Saturday, March 15, 2008

for the price of a starbucks






for the price of a starbucks






is your career your life, and are you really living?
is your focus always work? is it unforgiving?
do you go home to your job? does job follow you home?
if so you're just a slave, a mindless zombie or drone.

now there are some exceptions, but few and far between.
cuz your life as you call it, makes the next man a king.

he's living with big stacks of that almighty dollar.
making money off your life while you wear the collar.
but listen he's not immune, so don't feel discouraged.
there's one above him too, and he's far from malnourished.

some are free from the chains, but they can't afford to eat.
while the man above the man gets massaged on his feet.

for the price of a starbucks you can feed all these kids.
some war ravaged, some savage, with flies around their lids.

but don't you dare ask the man to make a donation.
cuz he's already made one, for tax preparation.
and they plan to cut taxes, never believe that shit.
every Dead President in your pocket's counterfeit.

Sunday, March 02, 2008

O Blogger Where Are Thou?


So after months of pondering the options, I still have nothing concrete to offer. I do know that if I keep my blog, I want to keep it somewhat more of a place to discuss random thoughts and views than a personal journal. I moved back to my old digs at the personal stuff, such as it is but haven't found anything either. Anyway, later I find myself with Google (so far anyway- I tried about a bazillion combos) so I could find any ideas. I do comment on a few blogs that require you to have a blogger login, so I will probably stay up if for no other reason than that . But still, nothing's new under this blog. O my bloggy spirit, where are thou?

Truthfully, I don't feel like I have very interesting things to say at this point in my life, mainly because I don't have/take the time to think. I'm kind of prone to tunnel vision anyway, and being a full-time working slave has simply narrowed my focus even more. I hardly watch the news or keep up with current events and causes that I used to be passionate about have fallen by the wayside. I've appeased myself to some degree with the realization that many people in this condemned town have this problem, and that as we get older we will find time for other things again. Please, someone- tell me (even if you have to lie) that someday I will have a life...

Well, speaking of boring, I think I'll stop here. Just wanted to post a "Hey I'm still here" note for anyone still hanging around.

Thursday, February 14, 2008

My Happy/Sappy Valentines



Hei, saya seorang pria. Saya karnivor, saya mencukur kepala saya hingga nyaris botak dan saya membiarkan rambut-rambut halus tumbuh di dada saya. What on earth could I possibly say in favor of Valentine’s Day? Well, actually I do have some opinions...



Dalam 3 dekade hidup saya, makna hari kasih sayang ini telah mengalami pergeseran. Tentu saja pergeserannya terjadi sangat perlahan-lahan dan sangat bergantung pada peristiwa-peristiwa yang saya alami di tahun-tahun sebelumnya. Ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai tentang Valentine’s Day, saya pun mulai mengudari makna-makna Valentine yang pernah saya yakini. Setidaknya ada tiga sikap yang pernah saya ambil terhadap Valentine.

Adolescence (Teenages)
Saya mengenal istilah hari kasih sayang pada saat memasuki usia pubertas, tepatnya di bangku SMP. Ketika itu suara cempreng saya mulai memberat, bulu-bulu halus mulai tumbuh di kaki dan saya mulai gugup jika berpapasan dengan seorang teman sekolah yang tinggal di komplek sebelah. Sebelumnya saya tidak pernah sedikit pun mendengar istilah itu. Entah masa kanak-kanak saya begitu nerdy atau memang tidak peduli.

Istilah ini awalnya saya baca di majalah ilmiah populer bulanan yang terbit di negeri kita saat itu. Mendekati 14 Februari, saya baru sadar bahwa hari itu dirayakan oleh hampir seluruh majalah remaja, termasuk satu-satunya majalah remaja pria. Sebagai remaja di akhir era 1980-an, tentunya saya tidak mau ketinggalan ikut dalam gegap gempita itu.

Kebetulan pada saat Valentine, saya sudah dekat dengan teman sekolah yang tinggal di kompleks sebelah. Saya ikuti berbagai langkah dan tips yang dianjurkan majalah itu. Tahun itu saya merayakan Valentine lengkap dengan dinner, nonton bioskop, bunga mawar dan coklat. Alhasil di penghujung malam saya berhasil mendapatkan ciuman pertama saya. Hubungan itu sendiri berakhir beberapa bulan kemudian. Namun sebuah paradigma baru tentang hari kasih sayang melekat di kepala saya.

Paradigma Valentine ini masih saya praktekan setidaknya 4-5 tahun berikutnya. Meskipun “hadiah” yang saya terima di penghujung malam mulai berubah. Akhirnya saya sampai pada suatu titik di mana saya kehilangan seluruh keistimewaan moment Valentine. Ketika “hadiah” itu mulai bisa saya dapatkan tidak cuma di hari kasih sayang, tetapi juga hari-hari lainnya sepanjang tahun. Di masa-masa ini, Valentine sekadar kegiatan konsumtif dan fisikal belaka.

Young Adulthood (Twenty-something)
Masa turbulensi politik Indonesia sedikit banyak mempengaruhi pemikiran saya saat memasuki usia 20-an. Di masa ini, saya hidup jauh dari rumah dan memasuki miniatur realitas metropolitan, yaitu dunia kampus. Saya mulai mengakrabi pemikiran-pemikiran teori kritis dan di kampus juga terjun menjadi aktivis. Tanpa terasa, pengetahuan yang saya dapatkan dari aktivisme kampus membentuk pandangan dunia saya.

Pada era ini saya mengembangkan pemikiran baru tentang Valentine. Saat ini saya menganggap Valentine is sick! Saya menganggap Valentine tak lebih dari marketing tools yang terlalu komersial. Suatu kali, saya sempat memiliki pasangan yang setuju that it was all too commercialized. Kami membuat perjanjian untuk tidak akan menghabiskan satu sen pun untuk merayakan hari kasih sayang ini. Alih-alih, saya membuat sebuah kartu ucapan sendiri dengan inisial nama kami terukir di dalam sebuah bentuk hati dan mengatakan I love you. Saya memberikannya kartu itu, we never had sex again and then she dump me!

Ketika saya lepas kuliah dan memasuki dunia kerja yang jauh lebih nyata berbekal idealisme, saya pun semakin muak dengan realitas bernama Valentine. Meskipun arus pengaruhnya bertambah kuat dengan cara-cara yang lebih kreatif dan hegemonik, tetapi saya malah menemukan realitas-realitas aneh yang membuat saya geleng-geleng kepala.

Seorang teman kerja yang lebih senior menceritakan pengalaman Valentine setiap tahun. Dia telah saling tak acuh dengan pasangannya selama hampir setahun terakhir ini. Mereka bahkan menghabiskan akhir pekan sendiri-sendiri. Sang istri sibuk dengan teman-temannya dan dia sibuk mengencani wanita-wanita selingkuhannya. Namun, mereka sibuk berburu karangan bunga paling cantik untuk romantic candle light dinner, kissing in the rain (pointless), and hand-holding sepanjang malam. Mereka lalu pulang ke apartemen mereka yang lantainya sudah ditaburi kelopak-kelopak mawar dari pintu masuk hingga ke atas ranjang mereka. Di penghujung malam mereka sudah sibuk dengan post-coital ciggy dan kemudian kembali saling mengabaikan hingga tiba Valentine tahun depan. Semua itu mereka lakukan untuk menyatakan cinta mereka yang terlanjur diikat di lembaga pernikahan.

Di era ini kisah cinta saya sendiri terangkum tak ubahnya deretan kartu-kartu Valentine yang dijual di etalase-etalase. Cards range from minimalist overpriced types, through to fluffy, glitter-drenched six-footers. Semuanya adalah koleksi yang dibuat semenarik mungkin, dengan kata-kata yang bergairah dituangkan ke dalamnya. Lantas setelah dinner dan sedikit seks, kartu itu sudah sobek dan tercampakan ke tong sampah. Seolah-olah kewajiban saya untuk memperlakukan seseorang sebagai lady selama 24 jam telah terpenuhi dan kemudian saya kembali bisa gila-gilaan untuk 364 hari lainnya.

Maturity (The Thirties)
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya mencoba berdamai dengan dunia. Sedikit demi sedikit idealisme saya mengendur dan digantikan dengan pragmatisme. Ketika sudah bertahun-tahun harus mengakrabkan diri dengan realitas Valentine, saya pun akhirnya menganggap bahwa Valentine is for everyone and in short, is possibly the second wonderful day of the year after Christmas.

Apakah menjadi lebih feminin dengan menyukai Valentine’s Day? Tidak. Ini adalah hari di mana saya justru bisa agak bermalas-malasan. Valentine’s day adalah satu-satunya hari di mana kita bisa melemparkan alasan atau hadiah paling culun untuk membahagiakan pasangan atas nama romantisme, and still get something nice in return. Kami bisa sekedar memesan Sate Padang Mak Datuk, hanya karena mengingatkan kami pada masa-masa perkenalan dulu. Meskipun sate itu agak terlalu berasap, namun itu romantis, all thanks to segnor Valentine.

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang harus menjalaninya tanpa pasangan? Well, they should love Valentine’s too. Mereka bisa menyatukan sinisme arogan dan kesepian yang mereka jalani untuk mengadakan bersama-sama mengadakan “We hate Valentine, so we throw a party” party. Di acara itu, mereka bisa bertemu dengan seseorang, lalu mudah-mudahan bisa jatuh cinta, and live happily ever after… Seperti kami!

So, it’s Valentine’s Day, everyone’s a winner… Happy St. Valentine's Day!
IBX5899AACD4E772