Friday, July 22, 2005

RAINFALL





I'd like to know what's going on
In this world we're living on
So much poverty
All around me
This insanity
That surrounds me

It is the world, seems so far away
People's lives, changing everyday
Oh no... I can hear the rainfall

I'd like to know when you and I
Will stop walking and passing by
So much ignorance
That my eyes see
My experience
Cannot blind me

It is the world, seems so far from here
Seasons change, and the rain is near
Oh no... I can hear the rainfall

Oooh... Yehh....

I'd like to find a new reality
Something more than this fantasy
No more false dreams
No more mind games
I can't even see
Through this dark rain

It is the world, seems so far away
People lives, changing everyday
Ey Oh... I can hear the rainfall

Wednesday, July 20, 2005

HEMAT





Alkisah senin pagi minggu lalu, my darksoul mate -, bersungut-sungut menceritakan perihal club-club ibu Kota yang kini harus tutup pukul 04.00 dinihari. Jadi tak akan ada lagi hari-hari hardcore. tak akan ada lagi malam-malam panjang bak di surga, sekaligus di neraka. No more midnight in the garden of good and evil. Tapi bagi gw, ini bukan hal baru. Minggu sebelumnya, setelah kehilangan ponsel dan berbagai kesialan, gw sendiri mencanangkan gerakan pensiun dini, sekalian mengencangkan ikat pinggang. Gw hanya tersenyum simpul mendengar keluh kesah sahabat gw itu. Penutupan ini jadi semacam gayung bersambut dengan rencana gw.

Malam harinya, gw sampai di kos sekitar jam 01.20 dini hari. Gak usah kaget, gw memang semi workaholic, jadi jam seginian emang biasa baru pulang. Sampai di kos, seperti biasa langsung menyalakan TV dong. Yah, meskipun tidak sanggup lagi membayar Kabel, tetapi biasanya masih ada siaran tengah malam yang menarik. Setidaknya berita. Tetapi waktu menyalakan TV, gw gak menemukan satu channel pun yang nyala. Sebagai mahluk postmodern yang hidup di era informasi, gw langsung curiga ada yang salah dengan antenna TV gw. Langsung gw bongkar kabelnya dan memeriksa, lalu dipasang lagi, terus TV-nya distel lagi. Tetapi, lagi-lagi hanya menemukan semut-semut hitam putih menghiasi layar. Gw mulai takut TV-nya rusak, maka gw putuskan mencoba DVD. Ternyata nyala. Wah, lega banget rasanya karena ternyata TV nggak rusak. Gw mulai menghabiskan dini hari dengan nonton Sideways yang bagus banget itu (bagi yang pingin tahu kebagusannya Sideways, silakan klik di sini).

Pagi hari, ketika memulai aktivitas di kantor, tentu saja yang pertama gw buka adalah e-mail dan news website. Alangkah terkejutnya gw, ketika tahu musabab semut-semut hitam putih merubungi layar TV gw tadi adalah karena 'himbauan' atau 'anjuran' pemerintah kepada televisi dan radio swasta di Indonesia untuk melakukan pembatasan siaran, atas dasar Instruksi Presiden untuk hemat BBM yang diterjemahkan menjadi Peraturan Menteri (Permen) Komunikasi dan Informatika no 11/11/P/M.KOMINFO/7/2005 yang mengatur tentang Pengurangan Waktu Siaran Lembaga Penyiaran di Seluruh Indonesia. Permen ini rasanya benar-benar gak enak, karena dia mewajibkan semua stasiun TV dan pemancar radio dimatikan. Selain itu kebijakan ini dilengkapi juga dengan anjuran untuk memasang AC di angka 25 derajat, tidak menggunakan jas, mematikan lampu jalan setengahnya. Oleh Bung Yos, kebijakan ini didukung penuh dengan aksi ancam-ancaman segala.

Sontak, gw seperti kebakaran jenggot dengan berita ini. Selaku manusia dini hari, gw memang bukan manusia televisi. Tetapi setiap hari setidaknya gw melakukan ritual menonton televisi setidaknya 15 menit sebelum mulai menyetel DVD dan tidur. Ketika hak menonton TV gw dicabut, rasanya ada yang hilang dan terasa sakit. Tetapi itukan kepentingan pribadi, masa harus menang daripada anjuran hemat BBM dari pemerintah yang sudah semestinya berada di atas semua kepentingan pribadi individu-individu manja yang hidup di negeri ini.

Tetapi benarkah pembatasan siaran televisi itu adalah untuk kepentingan umum?

Kalo versi gw sih ceritanya kira-kira begini:

APBN 2005 berjumlah Rp. 397 triliun. Sekitar Rp.100 triliun habis dipakai untuk subsidi BBM. Sementara harga minyak dunia melonjak terus, ini bakal mengakibatkan kebutuhan subsidi BBM naik terus hingga bisa mencapai Rp.250 triliun. Jelas tekor dong. Kalo zaman Orba sih, hal kayak gini biasanya ditanggulangi dengan memperbesar utang luar negeri (kebetulan gw pernah nulis ini di Polar tahun 1995). Tetapi di tengah hidup yang begini pahit karena trauma utang luar negeri warisan Orba, tentulah pilihan untuk menambah utang lagi bak hantu yang bergentayangan dan menakuti orang-orang.

Jalan pintas lainnya sebenarnya adalah mengurangi konsumsi BBM nasional yaitu dengan membuatnya mahal. Sebenarnya untuk mengatasi masalah ini, pemerintah bisa saja memotong subsidi BBM. Seperti biasa dengan alasan bahwa subsidi ini akan disalurkan kepada orang yang lebih membutuhkan atau untuk pembangunan sarana dan prasarana publik yang terutama akan menggairahkan ekonomi masyarakat. Daripada dipakai untuk membiayai mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalan dan memacetkan jalan. Dengan BBM yang nirsubsidi, pemerintah bisa menanggulangi masalah kekurangan dana ini, plus mengurangi pemakaian alias penghematan BBM juga. Kalo bensin mahal, kan orang males bawa mobil kalo gak perlu-perlu banget. Sebisanya masih akan menggunakan transportasi umum. Jalan juga akan lebih tidak macet. Sementara sarana transportasi umum bisa dikembangkan dengan dana yang tadinya dipakai untuk subsidi. Ribet gak sih alirannya?

Masalahnya adalah, pemerintah baru saja mengambil kebijakan kontroversial mengurangi subsidi BBM ini sebelumnya dan hasilnya adalah panen aksi dan demo mahasiswa. Sebenarnya yang dituntut mahasiswa adalah transparansi pemanfaatan aliran dana subsidi yang dipotong itu. Sayangnya sejauh ini, pemerintah entah masih tutup kuping, entah tak acuh, entah ndak ngerti apa yang diteriakan mahasiswa itu. Maklumlah, demo kan biasanya panas-panasan dan pakai long march segala, sampai di istana negara, suara para demonstran sudah pada habis dan serak. Intinya pemerintah belum mau dan belum mampu memberikan penjelasan yang jelas terhadap tuntutan transparansi aliran dana tersebut. Maka pilihan untuk mencabut subsidi BBM adalah hil yang mustahal kalo kata Srimulat, eh.. hal yang mustahil maksudnya. Bak Soeharto dulu, gara-gara BBM yang tidak setitik itu, bisa terdongkel tuan dari kursinya. Jangan mengulang jejak kegagalan dong!

Ketika sadar bahwa pilihannya sangat terbatas. Mulailah pemerintah kebakaran jenggotnya. Dalam keadaan panik ini, dicarilah kambing hitam untuk mengatasi permasalahan ini. Ditudinglah kegiatan pembangkitan tenaga listrik sebagai sebab tingginya angka kenaikan BBM. Maka itu, pemerintah merasa perlu memotong dana ini dengan membatasi penggunaan listrik. Salah satu komponen yang akan mengurangi penggunaan listrik adalah penghentian siaran televisi dan radio ini. Karena ini berarti membuat stasiun televisi dan radio tidak perlu menyalakan piranti pemancar dan kantornya, sementara masyarakat juga mematikan TV dan lampunya. Nah, lebih ribet mana coba logikanya?

Gw sendiri gak tahu, sebenarnya seberapa persen penggunaan BBM ini tersedot oleh pembangkitan tenaga listrik. Tetapi kalau dari berita-berita dan analisis pakar, jelas lebih kecil ketimbang penggunaan BBM untuk kendaraan bermotor. Jadi melarang orang memakai jas, menghidupkan AC dan mengurangi jam siaran radio dan TV itu seperti gatal di hidung, yang dicabut bulu kaki.

Yang paling bermasalah dari Inpres ini sih prosesnya. Kalau di negara lain memang ada juga kampanye hemat energi. Tapi ya bentuknya kampanye bukan instruksi. Perlu digarisbawahi bahwa kebijakan ini adalah Instruksi Presiden lho, bukan imbauan seperti yang sering disebut di media massa. Beberapa kali bahkan imbauan ini sudah berubah jadi ancaman ketika yang bicara adalah Bung Yos (mengancam akan memutus listrik untuk gedung swasta yang masih memasang AC terlalu dingin). Masa keputusan mau nonton atau tidak nonton, keputusan kedinginan atau kepanasan, atau keputusan mau pakai baju apa hari ini saja harus negara yang membuatkan.

Padahal kalo logikanya mau ditarik panjang banget kayak logika pemerintah itu, keputusan yang diambilkan untuk kita itu juga ada dampak negatifnya. Setidaknya bagi kelompok orang tertentu. Malah kebijakan yang diambil ini juga cacat hukum, karena dalam UU Pers No. 40/1999 pasal 4 ayat 2 disebutkan pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan ataupun pelarangan penyiaran. Pada jam 01.00 itu, biasanya masih ada berita TV yang tayang, sementara menjelang subuh biasanya ada infotainment yang kebradaannya juga memikili keterwakilan di PWI.

Pemerintah banyak sekali tuntutan kepada warganya, sementara kompensasinya seperti transparansi aliran dana hasil pemotongan subsidi BBM saja masih sulit sekali diberikan pada warganya. Nah, sementara pembatasan siaran ini sebenarnya untuk kepentingan siapa. Pembatasan siaran ini kan dilakukan supaya tidak perlu mencabut subsidi BBM dan tidak perlu menyediakan transparansi. Kalau subsidi dicabut dan transparansi tidak disediakan juga, akan ada orang-orang tertentu yang harus lungsur atau longsor statusnya. Kalau begini judulnya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan bangsa?

Lucunya lagi, Inpres itu muncul sehari setelah perhelatan pernikahan putra Presiden yang memakan waktu berhari-hari dan makan biaya, BBM dan listrik besar yang konon memakai fasilitas negara karena diizinkan undang-undang. Plus, di tengah gencarnya tuntutan kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR yang sudah mencapai angka puluhan juta itu. Busyet, hemat banget yak!

Terlepas dari pokok yang gw bahas di atas. Gerakan penghematan yang dipaksakan ini benar-benar membuat gw semi-il-fil pada kata hemat. Gerakan penghematan yang gw canangkan dan berakar pada kesadaran, ternyata tidak berjalan searah sehaluan dengan gerakan penghematan yang dipaksakan pemerintah. Hampir saja, selip lagi minggu lalu. "Tetapi ya tidak boleh begitu, Ewink! Commitment is commitment. Sekarang kan loe lagi merencanakan untuk berhemat dan memulai belajar dan menekuni lagi suatu ilmu pengetahuan baru." Begitu kata sel abu-abu gw. Tetapi seperti biasa, gw butuh katarsis untuk uap gas beracun yang terkumpul di otak gw. Untung saja gw punya blog ini. Jadi lagi-lagi seperti puisinya Wiji Thukul, "Ku harus melangkah dan berkata-kata..." Tetapi cuma jari-jari gw yang melangkah.

UANG (Ian Antono)

Kapan dan di mana saja. Di seluruh dunia ini
Tak habis orang bicara, tak henti orang berdiskusi
Tiada bukan, tiada lagi
Mereka mencari
Cara cepat 'tuk mendapatkan

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Memang Uang bisa bikin
Orang senang tiada kepalang
Namun uang bisa juga bikin orang mabuk kepayang

Lupa sahabat, lupa kerabat
Lupa saudara, mungkin juga lupa ingatan

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang
Uang bikin mabuk kepayang

Ooo uang... Ooo lagi-lagi uang

Saturday, July 16, 2005

Wednesday, June 29, 2005

NOT FAR BUT AWAY




Ada kalanya begitu sedikit hal menarik untuk ditulis sehingga kita mengenal istilah writer's block. Sementara ada kala lain di mana begitu banyak hal menarik terjadi untuk ditulis di blog ini. Saking banyaknya hal menarik itu, maka energi pun jadi habis dan ujung-ujungnya tidak bisa menulis juga. The bottomline is: writer's block juga... hehehe, iya nggak?

Sudah 3 akhir pekan ini, gw seperti dilempar dari satu rave party ke rave party lain. Kultur rave party ternyata kini memang sedang jadi trend mengemuka di sekitar Jakarta. Kalau rute gw sendiri malah tak cuma sekitar Jakarta tetapi sampai ke negeri jiran. Bermula dari Cream pada 11 Juni 2005 lalu. Cream tahun lalu sebenarnya tidak terlalu luar biasa, jadi ekspektasi gw tahun ini juga biasa saja. Tetapi tahun lalu, pada minggu siang sesudah Cream, gw ada jadwal pemotretan dengan Masayu Anastasia. Pemotretan itu sendiri jadi sempat agak-agak ribet awalnya (maklum basian!) namun akhirnya berjalan mulus, lancar dan sukses. Bahkan sampai saat ini, boleh dibilang salah satu pemotretan tersukses yang pernah gw lakukan sampai dimuat di beberapa negara. Pemotretan itu sempat memuluskan beberapa jalur dalam karir gw sesudahnya untuk beberapa saat. Selain itu, efek pemotretan itu belakangan hari mengantar gw berkenalan dengan Abi yang sampai hari ini jadi sahabat dekat gw, meskipun agak jarang ketemu lagi. Atas nama masa lalu yang belum terlalu jauh - not far but away... - maka gw berangkat Cream.

Minggu berikutnya berangkat ke Singapura. Resminya sih diundang ke Ibiza Summerdance Out 2005 yang diadakan di Sentosa Island. Tetapi karena acaranya baru Sabtu malam, sementara undangannya dimulai sejak Jum'at pagi, maka oleh Singapore Tourism Board, kami dijamu dan disuguhi berbagai kegiatan. Umumnya shopping dan melihat-lihat clubbing scene di Singapore. Mulai dari mengunjungi New Asia Bar, sebuah lounge bar tertinggi di Singapore, sampai clubhopping ke berbagai bar dan club yang konon happening di sana dan akhirnya ke Zouk. Tapi karena sudah jalan dari subuh, agak kurang enjoy juga jalan-jalannya, kebanyakan capeknya. Tetapi lumayanlah bisa melihat pengalaman baru dalam berpesta. Besoknya selain clubbing, kami masih sempat menonton sebuah pertunjukan pantomime unik yang menampilkan atraksi dengan balon sabun gitu. Sesudah itu naik G-Max (semacam bungee jumping gitu tapi yang dilempar dari bawah, bukan yang lompat dari atas. Waktu naik G-Max itu, saking seremnya, gw sampai nggak bisa teriak di atas sana. Pas turun, gw bersyukur bisa selamat dan bersyukur in my boring life, at least I could feel a bungee jumping experience. Tapi sumpah, nggak mau gw ulang dua kali! Malamnya baru deh ke rave party itu. Dibandingin ama rave party di Jakarta dan sekitarnya yang line up dj-nya bisa sampai puluhan orang dengan beberapa area, rave ini sih nggak ada apa-apanya. Ini cuma satu area dengan 3 DJ dari Ibiza beneran sih. Mereka main house, progressive lalu trance. Areanya memang asyik banget. Di tepi pantai berpasir putih yang indah, kalo di Indonesia gw jadi inget Aquasonic di Anyer hampir setahun lalu juga. Di belakang dj booth juga ada jacuzzi yang nyaman tempat puluhan orang menceburkan diri. Kebetulan gw di sana juga bareng banyak teman-teman ada Aline, Indah Kalalo, Putri Farmer, Nadya, Enditha, dll. Wah cantik-cantik semua... Kayanya seperempat yang hadir juga orang Jakarta atau orang Indonesia sih. Mungkin karena gw bergaulnya kebanyakan dengan orang Indonesia. Singapura memang dekat saja, hanya seperti di beranda Indonesia, - not far but away - tetapi setidaknya a whole new experience. Sesampainya di Indonesia, rasa kangen terhadap clubbing scene Jakarta pun meremang. Akhirnya dituntaskan deh dengan cara gw sendiri deh. You know how... Not far, but away...

Rave party berikutnya, adalah The Lost Chapter di Pulau Bidadari. Kalau dua rave party secara umum biasa-biasa saja. Nah, yang satu ini baru beda banget. Lokasinya di tepi pantai Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu. Dijadwalkan mulai dari jam 5 sore dan akan berakhir besoknya jam 11 siang. Selain itu menurut gw konsepnya juga unik. Pengunjung harus berlayar dulu dengan boat, sesampainya di sana check in di beberapa cottage yang disediakan atau setidaknya cari tempat mangkal deh. Baru berlanjut cari makan malam, di tenda-tenda makan (mumpung masih bisa), baru deh berlanjut ke party-party di 3 area, seperti biasa dengan line up hingga puluhan orang. Sayang, pengunjungnya kurang begitu ramai, tetapi konsepnya dan tempatnya sih asyik banget. Benar-benar hal baru yang layak diulang. Tentu dengan positioning waktu yang lebih tepat. Mungkin karena mulai agak terlalu sore, sekitar jam 4 malam, gw sudah agak capek dan ternyata boat kembali ke Jakarta yang pertama kali baru jam 5 pagi. Akhirnya, gw cuma termenung di tepi pantai memandangi sinar bulan yang jatuh di lepas laut Jakarta. Sambil melihat lampu-lampu kota Jakarta dari kejauhan. Padahal, Pulau Bidadari masih Jakarta juga, tetapi rasanya sudah di luar kota banget. Pengalaman bermenung di tepi pantai ini yang akhirnya jadi asyik sendiri. Kadang-kadang tangan gw seperti berusaha meraih Jakarta, tetapi ternyata Jakarta not too far, but away from me... It's a 'lil bit sad and fun at a same time. Bulan yang tidak terlalu bulat tetapi bersinar sangat terang itu malah membuat gw menyenandungkan Fly Me To The Moon. Pengalaman ini indah banget sampai gw gak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakannya. Ketika matahari terbit, kerinduan gw pada teman-teman gw yang menunggu di sudut Kota memuncak. Kehadiran speedboat, membangkitkan kegirangan gw untuk bergegas kembali ke Jakarta.

Pengalaman-pengalaman sesaat lepas dari realitas Jakarta ini akhirnya ada gunanya juga. Setidaknya ada nafas lega, ada kerinduan dan ada semangat baru yang bisa gw rasakan ketika kembali ke Jakarta. Ada kehangatan dan ada optimisme baru. Di bawah sinar matari di dermaga Marina Ancol, angin pantai bertiup pagi hari dan membisikan kecintaan gw pada kota ini. Gw jadi ingat salah satu episode Sex and The City, kalo nggak salah di sekitar episode 4 atau 5 gitu yang memang didedikasikan oleh penulisnya untuk mengungkap cintanya pada New York. Kala itu Carrie Bradshaw juga berjalan menembus angin malam New York, kalau gw menembus angin pagi Jakarta. Lucu juga, karena pemikiran-pemikiran ini hadir di sekitar ulang tahun Kota Jakarta yang ke-478. Meskipun gw masih belum mengaku sebagai orang Jakarta tulen, tetapi di dalam ucapan Selamat Ulang Tahun Jakarta yang gw ucapkan dalam hati, terselip juga kata-kata cinta untuk kota yang keras ini.

Rupanya pengalaman minggu lalu tidak akan jadi pengalaman rave party terakhir gw dalam bulan ini. Karena next weekend akan ada rave party lagi di Hambalang. Salah satu rave party penting juga dalam sejarah CBS. Sepertinya atas nama masa lalu, akan jadi keharusan juga untuk hadir. Well, another not far but away experience lagi. Semoga sukses deh...

Terlepas dari itu, gw baru saja membuat list 3 topik baru yang sudah antri untuk di-upload ke blog ini. Gila, gw senang meskipun tidak selalu berisi warna-warna cerah, ternyata begitu banyak hal dalam hidup yang bisa kita kenang dan kita pelajari.

FLY ME TO THE MOON

Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a-Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby, kiss me

Fill my heart with song
And let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you

Thursday, June 16, 2005

HUJAN BULAN JUNI

Kemarin seharian beredar di luar kantor. Pagi-pagi sekali nonton Gie. Film baru Riri Riza yang dimainkan oleh Nicholas Saputra. Soe Hok Gie boleh dibilang inspirasi hidup saya. Saya jadi demonstran dulu, saya menulis, saya menonton dan menulis film, saya jadi wartawan, bahkan saya membuat blog ini karena Soe Hok Gie. Tentu saja, alur yang kami tempuh akhirnya berbeda sama sekali. Tapi film itu sendiri seperti menggetarkan sesuatu di dalam saya. Sesuatu yang selama ini saya ninabobokan secara paksa. Tiba-tiba saya merindukan semua hal dari masa lalu saya. Tiba-tiba saya bahkan merindukan kosa kata yang dulu kerap saya gunakan. Tiba-tiba saya seperti begitu terasing. Begitu teralienasi.

Setelah menonton Gie, saya langsung briefing soal keberangkatan ke Singapura Jum'at ini. Lantas, menyelesaikan masalah peminjaman lingerie di Kelapa Gading Mall. Sementara di luar hujan rintik sejak pagi. Rasanya saya seperti berenang mengarungi setengah Jakarta. Setelah semua terlewati badan terasa lelah sekali. Tiba-tiba saya teringat bahwa sekarang sudah hampir habis bulan Juni. Rinai hujan masih menemani. Tahun lalu juga ada hujan di bulan Juni. Tahun lalu saya sms Mbak Reda. Tahun ini, kalau saya ulangi pasti akan basi. Maka saya tulis blog ini. Karena ada rasa asing yang saya kenali, tengah muncul kembali. Karena kali ini ada lagi hujan bulan juni. Kali ini saya tulis blog ini...

Hujan Bulan Juni
karya Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu


Gie Official Website
Obituary Soe Hok Gie by Ben Anderson

And by the way, hari ini gw tepat dua tahun bekerja di FHM lho... (note ini ditambahkan pada tanggal 22-06-2005 jadi udah kelewat 5 hari...)

Beberapa hari sesudah posting ini dirilis, tak dinyana muncul pesan dari Mbak Reda di blog ini. Isinya peluncuran album terbaru mereka. Album ini bertajuk Gadis Kecil dan dinyanyikan oleh Dua Ibu (Reda dan Tatyana) sekarang sudah bisa didapatkan di berbagai outlet Aksara Bookstore dan Soho Music Plaza Semanggi. Di dalamnya ada beberapa lagu yang di-aransemen ulang, termasuk Aku Ingin, Dalam Diriku dan Hujan Bulan Juni. Sayang tidak ada Di Restoran dan Metamorfosis salah dua kesukaan saya. Dalam peluncurannya, mereka mendedikasikan lagu Aku Ingin pada seluruh blogger Indonesia. Terima kasih, Ibu!


cover CD Gadis Kecil (Dua Ibu)
IBX5899AACD4E772