Sunday, April 08, 2007

Merah Putih by Jakob Sumardjo

Tak sengaja menemukan sebuah tulisan Oom Jakob Soemardjo di sebuah forum. Sebaiknya dirilis ulang supaya lestari selamanya.







Bendera Indonesia, Merah Putih, sering diartikan "berani" dan "suci". Apakah ini pemaknaan budaya modern atau budaya Indonesia promodern? Mengapa kini bangsa Indonesia memilih simbol merah dan putih sebagai jati diri? Mengapa merah di atas dan putih di bawah, bukan sebaliknya? Dari mana simbol ini berasal?

Berbagai pertanyaan itu tak pernah diajukan orang sejak Mohammad Yamin menjelaskannya dalam buku yang tak pernah dicetak ulang. 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih, tahun 1958. Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna "zat hidup". Hanya tidak dijelaskan makna "zat hidup". Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.

Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat. Artefak- artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropolo- gi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.

Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia. Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?

Alam rohani dan duniawi

Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana, lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural. Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.

Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.

Pemisahan "lelaki"-"perempuan" itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau "zat hidup" baru muncul jika pasangan-pasangan dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.

Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal. Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.

Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci. Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia. Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.

Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai pasangan dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini. Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang. Putih adalah simbol langit atau Dunia Atas, merah sim- bol dunia manusia, dan hitam simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.

Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah. Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia "buta warna".

Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.

Kehidupan dan kematian

Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, "darah tidak sama", ada darah putih dan darah merah. Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.

Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian. Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung "zat hidup".

Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan? Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan. Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.

Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia. Merah-putih itu "zat hidup", potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh . Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.

Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa? Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya.

Merah-Putih adalah jiwa Indonesia.

Wednesday, April 04, 2007

AMENANGI ZAMAN EDAN



KALA









Kemaren nonton preview film terbaru Joko Anwar. Komentar gw bisa dibaca di sini

Thursday, March 29, 2007

UPGRADE






Mohon maaf, karena proses upgrade yang baru saja dijalani blog ini, maka komentar-komentar yang lama jadi hilang. Tapi Anda bebas mengomentari ulang bagian manapun dari blog ini dengan commentary system yang baru.

Tuesday, March 27, 2007

Balada Riska, Penjaja Koran Jalanan





Tulisan Bang Daniel Siburian







Riska Amelia. Itu nama yang disematkan ayah bunda kepadanya. Dihimpit kemiskinan ia dengan sukarela melakoni hidup menjadi penjaja koran di jalanan ketika menginjak usia kelas 2 SD. Maklum, ibunya hanya seorang penyapu jalan di Jalan Hayam Wuruk Jakarta. Ayahnya entah di mana berada. Riska telah melakoni pekerjaan selama tiga tahun. Kini ia telah menginjak usia 10 tahun dan duduk di kelas 5 SD Negeri 05 Kenari, Jakarta Pusat. Dari jerih payahnya menjajakan Koran di tengah hiruk pikuk dan polusi jalanan, setiap hari ia bisa membawa pulang sekitar lima puluh ribu ke rumah.

Tidak seperti anak penjaja koran pada umumnya, kehidupan jalanan tidak membuat Riska lalai atas tugas utamanya sebagai seorang siswa. Di sela-sela waktu tersisa, ia masih menyempatkan diri untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah yang dibebankan sekolahnya. Menurut pengakuan ibunya, Riska menduduki rangking tiga besar di sekolah!

Riska tidak pernah mengeluh atas nasib yang menderanya. Ia melakoni pekerjaan yang seharusnya belum waktunya dia kerjakan dengan sepenuh hati. Ia tetap memakai seragam sekolahnya ketika menjajakan koran. Karena, baginya, kalau harus berganti pakaian, malah kian memberatkan beban yang harus dia pikul di tasnya. Maklum, rumahnya jauh nun di Citayam, Depok, sementara ia berjualan di sepanjang Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Riska tak menduga sebelumnya, pemikiran sederhananya ini akan berakibat fatal. Ia ditegur keras oleh kepala sekolahnya dan diminta untuk pindah sekolah. Gadis polos itu dianggap telah mencermarkan nama baik sekolah, telah membuat Sang Kepala Sekolah, Sri Mintaningsih, malu bukan kepalang. Bu Kepala Sekolah tidak bisa terima sama sekali ada anak didiknya yang ketahuan khalayak ramai menjadi penjaja koran jalanan. Ya, salah satu koran ibu kota telah memuat foto Riska sedang berjualan koran di Tugu Tani.

Dunia Riska runtuh seketika. Tidak ada lagi keceriaan di matanya. Riska kini menjadi pendiam. Ia tidak mau lagi pergi ke sekolah. Bahkan untuk keluar rumah pun tidak mau.

Sungguh saya tidak bisa menahan geram ketika membaca nasib sial yang menimpa gadis kecil penjaja koran ini. Sekolah yang seharusnya mendidik anak didiknya dengan baik dan benar malah melakukan tindak kekerasan psikologis! Lebih menyebalkan lagi, sang guru membela diri bahwa ia sama sekali tidak memarahi Riska. „Saya sampaikan itu (penegasan tata tertib sekolah, termasuk pemakaian seragam sekolah - pen.) baik-baik, tidak dengan marah-marah,“ ujarnya membela diri.

Akal sehat saya tentu saja langsung menyanggah pembelaan diri tersebut. Mana mungkin Riska akan langsung berubah seratus delapan puluh derajat kalau ibu gurunya ng
omong baik-baik? Secara a priori saya lebih mengamini kesaksian ibu kandung Riska.

Memang, kalau kita tilik dari kacamata hukum, keputusan Rosnida, ibu Riska, untuk membiarkan (menyuruh?) dia berjualan koran bisa disebut sebagai kegiatan eksploitasi anak, mempekerjakan anak di bawah umur. Tapi, persoalan tidaklah sesederhana itu. Rizka dan rizka-rizka yang lain lebih membutuhkan empati daripada sikap pahlawan kesiangan. Tidak ada seorang anak pun yang terlahir ke dunia ingin menghabiskan masa kecilnya di jalanan, berteriak menjajakan koran, berharap ada orang yang membeli dagangannya; menghirup polusi udara; rentan terhadap tindak kekerasan seksual!

Seharusnya, ketika foto Riska tertampang di koran, akan lebih arif-bijaksana bila pihak sekolah mencarikan Riska beasiswa pendidikan. Terlebih Riska termasuk anak pintar, bisa menduduki rangking tiga, memiliki kemauan keras untuk bersekolah.

Tugas sekolah adalah memberi harapan hidup yang lebih baik buat anak didiknya, bukannya memadamkan asa mereka!***

Wednesday, March 21, 2007

APRIL MOP





Tulisan Mang Ucup di Milis Mediacare









Perkataan "April Mop" yang kita kenal sekarang ini, diserap dari bahasa
Belanda. Sedangkan dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan „April
Fool’s Day“. Sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan sebutan „Poisson
d’Avril“ = Ikan April, oleh sebab itulah anak-anak sering saling mengganggu
dengan menggunting gambar ikan dan di tempelkan di punggung lawannya.

Kebalikannya di Spanyol mereka merayakan April Mop itu pada tanggal 28
Desember yang disebut „Dia de los Santos Inocentes“ = Hari anak tak
bersalah, oleh sebab itulah juga ketika pemerintah Spanyol mengeluarkan
undang-undang baru yang seyogiyanya pada tanggal 28. Desember 1978 diundur
sehari agar tidak dijadikan bahan tertawaan ataupun dianggap sebagai
lelucon.

April Mop itu adalah hari Dusta, dimana orang dihalalkan untuk berdusta
ataupun menyebar luaskan kabar dusta (hoax) sekedar untuk lelucon. Maka dari
itu juga para agamaist di Eropa menilai asal muasal dari April Mop itu,
karena 1 April itu sebenarnya adalah hari lahir dan juga hari kematiannya
dari Yudas sang penghianat Yesus. Yudas diidentiskan sebagai iblis sang raja
bohong !

Tidak bisa dipastikan mana yang benar asal muasal dari April Mop itu, tetapi
yang masuk diakal dan juga banyak diterima oleh kebanyakan orang asal muasal
dari April Mop itu, karena adanya perubahan penanggalan.

Penanggalan Rumawi hanya terdiri dari sepuluh bulan, maka dari itu dahulu
mereka merayakan hari Tahun Baru nya pada tanggal 1 April. Kata April di
diserap dari bahasa Belanda yang berasal bahasa Latin “aprire” berarti
“membuka”. Membuka Tahun Baru ! Maka dari itu juga rakyat Romawi kuno
merayakan pesta ini seperti layaknya pesta Karnaval yang disebut Quirinalia
pada tanggal 1 April.

Pada th 1564 Raja Perancis Karel IX mengadakan perubahan – reform
penanggalan, dari tanggal Rumawi menjadi tanggal Anno Domini seperti yang
kita pakai sekarang ini. Oleh sebab itu mereka tidak merayakan tahun baru
pada tanggal 1 April lagi, melainkan pada tanggal 1 Januari.

Pada saat tesebut belum ada TV/Radio maupun koran, sehingga penyebaran
informasi pun sangat lambat sekali. Hal inilah yang menyebabkan banyak
rakyatnya jadi telmi (telat mikir), sehingga mereka tetap merayakan hari
tahun barunya pada tanggal 1 April. Mereka yang telmi inilah yang akhirnya
menjadi buah tertawaan para penduduk seluruh Perancis pada masa itu. Mulai
dari situlah timbul istilah maupun kebiasaan April Mop yang selalu dilakukan
pada tanggal 1 April. Kata Mop itu sendiri diserap dari bahasa Belanda =
dongeng !

Ini hanya salah satu versi dari sekian banyak versi-versi lainnya, walaupun
demikian berdasarkan peninggalan sejarah telah terbuktikan bahwa April Mop
itu sudah dikenal jauh sebelumnya; di Perancis pada tahun 1508 dan di
Belanda 1539.

April Mop bukan hanya disebar luaskan dan dibuat oleh perorangan saja bahkan
kantor-kantor media eletronik maupun cetak; turut aktiv menciptakan Hoax –
April Mop tersebut.

Di tahun 1957, TV BBC dalam programnya Panorama mentayakang berita, bahwa di
Swis orang sudah bisa panen memetik mie Spageti dari pohon, sehingga BBC
kebanjiran pertanyaan bagaimana caranya agar bisa menanam pohon Spageti.

Di Australia siaran TV Seven Network memberitakan, bahwa para pemisra TV
sekarang ini bukan hanya sekedar bisa melihat tayangan gambar bunga saja di
layar kacanya, melainkan juga sudah dapat mencium harumnya bunga tersebut.
Teknik canggih terbarunya ini disebut „Smell-o-Vision. Akibatnya jutaan
pemisra menempelkan hidungnya ke layar kaca mereka dengan harapan bisa
mencium gambar bunga yang ditayangkan.“

Di Koran „Bergens Titende“- Norwegia diberitakan, bahwa kantor bea cukai
setempat telah menyita barang selundupan; berupa jutaan liter minum keras
(miras). Kalau ini dibuang begitu saja tentu sangat disayangkan, maka dari
itu miras ini akan dibagikan kepada semua rakyatnya. Bagi mereka yang ingin
mendapatkan miras secara gratisan; silahkan bawa botol kosong ke kantor bea
cukai. Akibatnya ribuan orang ngantri di depan kantor bea cukai setempat
dengan botol kosong.

Di Jerman kantor Telkom setempat pernah dibuat pusing, karena diberitakan
bahwa terorist telah mampu memasukan bom peledak secara digital. Virus Bom
Peledak itu masuk ke dalam pesawat telpon, setelah anda menelpon keluar
kota. Berdasarkan ultimatum dari sang terorist, pada pkl 18.00 sore waktu
setempat bom akan meledak. Cara satu-satunya untuk memunahkan atau
melumpuhkan ledakan bom tersebut ialah dengan memasukan telpon anda ke dalam
ember penuh dengan air. Akibatnya ribuan telpon setempat jadi rusak, karena
terendam air dalam ember.

Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
IBX5899AACD4E772