Showing posts with label Social Life. Show all posts
Showing posts with label Social Life. Show all posts

Monday, November 23, 2009

DOA MOHON KUTUKAN



dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya




dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru
ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia
hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hamba
Mumenjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku

jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan,
maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu
demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadaku

EMHA AINUN NADJIB


Puisi karangan Cak Nun ini dulu ngetop dibacakan para demonstran sesaat sebelum reformasi untuk mengutuk despotisme di masa itu. Gw gak pernah menyangka bahwa puisi ini ternyata harus bergema kembali di masa sekarang. Terutama saat kita menyimak berbagai pemberitaan akhir-akhir ini.

Hari ini, pemerintah resmi memblokir blogspot lewat berbagai ISP. Entah kapan matari akan bersinar di negeri ini... Tuhan, selamatkan kami!

Image from: http://silentwhisperss.wordpress.com/tag/anger-ruins-everything/

Thursday, June 28, 2007

CIPRAT










Ciprat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti memercik ke mana-mana. Bahasa Inggrisnya adalah to splash, yang artinya cause (liquid) to strike or fall on something in irregular drops. Jadi sebenarnya yang namanya ciprat itu pasti berhubungan sama sesuatu yang cair. Well, kalau rezeki atau popularitas dikatagorikan sebagai cairan, maka bisalah kita kecipratan rezeki atau kecipratan popularitas.

Kecipratan rezeki atau popularitas memang enak. Kita bisa mendapatkan fasilitas atau akses terhadap sesuatu yang tidak kita usahakan. Kecipratan dalam makna literal bisa jadi enak juga. Misalnya kecipratan air mineral saat sedang mengikuti lomba marathon 10 K, seperti dua minggu lalu.

Tetapi yang pagi ini menyiprati gw bukan hal yang menyenangkan. Sejak tadi malam, Jakarta memang diguyur hujan bulan juni. Well, nggak ada salahnya sih dengan hujan bulan juni. Meskipun dianggap menyalahi musim, tetapi gw malah menikmatinya sebagai hal yang romantis, seperti dalam puisi Sapardi Djoko Damono atau lagunya Mbak Reda Gaudiamo yang diangkat dari puisi yang sama.

Kembali ke soal kecipratan. Karena sudah diguyur hujan sejak tadi malam, maka tidak heranlah Jakarta yang vulnerable ini langsung basah kuyup di segenap sisi jalannya. Tak jarang tampak air meluap dari selokan-selokan hitamnya atau menggenangi lubang-lubang jalannya. Pemandangan ini tidaklah ekslusif milik kampung-kampung urban yang berserakan di Jakarta, tetapi juga milik jalan-jalan protokol seperti Jl. HR. Rasuna Said tempat gw bermukim dan berkantor ini.

Di tengah hujan deras yang masih mengguyur, namun didorong oleh semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik, gw menembus rinai hujan dan berangkat nge-gym jam 6.30 pagi. Sialnya, ketika melewati belakang gedung Femina di dekat kost, sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang eksekutif muda nirotak ngebut dan menggilas lubang berisi air itu. Kontan saja, a whole lot of mud splashed to my body, my shorty, and my shoes. Gw langsung saja berteriak, "You fucking shithead! Get off your car, now!" Tetapi tentu saja teriakan itu nggak ada gunanya sama sekali. Sang eksekutif muda tanpa otak itu tetap saja melaju dalam kenyamanan SUV car miliknya. Dalam hati gw cuma bisa memaki, "Screw you!!! Mudah-mudahan kena batunya."

Setelah, terciprat begitu, gw nggak mau mengalah lagi. Kalau tadi gw masih berusaha jalan di pinggir-pinggir sambil melompat-lompat menghindari lubang, kini gw memilih jalan agak di tengah - yang kebetulan memang agak rata dan tidak tergenang. Baru beberapa meter, lalu sebuah Kijang Inova mengklakson gw keras-keras dan terus menerus seperti marah. Rasa kesal gw memuncak, instead of going to the sidewalk, gw mendatangi jendela si pengklakson itu. Gw menggedor jendelanya sambil berteriak, "Lo nggak liat itu genangan air di pinggir jalan? Lo enak, masih naik mobil, jadi nggak harus berjuang ngelawan lumpur dan hujan ini. Nggak pengertian banget sih, atau nggak punya otak?" maki gw. Si pengemudi yang ternyata seorang cewek itu tidak membuka jendelanya sama sekali. Dia tampak menggumamkan kata maaf, tetapi langsung kabur. Untung kali ini nggak nyiprat lagi. Kalau sampai nyiprat, gw kayanya akan ngambil batu dan nimpuk mobilnya.

Sesampainya di gym, gw baru sadar kalau kecipratan lumpur Jakarta tidak sama dengan kecipratan cologne. Lumpur Jakarta mengandung bau busuk menyengat yang sangat mengganggu. Untunglah ada tisu basah dan hair dryer yang secara instant bisa membersihkan kotoran, menghilangkan bau dan mengeringkan celana pendek dan sepatu gw. Jadi tidak ada yang terganggu dengan bau busuk lumpur saat gw sedang lari di treadmill di sampingnya. At least, gw nggak tahu.

Sesudah nge-gym, tentunya gw langsung mandi dan berganti pakaian baru untuk ke kantor. Keluar dari gym, ternyata hujan masih deras dan jalur lambat kuningan sudah digenangi air hingga sekitar 20 cm. Tetapi tetap saja pengendara mobil dan motor yang lewat di sana sepertinya tidak peduli bahwa sedang ada orang-orang yang sedang berusaha melawan hujan untuk tetap sampai ke kantor dan tetap bersih di pinggir jalan. Hhmmff.. susah banget meminta toleransi di kota ini!

Thursday, June 14, 2007

Under The Bridge



Words: Edwin Irvanus & Awali S. Thohir Photography: trd wijaya

Kisah sebuah kampung Jakarta yang berada di kolong roda, tetapi tidak takut ambruk.


Abraracourcix, kepala kampung Ghalia di dalam komik Asterix tidak akan cocok tinggal di kampung ini. Abraracourcix selalu takut kalau langit runtuh menimpanya,
sedangkan di kampung yang satu ini, bukan langit yang mungkin runtuh, melainkan aspal beton dan tiang-tiang konstruksi. Memang, kampung yang kami datangi kali ini bukan sembarang kampung, inilah kampung Kolong Tol.

Jika kita melangkahkan kaki masuk ke kampung ini, segera terasa perbedaan nyata dengan kampung-kampung Jakarta lainnya. Kapanpun kita datang, kita disambut suasana temaram dan hawa sedikit lembab. Sesekali terdengar deru laju kendaraan di atas kepala. Tak jarang pula terasa getaran-getaran kecil, seolah-olah kampung ini diserang gempa. Kami segera disergap rasa waswas. Bagaimana jika selama kunjungan ke kampung ini, jalan tol di atasnya runtuh menimpa kami? Tentu kami akan mati bergelimpangan, seperti nyamuk yang baru ditepuk.

Kampung kolong tol terletak di bawah jalan tol lingkar utara, ke arah Bandara Soekarno-Hatta, di dekat pintu tol Gedong Panjang 1. Tepatnya di Jalan Rawabebek, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Lokasinya memanjang sekitar 2 kilometer, dengan lebar 25 meter. Namun, kampung kolong tol di Jakarta tidak cuma ada di Rawabebek, tetapi juga di 8 lokasi lain, yaitu Warakas, Sungai
Bambu, Kebon Kelapa, Jalan Tongkol, Kampung Walang, Jembatan Tiga, Petak Seng, dan Kalijodo. Mereka kini mengorganisasikan diri di dalam Ikatan Keluarga Besar Kolong Tol (IKBKT). Kampung Kolong Tol Rawabebek yang kami datangi, kini dihuni sekitar 1750 keluarga yang terbagi dalam 7 blok. Mulai dari Blok A hingga Blok G.

Di kampung ini, kami disambut Wartiyah. Wanita berusia 44 tahun yang berprofesi sebagai tukang jahit itu telah 7 tahun menghuni sebuah petak dua lantai berukuran 3 x 5 meter persegi, di kolong tol Rawabebek ini. “Kami mengerti bahwa ada bahayanya tinggal di kolong tol, tetapi selama ini kami selalu aman dan bisa menjalankan kehidupan dengan tenang,” ungkapnya. Ancaman musibah dan bencana alam akan diterimanya sebagai takdir dari Yang Kuasa. “Tidak perlu tinggal di kolong tol, manusia juga bisa mengalami tsunami atau gempa bumi, pokoknya jika itu yang dikehendaki Yang Maha Kuasa, maka itu yang akan terjadi, di manapun kita berada,” katanya menegaskan keyakinannya.

Hampir seluruh petak di kolong tol ini berukuran 3 x 5 meter persegi, karena mengikuti tiang rangka penopang jalan tol. Petak-petak itu berhimpitan satu sama lain dan dipisahkan gang-gang kecil, gelap dan lembab. Sebagian petak telah dibangun permanen dengan menggunakan batubata, tetapi sebagian lagi masih semipermanen dengan papan-papan tripleks.

Tidak ada satu rumah pun yang membutuhkan atap pelindung tambahan di atas petak-petak yang mereka tinggali. Semuanya memanfaatkan aspal tebal di atasnya untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Sebagian petak memanfaatkan tinggi jalan tol yang sekitar 6-7 meter untuk membangun 2 lantai di petaknya, sehingga mampu menampung lebih banyak kepala. Tetapi untuk lokasi-lokasi yang cukup rendah, bahkan ada keluarga yang harus selalu merunduk di dalam rumah, karena posisinya berada di tanjakan/turunan jalan.

Awalnya Tempat Pembuangan Sampah

Salah satu warga pioneer di tempat ini adalah Ibrahim (49 tahun). Kepada kami, Ibrahim mengisahkan bahwa usai pembangunan jalan tol di tahun 1995, belum ada warga yang tinggal di kolong tol. Kondisinya saat itu sangat memprihatinkan, jorok, becek dan penuh sampah. Rupanya warga di sekitar jalan tol memanfaatkan lokasi ini untuk membuang sampah domestiknya. Salah satu warga yang juga pendahulu di kolong tol ini adalah Nurdin. Pria yang berasal dari Aceh ini menceritakan bahwa dahulu dari pinggir jalan ke petaknya harus menggunakan titian karena masih banyak genangan air.

Baru pada saat krisis moneter menghantam Indonesia sejak paruh kedua tahun 1997, banyak orang jatuh miskin mendadak. Lambat laun orang mulai berdatangan dan menempati lokasi ini. Ibrahim dan beberapa orang pendahulu pun mulai membersihkan gunungan sampah di sana, lalu sedikit demi sedikit mengurug tempat itu dengan puing-puing bangunan dan mendirikan petak-petak di sana.

Namun saat itu masih banyak warga di sekitarnya yang membuang sampah di tempat yang telah dibersihkan itu. Baru setelah dilakukan pendekatan khusus, warga di sekitar jalan tol mau berhenti membuang sampah di sana. “Saya mengatakan bahwa saya tinggal di kolong tol, jadi tolong jangan diberi sampah lagi.”

Mengetahui hal itu, warga pun mulai berhenti membuang sampah di tempat itu. Mereka pun mulai mematok-matok tanah di kolong tol itu sebagai miliknya. Sebagian ada yang menjadikannya tempat usaha, ada pula yang menyewakan petak atau menjual kavlingnya pada orang lain. Seperti Wartiyah dan Darto suaminya, membeli petaknya dari warga Rawabebek (di luar kolong tol) dengan harga Rp. 350.000,-

Ragam Suku, Ragam Profesi

Lambat laun, rumah-rumah petak semakin padat dan warung-warung kecil muncul hampir di sepanjang ruas jalan. Sebagian warga kolong tol memanfaatkan petak-petak yang menghadap ke pinggir jalan untuk membuka kios kelompok usaha bersama. Ada kios kelompok pedagang sayur, pedagang siomay, pedagang baso, dan kelompok konveksi kecil-kecilan. Kelompok usaha konveksi bahkan sudah bisa menyuplai kain lap dan sepatu bayi ke beberapa supermarket, selain menerima jahitan pesanan. Bahkan ada advertising yang membuka kios di kolong tol ini. Tentu saja bukan yang berskala besar atau internasional, melainkan tukang membuat reklame dan spanduk. Sebagian kios ternyata dimiliki juga oleh warga sekitar kolong tol.

Sebagian warga kolong tol bekerja di sektor informal lainnya, seperti pemulung, kuli bangunan, buruh pabrik, supir berbagai kendaraan umum, tukang cuci, tukang sapu hingga pekerja seks komersial (PSK). Selain profesi, warga kolong tol juga memiliki keragaman latar belakang suku, mulai dari Jawa, Sunda, Batak, Minang, Makassar, hingga Cina.

Beragamnya latar belakang suku dan profesi warga kolong tol, tidak menjadikan mereka bersaing atau bermusuhan. Sebaliknya mereka hidup dalam kekerabatan yang erat. Hubungan akrab itu disebabkan berhimpitannya jarak antara petak mereka. Praktis tiap warga sangat dekat dengan tetangganya. Mereka senantiasa melakukan segala hal bersama-sama. Setiap keluarga memasak di depan rumah untuk menghindari kebakaran, sehingga setiap rumah bisa saling mencicipi masakan tetangganya. Ibu-ibu mencuci dan memandikan anak bersama. Anak-anak kecil pun bermain-main bersama keluar masuk kampung.

Selain itu mereka juga menciptakan unit kerja-unit kerja khusus yang mempermudah kehidupan mereka, misalnya: unit kerja kesehatan, unit kerja tabungan, unit kerja pendidikan bahkan hingga unit kerja penanganan kekerasan dalam rumah tangga. Mereka senantiasa berusaha untuk membantu menyelesaikan masalah warga kolong tol secara mandiri. Seperti unit kerja pendidikan memberi pendidikan bagi anak putus sekolah dan unit kerja penanganan kekerasan dalam keluarga membantu menyelesaikan masalah keluarga. “Maklumlah di tempat yang sarat dengan kemiskinan, kekerasan dalam keluarga tumbuh subur sebagai pelampiasan,” ungkap Wartiyah yang juga terlibat di unit kerja penanganan kekerasan dalam rumah tangga.

Pemukiman Ilegal

Hidup di kolong jalan tol bukan tanpa masalah. Wartiyah sendiri mengakui bahwa seringkali di musim panas petak-petak yang mereka tempati dipenuhi debu dari jalan tol di atasnya. Mereka sendiri hanya bisa berharap tidak ada penyakit yang menyertai debu-debu itu. Selain itu, kondisi pemukiman yang kumuh dan berhimpitan itu tentu beresiko kebakaran dan wabah penyakit. Warga kolong tol sendiri selalu siaga terhagap berbagai kemungkinan, sehingga berbagai langkah antisipasi selalu mereka lakukan semampunya. Misalnya mereka menciptakan aturan dilarang memasak di dalam rumah atau dilarang membakar sampah di kolong tol, untuk menghindari kebakaran. Sejauh ini semua berjalan baik-baik saja.

Namun yang paling mengusik ketenangan warga kolong tol adalah ancaman penggusuran. Sejak tahun 2002, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) menghembuskan isu penggusuran. Lewat selembar surat, pihak kementrian mengumumkan bahwa kolong tol tidak didesain untuk pemukiman, sehingga warga yang menempati lokasi itu harus mengosongkannya. Pemukiman
di kolong tol dikategorikan sebagai ilegal dan kumuh, seperti pemukiman bantaran sungai dan pinggir rel kereta api.

Status pemukiman kolong tol ini sebagai ilegal dan kumuh pada gilirannya merugikan warga kolong tol. Karena status ilegalnya, pemukiman kolong tol tidak memiliki struktur pemerintahan di tingkat paling bawah seperti RT dan RW. Meskipun di internal warga fungsi ini digantikan dengan fungsi blok yang tidak memiliki legitimasi apapun di muka pemerintah.

Absennya fungsi pemerintahan resmi di tempat ini melahirkan dampak beruntun. Warga tidak bisa membuat Kartu Keluarga dan KTP, tidak bisa membuat akta kelahiran dan surat kematian, tidak bisa mendapat kartu Keluarga Miskin (Gakin).
Tanpa kartu Gakin, mereka tidak bisa mendapat bantuan pemerintah seperti beras murah, Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Askes-kin), Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ketika banjir melanda tempat ini di tahun 2002, warga pun tidak berhak mendapat bantuan karena bukan warga resmi.

Lucunya, meskipun demikian warga kolong tol mendapat jatah listrik resmi lengkap dengan meterannya di setiap rumah. Mereka juga didata berulang-ulang ketika Pemilu dan mendapat kartu pemilih dengan status domisili di RT/RW. 00.

Wartiyah mengisahkan bahwa pernah suatu kali ada bayi dari warga kolong tol yang meninggal, namun tidak bisa dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum karena tidak mendapat surat kematian dari instansi pemerintah. Setelah diancam bahwa mayat jabang bayi itu akan ditinggalkan di kantor instansi itu, barulah surat kematian akhirnya bisa diterbitkan.

Ancaman Penggusuran

Ancaman penggusuran muncul sejak tahun 2002. Ketika itulah warga mulai mengorganisir di dalam IKBKT. Lewat organisasi ini, mereka mendata seluruh
penghuni warga kolong tol. Awalnya hanya mencakup kolong tol Rawabebek saja, namun kini sudah meliputi 9 wilayah.

Pada tahun 2002 itu, warga kolong tol Rawabebek menyiapkan konsep yang diajukan kepada Menkimraswil Soenarno. Konsep itu berisi data penghuni, peta wilayah dan rancangan penataan yang disiapkan oleh arsitek. Setelah pengajuan konsep itu kepada menteri, warga kolong tol Rawabebek dihadiahi SK Menteri
Kimpraswil No. 214/KPTS/M/2002 tentang izin tinggal sementara di kolong tol.

Dengan SK tersebut, pemerintah seolah-olah mengakui keberadaan warga kolong tol untuk bermukim dan memanfaatkannya sebagai tempat usaha. Bahkan Menkimpraswil Soenarno dahulu sempat 2 kali berkunjung ke Rawabebek. Selain Menteri, Nobel Peace Prize Winner, Shirin Ebadi dari Iran dengan disponsori
Kedutaan Besar Swiss di Indonesia juga sempat berkunjung ke tempat ini di tahun 2003 dan berdiskusi dengan warga. Kedutaan Besar Swiss lalu menindaklanjuti kunjungan Ebadi dengan menyumbang 20 mesin jahit untuk warga memulai usaha konveksi.

Namun setelah ganti kabinet, Menkimraswil baru, Joko Kirmanto, menerbitkan SK Menteri Kimpraswil no. 374 yang mencabut SK sebelumnya dan melarang warga bermukim di kolong tol. Warga kolong tol diberi tengat waktu hingga Februari
2007. Karena itu, warga kolong tol mulai digusuri, dimulai dari Kalijodo dan Petak Seng, lalu akan segera menyerang Rawabebek juga.

Warga sendiri sempat menanyakan apa sebabnya warga dilarang tinggal di kolong tol. Ketika itu, warga diberi jawaban oleh Kasubdit Monitoring dan Evaluasi Jalan Tol Ditjen. Bina Marga, T. Anshar bahwa mereka akan merusak konstruksi jalan tol. Tetapi warga berkilah lagi bahwa pemukiman mereka sudah ditangani arsitek dari beberapa NGO yang sudah mengantisipasi agar bangunan pemukiman warga tidak mengganggu konstruksi jalan tol. Caranya yaitu dengan melapisi tiang-tiang penopang jalan tol tersebut dengan lapisan baru.

Tetap di Kolong Tol

Pemerintah sebenarnya sudah menawarkan solusinya. Warga diajak pindah dan mencicil rumah susun Marunda. Pemerintah sudah menyediakan 3 blok di sana, tinggal menunggu fasilitas PAM dan PLN. Menkimpraswil Soenarno sendiri selama bertugas di kabinet telah menegaskan bahwa warga akan direlokasi secara
bertahap ke rusun. Namun relokasi itu beritanya tidak berkelanjutan lagi, tidak seperti kabar penggusuran.

Warga sendiri belum menganggap relokasi ke rumah susun itu sebagai langkah paling tepat. Dengan rumah susun, tidak sedikit warga yang akan mendapat
kesulitan baru. Pertama, karena mereka harus menyewa atau mencicil lagi rumah susun itu dengan harga yang cukup besar dan masa cicilan cukup panjang. Rata-rata penghasilan mereka tidak memadai untuk mengambil cicilan itu.

Kedua, tidak kondusifnya rumah susun untuk melanjutkan usaha mereka. Banyak di antara warga kolong tol adalah pedagang kaki lima atau pemulung yang mengandalkan kondisi pemukiman mereka saat ini. Mereka sendiri menyebutkan
dengan profesi mereka sekarang, di manapun mereka bermukim akan membangun wilayah pemukiman yang mirip lagi, karena mereka harus menumpuk hasil pekerjaannya di sekitar pemukiman.

Warga kolong tol sendiri berharap mereka bisa tetap tinggal di kolong tol dan tidak lagi dianggap warga ilegal. Mereka sendiri tidak keberatan jika harus membayar PBB atau m
enjalankan kewajiban lainnya. Bagi mereka yang dibutuhkan saat ini adalah penataan, sehingga warga dapat hidup dan berkembang dengan sehat dan mandiri, tanpa ancaman penggusuran.

Kami sendiri berharap agar kedua pihak membuka diri untuk mencari solusi yang paling tepat. Apapun langkah penyelesaian yang diambil, hendaknya menjadi kesepakatan bersama antara warga dan pemerintah, serta senantiasa berlandaskan kemanusiaan dan keadilan. Bukankah kita sama-sama mendirikan negeri ini untuk kesejahteraan setiap orang.





Tuesday, March 27, 2007

Balada Riska, Penjaja Koran Jalanan





Tulisan Bang Daniel Siburian







Riska Amelia. Itu nama yang disematkan ayah bunda kepadanya. Dihimpit kemiskinan ia dengan sukarela melakoni hidup menjadi penjaja koran di jalanan ketika menginjak usia kelas 2 SD. Maklum, ibunya hanya seorang penyapu jalan di Jalan Hayam Wuruk Jakarta. Ayahnya entah di mana berada. Riska telah melakoni pekerjaan selama tiga tahun. Kini ia telah menginjak usia 10 tahun dan duduk di kelas 5 SD Negeri 05 Kenari, Jakarta Pusat. Dari jerih payahnya menjajakan Koran di tengah hiruk pikuk dan polusi jalanan, setiap hari ia bisa membawa pulang sekitar lima puluh ribu ke rumah.

Tidak seperti anak penjaja koran pada umumnya, kehidupan jalanan tidak membuat Riska lalai atas tugas utamanya sebagai seorang siswa. Di sela-sela waktu tersisa, ia masih menyempatkan diri untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah yang dibebankan sekolahnya. Menurut pengakuan ibunya, Riska menduduki rangking tiga besar di sekolah!

Riska tidak pernah mengeluh atas nasib yang menderanya. Ia melakoni pekerjaan yang seharusnya belum waktunya dia kerjakan dengan sepenuh hati. Ia tetap memakai seragam sekolahnya ketika menjajakan koran. Karena, baginya, kalau harus berganti pakaian, malah kian memberatkan beban yang harus dia pikul di tasnya. Maklum, rumahnya jauh nun di Citayam, Depok, sementara ia berjualan di sepanjang Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Riska tak menduga sebelumnya, pemikiran sederhananya ini akan berakibat fatal. Ia ditegur keras oleh kepala sekolahnya dan diminta untuk pindah sekolah. Gadis polos itu dianggap telah mencermarkan nama baik sekolah, telah membuat Sang Kepala Sekolah, Sri Mintaningsih, malu bukan kepalang. Bu Kepala Sekolah tidak bisa terima sama sekali ada anak didiknya yang ketahuan khalayak ramai menjadi penjaja koran jalanan. Ya, salah satu koran ibu kota telah memuat foto Riska sedang berjualan koran di Tugu Tani.

Dunia Riska runtuh seketika. Tidak ada lagi keceriaan di matanya. Riska kini menjadi pendiam. Ia tidak mau lagi pergi ke sekolah. Bahkan untuk keluar rumah pun tidak mau.

Sungguh saya tidak bisa menahan geram ketika membaca nasib sial yang menimpa gadis kecil penjaja koran ini. Sekolah yang seharusnya mendidik anak didiknya dengan baik dan benar malah melakukan tindak kekerasan psikologis! Lebih menyebalkan lagi, sang guru membela diri bahwa ia sama sekali tidak memarahi Riska. „Saya sampaikan itu (penegasan tata tertib sekolah, termasuk pemakaian seragam sekolah - pen.) baik-baik, tidak dengan marah-marah,“ ujarnya membela diri.

Akal sehat saya tentu saja langsung menyanggah pembelaan diri tersebut. Mana mungkin Riska akan langsung berubah seratus delapan puluh derajat kalau ibu gurunya ng
omong baik-baik? Secara a priori saya lebih mengamini kesaksian ibu kandung Riska.

Memang, kalau kita tilik dari kacamata hukum, keputusan Rosnida, ibu Riska, untuk membiarkan (menyuruh?) dia berjualan koran bisa disebut sebagai kegiatan eksploitasi anak, mempekerjakan anak di bawah umur. Tapi, persoalan tidaklah sesederhana itu. Rizka dan rizka-rizka yang lain lebih membutuhkan empati daripada sikap pahlawan kesiangan. Tidak ada seorang anak pun yang terlahir ke dunia ingin menghabiskan masa kecilnya di jalanan, berteriak menjajakan koran, berharap ada orang yang membeli dagangannya; menghirup polusi udara; rentan terhadap tindak kekerasan seksual!

Seharusnya, ketika foto Riska tertampang di koran, akan lebih arif-bijaksana bila pihak sekolah mencarikan Riska beasiswa pendidikan. Terlebih Riska termasuk anak pintar, bisa menduduki rangking tiga, memiliki kemauan keras untuk bersekolah.

Tugas sekolah adalah memberi harapan hidup yang lebih baik buat anak didiknya, bukannya memadamkan asa mereka!***

Tuesday, February 06, 2007

BAH!!!













Hampir 12 tahun menjadi warga Bandung membuat gw sangat mencintai hujan. Gw suka dengan baunya, warnanya, bentuknya ketika jatuh di dedaunan dan udara yang begitu segar sesudahnya. Kata nyokap, gw juga lahir tepat di penghujung musim panas. Begitu gw terlahir ke bumi, hujan langsung membasahi bumi priangan nan jelita untuk merayakan kehadiran gw hehehe... Di sebuah cerpen gw pernah menyebut kecintaan gw pada Bandung adalah karena 2/3 malamnya diisi dengan hujan. Begitulah, akhirnya gw jadi mencintai hujan.

Ketika akhirnya gw hijrah ke Jakarta lima tahun lalu, gw harus menelan pil pahit. Kota ini sama sekali tidak rainable alias tidak bisa kejatuhan hujan. Atau mungkin hujan di Jakarta memang perangainya buruk. Tidak membawa kedamaian seperti hujan di Bandung. Di Jakarta, hujan sedikit saja, pasti lalu lintas langsung macet total dan orang-orang menggerutu. Makin digerutui, rupanya perangainya makin buruk.
Bah!!!

Apalagi kalau berhari-hari hujan dan berhari-hari banjir. Suasana murung, mendung dan semrawut meliputi Jakarta. Sebagian besar wilayah tergenang air. Lewat tayangan televisi bisa dilihat dari udara kota Jakarta seolah tenggelam. Lalu lintas tersendat, jaringan listrik, PAM, telepon dan internet ikut hanyut bersama harta benda para korban. Bencana kelaparan dan wabah penyakit pun mengintai ibukota. Perkantoran dan sekolah pun tak ketinggalan ikut lumpuh. Sekitar 300.000 warga Jakarta mengungsi dari rumah mereka akibat banjir yang tak kunjung surut. Setidaknya 20 orang meninggal dunia karena banjir yang mulai melanda sejak 1 Februari.
Bah!!!

Air bah yang menghantam Jakarta sejak Jumat lalu kemarin memecahkan rekor banjir di Jakarta. Amukan Sungai Ciliwung kali ini merupakan yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir. Luapan Ciliwung juga menghantam daerah-daerah yang selama ini tak tersentuh banjir. Hingga hari ini, potensi kerugian karena banjir Jakarta kali ini mencapai Rp 4,1 triliun.
Bah!!!

Hujan dan air kiriman dari bagian selatan Jakarta dianggap menjadi penyebab banjir tahunan ini. Namun penyebab lain banjir di ruas-ruas jalan adalah saluran air yang kurang memadai untuk mengalirkan air secara lancar. Salah satunya adalah karena proyek reklamasi pantai dan penyempitan bantaran sungai untuk pembangunan. Semua orang menzalimi Ciliwung. Akhirnya air pun mengalir sampai masuk rumah.
Bah!!!

Gubernur Sutiyoso sendiri menyebutkan siklus banjir besar lima tahunan sebagai penyebabnya. Pendapatnya itu disanggah oleh Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) yang mengatakan tidak ada istilah siklus lima tahunan untuk urusan banjir di Jakarta. Well, sepertinya kita cuma bisa menyalahkan hujan saja atas petaka banjir ini. Blame it on the rain, Baby! Bah!!!

Musibah banjir yang dialami rutin setiap tahun membuat sebagian warga Jakarta tidak khawatir. Mereka tidak lagi menganggapnya sebagai musibah, tetapi hiburan sekali setahun. Makanya Gubernur Sutiyoso juga mengatakan kalau mereka terlihat senang-senang saja. Namun, ketika air bah datang jauh lebih tinggi daripada yang mereka perkirakan, mereka pun terperangah. Bah!!!

Amukan Ciliwung tampaknya belum segera mereda. Menurut perkiraan Badan Meteorologi dan Geofisika, hujan akan terus mengguyur Jakarta dan sekitarnya--termasuk kawasan hulu Ciliwung--sampai 7 Februari nanti. Gw pun kembali merindukan hari-hari ketika gw mencintai sang hujan. Bah!!!

Bah!!! Jangan kau datang lagi!

foto dari Erikar Lebang

Saturday, October 07, 2006

Ketika Musim Kemarau Tiba a.k.a. Hazy Days



Bung yang satu ini mengutip beberapa blog dari negeri jiran yang mengomentari petaka kabut asap yang selalu jadi tamu rutin kawasan ini ketika musim kemarau tiba. Diantaranya adalah tulisan blogger dari Singapura, Sarawak, ada pula yang mengirim surat terbuka pada Perdana Menteri Malaysia, memaki dengan ucapan f***ing do something, Indonesia, atau berujar SINK INDONESIA!. Wah, rupanya negara kita pandai sekali membangkitkan kemarahan orang. Baik anak bangsa sendiri, maupun dari negeri tetangga.

Gw bisa mengerti kemarahan warga negeri jiran itu. I've been there. Ketika pernikahan ade gw yg jadi staf kejaksaan di Palangka Raya, gw menghabiskan waktu di kota itu hampir 2 minggu, dari 6 Oktober 2002 sampai 20 Oktober 2002.

Selama 2 minggu penuh itu, seluruh kota diselimuti kabut asap. Pernikahan pun berlangsung di balik kabut (literally). Suasana siang hari terasa sangat abu-abu dan bau. Kalau malam, gelap, keruh dan menyengat. Kita sudah nggak bisa tahu apakah badan kita bau asap atau tidak, karena seluruh kota sedang berbau asap. Setiap hari rambut sudah jadi kotor lagi, meskipun selalu keramas. Selera makan pun anjlog ke titik nadir. Airport ditutup, jadi jalan satu-satunya untuk meninggalkan kota itu harus melalui jalan darat ke Banjarmasin. Itu artinya untuk lepas dari kabut asap yang menyiksa itu pun harus menempuh perjalanan beberapa jam dulu, baru bisa berteriak bebas hoy...

Sepanjang jalan dari dan menuju Banjarmasin, bisa kita lihat hutan semak-semak yang terbakar dan memproduksi kabut asap - yang lantas kita ekspor ke negeri-negeri jiran itu. Bukan kebakaran besar dengan api berkobar-kobar, tetapi bara merah yang memakan daun, ranting dan dahan tanaman-tanaman itu perlahan-lahan. Kadang-kadang jika angin datang, bara memang terpercik jadi api kecil, tapi kemudian api padam dan menyisakan bara yang lebih banyak dan melanjutkan aktivitas produksinya.

Rasanya? seperti berada di dekat bakaran sampah setiap saat, tanpa bisa menghindar sama sekali. Mata perih sepanjang waktu, napas sesak tak ada jeda. Seperti ditusuki jarum terus menerus di seluruh tubuh yang perlahan-lahan akan membunuh kita.

Petaka kabut asap memang jadi tamu rutin kita setiap musim kemarau tiba. Gw mulai menyimak berita-beritanya mulai sekitar tahun 1996-1997. Gw ingat di salah satu edisi akhir tahun 1997, sebuah majalah berita lokal saat itu sempat memuat karikatur bencana yang menimpa Indonesia sepanjang tahun. Diawali dengan kabut asap di awal tahun (api sebenarnya mulai terpercik sejak Oktober 2006, tapi sampai berganti tahun memang tak kunjung padam), lalu kelaparan di beberapa kota pada triwulan pertama, lalu krisis moneter mulai 'mengobok-obok' Indonesia sejak paruh kedua hingga akhir tahun (eh apa hingga kini ya?). Wah benar-benar tahun air mata deh kala itu.

Kabut asap akibat kebakaran hutan ini memang menyerang negeri jiran dari Malaysia dan Brunei, bahkan bisa sampai Thailand. Tapi di dalam negeri juga bukan tak jadi korban. Selain Palangka Raya dan dan beberapa bagian di Pulau Kalimantan, sebagian Sumatra pun jadi korbannya, mulai dari Medan, Riau, hingga Palembang. Rupanya cita-cita Bung Karno agar bangsa kita bisa menjadi dian yang tak kunjung padam, berhasil kita transformasi di penghujung abad 20, menjadi bara yang tak kunjung padam.

Setiap tahun, peristiwa kebakaran hutan ini selalu disebut sebagai bencana atau petaka. Semakin rutin hadir, pemerintah tampaknya mulai merasa hal ini biasa saja dan minta dimaklumi. Toh ini bencana, bukan kami yang minta. Toh kabut ini akan hilang, kalau musim hujan datang. Padahal bencana tahun 1997 saja sudah merugikan kita hingga US$ 9.3 triliun. Bagaimana mau nggak krisis, kalau devisa dibiarkan terbakar begitu saja hingga begitu besar kerugiannya.

Gw gak tahu sih langkah apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mencegah what-so-called petaka atau bencana ini. Tetapi yang jelas 9 tahun ini terbukti, bahwa kalaupun pemerintah pernah berusaha melakukan tindakan preventif maupun tindakan penyelesaian, hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali.

Lucunya, ketika didemo Greenpeace minggu lalu, Menhut MS. Kaban justru meminta keadilan dari Greenpeace,"Di Amerika juga tiap tahun terjadi kebakaran hutan, tidak ada demo Greenpeace ke sana. Tidak fair, kan?" Gw jadi mikir apa perlunya Menhut RI memusingkan kebakaran hutan di AS, apa bukan sebaiknya dia memikirkan bagaimana menghentikan kebakaran hutan dan kabut asap di INDONESIA saja? Sungguh bukti yang sangat memiriskan tentang kepeduliannya terhadap masalah ini.

Warga Palangka Raya pun sepertinya sudah bosan mengeluh dan membiasakan diri hidup dalam kabut itu (termasuk adik gw dan keluarganya di sana). Memang memikirkan kabut asap yang hadir setiap kemarau ini sangat memusingkan kepala, lebih baik menonton kemolekan Meriam Bellina dalam Ketika Musim Semi Tiba (yang tidak lulus sensor di tahun 1980-an itu lho), sambil berdoa semoga besok hujan turun dan asap segera pergi.

Tetapi petaka kabut ini rupanya berbuntut panjang bagi kami. Anak adik gw itu - keponakan gw - yang baru berusia 3 tahun didiagnosis menderita bronchitis akibat kabut asap ini. Bayangkan, anak sekecil itu tiap hari harus tidur dengan nafasnya yang melenguh sesak dan terdengar sangat menyedihkan. Rapat keluarga pun segera digelar, hasilnya keponakan gw yang imut-imut itu akan tinggal bersama neneknya di Jakarta untuk sementara waktu, hingga sembuh dan orang tuanya bisa menyelesaikan urusan permohonan mutasi ke kota lain, tentunya yang tidak terkena petaka ini.

Keponakan saya memang boleh dibilang masih beruntung karena bisa punya pilihan. Tetapi bagaimana dengan ribuan anak Kalimantan lainnya yang mau tidak mau harus menerima petaka ini - hidup berselimut kabut tanpa ada pilihan. Apakah mereka harus menerima petaka ini sebagai berkah? Mau di mana diletakan muka bangsa kita kalau berhadapan dengan negeri jiran? Petaka kok jadi tradisi, tanya kenapa?

Monday, December 12, 2005

PETROLOGO



Tadi malam, tanpa sengaja gw menyaksikan acara launching logo baru Pertamina di salah satu televisi swasta. Acara ini segera menarik perhatian gw karena dua hal. Pertama, basically, di antara keluarga gw, sedikit banyak ada yang bekerja untuk Pertamina. Eh, tepatnya banyak dan turun temurun. Untunglah, untuk garis gw, bokap memutuskan jejaringnya lebih dulu. Kedua, karena ada Thessa Kaunang. Untuk alasan kedua sih, gw nggak perlu menjelaskan panjang lebarlah.

Paginya gw baru tahu kalau logo itu berharga US$ 250.000 atau senilai Rp. 2.500.000.000,- Untuk sosialisasinya akan menelan biaya Rp. 20.000.000.000,- Wow! Pertamina gitu lho? Pertanyaan-pertanyaan pun secara luas berkembang untuk menanggapi penggantian logo yang nilainya sangaaaaatttt mahal itu. Banyak yang sinis, termasuk gw.

Bung Kepra di CCI lalu mengajukan pertanyaan,"First Thing First. Ganti logo itu dalam beberapa hal memang penting. Kita bisa diskusi panjang lebar soal ini. Apakah Pertamina sudah saatnya ganti logo? Adakah sebuah prasyarat yang musti dicapai sebelum sebuah institusi memutuskan untuk mengganti logonya?"

Gw langsung merespons. Menurut gw, sementara di satu sisi, kita mengaku kekurangan anggaran untuk import BBM. Di sisi lain perusahan minyaknya menghamburkan duit sedemikian besar untuk ganti logo. Apakah se-urgent itu?

Bayangkan angka sedemikian besar untuk membuat logonya saja. Berapa besar lagi yang akan dibuang untuk mengaplikasikannya di berbagai media sampai di pom-pom bensin. Di setiap pom bensin kan ada gambar kuda laut yang harus segera di-take out dan diganti dengan logo baru. Coba kalo dana itu dijadikan dana subsidi untuk rakyat miskin, maka akan sanggup memberikan dana subsidi tambahan sebulan lagi untuk 225.000 kepala keluarga. Tapi mungkin memang lebih baik dipakai untuk ganti logo daripada dimakan sendiri.

Lalu, Bung Kepra membalas lagi lewat e-mail selanjutnya. "Apakah Pertamina sudah saatnya ganti logo? Ini pertanyaan untuk Pertamina, dikaitkan dengan First Think First. Apakah logo adalah hal yang teramat penting untuk segera dibenahi di Pertamina? Tidak adakah hal yang lebih penting lainnya, yang urgensinya melebihi ganti logo? Belum lagi hal-hal lain seperti yang disampaikan oleh Ei Sulaksmono, dalam kaitannya dengan konsekuensi setelah Pertamina ganti logo. Mengapa hal ini saya tanyakan? Hal ini saya tanyakan mengingat bahwa BBM adalah issue yang paling hangat di Indonesia. Dan setahu saya, Pertamina berhubungan erat dengan BBM. Sama ada kata MINYAK dalam singkatannya. Ada yang bisa kasih pencerahan dari sisi kehumasan yang lebih luas? Apakah pergantian logo ini tidak akan berdampak negatif? Atau justru positif?" (koreksi Bung Kepra: Sukmolelono, bukan Sulaksmono)

Bukannya gw tidak mendukung pekerjaan kreatif. Tapi hanya berusaha untuk berpikir komprehensif terhadap segala hal. Rupanya tidak cuma gw yang berpikir gini. Meneg. BUMN dan KPK kini tengah mempersiapkan pemeriksaan perihal ganti-mengganti logo ini. Semoga saja ketemu titik cerah, dalam hal apapun.

Falling Angels
Nitin Sawhney


it's a time for grown up boys
to make a mess of prety things
to lose yourself and find
a peace in your good-bye
I lost my faith in you
to distant dreams of true
nothing here redemes me
no angels to release me

[CHORUS]
unchain my falling angels
unchain my falling angels
to chain me

the shadows burry me
in rusty memories
hopes for inside
my angels call good-byes
you lost that photo-album smile
to memories fadded ,fadded,fading...
shall we fade child?

Wednesday, August 17, 2005

Artificial Independence: AI




Di tengah riuh rendah Perayaan 60 Tahun Indonesia Merdeka tahun ini, gw menemukan beberapa kejadian yang membuat gw jadi berpikir lagi tentang makna kemerdekaan sebuah bangsa.

Kejadian pertama terjadi sekitar tengah hari. Berkat adzan dzuhur berkumandang lewat corong mushola dekat kos, gw terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Setelah bersih-bersih badan sedikit, terasa perut lapar menuntut hak. Gw langsung turun dari kamar gw di lantai 3. Di teras kos yang ada di lantai 2, gw sempat melihat seorang Nigeria yang kos bareng gw bertransaksi di teras dengan seorang cewek. Jangan salah sangka, dia bertransaksi kain batik murahan, bukan transaksi narkoba. Lewat Bahasa Inggris yang sama-sama nglantur tapi dimengerti satu sama lain, gw paham agaknya si cewek ini memasok kain batik cetakan (atau kain sejenis) tadi untuk si Nigeria. Sambil makan makan di warteg, gw nonton duel sepak bola bocah-bocah Kebon Kacang yang main di lahan seadanya di belakang Pasar Gandaria. Gw melihat Pak RT semangat sekali membela salah satu tim, sampai pake ada aksi protes segala. Habis makan, gw langsung pulang. Tepat di depan kost gw, ternyata ada keramaian berlangsung. Tetangga-tetangga bilang ada anak kos berantem.

Ternyata yang berantem adalah si cewek yang tadi jualan batik di teras kos dengan ibu yang tinggal tepat di depan kos gw (Jl. Kebon Kacang II) yang dibantu anak ceweknya. Waktu gw datangi, si ibu tetangga sedang jenggut-jenggutan dengan cewek penjual batik itu. Sementara anak si ibu tetangga sedang memukuli kepala belakang si cewek penjual batik dengan helm. Lalu motor si cewek penjual batik ini pun runtuh menimpa si ibu dan si cewek. Gw langsung berusaha memisahkan mereka sendirian dan merasakan juga sedikit pukulan dari si ibu, anaknya dan suaminya. Nggak berapa lama, perkelahian itu langsung menarik perhatian orang. Tadinya gw menyangka kalo orang sudah ramai, kedua oknum yang berkelahi ini akan malu dan berhenti. Orang-orang pun seharusnya berusaha melerai, mencari tahu dan mendamaikan.

Tak dinyana, ternyata yang ada si ibu berhasil menyulut kemarahan massa. Rupanya si ibu ini sudah 3 kali mengamati cewek itu dalam seminggu terakhir bolak-balik ke atas. "20 menit naik ke atas terus turun lagi, ngapain coba kalo bukan ngelonte" katanya. Si cewek membela diri, "Enak aje, gw punya konpeksi, gw ke atas jualan barang jaitan". "Ah.. prett... Nonok lo tuh yang perlu dijait, biar nggak ngelonte di kampung orang. Kalo ada yang berzinah kayak lo, sial kami sekampung." Yang terjadi kemudian, massa menggebuki cewek ini beramai-ramai, tua-muda-anak-anak, laki-pere-banci. Semua orang dengan mata-mata penuh amarah. Mengerikan sekali, sungguh!

Tiba-tiba ada yang nyeletuk, pasti di tasnya ada putaw. Lantas handbag si cewek pun diperiksa ramai-ramai. Sempat gw saksikan ada beberapa orang yang menarik lembaran 50-ribuan yang menyembul dari dompet si cewek. Gw masih berusaha menenangkan semua orang sendirian. Gw berteriak-teriak menyuruh semua orang untuk istighfar dan membicarakan masalahnya. Yang ada gw dibentak Pak RT, "Lo diem aja deh!" Si cewek sudah tenang dan mau pergi, tetapi waktu dia minta tasnya, giliran pak RT beraksi dengan tidak mau mengembalikan tas si cewek dengan alasan mau periksa narkoba. Si cewek mulai meraung-raung lagi.

Mulailah dia diseret ramai-ramai ke mulut gang. Ada yang membawakan motornya juga (tapi kalo yang ini tampaknya berusaha membantu). Sementara si ibu yang mula-mula menggebuki tidak ikut menyeret si cewek tetapi dia nyerocos terus. Dia bicara soal kutukan yang akan menimpa sebuah kampung jika membiarkan perzinahan berlangsung. Since, dia ngajak ngomong soal hukum islam, gw coba ladeni dikit. Gw bilang,"Setahu saya bu, kalau dalam Hukum Islam itu, tuduhan berzinah harus disaksikan oleh 4 pasang mata, harus kepergok lagi melakukan. Gak bisa cuma kelihatan turun doank, kalo itu namanya bukan zinah tetapi fitnah", kata gw. Lalu si ibu menjawab, "Ah Tai, kalo buat gw sih peduli hukum apaan, yang kayak gitu gw bunuh sekalian juga nggak apa-apa. Adek belon tau sih, udah sering Niger2 ini digerebek ama orang masjid, kagak pernah kapok." Gw lalu menjawab lagi,"Itu namanya ibu mau menjalankan Hukum Islam setengah-setengah. Sama aja kagak mau puasa tetapi minta jatah buka. Lagian saya ngeliat kok, cewek itu dagang batik di teras atas. Ibu kagak ngeliat khan?" Si ibu cuma melengos tak peduli.

Tiba-tiba Pak RT datang mengatakan semua sudah beres, si cewek sudah pergi dan dia ternyata tidak membawa narkoba. Saya memang melihat cewek itu sudah mengendarai motornya dengan kepala mengucur darah. Pak RT mengajak gw ke atas menemui orang-orang Nigeria yang kos bareng gw. Sambil naik dia minta maaf ke gw. "Maaf dek, tadi saya ngebentak. Adek nggak tahu masalah di sini sih.", katanya. Dia lalu mendatangi 3 orang Nigeria di kos gw itu dan menceritakan masalahnya.

Dengan Bahasa Inggris campur Indonesia yang patah-patah, salah satu orang Nigeria membenarkan kalau cewek itu mengantar batik untuk temannya. Lalu dia menuntut pada Pak RT, "The people treat us like this, because we're black. It won't matter if I am orang Jawa like the others. I saw another anak kost bring woman into their room and nobody knocked on their door.." Pak RT lalu menjawab, " You tourist... stay at hotel... not kos-kosan..." Si Nigeria ini lalu menjawab, "But you've seen my work permit, it's cheaper to live at kos-kosan, And I've paid the rent until October", katanya. Tetapi Pak RT tampak sudah tidak peduli atau tidak mengerti. Gw juga sudah tidak peduli.

Gw merasa seperti Elia yang tidak sanggup mencegah Bangsa Israel untuk menolak menyembah Ahab atas perintah Izabel. Gw merasa seperti Elia yang tidak sanggup mencegah kejahatan Imam Agung dan menyebabkan kehancuran kota Zarfat (Akbar). Gw merasa sangat tidak berdaya. Gw cuma berusaha melupakannya dan merasa sudah berupaya maksimal meskipun tak ada hasilnya.

Jam 3 sore, gw berangkat ke kantor. Setelah menaiki ojek, motorpun segera dijalankan menyeberang jalan. Lewatlah seorang warga dengan mobil Suzuki Carry. Si pengemudi bercanda-canda dengan orang di pinggir jalan tanpa mengurangi sedikit pun kecepatan mobilnya. Alhasil, motor yang gw tumpangi ditabrak telak meskipun gw sudah berteriak keras banget untuk mengingatkan si pengendara mobil dan tukang ojek. Tetapi kejadiannya begitu cepat. Gw terlempar hingga jatuh mengangkangi selokan yang cukup lebar (untung nggak kecebur). Tetapi celana gw terkena lumpur di pinggir got dan jadi kotor sekali. Gw ditolong beberapa anak muda yang tadi nongkrong di sekitar situ dan bercanda dengan si sopir mobil.

Rupanya beberapa diantaranya ikut ngegebukin cewek tadi. Karena ada di antara mereka yang menyebut gw dengan julukan si mas yang tadi ada di tempat berantem. Mereka baik semua, karena membantu gw membersihkan diri di keran warung nasi uduk dekat sana. Setelah memastikan gw nggak luka sedikit pun. Anak-anak muda itu lalu berkata kepada si penabrak yang notabene teman mereka juga, "Udeh lo pergi aja, mas-nye kagak kenape-nape." Lalu si pengemudi yang jelas-jelas menabrak karena kesalahannya bercanda dengan orang di pinggir jalan sambil nyetir itu pun pergi begitu saja. Gw yang masih syok cuma bisa terbengong-bengong bego, melihat kenyataan itu.

Setelah orang itu pergi gw mulai mencoba menggerakan kaki yang ternyata sakit sekali. Sampai malam ini keseleo dan nyeri ototnya terasa dari betis sampai ke punggung. Tetapi sakit di badan itu tidak lebih penting dari pada sakit di hati gw. Rasa keadilan begitu diinjak-injak oleh sesama warga biasa. Ada orang tidak bersalah yang digebuki rame-rame dan ada orang bersalah yang dibiarkan pergi begitu saja.

Tiba-tiba gw sadar, ternyata sejatinya kita adalah penjajah!

Gw jadi inget pemandangan di kereta ekonomi Yogyakarta-Bandung dalam perjalanan pulang dari Kongres AJI I yang gw hadiri 10 tahun lalu. Ketika itu gw ngeliat puluhan ibu-ibu terpaksa berdiri, sementara ada beberapa orang yang memilih tidur rebahan di kursi untuk 3 orang dan pura-pura begitu lelap sehingga nggak bisa dibangunin. Waktu itu, gw akhirnya menyuruh ibu-ibu dan perempuan yang berdiri itu untuk menduduki punggung dan kaki si orang tidur yang nggak tau diri ini. Jadi mau nggak mau dia bangun. Trik itu berhasil sekitar 3 atau 4 kali dalam perjalanan itu, sementara gw tetap berdiri atau duduk di lantai dari Yogya sampai Bandung.

Sampai di Bandung gw bertanya pada Trisno, mengapa ada orang miskin menindas orang miskin juga seperti itu. Lalu Trisno menjawab, "Karena dalam hidup mereka sudah selalu ditanamkan budaya penindasan. Mereka juga selalu ditindas oleh orang-orang yang berkesempatan menindas mereka. Itu artinya berlapis-lapis. Jadi ketika sedikit saja mereka memiliki alat kekuasaan, seperti naik duluan di kereta ekonomi begitu, langsung mereka manfaatkan untuk menindas juga. Makanya di beberapa kantor, satpam bisa lebih galak daripada direktur, karena level ketertindasan si satpam dengan direktur berbeda jauh.

Mengingat semua itu gw jadi sedih dan takut banget. Mungkin pula tanpa sadar gw juga sudah menindas orang lain. Hanya karena gw berpikir gw benar dengan cara gw sendiri. Kepada semua orang yang pernah gw tindas dengan cara apa pun, gw memohon maaf sebesar-besarnya. Ini akan menjadi sebuah 'peringatan' yang sangat berarti bahwa sudah 60 tahun kita merdeka tetapi belum lepas juga dari penindasan. Kerja belum selesai. Belum apa-apa. Semua masih berupa simbol-simbol tanpa makna. Sebuah kemerdekaan simbolik karena belum memerdekakan warganya. Sebuah kemerdekaan yang tidak membebaskan. Sebuah kemerdekaan yang artificial. Artificial Independence!

Sekarang gw harus mulai berpikir untuk membangun kembali. Seperti Elia membangun kembali kota Akbar. Seperti Elia memulai dari dirinya. Seperti juga Elia, gw kini memilih untuk dibaptiskan dengan nama Pembebasan. Kendati pembaptisan kali ini tidak dilakukan di air atau di atas altar suci, melainkan hanya di dalam hati.
Semoga gw bisa...


CAHAYA BULAN
Composed by Eross So7, Lead Vocal: Okta

Perlahan sangat pelan
Hingga terang kan menjelang
Cahaya kota kelam
Mesra menyambut sang petang

Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang menentang
kemenangan oleh pedang...

Perlahan sangat pelan
Hingga kadang kan menjelang cahayanya
Nyali besar mencuat runtuhkan bayang

Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang menentang
kemenangan oleh pedang...

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan...
Yang takkan pernah kutahu di mana jawaban itu
Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

Terangi dengan cinta di gelapku
Ketakutan melumpuhkanku
Terangi dengan cinta di gelapku
Di mana jawaban itu...

Wednesday, July 20, 2005

HEMAT





Alkisah senin pagi minggu lalu, my darksoul mate -, bersungut-sungut menceritakan perihal club-club ibu Kota yang kini harus tutup pukul 04.00 dinihari. Jadi tak akan ada lagi hari-hari hardcore. tak akan ada lagi malam-malam panjang bak di surga, sekaligus di neraka. No more midnight in the garden of good and evil. Tapi bagi gw, ini bukan hal baru. Minggu sebelumnya, setelah kehilangan ponsel dan berbagai kesialan, gw sendiri mencanangkan gerakan pensiun dini, sekalian mengencangkan ikat pinggang. Gw hanya tersenyum simpul mendengar keluh kesah sahabat gw itu. Penutupan ini jadi semacam gayung bersambut dengan rencana gw.

Malam harinya, gw sampai di kos sekitar jam 01.20 dini hari. Gak usah kaget, gw memang semi workaholic, jadi jam seginian emang biasa baru pulang. Sampai di kos, seperti biasa langsung menyalakan TV dong. Yah, meskipun tidak sanggup lagi membayar Kabel, tetapi biasanya masih ada siaran tengah malam yang menarik. Setidaknya berita. Tetapi waktu menyalakan TV, gw gak menemukan satu channel pun yang nyala. Sebagai mahluk postmodern yang hidup di era informasi, gw langsung curiga ada yang salah dengan antenna TV gw. Langsung gw bongkar kabelnya dan memeriksa, lalu dipasang lagi, terus TV-nya distel lagi. Tetapi, lagi-lagi hanya menemukan semut-semut hitam putih menghiasi layar. Gw mulai takut TV-nya rusak, maka gw putuskan mencoba DVD. Ternyata nyala. Wah, lega banget rasanya karena ternyata TV nggak rusak. Gw mulai menghabiskan dini hari dengan nonton Sideways yang bagus banget itu (bagi yang pingin tahu kebagusannya Sideways, silakan klik di sini).

Pagi hari, ketika memulai aktivitas di kantor, tentu saja yang pertama gw buka adalah e-mail dan news website. Alangkah terkejutnya gw, ketika tahu musabab semut-semut hitam putih merubungi layar TV gw tadi adalah karena 'himbauan' atau 'anjuran' pemerintah kepada televisi dan radio swasta di Indonesia untuk melakukan pembatasan siaran, atas dasar Instruksi Presiden untuk hemat BBM yang diterjemahkan menjadi Peraturan Menteri (Permen) Komunikasi dan Informatika no 11/11/P/M.KOMINFO/7/2005 yang mengatur tentang Pengurangan Waktu Siaran Lembaga Penyiaran di Seluruh Indonesia. Permen ini rasanya benar-benar gak enak, karena dia mewajibkan semua stasiun TV dan pemancar radio dimatikan. Selain itu kebijakan ini dilengkapi juga dengan anjuran untuk memasang AC di angka 25 derajat, tidak menggunakan jas, mematikan lampu jalan setengahnya. Oleh Bung Yos, kebijakan ini didukung penuh dengan aksi ancam-ancaman segala.

Sontak, gw seperti kebakaran jenggot dengan berita ini. Selaku manusia dini hari, gw memang bukan manusia televisi. Tetapi setiap hari setidaknya gw melakukan ritual menonton televisi setidaknya 15 menit sebelum mulai menyetel DVD dan tidur. Ketika hak menonton TV gw dicabut, rasanya ada yang hilang dan terasa sakit. Tetapi itukan kepentingan pribadi, masa harus menang daripada anjuran hemat BBM dari pemerintah yang sudah semestinya berada di atas semua kepentingan pribadi individu-individu manja yang hidup di negeri ini.

Tetapi benarkah pembatasan siaran televisi itu adalah untuk kepentingan umum?

Kalo versi gw sih ceritanya kira-kira begini:

APBN 2005 berjumlah Rp. 397 triliun. Sekitar Rp.100 triliun habis dipakai untuk subsidi BBM. Sementara harga minyak dunia melonjak terus, ini bakal mengakibatkan kebutuhan subsidi BBM naik terus hingga bisa mencapai Rp.250 triliun. Jelas tekor dong. Kalo zaman Orba sih, hal kayak gini biasanya ditanggulangi dengan memperbesar utang luar negeri (kebetulan gw pernah nulis ini di Polar tahun 1995). Tetapi di tengah hidup yang begini pahit karena trauma utang luar negeri warisan Orba, tentulah pilihan untuk menambah utang lagi bak hantu yang bergentayangan dan menakuti orang-orang.

Jalan pintas lainnya sebenarnya adalah mengurangi konsumsi BBM nasional yaitu dengan membuatnya mahal. Sebenarnya untuk mengatasi masalah ini, pemerintah bisa saja memotong subsidi BBM. Seperti biasa dengan alasan bahwa subsidi ini akan disalurkan kepada orang yang lebih membutuhkan atau untuk pembangunan sarana dan prasarana publik yang terutama akan menggairahkan ekonomi masyarakat. Daripada dipakai untuk membiayai mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalan dan memacetkan jalan. Dengan BBM yang nirsubsidi, pemerintah bisa menanggulangi masalah kekurangan dana ini, plus mengurangi pemakaian alias penghematan BBM juga. Kalo bensin mahal, kan orang males bawa mobil kalo gak perlu-perlu banget. Sebisanya masih akan menggunakan transportasi umum. Jalan juga akan lebih tidak macet. Sementara sarana transportasi umum bisa dikembangkan dengan dana yang tadinya dipakai untuk subsidi. Ribet gak sih alirannya?

Masalahnya adalah, pemerintah baru saja mengambil kebijakan kontroversial mengurangi subsidi BBM ini sebelumnya dan hasilnya adalah panen aksi dan demo mahasiswa. Sebenarnya yang dituntut mahasiswa adalah transparansi pemanfaatan aliran dana subsidi yang dipotong itu. Sayangnya sejauh ini, pemerintah entah masih tutup kuping, entah tak acuh, entah ndak ngerti apa yang diteriakan mahasiswa itu. Maklumlah, demo kan biasanya panas-panasan dan pakai long march segala, sampai di istana negara, suara para demonstran sudah pada habis dan serak. Intinya pemerintah belum mau dan belum mampu memberikan penjelasan yang jelas terhadap tuntutan transparansi aliran dana tersebut. Maka pilihan untuk mencabut subsidi BBM adalah hil yang mustahal kalo kata Srimulat, eh.. hal yang mustahil maksudnya. Bak Soeharto dulu, gara-gara BBM yang tidak setitik itu, bisa terdongkel tuan dari kursinya. Jangan mengulang jejak kegagalan dong!

Ketika sadar bahwa pilihannya sangat terbatas. Mulailah pemerintah kebakaran jenggotnya. Dalam keadaan panik ini, dicarilah kambing hitam untuk mengatasi permasalahan ini. Ditudinglah kegiatan pembangkitan tenaga listrik sebagai sebab tingginya angka kenaikan BBM. Maka itu, pemerintah merasa perlu memotong dana ini dengan membatasi penggunaan listrik. Salah satu komponen yang akan mengurangi penggunaan listrik adalah penghentian siaran televisi dan radio ini. Karena ini berarti membuat stasiun televisi dan radio tidak perlu menyalakan piranti pemancar dan kantornya, sementara masyarakat juga mematikan TV dan lampunya. Nah, lebih ribet mana coba logikanya?

Gw sendiri gak tahu, sebenarnya seberapa persen penggunaan BBM ini tersedot oleh pembangkitan tenaga listrik. Tetapi kalau dari berita-berita dan analisis pakar, jelas lebih kecil ketimbang penggunaan BBM untuk kendaraan bermotor. Jadi melarang orang memakai jas, menghidupkan AC dan mengurangi jam siaran radio dan TV itu seperti gatal di hidung, yang dicabut bulu kaki.

Yang paling bermasalah dari Inpres ini sih prosesnya. Kalau di negara lain memang ada juga kampanye hemat energi. Tapi ya bentuknya kampanye bukan instruksi. Perlu digarisbawahi bahwa kebijakan ini adalah Instruksi Presiden lho, bukan imbauan seperti yang sering disebut di media massa. Beberapa kali bahkan imbauan ini sudah berubah jadi ancaman ketika yang bicara adalah Bung Yos (mengancam akan memutus listrik untuk gedung swasta yang masih memasang AC terlalu dingin). Masa keputusan mau nonton atau tidak nonton, keputusan kedinginan atau kepanasan, atau keputusan mau pakai baju apa hari ini saja harus negara yang membuatkan.

Padahal kalo logikanya mau ditarik panjang banget kayak logika pemerintah itu, keputusan yang diambilkan untuk kita itu juga ada dampak negatifnya. Setidaknya bagi kelompok orang tertentu. Malah kebijakan yang diambil ini juga cacat hukum, karena dalam UU Pers No. 40/1999 pasal 4 ayat 2 disebutkan pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan ataupun pelarangan penyiaran. Pada jam 01.00 itu, biasanya masih ada berita TV yang tayang, sementara menjelang subuh biasanya ada infotainment yang kebradaannya juga memikili keterwakilan di PWI.

Pemerintah banyak sekali tuntutan kepada warganya, sementara kompensasinya seperti transparansi aliran dana hasil pemotongan subsidi BBM saja masih sulit sekali diberikan pada warganya. Nah, sementara pembatasan siaran ini sebenarnya untuk kepentingan siapa. Pembatasan siaran ini kan dilakukan supaya tidak perlu mencabut subsidi BBM dan tidak perlu menyediakan transparansi. Kalau subsidi dicabut dan transparansi tidak disediakan juga, akan ada orang-orang tertentu yang harus lungsur atau longsor statusnya. Kalau begini judulnya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan bangsa?

Lucunya lagi, Inpres itu muncul sehari setelah perhelatan pernikahan putra Presiden yang memakan waktu berhari-hari dan makan biaya, BBM dan listrik besar yang konon memakai fasilitas negara karena diizinkan undang-undang. Plus, di tengah gencarnya tuntutan kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR yang sudah mencapai angka puluhan juta itu. Busyet, hemat banget yak!

Terlepas dari pokok yang gw bahas di atas. Gerakan penghematan yang dipaksakan ini benar-benar membuat gw semi-il-fil pada kata hemat. Gerakan penghematan yang gw canangkan dan berakar pada kesadaran, ternyata tidak berjalan searah sehaluan dengan gerakan penghematan yang dipaksakan pemerintah. Hampir saja, selip lagi minggu lalu. "Tetapi ya tidak boleh begitu, Ewink! Commitment is commitment. Sekarang kan loe lagi merencanakan untuk berhemat dan memulai belajar dan menekuni lagi suatu ilmu pengetahuan baru." Begitu kata sel abu-abu gw. Tetapi seperti biasa, gw butuh katarsis untuk uap gas beracun yang terkumpul di otak gw. Untung saja gw punya blog ini. Jadi lagi-lagi seperti puisinya Wiji Thukul, "Ku harus melangkah dan berkata-kata..." Tetapi cuma jari-jari gw yang melangkah.

UANG (Ian Antono)

Kapan dan di mana saja. Di seluruh dunia ini
Tak habis orang bicara, tak henti orang berdiskusi
Tiada bukan, tiada lagi
Mereka mencari
Cara cepat 'tuk mendapatkan

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Memang Uang bisa bikin
Orang senang tiada kepalang
Namun uang bisa juga bikin orang mabuk kepayang

Lupa sahabat, lupa kerabat
Lupa saudara, mungkin juga lupa ingatan

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang
Uang bikin mabuk kepayang

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Thursday, June 09, 2005

GUSUR

Kata-kata ini sempat menjadi kata-kata yang sangat populer hingga 7 tahun lalu. Bukan lantaran kata ini diangkat jadi salah satu karakter dalam comedy teenlit LUPUS, melainkan karena maraknya tragedi yang karena kata ini sepanjang pemerintahan Orde Baru. Reaksi perlawanan sendiri muncul baru dimulai sejak sekitar akhir tahun 1980-an, tepatnya sekitar 1988 dengan meletusnya kasus Cimacan di Garut dan - yang paling populer - Kedungombo.

Kasus-kasus tanah memang sempat menjadi pemantik ulang kehadiran mahasiswa Indonesia di kancah politik nasional. Sejak dibungkam lewat NKK/BKK sejak tahun 1978, kiprah politik mahasiswa memang tersendat selama hampir 10 tahun. Mereka baru berhasil kembali colongan lagi lewat aksi-aksi sosial dalam rangka anti penggusuran itu, baru kemudian meluas ke wilayah-wilayah tidak beres lainnya hingga akhirnya berhasil meruntuhkan pemerintahan 10 tahun sesudahnya.

Waktu gw mulai kuliah di Bandung tahun 1994, gw juga mulai belajar politik lewat kasus-kasus penggusuran yang marak terjadi di Jawa Barat waktu itu. Dua kasus penggusuran pertama yang jadi sekolah politik gw waktu itu adalah Kasus tanah Cibeureum - yang entah bagaimana nasibnya kini - dan Kasus Penggusuran lahan berjualan Pedagang Kaki Lima UNPAD. Untuk kasus kedua, pada akhirnya kami berhasil membuat pihak birokrasi kampus mengembalikan lahan berjualan tersebut. Para pedagang kaki lima yang nyaris tergusur itu, akhirnya membentuk Serikat Pekerja sendiri bernama Pakilun (Pedagang Kaki Lima UNPAD). Kabar terakhir mereka juga sempat membetuk Koperasi segala. Entah bagaimana juga khabarnya sekarang.

Gw nggak banyak mengikuti lagi, karena gw telah tercerabut dari akar rumput itu lama sekali. Terakhir kali gw berurusan dengan masalah ini kira-kira tahun 1999, waktu gw ikutan Simposium Agenda Reformasi Pertanahan yang diadakan Akatiga di Puncak. Waktu itu terjadi hubungan yang sangat dialogis antara birokrasi pemerintah BJ Habibie dengan NGO yang mewakili rakyat. Waktu itu juga diumumkan berbagai paket deregulasi birokrasi tanah berupa kemudahan sertifikasi pemilikan dan pengurusan hak guna tanah. Detailnya gw sekarang sudah agak lupa. Tak lama kemudian, gw pun perlahan-lahan menjauhi politik dan mendekati dunia hiburan.

Dalam situasi beku panjang itu, tiba-tiba hari Minggu, 5 Juni lalu gw disentakan berita penggusuran lagi. Kata-kata itu tiba tiba muncul lagi dalam daftar kosakata gw, setelah terkubur sejak pergantian milenium.

Awalnya adalah Rere yang meminta gw menemaninya jaga stand di Pameran Industri Pers. Sebelum gw datang, Rere minta dibawakan makanan, jadi gw belikan dulu di Sogo Supermarket. Keluar dari Sogo Supermarket, lalu siap-siap menunggu taksi di depan Wisma Nusantara. Gw mulai bingung kenapa tidak satu pun kendaraan lewat siang itu di tepi Jl. Thamrin (bayangin!!). 5 menit kemudian, gw pun menemukan sebabnya. 2000 orang korban penggusuran tengah berdemonstrasi dengan berjalan kaki mulai dari Patung Arjuna dekat monas ke Bundaran HI. Di Bundaran HI, mereka lalu menggelar pentas nol penggusuran yang dihadiri juga oleh artis Rieke Dyah Pitaloka.

Siang itu mereka menuntut dicabutnya Perpres No. 36/2005. Perpres 36/2005 konon menjadikan investasi adalah raja, sementara rakyat adalah kendala. Atas nama pembangunan untuk kepentingan umum, proyek pemerintah dan swasta yang digunakan untuk mencari keuntungan diperkenankan untuk mencabut hak rakyat atas tanah. Seperti disebutkan dalam Perpres tersebut, panitia pengadaan tanah dibentuk oleh bupati atau wali kota dengan susunan keanggotaan yang terdiri atas unsur-unsur perangkat daerah terkait. Penitia ini mengatur mekanisme ganti rugi dengan cara musyawarah dalam jangka waktu 90 hari, namun jika dalam jangka waktu tersebut tidak tercapai kesepakatan harga, maka panitia pengadaan tanah dapat menetapkan harga ganti rugi secara sepihak. Perpres 36/2005 akan membuat pembangunan berbagai proyek menjadi lancar. Yang artinya puluhan ribu rakyat yang selama ini hanya ingin tinggal secara wajar akan tergusur secara legal.

Dari www.jatim.go.id, seorang tokoh pemerintahan menyatakan sebenarnya Perpres ini justru melindungi rakyat karena dia menyebutkan secara detail poin-poin yang disebut kepentingan umum jadi rakyat tidak bisa semena-mena digusur untuk suatu proyek melainkan hanya untuk proyek-proyek kepentingan umum yang sudah disebutkan saja. Perpres ini memuat 21 jenis proyek “pembangunan untuk kepentingan umum”, yakni: (a) Jalan umum, jalan tol, rel kereta api, saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi, (b) Waduk, bendungan, irigasi, dan bangunan pengairan lainnya, (c) Rumah sakit umum dan pusat kesehatan masyarakat, (d) Pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api dan terminal, (e) Peribadatan, (f) Pendidikan atau sekolah, (g) Pasar umum, (h) Fasilitas pemakaman umum, (i) Fasilitas keselamatan umum, (j) Pos dan telekomunikasi, (k) Sarana olah raga, (l) Stasiun penyiaran radio, televisi dan sarana pendukungnya, (m) Kantor pemerintah, pemerintah daerah, perwakilan negara asing, PBB, dan atau lembaga-lembaga internasional di bawah naungan PBB, (n) Fasilitas TNI dan POLRI sesuai tugas pokok dan fungsinya, (o) Lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, (p) Rumah susun sederhana, (q) Tempat pembuangan sampah, (r) Cagar alam dan cagar budaya, (s) Pertamanan, (t) Panti sosial, dan (u) Pembangkit, transmisi, dan distribusi tenaga listrik (Pasal 5). Tapi lucunya, objek kepentingan umum di sini juga didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat dikelola swasta dan menghasilkan keuntungan juga.

Gw terhenyak kaget di pinggir jalan. Tiba-tiba gw seperti telah dilemparkan jauh sekali dari bumi tempat gw berpijak. Gw nggak menyangka banget bahwa ternyata masalah ini masih jadi dilema tak terpecahkan. Mata gw yang terpejam dalam tidur panjang seperti dibuka kembali. Kasus-kasus tanah memang tak lagi jadi kasus populis akhir-akhir ini. Orang lebih tertarik membahas masalah-masalah politik makro ketimbang ribuan orang yang terusir dari tempat tinggalnya. Yang lebih membuat gw kaget adalah bagaimana Perpres ini seperti menarik kita kembali ke masa lalu. Ketika jargon Atas Nama Pembangunan mengemuka dengan gagahnya.

Gw sendiri nggak bisa ikut aksi siang itu. Gw hanya menunggu mereka lewat semua, lalu menemukan taksi dan segera berangkat ke Senayan untuk membawa makanan bagi Rere. Di dalam taksi otak gw berpikir keras (sudah agak jarang juga sih hal ini gw lakukan). Kalau dulu mungkin gw akan langsung ikut merapatkan barisan di sana dan ikut berkata-kata. Kali ini gw seperti tidak berdaya. Satu-satunya yang bisa gw lakukan adalah hal ini. Semoga bisa dipahami...

Sebelum sampai di Senayan, gw mendengarkan lagu U2 lewat iPod pinjaman.

Walk On

And love is not the easy thing
The only baggage you can bring...
And love is not the easy thing...
The only baggage you can bring
Is all that you can't leave behind

And if the darkness is to keep us apart
And if the daylight feels like it's a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong

Walk on, walk on
What you got, they can't steal it
No they can't even feel it
Walk on, walk on
Stay safe tonight...

You're packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed to be seen
You could have flown away
A singing bird in an open cage
Who will only fly, only fly for freedom

Walk on, walk on
What you got they can't deny it
Can't sell it or buy it
Walk on, walk on
Stay safe tonight

And I know it aches
And your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

Home...hard to know what it is if you never had one
Home...I can't say where it is but I know I'm going home
That's where the heart is

I know it aches
How your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

Leave it behind
You've got to leave it behind
All that you fashion
All that you make
All that you build
All that you break
All that you measure
All that you steal
All this you can leave behind
All that you reason
All that you sense
All that you speak
All you dress up
All that you scheme...


Music: U2
Lyrics: Bono

Tuesday, March 01, 2005

BENSIN

BBM naik lagi! Orang-orang geram lagi, mahasiswa demo lagi dan antrian di pom bensin panjang lagi. Sialnya, gw gak denger sama sekali bahwa BBM akan naik tepat pukul 00.00 dini hari tadi. Jadi ketika tanpa perasaan bersalah, semata-mata karena bensin sudah sangat kosong gw pun menuju pom bensin Menteng. Namun apa hendak dikata, antrian begitu panjang membludak hingga memaceti jalan Lombok. Gw pun memutuskan untuk berbalik arah memotong jalan Lombok dan melupakan mengisi bensin. Sampai di sekitar Hotel Setiabudi, tungky pun mogok. Gw pun panik. Gw pikir si tungky yang tua renta itu kembali sakit-sakitan seperti sebelumnya. Namun kemudian gw cek ke dalam tangki bensin. Memang ternyata isinya sudah kering kerontang. Tungky pun harus didorong sekitar setengah kiloan. Untuk saja ada penjual bensin eceran yang sebenarnya tidak gw percayai. Namun ternyata di saat seperti itu dia menjadi dewa penyelamat. Bayangkan dari orang yang kita curigai menjadi dewa penolong, what a twist of fate! What a life!

Sesampainya di kos, ternyata televisi menyiarkan siaran pers pemerintah tentang kenaikan BBM yang akan diberlakukan tepat tengah malamnya. Mahfumlah gw akan sebab musabab padatnya pom bensin sore itu. Tetapi yang gw tetap tidak bisa mahfum, buat apa sih orang berebutan mengisi bensin seburu-buru itu. Paling lama mereka bisa menikmati bensin harga lama itu hanya dua hari ke depan, sesudahnya realitas kenaikan harga BBM harus tetap dihadapi juga.

Hari ini, ada pemotretan telenji di Hotel Sparks Mangga Besar. Sialnya kami salah ambil jalur. Dari Menteng, kami memilih belok kiri lewat Istana Merdeka yang ternyata telah dipadati ratusan pengunjuk rasa kenaikan BBM. Saya lagi jalan sama Oom H, si manager model dan B, si fotografer. Mereka menggerutu sepanjang jalan tentang ketidakbergunaan demo. Dalam hati gw teringat beberapa artikel yang pernah gw tulis pada saat kuliah dulu. Ketika itu gw dengan sangat gigih membela pernyataan agar kita tetap demo. Siang itu, berbekal gerutuan B dan Oom H, gw merenungkan kembali tulisan-tulisan gw sebelum menjadi penulis gaya hidup dan hidup gaya seperti sekarang. "Ah, saya tidak merasa terwakili oleh mereka, hanya memacetkan jalan saja!" keluh mereka. "Benar juga" kata saya dalam hati. Tetapisebenarnya layakkah kenaikan bensin ini? Ya layak! Lantas mengapa demo segala? Dalam kemacetan gw pun tertidur. Dalam tidur gw pun bermimpi, mahasiswa-mahasiswa itu berteriak kepada gw,"Bukan kenaikan yang kami masalahkan? Tetapi sebab kenaikan itu. Tidak pernah ada pertanggungjawaban yang jelas terhadap subsidi BBM yang selalu dikampanyekan. Bahkan berbagai penyelewengan menyangkut urusan petro rupiah ini sejak zaman dahulu tidak pernah dibereskan." Begitu kata mereka dalam mimpi gw. Gwpun mengangguk kepada mereka. Dan dalam mimpi gw, tiba-tiba gw turut merapatkan barisan bersama mereka. Gw jadi ingat, perkara bensin pulalah dulu yang awalnya membakar tahta the smiling general. Kejatuhan yang akhirnya disyukuri semua orang.

Sayang hanya di dalam mimpi...

Gw terbangun sejenak kemudian, gwpun merasa berdosa. Karena sementara gw setuju dengan pertimbangan-pertimbangan demonstran itu. Gw malah sedang enak-enakan duduk dalam mobil ber-AC. Tetapi kemudian gw berpikir lagi. Biarlah terjebak dalam kemacetan ini menjadi kontribusi terhadap suara hati gw yang diwakili mereka. Gw malah merasa lebih baik daripada orang yang mengutuki demo itu tetapi kemarin malam ikut-ikutin memadati pom bensin, sehingga si tungki yang benar-benar haus tidak dapat jatah minum dan sampai mogok di jalan. Begitulah, begitulah...

Friday, January 23, 2004

BAUR

Hari ini hari raya Imlek, herannya hari ini panas banget. Gak kayak tahun kemaren yang basah banget. Tapi yah tidak apa-apa, mungkin ini tanda bahwa Tahun Monyet Kayu ini akan sangat dinamis. Orang mana mau keluar, jalan-jalan di cuaca hujan, meningan di rumah tidur atau menyeruput teh manis panas. Kalo hangat begini orang maunya main terus, jalan-jalan, kalau pun nongkrong paling juga di Starbucks menikmati Coffee Iced Shaken yang luar biasa lezatnya itu.
Anyway, catatan hari ini sama sekali bukan soal cuaca. Eh ada sedikit soal cuaca hati yang sepertinya lagi hijau segar terus nih beberapa hari ini. Biarpun kemaren deadline kelewat 2 hari tapi tetap segar, walaupun ada sedikit rasa sesal sih...aduh ngelantur terus nih.
Ngomongin Imlek, pikiran gw jadi kembali ke beberapa tahun ke belakang. Ketika kita masih dikendalikan Soeharto. Ketika itu, segala hal yang berbau China dilarang beredar. Hari Raya Imlek tidak boleh dirayakan. Barongsai yang ciamik itu tidak boleh dimainkan. Aksara dan bahasa China tidak boleh digunakan. Terbitan berbahasa China pun dibredel.Nama China harus diindonesiakan. Sampai masih banyak orang China yang masih disebut WNA padahal sudah menahun hidup di Indonesia. Orang China tidak boleh berpolitik. Konon pula, prosentase tembus UMPTN bagi etnis ini pun dipersempit. Alasannya: untuk menumbuhkan nasionalisme di kalangan warga keturunan tionghoa Indonesia. Program ini disebut pembauran. Lucunya alasan dan tindakan suka tidak nyambung, katanya mau berbaur tapi yang ada kok malah dibatasi? Katanya disuruh berbaur, tapi kok hak pribadinya berbeda dengan hak pribadi orang yang mengaku pribumi. Kewajiban juga beda.
Akhirnya zaman kegelapan itu berakhir sudah...meskipun masih samar-sama, fajar tampaknya siap menyingsing di negeri ini. Sejak zaman Gus Dur, semua hak yang selama ini dibendung akhirnya dibuka. Imlek boleh dirayakan lagi, Barongsai boleh kita tonton lagi. Alhasil di masa ini mungkin justru lebih gampang berbaur.
Kita memang sering terjebak dengan istilah persatuan. Atau mungkin persatuan itu sudah kata yang salah ketika digunakan untuk menjelaskan suatu komunitas. Bersatu adalah menjadi satu, tapi apa mungkin. Bahkan mobil satu seri yang sama dari satu pabrik yang sama bisa saja berbeda. Bersatu itu sebenarnya merujuk pada apa? Kenapa kemudian identitas yang diharamkan? Bukankah identitas itu suatu yang melekat pada kedirian seseorang.
Beberapa hari yang lalu gw baru nonton VCD yang judulnya Jangan Panggil Aku Cina, yang main Leony dan Teddy Syah. Dari judulnya saja gw udah bingung, kenapa gak mau dipanggil China? Kalau memang keturunan China ya gak apa-apa dunk dipanggil China. Film yang dulu diputer di FTV dalam rangka Imlek 2 tahun lalu itu, akhirnya kembali pada klise pembauran. Orang China itu sudah lama di Indonesia, jadi dia sudah orang Indonesia. Lah orang Batak juga sudah lama di Indonesia, kenapa gak ada masalah kalau dipanggil Batak?
Kembali ke masalah China, mendiang Yap Thiam Hien -- idola gw itu -- selalu menolak himbauan pemerintah untuk ganti nama. Dia juga tidak mau ganti nama anak-anaknya. Bagi dia memilih nama itu hak orang tua atau hak asasi manusia dan tidak ada hubungannya dengan sikap nasionalisme. Engkong pembela keadilan itu membuktikan bagaimana dia selalu membela nasib rakyat kecil sepanjang hidupnya. Engkong yang hebat itu pun selalu membela Hak Asasi Manusia yang sering dilanggar justru oleh orang-orang yang teriak persatuan itu. Rupanya menjadi Satu, telah jadi excuse yang hebat untuk menindas. Setelah semua perjuangannya siapa yang berani bilang Engkong Yap Thiam Hien itu tidak nasionalis. Anak-anaknya pun menikah dengan orang Jawa, orang Sumatra dan lain-lain.
Sebenarnya beda itu biasa, atau lebih tepat kalau beda itu justru perlu. Siapa bilang kita tidak bisa bersama kalau kita beda-beda. Indro Warkop bilang bahwa dia lebih setuju dengan istilah Bersama dan Kebersamaan. Istilah itu sudah mengandung nilai penerimaan atas perbedaan. Istilah Bersama dan Kebersamaan mengisyaratkan adanya sinergi. Gw setuju dengan Indro Warkop yang menggunakan istilah ini. Gw lebih sepakat kalau tugas kita itu untuk memahami identitas-identitas orang lain, hidup bersamanya dan kemudian mencapai hasil dari resultansi kekuatan masing-masing.
Imlek Tahun Lalu, gw ajak seorang teman menonton pertunjukan China Moon di Goethe. Efek nonton pertunjukan itu, dia yang tadinya gak mau ngaku bahwa dia China, akhirnya mau bilang bahwa dia China. Akhirnya dia percaya orang lain bisa mengerti, bahwa China itu hanya masalah identitas belaka, bahwa masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, dia akhirnya percaya bahwa orang sudah bisa terima hal-hal manusiawi begitu. Lebih penting lagi, dia pun bilang bahwa dia juga bangga menjadi China. Karena dia punya keunikan tradisi dan kebudayaan khas yang bisa dia serap kelebihannya. Akhir-akhir ini, gw liat dia sudah menggunakan namanya keluarga di akhir namanya. Jadi seperti Andy LAU, atau Christy CHUNG, begitu lah. Kalo atas pilihan sendiri, nama bagaimana aja ya gak pa-pa lah. Tadi pagi si Ucok juga SMS bahwa dia tersentuh dengan buku China Moon yang dibikin khusus dalam rangka pertunjukan itu. Katanya itu bikin dia tambah sayang dengan keluarganya. Bagus! Semoga semakin banyak yang menemui hal seperti itu.
Kesimpulannya, sejak menjadi keturunan China itu boleh ditunjukan lagi di Indonesia. Meskipun gw bukan sama sekali keturunan China (kalo pun gw ngeclaim begitu pasti diketawain orang), gw berhasil menemukan hal-hal baru yang memperkaya hidup gw dan melengkapi isi otak gw. Gw juga bisa melihat lebih banyak hal indah dalam hidup gw, seperti nonton barongsai misalnya. Tapi masalah eksistensi China tidak sekedar, boleh merayakan imlek, boleh mempertontonkan barongsai, boleh menggunakan aksara China. Tapi lebih bagaimana kita hidup bersama mereka tanpa kecurigaan dan siap bekerja sama dengan konstruktif. Itu kata Sujiwo Tejo di Pengantar buku China Moon. Gw semakin heran kenapa dulu pake dihambat-hambat untuk tumbuh. Gak perlu lah ada yang dihambat untuk tumbuh. Mari kita sama-sama belajar dari apa yang bisa kita pelajari. Aduh jadi kangen ama Fe, my little chinese daughter! Ma petite fille chinoise


SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2555
Gong Xi Fa Chai

Sunday, October 26, 2003

KAWIN LARI

1976: Christine Hakim dalam Kawin Lari (Teguh Karya, 1976), Best Actress di Asia Pasific International Film Festival.

Sepuluh hari yang lalu, pada jam makan siang, seorang sahabat lama DAM (bukan nama sebenarnya) menelpon gw. Dia bercerita tentang rencana pernikahannya yang penuh hambatan. Memang DAM yang beragama Islam dan pacarnya SG (bukan nama sebenarnya juga he3x) yang beragama Kristen Pantekosta, menurut Undang-Undang dilarang menikah di wilayah Indonesia. Sebelumnya mereka sempat konsultasi dengan MM seorang artis yang tidak terlalu terkenal yang juga menikah dengan suaminya yang berbeda agama tapi berhasil menikah di Indonesia. Atas rekomendasi si artis tersebut, mereka pun pernah mengurus masalah ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan hasilnya mereka diizinkan negara untuk menikah. Tentu saja keputusan itu keluar dengan pelicin yang makan biaya besar. Namun apa mau dikata, begitu mereka menghadap catatan sipil, ternyata mereka tetap tidak dapat menikah karena tetap melanggar Undang-Undang Perkawinan. Lha, lantas mengapa pengadilan negeri mengizinkan?

Akhirnya mereka menemukan jalan lain, mereka bertemu seorang pendeta yang bekerja di catatan sipil dan bisa menikahkan mereka sekaligus mendaftarkan perkawinan itu ke catatan sipil. Karena kesibukannya, si pendeta hanya bisa menikahkan malam itu, atau ditunda lebih lama lagi. Lucunya, mereka pun mendapat konfirmasi bahwa mereka bisa menikah baru pada jam 11 siangnya. Jadi jam 12.30, seusai bercerita tentang kesulitan menuju pernikahannya, DAM meminta kesediaan gw menjadi saksi dalam pernikahan rahasianya, nanti malam!!! What??? Ya, nanti malam.

Gw langsung bersedia, you know lah, gw paling demen kalo mendapat pelajaran baru. Menyaksikan sebuah kawin lari actually happened in front of my bare eyes, whoa that's experience. Tapi crazy banget, mereka berdua pulang kantor, menjemput gw lalu kita langsung ke rumah pendetanya. Sampai disana, pendetanya menyuruh mereka tanda tangan beberapa surat (pake ada acara salah tanda tangan pula, karena pendetanya lupa)> DAM dan SG bahkan gak memamakai jas dan gaun, mereka pun gak membawa cincin untuk dipertukarkan. Bahkan dalam pernikahan Ross dan Rachel yang dalam keadaan mabuk berat dan cuma di serial komedi TV aja, at least mereka masih tukar cincin.

Yang bikin gw heran sebenarnya bukan mereka berdua. Mereka sih, cuma insan yang saling mencinta dan mendamba jalan yang paling mungkin untuk bersatu. Yang gw heran adalah perlakuan negara terhadap para calon penikah-penikah ini. Kepentingan negara terhadap pernikahan khan sebenarnya memberi perlindungan, jadi siapa pun yang hendak menikah mestinya diijinkan supaya terlindungi. Kepentingan negara terhadap pernikahan khan bukan soal syi'ar agama tertentu. Jadi seharusnya, kalau pencatatan perkawinan oleh negara yah dicatat aja. Masalah perkawinannya syah atau tidak, itu urusan instansi agama sendiri. Toh, ada juga aliran agama yan mengijinkan. Coba kalo mereka memilih kumpul kebo aja, lalu terjadi kekerasan dalam hubungan, khan gak ada yang melindungi secara hukum.Mestinya memanfaatkan jalur pindah agama by married buat menambah umat sudah sepatutnya ditinggalkan saja, karena terbukti kualitas lebih penting dari kuantitas. Keberagamaan tidak dinilai dari pengumpulan koin, banyak-banyakan umat. Jadi mengharuskan orang menikah seagama untuk bisa dicatat secara resmi oleh negara sudah tidak penting lagi. Daripada mendapatkan umat yang tidak ikhlas dan pindah agama hanya supaya bisa menikah aja khan gak memberi keuntungan apa pun bagi siapa pun. Kalau mau pindah yan harus karena panggila hati lah, jangan karena terpaksa mau kawin. Jangan masalah ini malah dimanfaatkan segelintir orang, untuk cari keuntungan lagi. Lucunya lagi, pernikahan beda agama dari luar negeri justru diakui keabsahannya. Tuh, khan seperti biasa tidak konsisten.

Akhirnya malam itu mereka menikah, saksinya gw dan Melly, cuma ada 2 foto pake HPnya Melly. Anyway, selamat berbahagia DAM dan SG, semoga langgeng !

Tuesday, August 05, 2003

BOM



Hari ini Jakarta dibom lagi!
"Entah apa kata dunia", kata Bang Naga
"Mengapa harus kata dunia Bang, mengapa bukan kata kita?"tanya si Bujang
"Karena kata kita sudah tak penting lagi, Bujang. Karena sudah bergalon-galon air mata tumpah ruah di bumi ketidakberdayaan ini memohon berhentinya kekerasan fisik, mental dan spiritual tapi semua tenggelam sia-sia"
Tampaknya masa-masa ini adalah do'a tak diijabah. Masa ini adalah masa-masa kita belajar mencari hikmah dan membakar samsara.
Karena begitu banyak luka, tapi begitu banyak yang lupa.

Bomb dalam Bahasa Perancis bombe, dalam Italia bomba, diduga dari bahasa Latin bombus yang artinya deep hollow sound, kemudian diadopsi Yunani menjadi bombos. Diduga pertama kali digunakan dalam bahasa modern sejak tahun 1684.

Para nelayan sudah lama membenci bom. Karena bom hanya jalan singkat orang-orang serakah untuk mendapat tangkapan.Bom membunuh masa depan di laut. Tak hanya bagi ikan-ikan dan ekosistem laut. Juga bagi mereka yang mengebom dan pencari nafkah di lautan itu, yang tidak berdosa dan tidak serakah. Mungkin para pengebom Jakarta itu lupa, bahwa tidak cuma orang lain, atau J.W. Mariott saja yang akan menderita kerugian. Tapi juga diri mereka sendiri. Kita sendiri hidup dalam tali temali bernama sistem, toh! Tapi, orang lain itu tidak berdosa, Bung! Mereka juga orang-orang yang berperang campuh dalam hidup.

Sekarang setelah dibom, apa yang bisa kita lakukan. Jelas, tidak cuma mengutuk. Aparat keamanan harus mencari siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini. Pemerintah harus menyelesaikan sebab kebuntuan yang membuat si pengebom merasa tak punya jalan lain, kecuali menularkan rasa sakitnya pada orang lain. Sedangkan kita, daripada tenggelam dalam luka berkepanjangan, lebih baik kita sampaikan salam damai setiap hari. Selain itu, seperti yang telah disebutkan tadi. Ini adalah masa-masa kita mencari hikmah dan membakar samsara. Last but not least, berdo'a!

Setelah Tragedi WTC 2 tahun yang lalu, Sean Penn pernah membuat film pendek yang menceritakan seorang kakek yang memelihara bunga. Namun bunganya tak dapat tumbuh karena sinar matahari di jendela si Kakek selalu terhalang oleh bayangan gedung WTC yang begitu tinggi. Setelah gedung WTC dibom, maka bunga itu pun dapat tumbuh dibawah sinar matari. Intinya semua ada hikmahnya, jadi jangan berkecil hati. Film itu sendiri cuma 1 segmen dari 11 segmen film pendek 9 menit yang disutradari oleh 11 sutradara dari 11 negara berjudul 11'09''01 - September 11 . Mereka adalah: Youssef Chahine (segment "Egypt"), Amos Gitai (segment "Israel"), Alejandro González Iñárritu (segment "Mexico"), Shohei Imamura (segment "Japan"), Claude Lelouch (segment "France"), Ken Loach (segment "United Kingdom"), Samira Makhmalbaf (segment "Iran"), Mira Nair (segment "India"), Idrissa Ouedraogo (segment "Burkina Faso"), Sean Penn (segment "USA"), Danis Tanovic (segment "Bosnia-Herzegovina"). Sayang gw juga cuma baru baca sinopsisnya aja, belom nonton sendiri.

buat yang mo ngintip film itu:
11'09''01 - September 11

IBX5899AACD4E772