Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Friday, September 30, 2016

Berdialog dengan Peradaban Lain di NHK World



Di akhir dekade 1990-an, saya sempat sangat tertarik dengan pemikiran Presiden dan Politisi Reformis Iran MohammadKhatami, Dialogue Among Civilizations atau Dialog AntarPeradaban. Saking tertariknya saya dengan pemikiran Khatami ini, saya menjadikannya topik skripsi. Rupanya saya bukan satu-satunya orang yang begitu terpukau dengan pemikiran ini, PBB bahkan mendeklarasikan tahun 2001 sebagai the United Nations' Year of Dialogue Among Civilizations atas usulan Khatami.

Tak sekadar konsepsi, pemikiran Khatami yang sebenarnya respons atas teori Politik Internasional Clash of Cizilization yang dikembangkan Samuel P. Huntington pasca Perang Dingin ini sudah memiliki berbagai teori dan langkah operatif. Dialog antar kebudayaan dan peradaban ini memang sejak awal menghadapi berbagai pertanyaan teoritis dan praktis. Pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai peradaban dan kebudayaan dan berbagai upaya intelektual dan ilmiah untuk menjawabnya bukanlah tindakan sia-sia dan menjadi warisan sangat berharga bagi keberlangsungan umat manusia, khususnya memasuki milenium ketiga, saat itu.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di antaranya seperti: What is diversity? What can people do to open the lines of communication and redefine the meaning of diversity? How can we better understand diversity? What is the overall perception of diversity? Kemampuan Khatami berdiplomasi berhasil mendorong banyak negara untuk mulai mempertanyakan hal ini dan menyusun jalan, serta kontribusi yang bisa mereka berikan pada dialog akbar ini.

Khatami sendiri mengungkap,"Kita tidak bisa mengajak masyarakat dan pemerintah untuk beralih pada paradigma yang mengajurkan dialog antar kebudayaan dan peradaban ini tanpa benar-benar belajar dari sejarah, tanpa secara menyeluruh menyelidiki alasan di balik bencana utama dunia di abad ke-20 dan dampaknya hingga saat ini, tanpa dicemari penilaian terhadap paradigma dominan yang didasarkan pada dialog kekuasaan dan glorifikasinya". Dengan beraninya, Khatami sebagai Presiden Republik Islam Iran mengakui kekagumannya pada Peradaban Barat yang tumbuh di Amerika Serikat, padahal Iran dan Amerika Serikat sudah menjadi musuh bebuyutan sejak Revolusi Islam Iran di tahun 1979.

Bagi Khatami, dialog antar peradaban dilihat dari perspektif etis, faktanya merupakan sebuah undangan untuk mencampakan keinginan berkuasa atas peradaban lain. Dalam hal ini, hasil dari dialog tersebut adalah empati dan kepedulian, bahkan belas kasih. Jika zaman itu politik internasional masih didominasi negara sebagai aktornya, Khatami sudah mengusulkan bahwa aktor dalam dialog antar peradaban ini adalah para pemikir, pemimpin, seniman, anak-anak muda dan intelektual yang menjadi perwakilan sejati setiap kebudayaan dan peradaban itu sendiri.

Kini hampir dua puluh tahun kemudian, di era digital ini, kita bisa menyaksikan ide-ide Khatami ini semakin aktual dan menjadi kenormalan baru yang kekinian. Didorong oleh teknologi digital yang memudarkan batas-batas antar negara, kini kita bisa melihat dialog itu berlangsung masif dalam bentuk trending topics dan bentuk-bentuk lainnya yang mewarnai kehidupan sehari-hari kita.

NHK World, Sang Agen Sejati Dialog Antar Peradaban
Awal minggu ini, seorang kawan mengajak saya berkunjung ke POP UP booth dan pameran Domo-kun yang diadakan oleh NHK World channel yang diadakan di Kota Kasablanka. Kebetulan di pameran yang mengesankan ini, kami sempat berbincang-bincang dengan perwakilan NHK World mengenai program-program di NHK World yang ternyata bisa diakses dengan mudah di Indonesia.

Memahami NHK World lebih jauh mendorong saya mengapresiasi kehadiran mereka sebagai agen sejati dialog antar peradaban. Hal ini bahkan tercantum sebagai salah satu misi NHK World: To foster mutual understanding between Japan and other countries and promote friendship and cultural exchange. Program NHK WORLD ini mencakup berbagai kategori, di antaranya berita politik dan ekonomi, budaya dan gaya hidup masyarakat Jepang, hingga program belajar Bahasa Jepang disiarkan ke 150 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. There’s shows about pretty much everything from Kabuki to robotics.

NHK World Newsline yang ditayangkan oleh NHK World adalah salah satu program berita yang paling banyak ditonton di muka bumi. Dengan standard pemberitaan, salah satu yang terbaik di dunia, NHK World tumbuh menjadi sumber informasi yang tepercaya dan dapat diandalkan, serta mengangkat perspektif unik Jepang dan Asia pada umumnya, seperti tagline NHK World sendiri "Gateway to Japan and the rest of Asia".

Fokus lain NHK WORLD adalah memberikan informasi mengenai pariwisata di Jepang, seperti dalam sebuah tayangan yang berjudul “Journeys in Japan”, tayangan ini menarik karena menampilkan wartawan-wartawan dari luar negeri untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di Jepang dari sudut pandang wisatawan asing pada saat bepergian ke Jepang. Lewat acara ini, kita bisa memahami bagaimana mudahnya pengajuan visa kunjungan ke Jepang dan juga semakin banyaknya fasilitas publik bagi wisatawan Muslim.

Salah satu favorit saya juga adalah acara berjudul "Asia Insight". Potret secara mendalam tentang Asia hari ini, meliputi dinamismenya sebagai pusat pertumbuhan serta berbagai tradisi yang terpengaruh kemajuan globalisasi. Lalu ada pula "J-Trip Plan", sebuah travel show yang menawarkan informasi tempat wisata, atraksi wisata dan how to experience Japan, like an expert. Seru banget deh!

Bosan dengan yang terlalu serius, bisa coba tonton J Melo, which is definitely the go-to program for j-pop and j-rock. Lalu, coba juga tonton Kawaii International, for anything and everything Kawaii.

Mengenal NHK World ternyata memanjakan berbagai fantasi saya tentang Jepang dan mendekatkan mereka dengan kita. Untuk menontonnya pun ternyata sangat mudah. Di negeri kita, NHK World bisa ditonton melalui tv kabel seperti Indovision, Okevision, Top TV, BIG, First Media, Biznet Home, My Republic, Transvision, XUM dan DensTV, bahkan bisa juga ditonton di Web dan smart phone app! Website NHK World sendiri tersedia pula dalam Bahasa Indonesia.

NHK World benar-benar menjadikan Dialog among Civilizations sesuatu yang mudah dan menyenangkan dilakukan. Rencananya, NHK World masih akan hadir di  Garuda Indonesia Travel Fair pada 7-9 Oktober 2016 yang akan datang. Check them out!

Thursday, March 12, 2015

BOLT! Super 4G LTE Resmi Meluncur di Kota Medan

BOLT! Resmi Meluncur di Kota Medan
Awal Peluncuran, BOLT! Melesat Dengan Lebih dari 10.000 Pelanggan

PT First Media Tbk, salah satu perusahaan multimedia terdepan di Indonesia, hari ini secara resmi meluncurkan layanan 4G LTE di kota Medan. Sebagai pemenang lisensi broadband wireless di zona 1 (Sumatera bagian Utara), PT First Media Tbk menggandeng merk BOLT! Super 4G LTE dalam mengoperasikan layanan internet super cepat 4G LTE bagi masyarakat Medan.

“Melihat peningkatan kebutuhan akan akses internet cepat saat ini mendorong kami untuk turut mengembangkan teknologi dan layanan 4G LTE di Indonesia. BOLT! Super 4G LTE merupakan merk yang kuat dan dikenal sukses menghadirkan layanan 4G di wilayah Jabodetabek. Bersama dengan BOLT! kami akan terus melakukan perluasan jaringan untuk menjangkau sekitar 5 juta populasi penduduk Medan dan sekitarnya,” ungkap Irwan Djaja, Wakil Presiden Direktur PT First Media Tbk.

Lebih lanjut Irwan Djaja menambahkan, “Dengan kehadiran BOLT! Super 4G LTE diharapkan bisa berfungsi sebagai infrastruktur yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan membawa Indonesia melangkah lebih jauh hingga bisa bersaing dengan negara-negara maju.”

Dalam acara peluncuran di Hotel Aryaduta Medan (11/03), Larry Ridwan, Chief Commercial Officer BOLT! Super 4G LTE, mengatakan bahwa Medan menjadi kota pertama di Pulau Sumatera yang merasakan akses internet BOLT! yang 10X lebih cepat. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Medan merupakan pasar yang berpotensi untuk layanan mobile broadband. Berdasarkan data dari Nielsen, kota Medan memiliki 719.0001 pengguna internet di tahun 2014. “Untuk tahap awal, kami memprediksi ada potensi 1,5 juta pelanggan di kota Medan dan sekitarnya,” ungkap Larry.

BOLT! Super 4G LTE, pelopor layanan internet super cepat 4G LTE di Indonesia, sukses mentransformasi cara ber-internetan lebih dari satu juta pelanggan se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) dan kini memperluas area layanannya ke kota Medan. “BOLT! terus berinovasi dalam menghadirkan layanan internet berkecepatan tinggi melalui beragam pilihan perangkat 4G yang canggih, tetapi tetap mempertahankan konsep value for money. Dengan teknologi 4G ini, kami ingin mendampingi masyarakat kota Medan untuk menikmati akses internet yang lebih baik dimana memungkinkan penggunanya untuk melakukan video call dan video streaming tanpa gangguan dan buffering, mengunduh file berukuran besar dalam waktu singkat, serta menelusuri website dengan mudah dan lebih cepat dimanapun dan kapanpun,” ungkap Larry.

BOLT! Super 4G LTE menerapkan teknologi Time-Division Duplex (TDD-LTE) yang memungkinkan pelanggan untuk mengakses internet dengan kecepatan hingga 72 Mbps. “Kami senang telah menerima sambutan yang sangat positif dari masyarakat Medan dimana dalam awal peluncuran layanan BOLT! telah mencapai lebih dari 10.000 pelanggan 4G. Untuk itu, kami akan terus berupaya menyediakan layanan 4G LTE yang berkualitas dan memuaskan bagi pelanggan. Selain itu, para BOLT!ers yang berdomisili di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya sekarang bisa menikmati layanan 4G ketika berada di Medan,” tambah Larry.

Ketersediaan Produk
BOLT! Super 4G LTE tersedia dalam layanan internet pra bayar dengan merk THUNDER BOLT! dengan harga paket internet mulai dari Rp 25.000. Sementara itu, layanan internet pasca bayar dengan merk PREMIUM BOLT! juga akan segera tersedia bagi pelanggan di Medan.

BOLT! Super 4G LTE menyediakan layanan broadband wireless internet yang dibundling melalui empat jenis perangkat, yaitu USB modem, Mobile WiFi, 4G Smartphone (Powerphone) dan home router. Perangkat 4G Mobile WiFi mampu melayani 8 koneksi secara bersamaan melalui Smartphone, tablet dan laptop. BOLT! 4G Powerphone tersedia dalam dua perangkat, yaitu ZTE V9820 dan IVO V5 yang dilengkapi dengan fitur Dual SIM Dual Active (DSDA) yang memungkinkan internet dan nomor GSM dapat aktif melakukan atau menerima panggilan secara bersamaan.

BOLT! Super 4G LTE sudah tersedia untuk para pelanggan yang dapat dibeli di BOLT! Zone, stan BOLT! yang terserbar di mal-mal dan toko-toko seperti Okeshop, Global Teleshop, Sentra Ponsel, Erafone, Selular 1, Hypermart yang ada di Medan. Untuk kemudahan pelanggan, isi ulang paket internet BOLT! bisa dilakukan melalui website, ATM BCA, ATM Bersama, serta di channel nasional maupun lokal yang ada di Medan.

Wednesday, September 19, 2007

ASAL MUASAL 4


"INDONESIA"
(Sumber: Milis Wartawan Gaul)






PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama.

Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza'ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.

Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (*Indische
Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien*) atau "Hindia Timur" *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin *insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer. Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama:
*Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71
artikelnya itu tertulis: *... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.*

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. *

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel* sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke
tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang mempopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah
"Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. "

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal
28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch- Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

ASAL MUASAL 3





"RAGUNAN"
(Sumber: Milis Wartawan Gaul)






Nama Ragunan diyakini berasal dari nama Tumenggung Wiraguna yg makamnya terdapat di perempatan Republika, Mampang, Kemang dan Pejaten..di dekat sungai kecil dan jembatan.

Tokoh dalam cerita legenda Rara Mendut-Pranacitra. Ringkasan ceritanya sebagai berikut. Didaerah Kadipaten Pati tinggal seorang gadis desa cantik jelita bernama Mendut. Ketika wilayah Pati dikuasai Mataram, banyak harta kekayaan diangkut ke Mataram. Gadis Mendut atau yang kemudian disebut Rara Mendut pun menjadi boyongan Tumenggung Wiraguna, Senapati Mataram. Tumenggung Wiraguna jatuh cinta pada Rara Mendut. Ia berusaha untuk mempersuntungnya. Rara Mendut tidak menanggapinya dengan alasan :

(1). Tumenggung Wiraguna adalah Senapati Praja yang dengan sendirnya menjadi pengayom semua rakyat, dan (2). Rara Mendut talah mempunyai pilihan seorang pemuda desa yang sangat tampan, Pranacita. Hubungan asmara Rara Mendut dengan Pranacita menjadikan Wiraguna sangat bernafsu bercampur malu. Berbagai upaya keji untuk memisahkan hubungan keduanya. Wiraguna membuat rekayasa keji untuk menghabisi nyawa Pranacita. Rencana keji itu terlaksana. Jenazah Pranacita dikebumikan di tempat terpencil di hutan Ceporan, Desa Gandhu, lebih kurang 9 Km sebelah timur Yogyakarta.

Setelah Pranacita meninggal ternyata Wiraguna pun tidak berhasil memaksakan keinginannya untuk mempersunting Rara Mendut. Tumenggung Wiraguna semakin mendesak. Rara Mendut tetap tidak mau melayaninya. Akhirnya ia melarikan diri ke pemakaman Pranacita dan bunuh diri disamping pusara kekasihnya, Pranacita. Jenazah Rara Mendut dikebumikan menjadi satu liang lahat dengan kekasihnya. Makam Rara Mendut – Pranacita yang legendaris itu di Gandhu ini sekarang sering dipakai sebagai tempat ziarah bagi muda – mudi, dewasa, dan para pedagang.

Pada tahun 1677, Raja Mataram mengirim pasukan ke Batavia utk menaklukan VOC. Panglima perang nya pun dikerahkan yg bernama Tumenggung Wiraguna. Nah kemudian Tumenggung ini mengalami kekalahan sewaktu membawa ratusan prajurit ke wilayah dekat pasar minggu...lalu beliaupun terbunuh dan dimakamkan di situ..maka dibuatlah nama Ragunan dari nama Wiraguna.

ASAL MUASAL 2






"BETAWI"
(Sumber: Milis Wartawan Gaul)





Ada dua versi yang menjelaskan mengenai asal muasal istilah Betawi. Versi pertama menyebutkan bahwa nama Betawi berasal dari pelesetan nama Batavia. Nama Batavia berasal dari nama yang diberikan oleh J.P Coen untuk kota yang harus dibangunnya pada awal kekuasaan VOC di Jakarta. Kota Batavia yang dibangun Coen itu sekarang disebut Kota atau Kota lama Jakarta. Karena asing bagi masyarakat pribumi dengan kata Batavia, maka sering dibaca dengan Betawi.

Versi kedua menyebutkan bahwa nama Betawi mempunyai sastra lisan yang berawal dari peristiwa sejarah yang bermula dari penyerangan Sultan Agung (Mataram) ke Kota berbenteng , Batavia. Karena dikepung berhari – hari dan sudah kehabisan amunisi, maka anak buah (serdadu) J.P. Coen terpaksa membuat peluru meriam dari kotoran manusia Kotoran manusia yang ditembakkan kepasukan Mataram itu mendatangkan bau yang tidak sedap, secara spontan pasukan Mataram yang umumnya adalah orang Jawa berteriak menyebut mambu tai….., mambu tai. Kemudian dalam percakapan sehari – hari sering disebut Kota Batavia dengan kota bau tai dan selanjutnya berubah dengan sebutan Betawi.

ASAL MUASAL




"SUMATERA"
(Sumber: Milis wartawan gaul)







NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Seorang pelaut dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera

Thursday, February 19, 2004

MY BEST FRIEND'S WEDDING

I say a little pray for you...

Masih inget judul di atas? Beberapa tahun yang lalu, pernah ada film yang berjudul gitu. Komedi romantis biasa, yang main Julia Roberts dan Cameron Diaz. Film itu kemaren diputar lagi di Lativi. Kayaknya sih masih dalam rangka Valentine. Soalnya di Indosiar juga ada Four Wedding and A Funeral. Gw sih lebih suka film kedua ini.

Lha, lantas ada apa dengan judul-judul film itu plus valentine? Penting gitu??

Well, normally gw gak terlalu give a shit with those valentine craps. Memang ada sejarah panjangnya sampai orang mengenal dan merayakan St. Valentine's Day yang sering disebut sebagai Hari Kasih Sayang. Tapi bagi gw, selama ini Valentine gak lebih dari sekedar jargon marketing aja. Makanya gw gak mau terlibat dalam tetek-bengek Valentine itu. Bagi gw, kalo menggunakan istilahnya Peter, "It's so basi...". Tapi sumpah lo bukan karena tahun ini gw lagi gak punya pacar makanya males. Tiap tahun juga gitu. Meningan gw riang gembira dan mencintai semua orang aja setiap saat. Walaupun hal itu gak semudah menuliskannya.
Tapi Valentine 2004 ini memang jadi penting. Karena apa? Karena hari itu Ucok dan Selly finally nikah. Terus emangnya kenapa? Well, pertama tentu saja karena Ucok itu sahabat gw. Bisa dibilang sahabat terdekat gw saat ini, walaupun kaya'nya kami punya kesepakatan yang berbeda tentang cara bersahabat dari orang lain. Chief aja sampe bingung ngeliat bentuk hubungannya. Sahabat tapi kalo lagi ngumpul kerjanya saling bentak-bentakan dan saling mengganggu melulu hehehe... Tapi kalo lagi dipisahin, kaya'nya jadi kurang kerjaan gitu. Kalo kata Chairil Anwar sih jadi 'mati iseng sendiri'. Habis bentak-bentakan langsung pergi makan bakso bareng atau terkekeh-kekeh bareng ngomongin seks. Kalau lagi ada salah satu yang pusing karena berbagai sebab, yang lain selalu berusaha ngeback-up. Walaupun kalo dihitung-hitung, kaya'nya Ucok lebih sering ngeback-up gw daripada sebaliknya. Pokoknya so far... asik deh persahabatan kami...Nah jadi jelas kan kenapa harus My Best Friend's Wedding dan kenapa harus Valentine. tapi sumpah lo hari, itu gak berjalan seperti di filmnya. Gw gak lantas jadi Julia Roberts yang licik dan penuh intrik. Gak juga sama sekali jadi Rupert Everett.

Yap, karena hari itu Ucok dan Selly nikah...

Beberapa bulan sebelum nikah, kami sekantor seperti ikut countdown ke D-Day-nya. Pernah suatu ketika, kami sekantor menyiapkan sebuah Bachelor Party kejutan buat Ucok. Rapat pembahasan pesta kejutan itu menjadi rekor berbalas e-mail paling banyak dalam sejarah kami kerja di FHM. Rapatnya harus lewat e-mail supaya si Ucok gak curiga. Selesai penyusunan skenario, rencana pun siap dijalankan, lengkap dengan striptease segala. Sayang pada akhirnya, semua jalan mentok dan pesta kejutan itu gak jadi diadakan. Sayang juga sih...
Anyway, pokoknya kami semua ikut countdown ke acara pernikahan Ucok itu. Anak-anak cewe udah membahas mau pake apa di pesta nikahnya Ucok. Kita yang cowo-cowo juga coba membantu sebisanya. Pas sehari sebelumnya kita sempat membahas lagi, betapa gak kerasanya waktu berjalan, kayanya dulu masih lama banget, tau-tau udah dateng aja hari penting itu.
Gw sendiri ikut terlibat agak banyak, jadi stylish foto pre-marriednya dengan fotografer ETY, bikin beberapa doa nikahnya bagian yang penting-penting, ikut milihin lagu-lagu yang mau dimainin plus yang paling mengharukan adalah jadi Best Man dan saksinya Ucok ketika mengikrarkan cintanya di altar gereja, berjanji di hadapan Tuhan. Bayangin, dari ribuan orang temennya Ucok sejak kecil, dia memilih gw yang mendampinginya di hari terpenting itu. Apalagi Ucok menikah dengan cara Katolik, berarti ini akan jadi his first and his last marriage. Gw terharu banget. Thanx ya Cok!
Ini memang bukan pengalaman pertama gw jadi saksi nikah. Pertama kali nikahnya Wenni tahun lalu, terus nikahnya temen gw yang kawin lari itu. Jadi ini yang ketiga. Tapi dari ketiganya, ini sih yang jalannya paling normal dan mulus, kedua yang lain penuh masalah, bahkan sampai sekarang. Walaupun ketiganya sama berartinya dan sama pentingnya bagi gw. Gak nyangka juga, seorang gw bisa dipercaya jadi saksi nikah segitu sering, secara gw juga gak terlalu percaya ama institusi yang namanya pernikahan. Sampai sekarang gw masih gak ngerti bedanya, kumpul kebo 40 tahun dengan menikah, kecuali karena masalah hukum. Dalam kumpul kebo khan juga ada good sex dan complain kalo seks memburuk, juga ada pengertian dan komitmen, juga ada tarik ulur dalam komunikasinya. Malah kumpul kebo lebih simple dan immateril. Yah elemennya sama semua, kecuali secarik kertas pengesahan.
Balik ke pernikahan Ucok. Kebetulan malam sebelumnya, FHM pas ngadain FHM Reporter's Night Party di BC Bar. Kerasa banget kalo si Ucok takut banget kalo gw ketiduran gara-gara terlalu mabok di party itu. Jadi dia ngingetin gw terus untuk tetap sadar dan istirahat yang cukup. Dia mewajibkan gw udah jalan dari kos sejak jam 12.15, jadi bisa sampai di gereja tepat pada waktunya. Gw sendiri selalu berusaha menenangkan, walaupun gw juga gak terlalu yakin. Makanya waktu di BC Bar, gw gak minum alkohol setetes pun. Eh, kalo cocktail sih minum dikit, tapi yah gak berasa lah. Masalahnya, selesai di BC Bar rasanya masih pingin having fun terus, secara weekend pertama setelah gw pulang dari Aceh. Jadi rasanya butuh dikit push the limits. Selesai di BC Bar, jadinya gw lanjut ke Embassy ama Rich, Roy, Heruko dan Bebi. Anak-anak sih pada ngingetin supaya gw meningan istirahat daripada besok kacau. Tapi gimana ya, libido terlalu kuat menuntut. Kebetulan waktu di BC, gw dapet alat gembira dari si V. Biasanya, kalo kaya gitu gw lebih in-control dengan stamina. Jadi gw jalan aja ke Embassy dan di sana lanjut ke CO2 sampe jam 7.30 pagi. Waktu mau pulang, gw udah mikir, kalo gw pulang pilihannya cuma tidur, maka pasti bablas. Lagi pula, kayanya gw masih belum pingin tidur, kayanya masih pingin denger musik jedang-jedung terus, ya udah gw lanjut kuliah aja. Di sana dituntasin semua sampe jam 11.30 pagi, pulang langsung mandi dan berangkat ke tempat Ucok, sudah dalam keadaan segar kembali. Tepat pukul 12.15, gw sudah keluar kost, lalu nyari taksi di Plaza Indonesia.
Di Plaza Indonesia masalah mulai muncul, awalnya gw nyari Blue Bird, tapi koq ya gak ada sama sekali. Jangankan Blue Bird, taksi aja susah banget. Setelah beberapa belas menit menunggu, akhirnya gw naik taksi apa aja yang ada. Akhirnya dapetlah Batavia Taksi. Masalah pertama terpecahkan. Ternyata tak berhenti di sana, timbul masalah kedua. Gw belum pernah menginjak daerah Pulomas seumur hidup gw! Jadi pas supirnya nanya mau lewat Senen apa Casablanca, gw bingung berat, "eh iya lewat mana ya". Akhirnya diputusin lewat Senen. Sementara si supir kayanya pingin ngerjain melulu. Tapi time was running out. Gw mulai panik dan agak histeris. Gw telpon Christin, ternyata dia menyarankan lewat Jl. Pemuda. Wah kalo tau gitu ngapain macet-macet ke Senen. Gw dah sebel banget. Tapi mencoba untuk stay cool and clear, gw gak marah, gw malah ngobrol nanya tempat tinggal si supir. Ternyata dia tinggal di Pulo Gadung. Wah, berarti dia mestinya tahu dunk bahwa jalan terdekat ke Pulomas itu lewat Jl. Pemuda. Wah gw geram banget jadinya. Yah untung dia segera sadar bahwa gw mulai bete ama dia, jadi dia mulai ngebut banget. Sialnya sampe jalan Pemuda ada macet panjang. Si Ucok dah nelponin terus mencari gw. Gak lama abis itu, si Yanuar telpon juga bilang bahwa acara udah mulai, walaupun belum bagian yang dengan kehadiran saksi. Gw tambah histeris dan minta tolong banget ama supirnya. Rupanya si supir sadar bgt kalo gw gak boongan butuh buru-burunya, jadi dia nyelap-nyelip dan akhirnya berhasil sampai gereja beberapa menit sebelum saksi mulai dipanggil ke depan. Selamaaatttt....
Upacara sendiri berjalan lancar, sebelum maju ke depan, gw menengok sekeliling, gw baru sadar, gw ternyata orang paling item kulitnya di gereja itu, kecuali mungkin dibandingkan dengan pasturnya. Bahkan lebih item daripada si Bayu dan si Arab. Ama pastur sih agak-agak imbang lah. Pas maju, menunaikan tugas saksi dan kemudian Ucok pun mengucapkan janji. Tepat pukul 14.08 di HP gw, Ucok resmi menjadi suami Selly. Wah seru banget, satu lagi lelaki kehilangan bachelornya dan satu lagi wanita mendapat masternya hehehe...
Seusai upacara dalam tradisi Katolik, langsung upacara pencatatan di Catatan Sipil. Waktu disuruh ngeluarin KTP, gw langsung ngeluarin fotocopy SIM. Petuagasnya kaget, "Lha, saya lupa kasih tahu suruh bawa fotocopy KTP, ko ade sudah bawa fotocopynya?" Lha terang aja pak, ini udah ketiga kalinya, udah hapal kalo di catatan sipil sih. Abis itu petugas catatan sipil memotret kami. Herannya di sini, saksi ikut di foto untuk di catatan nikahnya. Kata si petugas, supaya mempelai tidak lupa bahwa pernikahannya ini berkat dukungan orang lain juga. Eh si Ucok langsung nyeletuk,"Wah, kalo orang satu ini punya tempat khusus di hidup saya pak, gak mungkin dilupakan lah". Dalam hati gw bete banget,"Sialan loe Cok, gak cukup apa, gw dipilih jadi saksi diantara ribuan teman-teman lo dari kecil untuk bikin gw terharu, pake diomongin begitu segala, bikin gw tambah terharu aja. Untung gw gak nangis" pikir gw. Habis catatan sipil, gw sempat istirahat sebentar di rumah Selly, yang mana belum gw lakukan sama sekali sejak Jum'at pagi pas berangkat kerja. Jadi berharga banget momen istirahatnya. Selesailah tugas gw dengan lancar. Gw pun dapat angpau pertama gw, isinya sih gak penting lah. Cuma amplopnya aja yang bikin gw seneng banget, soalnya amplop angpau beneran warna merah kayak di film-film yang gw bener-bener gak pernah liat aslinya sebelumnya. Sampai sekarang amplopnya masih gw simpen.
Malamnya pesta nikah di Menara Cordova Ancol, penuh dengan cewe-cewe cakep. Anak-anak pada dateng semua and everybody's happy. Gw pulang bareng anak-anak sekitar jam 10 malam dan langsung pulang terus tidur sampai besoknya jam 5 sore. Gak sekedar istirahat dari kelelahan fisik tapi juga dari beban mental yang membanggakan.

Sekali lagi selamat berbahagia bagi Ucok dan Selly, semoga perjalanan cinta kalian selalu berbuah hal-hal yang positif bagi kalian berdua dan keturunan kalian.

Gw sendiri langsung merencanakan menulis catatan ini, tapi gak ketemu judul yang bagus sampai kemaren malam setelah nonton lagi My Best Friend's Wedding, because it's really my best friend's wedding.

Friday, June 27, 2003

Bandung

Mengapa Bandung jadi begitu penting? Setidaknya begitu lah yang gw rasakan. Gak sekedar bahwa gw kuliah disana, atau gw lahir disana, tapi yang terpenting gw berkembang disana. Disana gw mengenal hitam, putih dan abu-abu. Disana juga gw mendalami merah, hijau, biru, lalu kembali jadi hitam. Setelah hampir 2 tahun secara intensif mengabdi pada peradaban kota, di Jakarta sini. Still, there's a part of my heart which always drive me back to Bandung. Kalo Koes Plus menyanyikan bahwa ke Jakarta aku khan kembali. Nah, theme song gw ya Ke Bandung aku khan kembali.

Waktu gw masih di Bandung dulu, gw benci banget sama org-org Jakarta yg suka ke Bandung pas weekend, bikin macet jalan aja, bikin transportasi susah, bikin pengap dan cape, eh sekarang gw bergabung dalam barisan mereka, berbondong-bondong ke Bandung setelah hari-hari kerja usai.

Minggu ini begitu penuh dengan kenangan akan Bandung! Minggu ini adalah kenangan akan Jatinangor, akan Dipati Ukur, akan Dago, akan BIP, akan KAU, akan GS, akan Mukti-Mukti, akan Mas Kris dan Rindu Order, akan Gedung Sate, akan KMUP dan Dede, akan Rospita, akan Pak Chandra, akan Dewi, akan Mbak Dhany, akan Tedy, akan CCF, akan Jurang dengan Luken, Bob, Iccang, Tari, Uni, Lulu, Yayan, Wawan, Lu'mank, Unru, AA', Teteh, Rera, Budi, Cuwith, GunX, De Wan, dll., akan Purnawarman, akan Buah Batu, akan Braga, akan cinta dan air mata, akan perjuangan dan kekalahan, akan malam-malam yang begitu dingin.

Minggu ini begitu penuh dengan kenangan akan kenangan. Gw ngejar kereta paling malam untuk mencapai Bandung, mencuci segala kepenatan dan sakit hati, impian-impian yang padam sebelum subuh tiba. Untuk kembali ke lingkaran sirkuler rutinitas lagi. Gw inget sebuah lagu lama dari Bimbo, yang gw senandungkan di atas kereta waktu gw tanpa sadar mulai pindah mukim ke Jakarta.


Jumpa Untuk Berpisah

Walaupun terlalu manis untuk dilukiskan
Dengan kata, untuk kujadikan sebuah syair

Tetapi terlalu pahit untuk dikenang
Kenanganku yang pernah kualami bersamamu

Jangan kau harapkan
Ku akan mencari gantimu
Kini ku pergi
Mencari diriku sendiri

Mengapa waktu itu kita harus berjumpa
Mengapa kini kita harus berpisah lagi

Thursday, June 19, 2003

PAGI YANG CERAH, PAGI YANG LELAH

Akhirnya gue pindah kos (again?), dari Kebayoran Baru yang resik, tenteram dan ijo royo-royo ke Cikini yang ramai dan entah...,

It feels like deja vu, seperti waktu meninggalkan Bandung dan menuju Jakarta, gw meninggalkan sebuah kehidupan yang begitu menyenangkan atas nama masa depan, iya gituh?

Anyway, Pagi ini kantor dilanda morning sickness kekeke..., kalo gw emang kurang tidur gara-gara pindahan tadi malam, kalo yang lain mengeluh betapa macetnya jakarta,hari ini semua telat kecuali gw, Rika n' Richard.

Emang macet di Jakarta, susah diduga dan seperti kata Vero, bisa macet aja tanpa sebab musabab atau asal muasal. Kalaupun ada asalnya, bisa apa aja dari mulai keluarga B1 atau B2 lagi jalan-jalan, demo kerusuhan, kecelakaan, sampai Inul bisa bikin macet. Nah, bener khan gw memilih nge-kost?


link pagi ini:...(biasa masih belajar...)

Janus Prajurit Terakhir - Film Nasional terbaru yang dibintangi Jamie Aditya, Reggie Lawalatta dan Derby Romero

When You Have Nothing Better To Do kalo bosen-bosen klik sini aja beberapa diantaranya bener-bener aneeeeh....

Ini kalo mau tau di bidang apa gue bekerja...kekeke
IBX5899AACD4E772