Showing posts with label Ethics. Show all posts
Showing posts with label Ethics. Show all posts

Friday, September 30, 2016

Berdialog dengan Peradaban Lain di NHK World



Di akhir dekade 1990-an, saya sempat sangat tertarik dengan pemikiran Presiden dan Politisi Reformis Iran MohammadKhatami, Dialogue Among Civilizations atau Dialog AntarPeradaban. Saking tertariknya saya dengan pemikiran Khatami ini, saya menjadikannya topik skripsi. Rupanya saya bukan satu-satunya orang yang begitu terpukau dengan pemikiran ini, PBB bahkan mendeklarasikan tahun 2001 sebagai the United Nations' Year of Dialogue Among Civilizations atas usulan Khatami.

Tak sekadar konsepsi, pemikiran Khatami yang sebenarnya respons atas teori Politik Internasional Clash of Cizilization yang dikembangkan Samuel P. Huntington pasca Perang Dingin ini sudah memiliki berbagai teori dan langkah operatif. Dialog antar kebudayaan dan peradaban ini memang sejak awal menghadapi berbagai pertanyaan teoritis dan praktis. Pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai peradaban dan kebudayaan dan berbagai upaya intelektual dan ilmiah untuk menjawabnya bukanlah tindakan sia-sia dan menjadi warisan sangat berharga bagi keberlangsungan umat manusia, khususnya memasuki milenium ketiga, saat itu.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di antaranya seperti: What is diversity? What can people do to open the lines of communication and redefine the meaning of diversity? How can we better understand diversity? What is the overall perception of diversity? Kemampuan Khatami berdiplomasi berhasil mendorong banyak negara untuk mulai mempertanyakan hal ini dan menyusun jalan, serta kontribusi yang bisa mereka berikan pada dialog akbar ini.

Khatami sendiri mengungkap,"Kita tidak bisa mengajak masyarakat dan pemerintah untuk beralih pada paradigma yang mengajurkan dialog antar kebudayaan dan peradaban ini tanpa benar-benar belajar dari sejarah, tanpa secara menyeluruh menyelidiki alasan di balik bencana utama dunia di abad ke-20 dan dampaknya hingga saat ini, tanpa dicemari penilaian terhadap paradigma dominan yang didasarkan pada dialog kekuasaan dan glorifikasinya". Dengan beraninya, Khatami sebagai Presiden Republik Islam Iran mengakui kekagumannya pada Peradaban Barat yang tumbuh di Amerika Serikat, padahal Iran dan Amerika Serikat sudah menjadi musuh bebuyutan sejak Revolusi Islam Iran di tahun 1979.

Bagi Khatami, dialog antar peradaban dilihat dari perspektif etis, faktanya merupakan sebuah undangan untuk mencampakan keinginan berkuasa atas peradaban lain. Dalam hal ini, hasil dari dialog tersebut adalah empati dan kepedulian, bahkan belas kasih. Jika zaman itu politik internasional masih didominasi negara sebagai aktornya, Khatami sudah mengusulkan bahwa aktor dalam dialog antar peradaban ini adalah para pemikir, pemimpin, seniman, anak-anak muda dan intelektual yang menjadi perwakilan sejati setiap kebudayaan dan peradaban itu sendiri.

Kini hampir dua puluh tahun kemudian, di era digital ini, kita bisa menyaksikan ide-ide Khatami ini semakin aktual dan menjadi kenormalan baru yang kekinian. Didorong oleh teknologi digital yang memudarkan batas-batas antar negara, kini kita bisa melihat dialog itu berlangsung masif dalam bentuk trending topics dan bentuk-bentuk lainnya yang mewarnai kehidupan sehari-hari kita.

NHK World, Sang Agen Sejati Dialog Antar Peradaban
Awal minggu ini, seorang kawan mengajak saya berkunjung ke POP UP booth dan pameran Domo-kun yang diadakan oleh NHK World channel yang diadakan di Kota Kasablanka. Kebetulan di pameran yang mengesankan ini, kami sempat berbincang-bincang dengan perwakilan NHK World mengenai program-program di NHK World yang ternyata bisa diakses dengan mudah di Indonesia.

Memahami NHK World lebih jauh mendorong saya mengapresiasi kehadiran mereka sebagai agen sejati dialog antar peradaban. Hal ini bahkan tercantum sebagai salah satu misi NHK World: To foster mutual understanding between Japan and other countries and promote friendship and cultural exchange. Program NHK WORLD ini mencakup berbagai kategori, di antaranya berita politik dan ekonomi, budaya dan gaya hidup masyarakat Jepang, hingga program belajar Bahasa Jepang disiarkan ke 150 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. There’s shows about pretty much everything from Kabuki to robotics.

NHK World Newsline yang ditayangkan oleh NHK World adalah salah satu program berita yang paling banyak ditonton di muka bumi. Dengan standard pemberitaan, salah satu yang terbaik di dunia, NHK World tumbuh menjadi sumber informasi yang tepercaya dan dapat diandalkan, serta mengangkat perspektif unik Jepang dan Asia pada umumnya, seperti tagline NHK World sendiri "Gateway to Japan and the rest of Asia".

Fokus lain NHK WORLD adalah memberikan informasi mengenai pariwisata di Jepang, seperti dalam sebuah tayangan yang berjudul “Journeys in Japan”, tayangan ini menarik karena menampilkan wartawan-wartawan dari luar negeri untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di Jepang dari sudut pandang wisatawan asing pada saat bepergian ke Jepang. Lewat acara ini, kita bisa memahami bagaimana mudahnya pengajuan visa kunjungan ke Jepang dan juga semakin banyaknya fasilitas publik bagi wisatawan Muslim.

Salah satu favorit saya juga adalah acara berjudul "Asia Insight". Potret secara mendalam tentang Asia hari ini, meliputi dinamismenya sebagai pusat pertumbuhan serta berbagai tradisi yang terpengaruh kemajuan globalisasi. Lalu ada pula "J-Trip Plan", sebuah travel show yang menawarkan informasi tempat wisata, atraksi wisata dan how to experience Japan, like an expert. Seru banget deh!

Bosan dengan yang terlalu serius, bisa coba tonton J Melo, which is definitely the go-to program for j-pop and j-rock. Lalu, coba juga tonton Kawaii International, for anything and everything Kawaii.

Mengenal NHK World ternyata memanjakan berbagai fantasi saya tentang Jepang dan mendekatkan mereka dengan kita. Untuk menontonnya pun ternyata sangat mudah. Di negeri kita, NHK World bisa ditonton melalui tv kabel seperti Indovision, Okevision, Top TV, BIG, First Media, Biznet Home, My Republic, Transvision, XUM dan DensTV, bahkan bisa juga ditonton di Web dan smart phone app! Website NHK World sendiri tersedia pula dalam Bahasa Indonesia.

NHK World benar-benar menjadikan Dialog among Civilizations sesuatu yang mudah dan menyenangkan dilakukan. Rencananya, NHK World masih akan hadir di  Garuda Indonesia Travel Fair pada 7-9 Oktober 2016 yang akan datang. Check them out!

Tuesday, October 23, 2012

Pentingnya Riset bagi Public Relations


Di dunia ideal, praktisi public relations selalu punya waktu untuk melakukan riset sebelum mereka memulai suatu program ataupun aktivitas. Selain itu, organisasi yang bekerja sama dengan mereka biasanya akan meminta hasil riset tersebut sebagai elemen inti pengembangan strateginya.

Riset yang dilakukan public relations memiliki potensi menjadi fondasi untuk membangun si public relations yang lebih baik selain membangun organisasi bersangkutan itu sendiri. Praktisi public relations bisa menggunakan hasil risetnya untuk mengembangkan strategi dan program kemudian mengevaluasi hasilnya.

Peran Riset dalam Praktek Public Relations
Misalnya, seorang CEO bertanya, apa saja yang sudah dicapai berbagai departemen di perusahaannya selama beberapa tahun belakangan ini, si CEO ini ingin tahu bagaimana setiap departemen berkontribusi pada tujuan pencapaian organisasinya. Nah, bagi departemen public relations, pencapaian tidak hanya dilihat dari berapa banyak siaran media yang dibagikan, newsletter pegawai yang diterbitkan, atau jumlah orang yang mengunjungi situs internalnya. Semua yang disebut tadi hanyalah output-nya.

Yang sebetulnya harus dicapai oleh departemen Public Relations adalah seberapa besar kontribusi mereka pada kesuksesan bisnis organisasinya. Bagaimana caranya mereka mempengaruhi perilaku atau sikap publik yang bisa membuat organisasinya lebih baik? Di sinilah riset yang dilakukan oleh Public relations sangat berperan dalam mengindentifikasi isu-isu penting yang berhubungan dengan ruang lingkup kerjanya, lalu mengembangkannya menjadi strategi public relations, serta menggunakannya untuk mengukur pengaruh program tersebut terhadap perusahaan. Tanpa adanya riset, praktisi akan mendapatkan output yang kecil dengan mengandalkan dugaan-dugaan atau asumsi belaka sebagai bahan laporan. Tanpa adanya riset, praktisi tidak bisa menunjukkan bagaimana caranya suatu program public relations dapat menggerakkan perubahan.

Broom and Dozier (1990) mendefinisikan riset sebagai “kumpulan informasi yang terukur, objektif, dan sistematis yang bertujuan untuk menjelaskan dan mengarahkan pengertian" (hal. 4). Riset merupakan bagian integral proses kerja public relations. Dua tahap dari empat tahap dalam proses kerja public relations, seperti yang dikembangkan oleh Cutlip, Center, and Broom (2000), mengandalkan hasil riset: mendefinisikan masalah dan kesempatan di dunia public relations, serta mengevaluasi programnya. Model ROPE milik Hendrix (riset, objektif, program, dan evaluasi) dan model dari Marston RACE (riset, aksi, komunikasi, dan evaluasi) sama-sama membahas bahwa bergantung pada riset merupakan hal pertama dan terakhir dalam proses kerja public relations (seperti juga disebutkan oleh Stacks, 2002).

Cutlip dll mengatakan dalam risetnya bahwa, “riset adalah fondasi yang efektif untuk public relations” (2000, hal. 343). Stacks mengatakan, “Sederhana saja, tanpa riset Anda tidak bisa mendemonstrasikan efektivatas program Anda” (2002, hal. 4). Gronstedt (1997) menyebutkan bahwa riset menyediakan data kasar yang diperlukan untuk memperkuat nilai suatu organisasi selain juga menyediakan informasi yang membantu terbentuknya keputusan yang berdaya saing. Riset merupakan bagian penting dari manajemen public relations untuk membantu praktisi memfokuskan diri pada tujuan, objektif, dan hasil, bukan melulu pada output, dan dalam prosesnya, akan menciptakan metode yang sistematis dalam melakukan semuanya.

Riset juga menjadi hal fundamental yang bisa dijadikan acuan bagi beberapa contoh praktek public relations yang unik, termasuk praktek ala sistem terbuka dan ala two-way. Peran dari si public relations haruslah lebih dari sekadar menyampaikan pesan si organisasi atau seperti yang sering disebut sebagai taktik berkomunikasi “inside-out” (Gronstedt, 1997, hal. 39). Dalam model sistem terbuka, public relations juga sering menggunakan taktik “outside-in” dengan cara mengomunikasikan kembali kepada organisasinya apa yang dipercayai, dirasakan, dan dikhawatirkan oleh publik yang dijadikan target utama (Gronstedt, hal. 39). Pada model sistem terbuka, organisasi dan publik saling bertukar informasi, dan mempengaruhi satu sama lain. Di sinilah pentingnya riset sebagai fasilitator pertukaran informasi ini. Riset menyediakan tujuan bagi organisasi untuk menelaah lebih dulu lingkungan di mana publik dan isu-isu yang ingin diangkat. Riset membuka potensi di mana organisasi bisa membangun hubungan baik dengan area yang ingin dicakup agar pengembangan program dan tindakan taktis dapat meminimalisir melebarnya masalah yang tidak perlu. (Broom & Dozier, 1990; Cutlip, Center, & Broom, 2000).

Komunikasi model simetrikal dua arah diajukan pertama kali oleh James E. Grunig, ia menekankan pentingnya organisasi dan publik yang menjadi target utama untuk saling terlibat dalam dialog rutin demi membangun hubungan baik yang saling menguntungkan. Maka riset pun harus menjadi bagian dari dialog. “Dengan model simetrikal dua arah, para praktisi dapat menggunakan riset dan dialog yang bermanfaat saat terjadi perubahan pada ide-ide, sikap dan perilaku baik dari organisasi maupun publik yang terlibat” (Grunig, Grunig, & Dozier, 2002, hal. 308). Riset lebih jauh dapat dilakukan untuk mengukur hubungan kerjasama dan mengidentifikasi berbagai indikator yang bisa dijadikan sebagai pengukur hubungan kerjasama yang baik antara organisasi dan public relations-nya (Grunig & Hon, 1999).

Grunig et al. menemukan bahwa “Public relations yang baik adalah yang menggunakan riset (dua-arah), simetrikal (walaupun pada prakteknya organisasi berjuang menyeimbangkan antara faktor simetri dan asimetri saat mereka membuat keputusan) dan komunikasi secara personal maupun tidak langsung (dilihat dari situasi dan publiknya)” (2002, hal. 25-26).

Maka, riset sangatlah fundamental. Ada juga yang mengatakan bahwa, “Dibandingkan dengan program yang digarap seadanya, program public relations yang hebat adalah yang didasari oleh riset yang mempertimbangkan pemetaan pasar dan sudah melakukan berbagai macam evaluasi pada risetnya (klinis, kliping, dan umum)” (hal. 26).

Riset juga bisa memberikan manfaat pada karir si praktisi selain bermanfaat bagi organisasi dan departemen public relations-nya. Broom and Dozier mencatat dari beberapa ilmu, termasuk ilmu mereka sendiri ada hubungan erat antara riset PR dan partisipasi PR dalam membuat keputusan manajerial. “Rasanya akan seperti Anda tidak diundang ke meja bundar tempat semua keputusan dibuat, kecuali Anda berkontribusi pada proses pengambilan keputusan lewat pengumpulan data-data sistematis, - hasil riset” (1990, hal. 10). Austin, Pinkleton, and Dixon (2000) juga mencatat, “Sepertinya sudah jelas bahwa mereka (public relations) yang memiliki keahlian dalam hal produksi tetaplah memerlukan kekuatan melakukan riset secara baik untuk mememperkuat data yang mereka punya jika mereka ingin menaikkan status pekerjaan mereka ke pekerjaan yang sifatnya lebih manajerial” (hal. 249).

Periset lain juga menemukan hubungan yang serupa pada kemampuan seseorang untuk melakukan riset dengan kemajuan karirnya. Grunig et al. (2002) mencatat bahwa dalam suatu organisasi, keahlian seseorang dalam berstrategi sangatlah dihargai, karena manajer departemen public relations biasanya lebih baik dalam melakukan peran teknis dan manajernya dibandingkan melakukan peran strategis. Peran strategis memerlukan keahlian mengevaluasi riset, pemetaan pasar dan riset publik yang tersegmentasi. Implikasinya, para manajer komunikasi ini kemungkinan besar atau cenderung dianggap sebagai manajer yang mampu berstrategi jika memiliki keahlian meriset.

Akan tetapi apa yang terjadi? Pada kenyataannya, banyak sekali departemen public relations yang tidak melakukan riset atau hanya melakukannya sambil lalu, walaupun bukti kuat bahwa riset public relations merupakan hal penting dalam membuat program-program yang lebih efektif sudah banyak diketahui. Pada sebuah survei, sebanyak 50 percent responden mengatakan bahwa mereka jarang atau tidak pernah mengalokasikan dana untuk riset (Gronstedt, 1997). Alasan paling umum adalah minimnya dana untuk melakukan riset, kurangnya pelatihan riset, dan adanya ketakutan kinerja program mereka yang akan dianggap tidak sukses jika ada data-data riset yang merujuk ke arah itu. Sedangkan bagi organisasi yang melakukan riset, total biaya yang mereka keluarkan hanyalah 10 percent dari total dana yang direncanakan (Williams, 2003). Para praktisi public relations seringkali tidak sadar bahwa riset sederhana sudahlah tersedia dan bisa didapat dengan berbagai cara yang mudah dan kadang nyaris tanpa biaya apapun (Hon, 1998). Riset sederhana meliputi “mencermati data-data yang sudah tersedia,” termasuk di antaranya informasi akademis, perdagangan dan jurnal-jurnal profesional (Lindenmann, 2003, hal. 3).

Banyaknya program-program yang memenangkan penghargaan penting di bidang public relations menandai meningkatnya riset yang dilakukan public relations. Stacks (2002) mencermati bahwa prosentase penerima penghargaan PRSA Silver Anvil yang menggunakan riset serius untuk kampanye mereka meningkat dari 25 persen di tahun 1980 ke 75 persen di tahun 1998. Program penghargaan IABC’s Gold Quill juga termasuk dalam komponen yang menjadi ukuran. Ada pula penghargaan tahunan Jake Wittmer Award yang digagas oleh sebuah asosiasi untuk memberikan penghargaan kepada praktisi penguna riset untuk mengembangkan program yang efektif bagi proyek komunikasi mereka (Williams, 2003). Campaignasia turut melaporkan bahwa Samsung, si raksasa dari Korea menggunakan jasa riset dari Nielsen untuk membantu mereka mendapatkan informasi berskala global sehingga Samsung berhasil menjadi merek No. 1 menurut laporan Campaign Asia-Pacific 2012 Asia’s Top 1000 Brands.

Apa Kegunaan Riset PR
Riset public relations menyediakan fondasi bagi apapun yang ingin dilakukan seorang komunikator, termasuk di dalamnya mengidentifikasi dan memahami kelompok publik yang dijadikan target utama, menggarap isu-isu penting, mengembangkan strategi organisasional dan public relations dan mengukur hasilnya (Gronstedt, 1997). Hasil riset juga bisa digunakan untuk membuat publikasi, seperti yang disebutkan dalam hasil survei bahwa organisasi dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan publikasi.

The Institute of Public Relations mengidentifikasi delapan grup penting yang berkomunikasi dengan organisasi public relations. Kedelapan grup ini meliputi komunitas, perusahaan (pegawai, persatuan pegawai, manajer), pelanggan, suppliers, pasar uang, distributor dan vendor, calon pegawai, dan pemuka masyarakat (media, kelompok aktivis) (Oliver, 2001). Ada pula grup-grup yang lebih kecil daripada mereka. Memang tidak banyak organisasi yang memiliki sumber daya untuk menjaga hubungan baik yang kuat dengan berbagai grup setiap waktu walaupun tidak terlalu diperlukan. Riset juga membantu departemen public relations mengidentifikasi target utama mereka dan isu-isu yang berhubungan, maka organisasi pun dapat memfokuskan perhatiannya pada area-area yang paling berpengaruh dan bernilai.

Riset juga membantu identifikasi pengetahuan, kecenderungan dan perilaku sehari-hari publik, sumber-sumber informasi mana yang mereka percaya dan bagaimana cara mencapainya dengan mudah. Grunig et al. (2002) menemukan bahwa riset memegang peranan penting bagi organisasi dalam merespon publiknya atau dalam hal ini, para aktivis. “Departemen public relations yang hebat dapat memetakan [lewat riset] dan secara berkesinambungan menyuarakan pesannya, terutama pengambilan keputusan kepada publik, terutama aktivis” (hal. 27). Departemen yang hebat juga akan menggunakan riset untuk merencanakan dan mengevaluasi program-program komunikasi mereka.

Ingatlah bahwa tujuan dari kampanye public relations adalah tampil beda dan mendobrak penghalang yang tercipta antara produk dan pasarnya, ide atau jasa. Contoh dari penghalang ini adalah resesi ekonomi atau komunitas yang kompetitif. Strategi yang tepat akan dapat mengalahkan dan mendobrak penghalang ini dengan lebih efisien. Dengan riset, kita akan bisa membantu suatu produk menyusun strategi dan menciptakan kampanye PR maupun marketing yang baik. Namun sekali lagi, hanya waktulah yang akan menentukan apakah strategi kita berhasil atau tidak.

Monday, November 23, 2009

DOA MOHON KUTUKAN



dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya




dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru
ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia
hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hamba
Mumenjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku

jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan,
maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu
demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadaku

EMHA AINUN NADJIB


Puisi karangan Cak Nun ini dulu ngetop dibacakan para demonstran sesaat sebelum reformasi untuk mengutuk despotisme di masa itu. Gw gak pernah menyangka bahwa puisi ini ternyata harus bergema kembali di masa sekarang. Terutama saat kita menyimak berbagai pemberitaan akhir-akhir ini.

Hari ini, pemerintah resmi memblokir blogspot lewat berbagai ISP. Entah kapan matari akan bersinar di negeri ini... Tuhan, selamatkan kami!

Image from: http://silentwhisperss.wordpress.com/tag/anger-ruins-everything/

Monday, April 07, 2008

A Friendly Guide to Busway for Women




by: Leila Safira Assegaf





- Wear your walking/running shoes, don't wear something like pointy toes. It might be comfortable now, but after a while, your toes will suffer.

-Don't wear sandal jepit, either. You might get lucky to have an empty bus, but otherwise the risk of being stepped upon is unreasonably high. Spare your toes the nasty experience.

-If you have to stand, stand with your feet wide apart. Or you might fall into mas-mas's embrace when the driver hits the brake. Forget dainty. Choose dignity.

-You know the man with a kupluk, moustache, beard, koko shirt and cingkrang pants who is concentrating on his read such as: "Tafsir Al-Mustafa"? He is the least likely type to give up his seat to anyone, not even a heavy-bag-lugging ibu-ibu.

-If the driver hits the break, try best to step on the man's (in kupluk, moustache, beard, koko shirt and cingkrang pants) toes.

-If you can, bring something to kill time, or even better to avoid the risk of getting caught sleeping with your mouth wide open. Book is good. NDS:even better.

-A woman is more likely to give an old lady her seat, even though her stop is still far away. A man would give someone his seat when his stop is next.

-Not having an intention to undermine woman-busway-drivers, but prepare to jump pretty far to and from the bus, from and to the shelter whenever they drive.

Monday, June 18, 2007

UNCENSORED









Sejak gw memasuki industri majalah pada tahun 2003, udah tidak terhitung banyaknya orang yang meminta gw ngasih liat foto-foto uncensored dari majalah-majalah tempat gw kerja. Apalagi beberapa kali, kerjaan gw memang berurusan ama pemotretan wanita-wanita seksi itu. Tapi baru sekarang inilah pertahanan gw akhirnya bobol. Sekarang semua foto-foto itu bisa dilihat dengan ngeklik ke
sini
IBX5899AACD4E772