Wednesday, April 01, 2009

Unusual Toilet





Here is a lovely collection of unusual and quirky bathroom/restroom/toilet signs from around the world. Some even go as far as accommodating our alien friends and potential robot overlords.

Check them out and have a giggle.

Monday, March 16, 2009

Food for Brain

The books you read directly affects the performance of your brain. It has been proven that by reading the right book, you can boost your IQ, improve your mood, be more emotionally stable, sharpen your memory and keep your mind young.

If you give your brain the right inspiration, you will be able to think quicker, have a better memory, be better coordinated and balanced and have improved concentration. Discover some food for my brain here...




Friday, January 23, 2009

Teks Pidato Barack Obama saat Pelantikan




Amerika Teman Seluruh Bangsa



Teman-teman,




Hari ini, saya berdiri di sini, siap menghadapi tugas-tugas yang menghadang, bersyukur atas kepercayaan yang Anda berikan, menghargai pengorbanan para pendahulu kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush karena sudah menuntaskan pengabdiannya pada negara, juga atas kemurahan dan kerja samanya selama masa transisi.

Sekarang, genap sudah empat puluh empat warga Amerika yang mengikrarkan sumpah kepresidenan. Janji sudah diucapkan di tengah meningkatnya kemakmuran dan terperliharanya perdamaian. Meskipun, sering kali pengambilan sumpah terjadi saat awan berarak-arak dan badai mengancam. Sampai saat ini, Amerika masih mampu bertahan bukan semata-mata karena kemampuan atau visi mereka yang menduduki jabatan penting, tapi lebih karena kita sebagai rakyat tetap setia pada ideologi para pendiri negara dan memegang teguh dokumen-dokumen fundamental.

Fakta bahwa kita berada di tengah krisis, kini bisa dipahami dengan baik. Bangsa ini sedang menghadapi perang melawan lingkaran kejahatan dan kebencian yang sulit diuraikan. Perekonomian kita benar-benar lumpuh, dampak keserakahan dan tidak bertanggung jawabnya sekelompok kecil orang. Tapi, juga karena kegagalan kita memberikan pilihan-pilihan dan mempersiapkan bangsa ini menyambut era baru. Rumah disita, pekerjaan lepas, bisnis kacau. Jaminan kesehatan pun menjadi sangat mahal; pendidikan tidak terjangkau seluruh kalangan; dan tiap hari semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa gaya konsumsi energi kita kian mempertebal rasa permusuhan dan mengancam keselamatan bumi.

Data dan statistik yang muncul mengindikasikan bahwa kita sedang menghadapi krisis. Satu yang tidak kalah penting tapi sering diabaikan adalah semakin berkurangnya rasa percaya diri di seluruh pelosok negeri - sebuah komplain yang mengandung kekhawatiran bahwa tenggelamnya Amerika tidak terelakkan. Dan, generasi berikutnya juga harus memangkas ekspektasi mereka.

Hari ini, saya tegaskan kepada Anda sekalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi itu nyata adanya. Semua itu serius dan majemuk. Semua itu tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Tapi, ketahuilah ini Amerika - seluruh tantangan itu akan mampu kita hadapi bersama.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan ketimbang ketakutan dan persamaan kepentingan daripada konflik dan perselisihan.

Pada hari ini, kita datang untuk memproklamasikan berakhirnya keluhan-keluhan yang picik dan janji-janji palsu. Berakhirnya saling tuding dan penerapan dogma-dogma yang tidak perlu, yang sudah terlalu lama mewarnai panggung politik kita.

Negeri ini masih tetap dianggap muda, tapi meminjam istilah Alkitab, sudah tiba masanya untuk menyudahi sifat kekanak-kanakan. Waktunya sudah tiba untuk menyalakan kembali semangat juang kita; untuk memilih sejarah yang lebih baik; untuk tetap memelihara anugerah istimewa, ide-ide yang mulia, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yakni, bahwa Tuhan memandang semua orang sama. Semuanya memiliki hak yang sama untuk menikmati kebebasan dan berhak mengejar kebahagiaan masing-masing.

Menegaskan kembali kebesaran bangsa ini, kita harus benar-benar memahami bahwa keagungan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja. Itu harus diupayakan. Perjalanan kita bukanlah jalan pintas dan sama sekali tidak mudah. Bukan perjalanan mereka yang suka santai - yang lebih memilih bersenang-senang daripada bekerja atau hanya melulu mengejar kemewahan dan ketenaran. Sebaliknya, mereka yang berani menghadapi risiko, para pelaku, para pembuat keputusan - sebagian masih dikenang sampai sekarang, tapi sebagian besar adalah perempuan dan laki-laki pekerja keras biasa, yang telah menempuh perjalanan jauh dan merintis jalan menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka rela mengemas harta yang tidak seberapa dan bepergian menyeberang samudera dalam mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka rela bekerja keras dan berkeringat dan menetap di Barat; bertahan dalam cambukan dan membajak tanah yang benar-benar keras.

Demi kita, mereka berjuang dan meregang nyawa, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg; Normandy dan Khe Sanh.

Perempuan serta laki-laki pejuang itu berusaha keras dan rela berkoban dan tidak berhenti berupaya sampai tangan mereka kasar. Semuanya hanya demi kehidupan yang lebih baik. Mereka memandang Amerika lebih dari sekedar sejumlah individu yang ambisius; lebih dari sekedar perbedaan kelahiran, kekayaan atau faksi.

Itulah perjalanan yang masih harus kita teruskan hari ini. Kita masih tetap bangsa yang paling makmur dan paling berkuasa di bumi. Para pekerja Amerika sama sekali tidak mengendurkan produktivitas mereka saat krisis terjadi. Kita juga masih tetap terus berinovasi, stok barang dan jasa juga masih tetap sama dengan pekan lalu atau bulan lalu atau tahun lalu. Kapasitas dan kemampuan kita tidak tergerus. Tapi, masa berbangga diri karena mampu melindungi sejumlah kepentingan dan mengesampingkan keputusan yang tidak menyenangkan - jelas sudah berlalu. Mulai hari ini, kita harus kembali berdiri tegak, menyingsingkan lengan baju dan mulai kembali bekerja untuk membangkitkan Amerika.

Kemana pun mata memandang, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Perekonomian menyerukan kepada kita untuk beraksi, lebih berani dan tangkas, dan kita akan segera melakukannya. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga meletakkan landasan-landasan yang baru untuk tumbuh. Kita akan membangun jalan-jalan dan jembatan, sambungan listrik, dan jaringan digital yang akan mendukung sektor perdagangan dan menyatukan kita bersama. Kita juga akan mengembalikan sains pada tempat semestinya dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menjadikannya lebih murah. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari dan angin dan juga tanah dengan maksimal, untuk menggerakkan kendaraan-kendaraan kita dan pabrik yang ada. Dan, kita juga akan meremajakan sekolah dan perguruan dan universitas yang ada supaya bisa memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Semua itu bisa kita lakukan. Semua itu akan segera kita lakukan.

Kini, ada beberapa yang mempertanyakan seberapa besar ambisi kita - ada yang menyatakan bahwa sistem kita tidak akan bisa menoleransi terlalu banyak agenda besar. Kenangan mereka sungguh pendek. Mereka tidak bisa lagi mengingat apa saja yang sudah berhasil dilewati bangsa ini; apa yang bisa dicapai perempuan dan laki-laki bebas saat imajinasi dipersatukan dengan tujuan-tujuan yang lazim dan keberanian.

Yang tidak bisa dipahami mereka yang sinis adalah bahwa tanah sudah terbelah diantara mereka - dan bahwa argumen politik yang selama ini diperdebatkan sudah tidak ada lagi. Pertanyaan yang kita lontarkan hari ini adalah apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil. Apakah program-program yang diterapkan bisa berjalan dengan baik - apakah itu bisa membantu keluarga-keluarga Amerika memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak, bisa mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau dan uang pensiun yang cukup. Jika jawabannya ya, maka kita harus terus maju. Tapi, jika jawabannya tidak, maka program-program itu akan segera dihentikan. Rekan-rekan kita yang menyimpan dolar harus bisa bertanggung jawab atas simpanannya. Mereka harus bisa membelanjakannya dengan bijak, mereformasi kebiasaan buruk, dan menjalankan bisnis dengan transparan - sebab hanya dengan cara demikian kepercayaan yang tulus antara rakyat dan pemerintah terjalin.

Pertanyaan yang ada di hadapan kita bukan tentang dorongan pasar yang mengacu pada kebaikan atau keburukan. Kemampuan pasar untuk memupuk kekayaan dan memperluas kebebasan sudah tidak cocok lagi. Tapi, krisis ini telah mengingatkan kita kembali bahwa tanpa pengawasan yang ketat, pasar bisa memutarbalikkan kendali kita - dan sebuah negara tidak akan bisa makmur dalam jangka waktu lama jika hanya melulu membicarakan tentang kemakmuran. Keberhasilan ekonomi kita selalu bergantung bukan hanya pada ukuran gross domestic product kita, tapi juga pencapaian kemakmuran; kemampuan memperluas kesempatan bagi siapa pun juga - bukan karena amal, tapi karena itu adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan dalam konteks barang.

Terkait pertahanan, kita menolak kepalsuan dalam mewujudkan keselamatan dan tujuan hidup. Para Bapak Bangsa....bapak-bapak bangsa kita menyusunnya dengan ketakutan yang sangat yang bahkan tidak bisa kita bayangkan, sebuah piagam yang mengatur tentang hukum dan hak-hak kemanusiaan. Sebuah piagam yang masih terus dijadikan pedoman dari generasi ke generasi. Tujuan-tujuan yang tercantum di sana masih tetap menjadi cahaya dunia dan kita tidak akan pernah menyerah. Dan, bagi seluruh masyarakat dan pemerintahan yang menyaksikan peristiwa hari ini, mulai dari ibu kota yang megah sampai ke pelosok dusun tempat ayah saya dilahirkan, tahu bahwa Amerika adalah teman bagi seluruh bangsa, semua perempuan dan laki-laki dan anak-anak yang mengharapkan masa depan penuh kebaikan. Dan, bahwa sekali lagi, kami siap menjadi pemimpin.

Mengenang bahwa generasi-generasi sebelum kita harus berkutat dengan fasisme dan komunisme tidak hanya dengan rudal dan tank, tapi kesetiakawanan dan kepercayaan. Mereka paham, dengan mengandalkan tenaga sendiri, kita tidak bisa terlindungi. Tapi, mereka juga tidak mengajarkan kita untuk bertindak semaunya. Setidaknya, mereka paham bahwa kekuatan kita tumbuh dari semangat kehati-hatian; keamanan tercipta dari keadilan, keteladanan dan juga kualitas mengendalikan sesuatu.

Kita semua adalah pewaris. Sesuai prinsip-prinsip yang ada, kita bisa menghadapi seluruh ancaman tersebut. Tentu saja dengan upaya yang lebih serius dan juga kerjasama lebih luas dengan beberapa negara. Kita akan berusaha keras mengembalikan Iraq ke pangkuan rakyatnya dan mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Bersama dengan kawan lama dan mungkin juga musuh bebuyutan, kita akan bekerja tanpa lelah melenyapkan ancaman nuklir dan membahas planet yang makin hangat. Kami juga tidak akan memberikan ampun kepada musuh atau menyerah pada musuh. Mereka yang berusaha keras mencapai tujuannya dengan menyebarkan teror dan juga ancaman, kami akan tegaskan kepada kalian bahwa saat ini semangat kami sudah lebih kuat dan tidak mudah dipatahkan. Kalian tidak akan bisa lagi mempermainkan kami, dan kami akan segera mengalahkan kalian. (Disarikan dari Associated Press/hep/ttg)

Wednesday, December 31, 2008

Kepompong








dulu kita sahabat
teman begitu hangat
mengalahkan sinar mentari

dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu-kupu

* kini kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang

reff:
persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah

persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan
persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na

semua yang berlalu
biarkanlah berlalu
seperti hangatnya mentari

siang berganti malam
sembunyikan sinarnya
hingga ia bersinar lagi

** dulu kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang

Friday, December 26, 2008

PINTU TERLARANG: BLOODY BEAUTIFUL!




Judul: Pintu Terlarang Produksi: Lifelike Pictures Sutradara: Joko Anwar Penulis: Joko Anwar
Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy, Henidar Amroe, Tio Pakusadewo, Ario Bayu, Otto Jauhari, Arswendi Nasution


Ada yang unik dengan hadirnya fenomena kekerasan di dalam kehidupan masyarakat. Melalui perantaraan media, kekerasan hadir dalam kehidupan sehari-hari dan seolah-olah menjadi menu di meja makan. Tanpa disadari, sebagian penonton mengadopsi kekerasan yang ditayangkan itu menjadi sebuah metode inspiratif untuk merespon permasalahan. Simaklah tren kasus mutilasi yang marak akhir-akhir ini. Itulah sebabnya, kerap kita mendengar tudingan bahwa media menjadi ruang yang kondusif bagi distribusi kekerasan. Film terbaru garapan Joko Anwar seolah-olah berusaha menggarisbawahi problematika ini.


Di dalam film ketiganya ini, Joko kembali menggandeng Fachri Albar, Ario Bayu dan Arswendi Nasution. Sebelumnya, ketiga aktor tersebut berkolaborasi dengan Joko Anwar di film “Kala”. Selain ketiga aktor itu, film ini diperkuat kehadiran aktris Marsha Timothy dan Henidar Amroe. Lewat film ini Joko kembali layak digelari sebagai Indonesian’s master of storytelling. Sebagaimana film-film sebelumnya, penulis yang baru meraih Piala Citra ini kembali mengolah sebuah cerita dari perspektif yang sama sekali tidak terduga.

Adalah Gambir, seorang pematung terkenal yang karya-karyanya laris manis dibeli kolektor. Beberapa kritikus sebenarnya meragukan kemampuan Gambir. Konon kunci keberhasilan Gambir adalah kemampuan marketing istrinya yang cantik, Talyda. Karya-karya Gambir selalu berbentuk sosok wanita hamil. Rupanya ini berakar dari trauma masa lalu Gambir, saat ia dan Talyda terpaksa menggugurkan kandungan, karena hamil di luar nikah. Setelah menikah, Gambir dan Talyda justru tak mampu memiliki anak, padahal ibunda Gambir sebenarnya sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu.


Kehidupan rumah tangga Gambir dan Talyda pun terasa semakin gersang. Apalagi ketika Talyda melarang Gambir untuk membuka sebuah pintu rahasia yang baru ditemukannya, Lalu Gambir mulai menerima pesan-pesan aneh dari seorang bocah yang minta diselamatkan. Pesan-pesan itu mengantar Gambir memasuki sebuah gedung misterius dan akhirnya mulai menemukan jejak untuk membongkar rahasia Talyda. Sampai sebuah kejutan datang menghantam seluruh kesadaran Gambir dan membuatnya memilih jalan yang paling brutal untuk menutaskan masalahnya. Tetapi ternyata permasalahan tidak berhenti sampai di sana.

Jalan cerita film ini memang sangat menarik. Menit demi menit berlalu dengan ketegangan yang semakin meningkat, membuat kita tidak sanggup berpaling dari layar. Dengan lihai, Joko menanam berbagai informasi penting di dalam setiap menit yang bergulir, sampai akhirnya semua misteri terbentang jelas di hadapan penonton. Di dalamnya, Joko menawarkan sebuah paradoks yang menyisakan pertentangan di benak kita. Melalui paradoks yang ditawarkannya, Joko seperti ingin membuat kita mempertanyakan kembali kenikmatan yang kita rasakan pada saat menyaksikan orang lain tersiksa. Pada waktu bersamaan, Joko juga menghadirkan ketegangan sejati yang sangat mencekam dan mungkin belum pernah muncul di dalam sinema Indonesia. Hebatnya lagi, Joko tampaknya paham betul bagaimana menggunakan bahasa film itu sebagai senjata, sehingga pada akhirnya, rasa sakit yang muncul bukan pada karakternya, melainkan pada kita yang menyaksikannya, tetapi toh memang itu yang kita cari.

Kemampuan Fachri Albar untuk memerankan fluktuasi emosional pada karakter Gambir sekali lagi perlu diacungi dua jempol. Tetapi penampilan yang paling mencuri perhatian adalah Marsha Timothy yang harus memerankan Talyda. Karakter Talyda yang begitu rumit dan misterius berhasil dilakoni Marsha dengan baik.

Film ini bisa Anda saksikan di bioskop-bioskop terdekat pada pertengahan Januari ini. Selain di Indonesia, film ini juga akan mengadakan international premiere di Rotterdam Film Festival pada 27 Januari 2009. Jadi jangan sampai Anda lewatkan!
IBX5899AACD4E772