih bersenang-senang daripada bekerja atau hanya melulu mengejar kemewahan dan ketenaran. Sebaliknya, mereka yang berani menghadapi risiko, para pelaku, para pembuat keputusan - sebagian masih dikenang sampai sekarang, tapi sebagian besar adalah perempuan dan laki-laki pekerja keras biasa, yang telah menempuh perjalanan jauh dan merintis jalan menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka rela mengemas harta yang tidak seberapa dan bepergian menyeberang samudera dalam mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka rela bekerja keras dan berkeringat dan menetap di Barat; bertahan dalam cambukan dan membajak tanah yang benar-benar keras.

Demi kita, mereka berjuang dan meregang nyawa, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg; Normandy dan Khe Sanh.

Perempuan serta laki-laki pejuang itu berusaha keras dan rela berkoban dan tidak berhenti berupaya sampai tangan mereka kasar. Semuanya hanya demi kehidupan yang lebih baik. Mereka memandang Amerika lebih dari sekedar sejumlah individu yang ambisius; lebih dari sekedar perbedaan kelahiran, kekayaan atau faksi.

Itulah perjalanan yang masih harus kita teruskan hari ini. Kita masih tetap bangsa yang paling makmur dan paling berkuasa di bumi. Para pekerja Amerika sama sekali tidak mengendurkan produktivitas mereka saat krisis terjadi. Kita juga masih tetap terus berinovasi, stok barang dan jasa juga masih tetap sama dengan pekan lalu atau bulan lalu atau tahun lalu. Kapasitas dan kemampuan kita tidak tergerus. Tapi, masa berbangga diri karena mampu melindungi sejumlah kepentingan dan mengesampingkan keputusan yang tidak menyenangkan - jelas sudah berlalu. Mulai hari ini, kita harus kembali berdiri tegak, menyingsingkan lengan baju dan mulai kembali bekerja untuk membangkitkan Amerika.

Kemana pun mata memandang, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Perekonomian menyerukan kepada kita untuk beraksi, lebih berani dan tangkas, dan kita akan segera melakukannya. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga meletakkan landasan-landasan yang baru untuk tumbuh. Kita akan membangun jalan-jalan dan jembatan, sambungan listrik, dan jaringan digital yang akan mendukung sektor perdagangan dan menyatukan kita bersama. Kita juga akan mengembalikan sains pada tempat semestinya dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menjadikannya lebih murah. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari dan angin dan juga tanah dengan maksimal, untuk menggerakkan kendaraan-kendaraan kita dan pabrik yang ada. Dan, kita juga akan meremajakan sekolah dan perguruan dan universitas yang ada supaya bisa memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Semua itu bisa kita lakukan. Semua itu akan segera kita lakukan.

Kini, ada beberapa yang mempertanyakan seberapa besar ambisi kita - ada yang menyatakan bahwa sistem kita tidak akan bisa menoleransi terlalu banyak agenda besar. Kenangan mereka sungguh pendek. Mereka tidak bisa lagi mengingat apa saja yang sudah berhasil dilewati bangsa ini; apa yang bisa dicapai perempuan dan laki-laki bebas saat imajinasi dipersatukan dengan tujuan-tujuan yang lazim dan keberanian.

Yang tidak bisa dipahami mereka yang sinis adalah bahwa tanah sudah terbelah diantara mereka - dan bahwa argumen politik yang selama ini diperdebatkan sudah tidak ada lagi. Pertanyaan yang kita lontarkan hari ini adalah apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil. Apakah program-program yang diterapkan bisa berjalan dengan baik - apakah itu bisa membantu keluarga-keluarga Amerika memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak, bisa mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau dan uang pensiun yang cukup. Jika jawabannya ya, maka kita harus terus maju. Tapi, jika jawabannya tidak, maka program-program itu akan segera dihentikan. Rekan-rekan kita yang menyimpan dolar harus bisa bertanggung jawab atas simpanannya. Mereka harus bisa membelanjakannya dengan bijak, mereformasi kebiasaan buruk, dan menjalankan bisnis dengan transparan - sebab hanya dengan cara demikian kepercayaan yang tulus antara rakyat dan pemerintah terjalin.

Pertanyaan yang ada di hadapan kita bukan tentang dorongan pasar yang mengacu pada kebaikan atau keburukan. Kemampuan pasar untuk memupuk kekayaan dan memperluas kebebasan sudah tidak cocok lagi. Tapi, krisis ini telah mengingatkan kita kembali bahwa tanpa pengawasan yang ketat, pasar bisa memutarbalikkan kendali kita - dan sebuah negara tidak akan bisa makmur dalam jangka waktu lama jika hanya melulu membicarakan tentang kemakmuran. Keberhasilan ekonomi kita selalu bergantung bukan hanya pada ukuran gross domestic product kita, tapi juga pencapaian kemakmuran; kemampuan memperluas kesempatan bagi siapa pun juga - bukan karena amal, tapi karena itu adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan dalam konteks barang.

Terkait pertahanan, kita menolak kepalsuan dalam mewujudkan keselamatan dan tujuan hidup. Para Bapak Bangsa....bapak-bapak bangsa kita menyusunnya dengan ketakutan yang sangat yang bahkan tidak bisa kita bayangkan, sebuah piagam yang mengatur tentang hukum dan hak-hak kemanusiaan. Sebuah piagam yang masih terus dijadikan pedoman dari generasi ke generasi. Tujuan-tujuan yang tercantum di sana masih tetap menjadi cahaya dunia dan kita tidak akan pernah menyerah. Dan, bagi seluruh masyarakat dan pemerintahan yang menyaksikan peristiwa hari ini, mulai dari ibu kota yang megah sampai ke pelosok dusun tempat ayah saya dilahirkan, tahu bahwa Amerika adalah teman bagi seluruh bangsa, semua perempuan dan laki-laki dan anak-anak yang mengharapkan masa depan penuh kebaikan. Dan, bahwa sekali lagi, kami siap menjadi pemimpin.

Mengenang bahwa generasi-generasi sebelum kita harus berkutat dengan fasisme dan komunisme tidak hanya dengan rudal dan tank, tapi kesetiakawanan dan kepercayaan. Mereka paham, dengan mengandalkan tenaga sendiri, kita tidak bisa terlindungi. Tapi, mereka juga tidak mengajarkan kita untuk bertindak semaunya. Setidaknya, mereka paham bahwa kekuatan kita tumbuh dari semangat kehati-hatian; keamanan tercipta dari keadilan, keteladanan dan juga kualitas mengendalikan sesuatu.

Kita semua adalah pewaris. Sesuai prinsip-prinsip yang ada, kita bisa menghadapi seluruh ancaman tersebut. Tentu saja dengan upaya yang lebih serius dan juga kerjasama lebih luas dengan beberapa negara. Kita akan berusaha keras mengembalikan Iraq ke pangkuan rakyatnya dan mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Bersama dengan kawan lama dan mungkin juga musuh bebuyutan, kita akan bekerja tanpa lelah melenyapkan ancaman nuklir dan membahas planet yang makin hangat. Kami juga tidak akan memberikan ampun kepada musuh atau menyerah pada musuh. Mereka yang berusaha keras mencapai tujuannya dengan menyebarkan teror dan juga ancaman, kami akan tegaskan kepada kalian bahwa saat ini semangat kami sudah lebih kuat dan tidak mudah dipatahkan. Kalian tidak akan bisa lagi mempermainkan kami, dan kami akan segera mengalahkan kalian. (Disarikan dari Associated Press/hep/ttg)

Friday, August 17, 2007

Indonesia Raya

Finally found it!
The whole discovering the original Indonesian anthem bonanza.
Facts: it's not new, people already knew about it, and Roy Suryo (SOH) did not "discover" it.

Sunday, April 08, 2007

Merah Putih by Jakob Sumardjo

Tak sengaja menemukan sebuah tulisan Oom Jakob Soemardjo di sebuah forum. Sebaiknya dirilis ulang supaya lestari selamanya.







Bendera Indonesia, Merah Putih, sering diartikan "berani" dan "suci". Apakah ini pemaknaan budaya modern atau budaya Indonesia promodern? Mengapa kini bangsa Indonesia memilih simbol merah dan putih sebagai jati diri? Mengapa merah di atas dan putih di bawah, bukan sebaliknya? Dari mana simbol ini berasal?

Berbagai pertanyaan itu tak pernah diajukan orang sejak Mohammad Yamin menjelaskannya dalam buku yang tak pernah dicetak ulang. 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih, tahun 1958. Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna "zat hidup". Hanya tidak dijelaskan makna "zat hidup". Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.

Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat. Artefak- artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropolo- gi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.

Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia. Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?

Alam rohani dan duniawi

Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana, lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural. Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.

Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.

Pemisahan "lelaki"-"perempuan" itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau "zat hidup" baru muncul jika pasangan-pasangan dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.

Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal. Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.

Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci. Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia. Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.

Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai pasangan dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini. Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang. Putih adalah simbol langit atau Dunia Atas, merah sim- bol dunia manusia, dan hitam simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.

Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah. Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia "buta warna".

Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.

Kehidupan dan kematian

Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, "darah tidak sama", ada darah putih dan darah merah. Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.

Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian. Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung "zat hidup".

Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan? Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan. Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.

Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia. Merah-putih itu "zat hidup", potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh . Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.

Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa? Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya.

Merah-Putih adalah jiwa Indonesia.

Monday, November 21, 2005

TEROR




Ya, Teror. Bukan terong, bukan teras.

Di posting sebelumnya, gw sudah menyebutkan keberhasilan POLRI membasmi gembong terorisme Dr. Azahari adalah keberhasilan fisik dalam menumpas terorisme. Tapi kerja belum selesai. Belum apa-apa. Ya, Nurdin M. Top memang belum tertangkap, lalu muncul pula sederetan nama baru dalam skenario teror bom di Indonesia.

Tetapi tidak cuma itu. Ada lagi sisi-sisi lain dari terorisme yang masih dengan leluasa berkembang biak, bak virus yang bisa hinggap pada siapa saja. Sisi-sisi itu di antaranya adalah state of mind dan point of view.

Dalam sebuah posting terdahulu sekali (waktu itu kebetulan pas Bom Kuningan baru saja meledak), gw juga pernah menyebutkan bahwa menjadi teroris itu adalah masalah catatan pihak yang berkuasa. Dalam hal ini, secara sederhana Power/Knowledge yang digagas Michel Foucault bisa kita lihat berkerja sebagai Theory/Practice. Kekuasaan bisa memproduksi pengetahuan untuk mengabsahkan kekuasaannya.

Maka jadilah gerombolan Azahari sebagai teroris. Coba kalo dari serangkaian terornya ada yang berhasil menumbangkan kekuasaan (Naudzubillah min dzaliq!), lalu dia duduk di tampuk kekuasaan itu, maka dia juga akan memproduksi pengetahuan bahwa dia sebenarnya justru pahlawan yang menyelamatkan bangsa ini (yea right!). Contoh lain saja misalnya Bung Karno di pandangan Belanda waktu masih berkuasa adalah extrimist. Tapi setelah dia jadi Presiden RI, dia malah jadi pahlawan. Bukan cuma untuk Indonesia, bahkan untuk bangsa Asia Afrika. Sampai digelari sebagai salah satu The Most Influential Asians of the Century.

Tentu saja, gw tidak bermaksud menyamakan Azahari dengan Bung Karno dan tentu saja gw yakin banget Anda paham akan maksud gw yang sebenarnya.

Ok, balik lagi ke terorisme. Terungkapnya persembunyian Azahari pun tidak mengubah fakta bahwa dalam realitas global saat ini, kita bisa tidak bisa memungkiri peran terorisme sebagai non-state actor dalam pembuatan kebijakan yang tidak bisa diabaikan. Oleh AP Schmid dan A J Jongman (1988) terorisme didefinisikan sebagai upaya penciptaan kegelisahan melalui aksi-aksi kekerasan berulang-ulang, yang dilakukan kelompok terorganisasi dalam mencapai tujuan ekonomi, politik, dan ideologi tertentu.

Nah, penting dicatat dalam hal ini adalah bahwa terorisme adalah seperangkat gagasan. Kalau tindakannya itu adalah teror, pelakunya adalah teroris. Isi dari gagasan itu bisa macam-macam. Bagi Azahari isinya adalah Fundamentalisme Islam, tapi bagi IRA isinya adalah kemerdekaan politik Bangsa Irlandia. Karena gagasan itu tidak mendapat tempat yang layak dalam percaturan politik dunia, maka Azahari memilih untuk mengambil tindakan berupa teror, agar bisa mengubah kebijakan sebuah negara atau politik internasional.

Yang menyedihkan, korban aksi kekerasan terencana itu bukanlah target utama. Mereka adalah hasil pilihan acak maupun selektif dari populasi yang dituju teroris. Mereka hanyalah tumbal dari pesan yang ingin disampaikan peneror. Ancaman dan kekerasan adalah media komunikasi teroris untuk memanipulasi (audiens) sehingga timbul situasi ketidakpastian keselamatan publik dan ketidakpercayaan kepada otoritas.

Dengan melihat terorisme sebagai metode politik, kita dihadapkan pertanyaan tidak saja soal siapa yang melakukan bom Bali kali ini, tetapi juga pertanyaan kepentingan apa di balik peristiwa itu. Dalam kasus Azahari, pertanyaan mengenai siapa telah dijawab bahkan diambil tindakan untuk mencegahnya terulang kembali. Pertanyaan mengenai kepentingan pun secara samar sudah bisa ditebak benang merahnya. Tinggal tersisa pertanyaan bagaimana kepentingan itu menyebar dan mendapat sokongan sekelompok orang.

Adalah Amrozi, seorang pemuda lugu dan murah senyum asal Tenggulun, Solokuro Lamongan. CNN.com menulis, "To his family he is simply "Amrozi", but around the world he has become known as 'the smiling bomber.'" Amrozi telah dinyatakan bersalah atas kasus Bom Bali I. Bagaimana seorang pemuda lugu dan sederhana seperti itu bisa merasa merasa memiliki kepentingan untuk menyebar teror?

Rupanya masih ada yang salah dalam sistem kenegaraan kita. Tersisa sekelompok orang yang merasa bahwa kepentingan mereka tidak terwakili. Sehingga pemikiran yang dicangkokan ke dalam sistem pengetahuan mereka dengan cepat diadaptasi menjadi kepentingan kolektif. Mungkin saja selama 60 tahun kita merdeka, problem kepentingan ini bisa ditekan di level tertentu atau di daerah tertentu. Namun, kita harus jujur, bahwa manajemen konflik yang memadai belum diterapkan dalam hal ini. Sehingga potensi konflik dan teror ini bukannya mati namun tumbuh diam-diam sebagai manives. Manives yang akan sewaktu-waktu meledak. Maka meledaklah konflik ini dalam bentuk teror bom, Konflik Poso atau Konflik Ambon.

Kendati pun gw tidak (lagi) berada di daerah konflik, tetapi bahkan sejak usia belasan gw sudah mendeteksi secara intuitif bahwa potensi konflik agama bisa saja meledak, bahkan di Jakarta, kota Metropolitan. Gw ingat bagaimana metode pembinaan keberagamaan yang sempat gw ketahui ketika itu memupuk potensi-potensi kemarahan yang siap diledakan. To some extent, kita tidak terajar untuk hidup saling berbeda, saling menyentuh, lalu saling mengisi.

Sebagai seorang bukan ilmuwan, gw nggak bisa merumuskan formula tindakan apa saja yang bisa dianggap sebagai manajemen konflik yang memadai. Soeharto dulu melakukannya dengan menekan peluang politik aliran untuk berkembang. Namun hasilnya, begitu Soeharto kehilangan kekuasaannya, politik aliran itu malah meledak dan berujung chaos.

Masalah ini pun bukan semata-mata jadi masalah Bangsa Indonesia. Lewat film Crash dan sedikit penjelasan Cecilia Law-Wirianto mengenai kondisi di Amerika Serikat yang tidak jauh berbeda. Hanya saja di sana yang berkembang adalah prasangka rasial, bukan prasangka agama. Saya jadi ingat kutipan menarik dan menyentuh yang diucapkan oleh Det. Graham Waters, salah satu karakter dalam film itu, "I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just so we can feel something."

Dalam hemat gw, setidaknya ada dua hal yang kita butuhkan. Pertama adalah pengelolaan kepentingan. Bagaimana setiap aliran diizinkan berkembang dan mengekspresikan sikap kolektifnya. Yang tidak perlu dilarang, tidak usah dilarang. Yang tidak mengganggu, tidak usah diberangus. Kedua (dan merupakan prasyarat bagi yang pertama), pendidikan untuk saling menerima perbedaan, untuk saling menyentuh. Pendidikan yang semestinya membuat kita berani mengekspresikan sikap dan berani menerima perbedaan. Tidak sebagai simbol-simbol yang klise, namun sebagai realitas yang bekerja sehari-hari. Seperti misalnya deregulasi pembangunan tempat-tempat ibadah. Sehingga kita akan terbiasa bersentuhan dengan kelompok lain dengan saling hormat, bahkan kalau perlu saling menyayangi. Pendidikan yang seharusnya mengajarkan kita bahwa keberadaan orang lain bukanlah sebuah ancaman, melainkan pelengkap atas keberadaan kita.

Seperti gw bilang di atas, gw bukanlah ilmuwan. Kalangan ilmuwan, intelektual, cerdik cendekia dan sarjana yang sujana tentu bisa memformulasikan jalan keluar yang lebih spesifik dan bersifat theory/practice seperti pendekatan kaum postmodernis. Sampai kapan masih harus kita dengar ratap tangis orang kehilangan. Kitalah yang harus menemukan jawabannya. Menurut gw, inilah tantangan terbesar kita yang lain, dalam menumpas teroris.

ZOMBIE
The Cranberries


Another head hangs lowly,
Child is slowly taken.
And the violence caused such silence,
Who are we mistaken?

But you see, it's not me, it's not my family.
In your head, in your head they are fighting,
With their tanks and their bombs,
And their bombs and their guns.
In your head, in your head, they are crying...

In your head, in your head,
Zombie, zombie, zombie,
Hey, hey, hey. What's in your head,
In your head,
Zombie, zombie, zombie?
Hey, hey, hey, hey, oh, dou, dou, dou, dou, dou...

Another mother's breakin',
Heart is taking over.
When the vi'lence causes silence,
We must be mistaken.

It's the same old theme since nineteen-sixteen.
In your head, in your head they're still fighting,
With their tanks and their bombs,
And their bombs and their guns.
In your head, in your head, they are dying...

In your head, in your head,
Zombie, zombie, zombie,
Hey, hey, hey. What's in your head,
In your head,
Zombie, zombie, zombie?
Hey, hey, hey, hey, oh, oh, oh,
Oh, oh, oh, oh, hey, oh, ya, ya-a...

Thursday, November 10, 2005

H E R O E S

image: a hero's life by ralph fabri


"I think there's a hero in all of us."
(John Bubber in Accidental Hero/Stephen Frears/1992)

Akhirnya komplotan Dr. Azahari, teroris yang doyan ngebom Indonesia berhasil diringkus. Dr Azahari sendiri meninggal dunia karena bom bunuh diri ketika serangan yang dilakukan Detasemen 88 POLRI ke sebuah vila di Jl. Flamboyan II No. 12 Batu, Malang pada 9 November 2005 kemarin.

Memang, beredar berbagai spekulasi miring mengenai kebenaran serangan ini di milis-milis. Bukannya tidak kritis terhadap informasi, tapi menurut gw berbagai skenario rekayasa yang dituduhkan, agak mustahil terjadi di era pemberitaan yang begitu transparan. Televisi dari menit ke menit menayangkan siaran langsung dari lokasi serangan. Hampir tidak mungkin, apalagi mengingat resikonya kalo ketahuan publik.

Rangkaian aksi teror itu memang sering membuat gw bertanya-tanya. Di mana gw hidup sekarang? Di dunia yang punya peradaban atau di hutan liar tanpa hukum? Orang saling memangsa. Keyakinan saling melahap. Ideologi berperang melawab ideologi lain. Bunuh jadi jalan pintas agar tidak ada lagi yang menghalangi jalan. Kita semua sudah menjadi binatang buas, saling memakan.

Untuk itu, gw berusaha untuk tetap memberikan salut. Applause yang tulus kepada tim POLRI dan satuan intelejen yang berhasil melacak dan melakukan tindakan pada gerombolan teroris itu. Mereka layak kita anggap pahlawan. Sebuah tonggak bagi perlawanan fisik yang serius terhadap terorisme. Harus kita akui dong, guys! Pemikiran soal kepahlawanan ini tiba-tiba saja menyeruak muncul karena kebetulan serangan itu dilakukan tepat sehari sebelum perayaan Hari Pahlawan. Sekedar sebuah upaya untuk memberikan kehormatan pada yang berhak.

Dalam keyakinan gw, setiap orang memang bisa jadi pahlawan. Tidak perlu dengan tindakan-tindakan akbar, metanaratif, grandeur, dan sebagainya. Cukup dengan sebuah tindakan kecil. Sebuah tindakan yang akan berujung pada perbaikan kualitas hidup. Sebuah tindakan yang sederhana saja....

Seperti berhenti make...

h e r o e s
written by David Bowie

I I wish you could swim
Like the dolphins
Like dolphins can swim
Though nothing
Will keep us together
We can beat them
For ever and ever
Oh we can be Heroes
Just for one day


I
I will be king
And you
You will be queen
Though nothing will
Drive them away
We can beat them
Just for one day
We can be Heroes
Just for one day


I I can remember
Standing
By the wall
And the guns
Shot above our heads
And we kissed
As though nothing could fall
And the shame
Was on the other side
Oh we can beat them
For ever and ever
Then we can be Heroes
Just for one day


We could be Heroes
We could be Heroes
We could be Heroes
We could be Heroes just one day

Monday, February 02, 2004

ACEH

Teman-teman, besok gw berangkat ke Aceh buat liputan. Mohon doa ya semoga asik-asik dan selamat aja disana. Doakan supaya kembali dengan selamat dan utuh...hehehe

Tuesday, December 30, 2003

Obituary

Turut berduka cita atas kematian:

ERSA SIREGAR
dalam menjalankan tugas kepahlawanan jurnalisme
di Nangroe Aceh Darussalam.

Semoga kepergiannya menyegarkan cita-cita perdamaian yang tumbuh dalam hati nurani setiap manusia.
IBX5899AACD4E772