Wednesday, June 20, 2018
Traveling Like A Boss - Traveling in Luxury!
Friday, September 30, 2016
Berdialog dengan Peradaban Lain di NHK World
Monday, April 09, 2012
Reading Room

Pernah pada suatu masa, saya adalah pembaca buku yang sangat lahap. Buku-buku seperti mampu menyihir saya dan mengantar saya bertualang ke sebuah dimensi lain. Dimensi yang tak mampu saya raih sendiri.
Tetapi masa-masa itu telah lama berlalu...
Masa-masa itu telah ikut hilang bersama mimpi-mimpi muda saya. Masa-masa itu adalah masa dimana waktu berlimpah ruah dan bukan sesuatu yang mewah. Kini hanya tersisa seorang saya yang hidup seperti robot dan diprogram untuk mengumpulkan keping-keping rejeki setiap hari. Membudak pada peradaban kota.
Seorang sahabat lalu datang kembali pada saya dari perjalanannya - pencariannya. Seperti saya, dia juga seorang pria paruh baya.
Tetapi tidak seperti saya, dia masih kembali dengan mimpi-mimpi itu. Tidak seperti saya, dia tidak cuma bisa bernyanyi Viva La Vida, lalu meratapi waktu yang telah berlalu dan tidak selalu berpihak. Tidak seperti saya, dia masih bermimpi dan ketika terjaga, dia beri kaki pada mimpi-mimpinya agar bisa melangkah dan berlari di dunia nyata.
Sahabat saya itu, sang pujangga dan sutradara, Richard Oh namanya...
Dengan keyakinan yang mantap, sahabat saya itu kembali dari tetirahnya di Pulau Dewata. Di benaknya telah terbangun sebuah rencana. Sebuah rencana yang ia dedikasikan untuk kecintaan terbesarnya, dunia pustaka dan sinema.
Beberapa tahun yang lalu, sahabat saya ini memang terkenal sebagai salah seorang pengusaha toko buku eksklusif di Jakarta, QB. Dia memelopori kehadiran toko buku import di Indonesia. Tak cuma toko buku, Richard juga mendirikan usaha penerbitan yang banyak menerbitkan kembali karya-karya pujangga Nusantara. Singkat cerita, entah karena apa, satu persatu toko buku QB terpaksa tutup. Tetapi mimpi-mimpi Richard Oh tidak ikut padam. Bersahabat dengannya selama lima tahun terakhir ini memberi saya kesempatan untuk melihat mimpi-mimpi itu terus tumbuh di benaknya dan akhirnya terealisasi.
Akhirnya mimpi-mimpi Richard Oh terwujud lewat Reading Room, sebuah lounge untuk pecinta buku. Di sini dijual buku-buku impor berkualitas dengan harga sangat terjangkau. Yang menarik, buku-buku di tempat ini ditata sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dekorasi tempat ini. Lounge buku ini juga ditata dengan sangat apik sehingga pengunjung dengan cepat akan merasa nyaman hadir di tengah-tengah buku-buku itu. Tidak cuma buku, tempat ini juga dilengkapi dengan sebuah screening room canggih. Di screening room ini akan diputar sinema alternatif yang akan memperkaya wawasan pengunjungnya.
Mungkin setiap orang bisa saja membuat tempat berkonsep sama. Tetapi Reading Room tetap akan berbeda, mengapa begitu? Karena tempat ini tidak cuma tempat usaha. Reading Room dibangun dengan pondasi mimpi-mimpi dan rasa cinta pada pustaka dan sinema yang begitu besar. Mimpi dan cinta itu yang akan tetap memutar rodanya. Semoga Richard tidak akan pernah kekurangan impian dan rasa cintanya saat mengelola tempat ini.
Kembali kepada saya, berdirinya Reading Room memberi saya kesempatan untuk terhubung kembali dengan mimpi-mimpi saya dahulu. Bagaimana mungkin saya begitu tenggelam dalam kenyataan, sampai saya lupa bermimpi. Buku-buku yang terpajang di dinding Reading Room seperti menantang saya untuk kembali bermimpi dan mewujudkannya. Buku-buku itu menceritakan dunia-dunia yang hidup hanya di mimpi saya dan harus saya capai.
Lalu apa yang akan saya impikan saat ini? Saya belum tahu. Sekarang, saya ambil sebuah buku dan menemukan dimensi lain di luar sana dan mengkonstruksi lagi mimpi-mimpi saya. Seperti saya copas dari Google: Don't be afraid of the space between your dreams and reality. If you can dream it, you can make it so. Jadi, mari bermimpi.
Bagi teman-teman yang ingin ikut bermimpi dengan saya, silakan mampir ke Reading Room di Jl. Kemang Timur no 57 Jakarta Selatan.
Monday, March 31, 2008
Belajar Bijak
Monday, March 17, 2008
Watching Life in A Greater Sense

Some friends have recently thanked me for writing a FiRST review that let them know not to see… (fill in any movie name here). Sejujurnya, saya justru gelisah dengan pernyataan ini. Saya menduga banyak review dijadikan jawaban untuk pertanyaan, “is it worth my money?”
Padahal sebenarnya ada tujuan lain dalam menulis review: mencari pemahaman lebih akurat terhadap liku-liku dan problematika kehidupan yang ditawarkan sebuah film. Saya sendiri termasuk orang seperti ini. Membaca review tidak lantas mengubah prioritas menonton film (because I’m practically watching everything…). Saya hanya berusaha memahami film dalam konteks yang paling luas. Memaknainya sehingga segala yang ditawarkan bisa memberi manfaat untuk saya, understanding movie in a greater sense!
Semua film tidak dilahirkan hanya untuk meraup untung, tetapi berharap meninggalkan bekas yang lebih immaterial. Bahkan di luar bahasa promosinya (i.e. Biggest blockbuster of the year! or Most romantic movie of the summer!), setiap film pasti menawarkan filosofi atau basis intelektual tertentu dalam khazanah kultural kita. Kita tidak bisa menghindar dari kemungkinan terpengaruh pesan-pesan tersembunyi (or not-so-hidden) di film. Films can be entertaining and full of fluff, but they comment upon our world in their method of entertaining or in their very fluffiness.
Karena alasan ini, maka setiap film bernilai. Setiap film menyingkap sebuah cara pandang terhadap dunia dan bagaimana kita (penonton) bisa menyesuaikan diri terhadap pandangan dunia itu. Saya bisa saja tidak setuju terhadap pesan yang dibawa sebuah film, tetapi ketika dia ditawarkan berarti ada orang lain di muka bumi yang berpegang pada perspektif itu. Bisa mengenali atau menerimanya lewat medium film adalah sebuah anugrah. And beside that, I do admire some aspect of the film, be it the acting, the tight script, or the impressive cinematography. Sebuah karya seni yang pada gilirannya mengasah sensitivitas dan mengendurkan ketegangan akibat kehidupan sehari-hari. But still, if I find a film truly unworthy of viewing, I promise to let you know.
Ilustrasi: Todo Sobre Mi Madre
Thursday, February 14, 2008
My Happy/Sappy Valentines

Hei, saya seorang pria. Saya karnivor, saya mencukur kepala saya hingga nyaris botak dan saya membiarkan rambut-rambut halus tumbuh di dada saya. What on earth could I possibly say in favor of Valentine’s Day? Well, actually I do have some opinions...
Dalam 3 dekade hidup saya, makna hari kasih sayang ini telah mengalami pergeseran. Tentu saja pergeserannya terjadi sangat perlahan-lahan dan sangat bergantung pada peristiwa-peristiwa yang saya alami di tahun-tahun sebelumnya. Ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai tentang Valentine’s Day, saya pun mulai mengudari makna-makna Valentine yang pernah saya yakini. Setidaknya ada tiga sikap yang pernah saya ambil terhadap Valentine.
Adolescence (Teenages)
Saya mengenal istilah hari kasih sayang pada saat memasuki usia pubertas, tepatnya di bangku SMP. Ketika itu suara cempreng saya mulai memberat, bulu-bulu halus mulai tumbuh di kaki dan saya mulai gugup jika berpapasan dengan seorang teman sekolah yang tinggal di komplek sebelah. Sebelumnya saya tidak pernah sedikit pun mendengar istilah itu. Entah masa kanak-kanak saya begitu nerdy atau memang tidak peduli.
Istilah ini awalnya saya baca di majalah ilmiah populer bulanan yang terbit di negeri kita saat itu. Mendekati 14 Februari, saya baru sadar bahwa hari itu dirayakan oleh hampir seluruh majalah remaja, termasuk satu-satunya majalah remaja pria. Sebagai remaja di akhir era 1980-an, tentunya saya tidak mau ketinggalan ikut dalam gegap gempita itu.
Kebetulan pada saat Valentine, saya sudah dekat dengan teman sekolah yang tinggal di kompleks sebelah. Saya ikuti berbagai langkah dan tips yang dianjurkan majalah itu. Tahun itu saya merayakan Valentine lengkap dengan dinner, nonton bioskop, bunga mawar dan coklat. Alhasil di penghujung malam saya berhasil mendapatkan ciuman pertama saya. Hubungan itu sendiri berakhir beberapa bulan kemudian. Namun sebuah paradigma baru tentang hari kasih sayang melekat di kepala saya.
Paradigma Valentine ini masih saya praktekan setidaknya 4-5 tahun berikutnya. Meskipun “hadiah” yang saya terima di penghujung malam mulai berubah. Akhirnya saya sampai pada suatu titik di mana saya kehilangan seluruh keistimewaan moment Valentine. Ketika “hadiah” itu mulai bisa saya dapatkan tidak cuma di hari kasih sayang, tetapi juga hari-hari lainnya sepanjang tahun. Di masa-masa ini, Valentine sekadar kegiatan konsumtif dan fisikal belaka.
Young Adulthood (Twenty-something)
Masa turbulensi politik Indonesia sedikit banyak mempengaruhi pemikiran saya saat memasuki usia 20-an. Di masa ini, saya hidup jauh dari rumah dan memasuki miniatur realitas metropolitan, yaitu dunia kampus. Saya mulai mengakrabi pemikiran-pemikiran teori kritis dan di kampus juga terjun menjadi aktivis. Tanpa terasa, pengetahuan yang saya dapatkan dari aktivisme kampus membentuk pandangan dunia saya.
Pada era ini saya mengembangkan pemikiran baru tentang Valentine. Saat ini saya menganggap Valentine is sick! Saya menganggap Valentine tak lebih dari marketing tools yang terlalu komersial. Suatu kali, saya sempat memiliki pasangan yang setuju that it was all too commercialized. Kami membuat perjanjian untuk tidak akan menghabiskan satu sen pun untuk merayakan hari kasih sayang ini. Alih-alih, saya membuat sebuah kartu ucapan sendiri dengan inisial nama kami terukir di dalam sebuah bentuk hati dan mengatakan I love you. Saya memberikannya kartu itu, we never had sex again and then she dump me!
Ketika saya lepas kuliah dan memasuki dunia kerja yang jauh lebih nyata berbekal idealisme, saya pun semakin muak dengan realitas bernama Valentine. Meskipun arus pengaruhnya bertambah kuat dengan cara-cara yang lebih kreatif dan hegemonik, tetapi saya malah menemukan realitas-realitas aneh yang membuat saya geleng-geleng kepala.
Seorang teman kerja yang lebih senior menceritakan pengalaman Valentine setiap tahun. Dia telah saling tak acuh dengan pasangannya selama hampir setahun terakhir ini. Mereka bahkan menghabiskan akhir pekan sendiri-sendiri. Sang istri sibuk dengan teman-temannya dan dia sibuk mengencani wanita-wanita selingkuhannya. Namun, mereka sibuk berburu karangan bunga paling cantik untuk romantic candle light dinner, kissing in the rain (pointless), and hand-holding sepanjang malam. Mereka lalu pulang ke apartemen mereka yang lantainya sudah ditaburi kelopak-kelopak mawar dari pintu masuk hingga ke atas ranjang mereka. Di penghujung malam mereka sudah sibuk dengan post-coital ciggy dan kemudian kembali saling mengabaikan hingga tiba Valentine tahun depan. Semua itu mereka lakukan untuk menyatakan cinta mereka yang terlanjur diikat di lembaga pernikahan.
Di era ini kisah cinta saya sendiri terangkum tak ubahnya deretan kartu-kartu Valentine yang dijual di etalase-etalase. Cards range from minimalist overpriced types, through to fluffy, glitter-drenched six-footers. Semuanya adalah koleksi yang dibuat semenarik mungkin, dengan kata-kata yang bergairah dituangkan ke dalamnya. Lantas setelah dinner dan sedikit seks, kartu itu sudah sobek dan tercampakan ke tong sampah. Seolah-olah kewajiban saya untuk memperlakukan seseorang sebagai lady selama 24 jam telah terpenuhi dan kemudian saya kembali bisa gila-gilaan untuk 364 hari lainnya.
Maturity (The Thirties)
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya mencoba berdamai dengan dunia. Sedikit demi sedikit idealisme saya mengendur dan digantikan dengan pragmatisme. Ketika sudah bertahun-tahun harus mengakrabkan diri dengan realitas Valentine, saya pun akhirnya menganggap bahwa Valentine is for everyone and in short, is possibly the second wonderful day of the year after Christmas.
Apakah menjadi lebih feminin dengan menyukai Valentine’s Day? Tidak. Ini adalah hari di mana saya justru bisa agak bermalas-malasan. Valentine’s day adalah satu-satunya hari di mana kita bisa melemparkan alasan atau hadiah paling culun untuk membahagiakan pasangan atas nama romantisme, and still get something nice in return. Kami bisa sekedar memesan Sate Padang Mak Datuk, hanya karena mengingatkan kami pada masa-masa perkenalan dulu. Meskipun sate itu agak terlalu berasap, namun itu romantis, all thanks to segnor Valentine.
Tapi bagaimana dengan orang-orang yang harus menjalaninya tanpa pasangan? Well, they should love Valentine’s too. Mereka bisa menyatukan sinisme arogan dan kesepian yang mereka jalani untuk mengadakan bersama-sama mengadakan “We hate Valentine, so we throw a party” party. Di acara itu, mereka bisa bertemu dengan seseorang, lalu mudah-mudahan bisa jatuh cinta, and live happily ever after… Seperti kami!
So, it’s Valentine’s Day, everyone’s a winner… Happy St. Valentine's Day!
Wednesday, January 16, 2008
Sunday, November 11, 2007
Tuesday, June 12, 2007
Phantom of The Cinema
Hantu gentayangan di bioskop salah satu mal besar Jakarta
Gambar-gambar yang Anda lihat, bukan diambil dari still photo film Phantom of The Opera atau sequel-nya. Setelah direnovasi dan dibuka kembali, ada hantu gentayangan di Plaza Senayan XXI! Maxim sempat memotret bukti-buktinya saat berkunjung ke tempat itu. Tetapi Anda tidak perlu takut. Ternyata hantu-hantu itu hanyalah wrongfully placed gimmick dalam rangka Gala Premiere film Suster Ngesot yang diadakan 8 Mei 2007 lalu.
Perhatian penonton segera teralihkan dari layar bioskop ke baris terdepan. Hampir semua penonton langsung menyalakan ponselnya untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang juga tampak menyalakan flash light kamera ponsel. Setelah menyadari bahwa ada hantu pura-pura sedang merangkak-rangkak dari barisan bawah menuju ke atas, semua penonton pun langsung terpingkal-pingkal. Efeknya memang agak kurang matching dengan filmnya yang bergenre horor, tapi cukup efektif karena begitu keluar dari bioskop orang-orang langsung membicarakan gimmick-nya, bukan
Wednesday, March 21, 2007
APRIL MOP

Tulisan Mang Ucup di Milis Mediacare
Belanda. Sedangkan dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan „April
Fool’s Day“. Sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan sebutan „Poisson
d’Avril“ = Ikan April, oleh sebab itulah anak-anak sering saling mengganggu
dengan menggunting gambar ikan dan di tempelkan di punggung lawannya.
Kebalikannya di Spanyol mereka merayakan April Mop itu pada tanggal 28
Desember yang disebut „Dia de los Santos Inocentes“ = Hari anak tak
bersalah, oleh sebab itulah juga ketika pemerintah Spanyol mengeluarkan
undang-undang baru yang seyogiyanya pada tanggal 28. Desember 1978 diundur
sehari agar tidak dijadikan bahan tertawaan ataupun dianggap sebagai
lelucon.
April Mop itu adalah hari Dusta, dimana orang dihalalkan untuk berdusta
ataupun menyebar luaskan kabar dusta (hoax) sekedar untuk lelucon. Maka dari
itu juga para agamaist di Eropa menilai asal muasal dari April Mop itu,
karena 1 April itu sebenarnya adalah hari lahir dan juga hari kematiannya
dari Yudas sang penghianat Yesus. Yudas diidentiskan sebagai iblis sang raja
bohong !
Tidak bisa dipastikan mana yang benar asal muasal dari April Mop itu, tetapi
yang masuk diakal dan juga banyak diterima oleh kebanyakan orang asal muasal
dari April Mop itu, karena adanya perubahan penanggalan.
Penanggalan Rumawi hanya terdiri dari sepuluh bulan, maka dari itu dahulu
mereka merayakan hari Tahun Baru nya pada tanggal 1 April. Kata April di
diserap dari bahasa Belanda yang berasal bahasa Latin “aprire” berarti
“membuka”. Membuka Tahun Baru ! Maka dari itu juga rakyat Romawi kuno
merayakan pesta ini seperti layaknya pesta Karnaval yang disebut Quirinalia
pada tanggal 1 April.
Pada th 1564 Raja Perancis Karel IX mengadakan perubahan – reform
penanggalan, dari tanggal Rumawi menjadi tanggal Anno Domini seperti yang
kita pakai sekarang ini. Oleh sebab itu mereka tidak merayakan tahun baru
pada tanggal 1 April lagi, melainkan pada tanggal 1 Januari.
Pada saat tesebut belum ada TV/Radio maupun koran, sehingga penyebaran
informasi pun sangat lambat sekali. Hal inilah yang menyebabkan banyak
rakyatnya jadi telmi (telat mikir), sehingga mereka tetap merayakan hari
tahun barunya pada tanggal 1 April. Mereka yang telmi inilah yang akhirnya
menjadi buah tertawaan para penduduk seluruh Perancis pada masa itu. Mulai
dari situlah timbul istilah maupun kebiasaan April Mop yang selalu dilakukan
pada tanggal 1 April. Kata Mop itu sendiri diserap dari bahasa Belanda =
dongeng !
Ini hanya salah satu versi dari sekian banyak versi-versi lainnya, walaupun
demikian berdasarkan peninggalan sejarah telah terbuktikan bahwa April Mop
itu sudah dikenal jauh sebelumnya; di Perancis pada tahun 1508 dan di
Belanda 1539.
April Mop bukan hanya disebar luaskan dan dibuat oleh perorangan saja bahkan
kantor-kantor media eletronik maupun cetak; turut aktiv menciptakan Hoax –
April Mop tersebut.
Di tahun 1957, TV BBC dalam programnya Panorama mentayakang berita, bahwa di
Swis orang sudah bisa panen memetik mie Spageti dari pohon, sehingga BBC
kebanjiran pertanyaan bagaimana caranya agar bisa menanam pohon Spageti.
Di Australia siaran TV Seven Network memberitakan, bahwa para pemisra TV
sekarang ini bukan hanya sekedar bisa melihat tayangan gambar bunga saja di
layar kacanya, melainkan juga sudah dapat mencium harumnya bunga tersebut.
Teknik canggih terbarunya ini disebut „Smell-o-Vision. Akibatnya jutaan
pemisra menempelkan hidungnya ke layar kaca mereka dengan harapan bisa
mencium gambar bunga yang ditayangkan.“
Di Koran „Bergens Titende“- Norwegia diberitakan, bahwa kantor bea cukai
setempat telah menyita barang selundupan; berupa jutaan liter minum keras
(miras). Kalau ini dibuang begitu saja tentu sangat disayangkan, maka dari
itu miras ini akan dibagikan kepada semua rakyatnya. Bagi mereka yang ingin
mendapatkan miras secara gratisan; silahkan bawa botol kosong ke kantor bea
cukai. Akibatnya ribuan orang ngantri di depan kantor bea cukai setempat
dengan botol kosong.
Di Jerman kantor Telkom setempat pernah dibuat pusing, karena diberitakan
bahwa terorist telah mampu memasukan bom peledak secara digital. Virus Bom
Peledak itu masuk ke dalam pesawat telpon, setelah anda menelpon keluar
kota. Berdasarkan ultimatum dari sang terorist, pada pkl 18.00 sore waktu
setempat bom akan meledak. Cara satu-satunya untuk memunahkan atau
melumpuhkan ledakan bom tersebut ialah dengan memasukan telpon anda ke dalam
ember penuh dengan air. Akibatnya ribuan telpon setempat jadi rusak, karena
terendam air dalam ember.
Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Monday, January 15, 2007
33 Names of Things You Never Knew had Names
dapat dari blog Bos Arya
1. AGLET - The plain or ornamental covering on the end of a shoelace.
2. ARMSAYE - The armhole in clothing.
3. CHANKING - Spat-out food, such as rinds or pits.
4. COLUMELLA NASI - The bottom part of the nose between the nostrils.
5. DRAGÉES - Small beadlike pieces of candy, usually silver-coloured,
used for decorating cookies, cakes and sundaes.6. FEAT - A dangling curl of hair.
7. FERRULE - The metal band on a pencil that holds the eraser in place.
8. HARP - The small metal hoop that supports a lampshade.
9. HEMIDEMISEMIQUAVER - A 64th note. (A 32nd is a demisemiquaver,
and a 16th note is a semiquaver.)10. JARNS,
11. NITTLES,
12. GRAWLIX,
13. and QUIMP - Various squiggles used to denote cussing in comic books.
14. KEEPER - The loop on a belt that keeps the end in place after it has
passed through the buckle.15. KICK or PUNT - The indentation at the bottom of some wine bottles.
It gives added strength to the bottle but lessens its holding capacity.16. LIRIPIPE - The long tail on a graduate's academic hood.
17. MINIMUS - The little finger or toe.
18. NEF - An ornamental stand in the shape of a ship.
19. OBDORMITION - The numbness caused by pressure on a nerve;
when a limb is `asleep'.20. OCTOTHORPE - The symbol `#' on a telephone handset. Bell Labs'
engineer Don Macpherson created the word in the 1960s by combining
octo-, as in eight, with the name of one of his favourite athletes,
1912 Olympic decathlon champion Jim Thorpe.21. OPHRYON - The space between the eyebrows on a line with the top of
the eye sockets.22. PEEN - The end of a hammer head opposite the striking face.
23. PHOSPHENES - The lights you see when you close your eyes hard.
Technically the luminous impressions are due to the excitation of the
retina caused by pressure on the eyeball.24. PURLICUE - The space between the thumb and extended forefinger.
25. RASCETA - Creases on the inside of the wrist.
26. ROWEL - The revolving star on the back of a cowboy's spurs.
27. SADDLE - The rounded part on the top of a matchbook.
28. SCROOP - The rustle of silk.
29. SNORKEL BOX - A mailbox with a protruding receiver to allow people
to deposit mail without leaving their cars.30. SPRAINTS - Otter dung.
31. TANG - The projecting prong on a tool or instrument.
32. WAMBLE - Stomach rumbling.
33. ZARF - A holder for a handleless coffee cup.
Monday, January 08, 2007
THE ONE WITH LIVING LIFE LIKE SITCOMS

Setidaknya belajarlah tertawa untuk pahit-manis kehidupan
Lisa : You ? But you're an intelligent person, Mom.
Marge : There has to be more to life than just what we see, Lisa.
Everyone needs something to believe in
Lisa : It's not that I have a spiritual side…
I just find it hard to believe there's a dead angel hanging in our garage
Marge : Oh, my poor Lisa.
If you can't make a leap of faith now and then, well, I feel sorry for you
Lisa : Don't feel sorry for me,Mom. I feel sorry for you
(The Simpsons episode Lisa The Sceptical)
Pertemuan kembali di dunia maya dengan Wulan - seorang sahabat lama – mengingatkan betapa cintanya gw pada tayangan-tayangan situation comedy. Tayangan yang sering disingkat sitcom ini adalah genre tayangan komedi. Awalnya sitcom populer di radio Amerika, namun saat ini sitcom hanya bisa ditemui di televisi. Ciri khas yang membuat kita sering langsung ngeh dengan kehadiran sitcom adalah keberadaan laugh track yang biasanya menambah seru tawa kita saat menyaksikan kocaknya sitcom itu.
Perkenalan gw dengan sitcom berlangsung di pertengahan 1980-an ketika baru lepas balita dan mulai mengerti tontonan TV. Sepanjang ingatan gw, sitcom pertama yang membuat gw jatuh cinta dan hidup ketawa (bukan mati ketawa) a la sitcom adalah Mork & Mindy yang mempopulerkan nama Robin Williams dan ciri khasnya, “Nano-nano...”.
Lucunya, sejak awal gw tidak cuma menyukai family sitcom untuk anak-anak yang tayang sore hari di TVRI seperti The Cosby Show (Keluarga Pak Huxtable), Small Wonder (Vicky si Anak Ajaib), Valerie, The Hogan Family, A Different World, Full House, dan lain-lain, tetapi gw menggemari sitcom dewasa seperti hubungan kocak Larry dan Balky dalam Perfect Strangers, atau Laverne & Shirley yang diperankan Penny Marshall, sutradara chick flick kondang. Zaman itu, banyak sekali sitcom bermutu yang tayang di TVRI dan gw pun menjelma jadi penggemar segala jenis sitcom.
Masa bulan madu dengan sitcom gw alami di era TV swasta. Ketika baru lepas dari decoder, setiap hari TV swasta menayangkan beberapa sitcom. Sebutlah judul-judul semacam Mr. Belvedere, Who’s The Boss?, The Brady Bunch, Life Goes On, Happy Days, The Golden Girls, The Nanny, I Love Lucy (sitcom yang masih black & white), Blossoms, Mad About You, Night Court, The Odd Couple, Frasier, 3rd Rock from The Sun, Married… with Children, Mad About You, Dharma and Greg, Home Improvement, That 70s Show sampai The Addams Family. Tak cuma menonton filmnya, gw juga menghapalkan lagu-lagunya seperti Family Ties, As Long As We Got Each Other (Growing Pains), Thank You for Being A Friend (The Golden Girls), dan Where Everybody Knows Your Name (Cheers).
Ternyata gw cukup terpengaruh jenis tayangan ini. Gw pernah merengek minta dibuatkan eggnog kepada nyokap setelah menyaksikan The Jeffersons menyukai minuman ini. Gw belajar menghitung bunyi uang koin yang terjatuh untuk meniru Alex Keaton di Family Ties. Gw sempat ikut kebut-kebutan gara-gara Mike Seaver melakukannya di Growing Pains. Gw belajar minum bir karena menonton Cheers. Gw jadi tidak suka lagi dengan film-film Warkop DKI, karena ternyata meniru Three’s Company. Gw pernah menentang guru Bahasa Inggris gw di kelas 3 SMU di Aceh Timur, karena gw tergila-gila dengan demokratisasi kelas a la Head of The Class. Gw menjadi seorang blogger karena menonton Doogie Howser, M.D.. Bahkan kemudian gw bercita-cita menjadi jurnalis, karena menyukai nature of the job yang dilakoni Murphy Brown.
Puncak kecintaan pada sitcom adalah ketika serial Friends dan The Simpsons ditayangkan sekitar akhir 1990-an. Gw tak cuma menghapalkan lagu tema atau tingkah polah para karakternya, tetapi bahkan gw menghapalkan memorable quote dari kedua serial itu. Teman gw di bangku kuliah untuk mendiskusikan episode yang tayang setiap minggu ini adalah sahabat gw, Wulan.
Di era TV kabel gw mendapatkan puluhan pilihan lain. Lalu di era DVD, kecintaan gw terhadap sitcom bermuara pada hobi mengoleksi VCD dan DVD sitcom. Tak kurang selusin judul sitcom kini sudah gw koleksi dan gw masih siap berburu puluhan judul lainnya. Bahkan hingga tayangan sitcom lokal seperti Bajaj Bajuri, Kejar Kusnadi dan OB pun menjadi kegemaran gw. Tapi jaman dulu, sitcom lokal banyak yang cupu dan nggak lucu. Nggak usah disebut lah judulnya apa.
It’s enough about the facts, but what exactly the contributions of sitcoms for me? Well, secara tradisional sitcom menggambarkan kehidupan sebuah komunitas melalui kacamata komunitas itu, atau salah satu anggota komunitas itu. Fenomena yang digambarkan adalah fenomena kehidupan sehari-hari. Susah dan senang, tragedi dan komedi, konflik dan harmoni serta pahit dan manisnya kehidupan. Sitcom selalu bisa memberikan alasan mengapa konflik dan awkwardness bisa terjadi. Di sitcom, semua kepahitan, ironi, sakit hati, konflik, pengkhianatan, perselingkuhan dan kepedihan lainnya diobati dengan pengertian dan lantas, tawa.
Tayangan sitcom juga memberi kita kesempatan untuk tertawa pada realitas hidup. Ketika Joey Tribbiani (Friends) bertingkah aneh di sebuah casting yang menyebabkannya kehilangan pekerjaan, kita bisa tertawa. Ketika Lisa Simpson (The Simpsons) memutuskan untuk jadi atheis, kita bisa tertawa. Ketika melihat an ignorant and spoiled brat that everybody could hate, Rachel Green (Friends), kita bisa tertawa. Ketika Grace Adler dan Will Truman (Will & Grace) jadi bulan-bulanan cemoohan Karen Walker dan jack McFarland, kita bisa tertawa. Ketika Ross Geller (Friends) berulang kali kawin-cerai, kita bisa tertawa. Ketika Michael Bluth (Arrested Development) dikerjai terus-terusan oleh ayah, ibu dan keluarganya, kita bisa tertawa. Bahkan ketika menyaksikan keculasan Emak (Bajaj Bajuri)atau kegalakan Mpok Odah (OB), kita bisa tertawa. Padahal dalam kehidupan nyata, sikap asli kita mungkin kesal, gemas, marah, benci, jijik dan berbagai sikap negatif lainnya. Tanpa gw sadari ternyata sitcom berkontribusi untuk selalu bersikap positive thinking.
Hidup memang proses belajar. Setinggi apapun tingkat kecanduan gw pada sitcom, tentu gw masih harus belajar untuk tertawa menghadapi berbagai realitas manis maupun pahit. Untuk saat ini, cukup mencoba membangun cara pandang dulu, bahwa segala hal terjadi karena sebuah alasan dan ketika kita membangun jarak dengan realitas-realitas itu, maka kita akan bisa sampai pada titik yang mampu tertawa pada kehidupan.
Chandler: Do these look like the faces of people in the know?
(Friends Season 10 – Episode: The Last One part 1)
Monday, November 27, 2006
Tentang Berbagi Suami dan Hidup atau Mati

Sebuah tulisan Mas Djito Kasilo yang penting direnungkan
Bab I :
Di milis kopimaker, gw pernah dikritik Sheque karena gagap membedakan pertandingan dan perlombaan. Pertandingan itu kemenangannya cenderung lebih absolute. Misalnya pertandingan sepakbola, pemenangnya bisa dilihat orang banyak berapa gol yang dilakukan. Sedangkan perlombaan (nyanyi, ratu kecantikan, iklan, film) lebih bersifat relative, tergantung pakem2 para juri. Di sini kredibelitas juri dipertaruhkan dan dilindungi embel2 “keputusan tak boleh diganggu-gugat” .
Bab II :
Tersebutlah salah satu idola gw yang bernama Erick Fromm. Bukunya yang terkenal berjudul “To be or to have” (cieee… gw ngerti buku inggris nih ! Pdhal cuman baca terjemahannya) .
Katanya, semangat “memiliki” (to have) adalah semangat kematian. Orang2 dengan semangat memiliki ini, punya andil besar dalam pemiskinan kehidupan dunia. Karena setelah dia mencari dan mendapatkan sesuatu, langsung disimpennya sampai ke liang kubur.
Menurut penelitiannya, para jagoan dunia punya semangat “menjadi” (to be). Dia juga selalu mencari/mengupayaka n. Bila (gak apes, dan) mendapatkan yang diupayakan, bersama hasil upayanya itu dia “menjadikan dirinya sesuatu”. Maka yang terjadi adalah mencari/mengupayaka n-menjadi- mencari/mengupay akan-menjadi- me….. dst. Inilah semangat kehidupan.
Bab III :
Orang2 psikologi analisis (psikoanalisis gak selalu pengikut freud) mengenal istilah regresi, yaitu, situasi ‘menangisi’ masa kini dan merasa masa lalu lebih asyik. Pernah denger kan , orang bilang : “jaman gw jadi ketua OSIS lebih….”, atau “jaman regim Suharto lebih….”, atau “jaman Doraemon jadi ketua P3I, CPnya lebih…” dst. Itu regresi.
Konon, kalo kita terjadi regresi terus2an, berakhir pada “saat masih berada di rahim ibunda, rasanya lebih hangat, lebih nyaman, lebih aman, lebih…..”.
Kabarnya (kalo gak salah), kala terjadi ‘trend’ bunuh diri para abg di Jepang dekade 70/80an, penyebabnya adalah puncak regresi ini.
Bab IV :
yg gw mau bilang adalah…
Menghayati lomba (nyanyi, film, iklan, dsb.) bila dengan semangat to have, pasti berakhir dengan ‘kematian’. Tanda2 kematian adalah memaki, marah, menggerutu, bersungut2, menangisi/mengasiha ni diri, dan berbagai munculnya enerji negatif. Tanda2 kematian yang lain (bila berjaya) adalah kesombongan, cari pengakuan, bikin panggung untuk mengumpulkan tepuk tangan, mencibir pada sesama, menuntut naik gaji, dan semacamnya.
Namun jangan mengabaikan semangat to have, karena akan jadi enerji untuk selalu dan selalu mengejar kemenangan, termasuk yang berujud piala/tropi (jadi, penting juga dong semangat to have ini… Entahlah, gw bukan Erick Fromm sih.).
Namun kayaknya lebih asyik menghayati lomba dengan semangat to be. Bersama kemenangan atau kekalahan tetap to be. Bahkan kita bisa bersama kemenangan orang lain (rival) untuk to be. Yang menang Thailand , Singapore , Berbagi Suami, Jailangkung… yang penting to be ! Di situlah awal progresi (kebalikan regresi).
Hmmm… gw demen kata2 Rendra : “bencana dan keberuntungan sama saja”.
Gw juga demen postingan Iwan Esjepe bahwa lomba harus dihayati sebagi games yang menyenangkan, bukannya pertaruhan hidup dan mati.
Namun dengan asumsi adanya semangat to be yang progresif….
I love you all….
(love adalah semangat kehidupan yang progresif dan to be banget !)
Catatan pemilik blog:
Tulisan ini di-copy paste dari sebuah posting di milis Creative Circle Indonesia tanpa melalui proses editing. Gw kira isinya akan aktual untuk berbagai hal dalam kehidupan. Semoga kita bisa sama-sama menyerap manfaatnya.
Tuesday, October 31, 2006
Maksud

Gw sama sekali bukan pegila serial X Men. Gw juga nggak baca komiknya sama sekali. Gw mengenal X Men semata-mata karena gw tukang nonton gila-gilaan yang sanggup menonton apa saja jika mampu. Lucunya sejak pertama kali nonton serial X Men, gw ternyata selalu suka. Meskipun kedua seri X Men yang pertama hanya tinggal sebagai kenangan tentang blockbusters yang bagus saja. Bukan pengeruk kocek penonton belaka, tetapi ada sedikit isinya. Satu-satunya yang selalu tersisa setiap habis nonton film2 X Men sebelumnya adalah komentar, "Wah seru juga nih film, lanjutannya perlu ditonton..." Sayang, jarak yang membentang antara satu seri ke lanjutannya agak jauh (rata-rata 3 tahun), lalu ratusan film-film bagus pun muncul dan meninggalkan X-Men dan X2 cuma dalam ingatan, sampai X-Men: The Last Stand hadir dan meninggalkan kesan yang agak berbeda.
Menonton X-Men: The Last Stand, tiba-tiba gw teringat kepada Rendra. . Bukan Rendra Brahmantyo si sutradara muda ibukota itu, tetapi W.S. Rendra - si burung merak. Lho, apa hubungannya sekelompok mutan dengan penyair kondang itu? Apakah dia juga mutan, sehingga dijuluki Burung Merak? Entahlah.
Yang jelas, ketika gw baru berumur 3 bulan 5 hari, Rendra menciptakan sebuah Puisi yang berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa. Tidak ada hubungannya antara bayi merah yang tampan itu dengan proses penciptaan puisi itu oleh Rendra. Meskipun sekitar dua dekade berikutnya si Bayi Tampan itu secara kebetulan pernah beberapa kali membacakan puisi itu dalam beberapa demonstrasi mahasiswa dan mimbar bebas mahasiswa di sekitar Bandung dan Jatinangor. Tentu saja ketika itu si bayi tampan ini sudah jadi remaja tanggung.
Sajak ini konon dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta (ada juga yang mengklaim bahwa sajak itu ditujukan Rendra bagi mahasiswa ITB, tetapi biasalah itu - namanya juga dunia politik, mungkin Rendra sendiri yang harus angkat bicara. Kali aja ternyata buat anak UNPAD hehehe). Puisi ini juga dibacakan di dalam film Yang Muda Yang Bercinta (1977) yang dibintangi oleh Rendra dan disutradarai oleh Sjumandjaya (alm.). Film ini sendiri dicekal selama 16 tahun oleh Pemerintah Orde Baru dan baru boleh dirilis untuk publik pada tahun 1993. Di awal tahun 2000, film ini di-remake menjadi sinetron dan peran Rendra pun digantikan oleh Roger Danuarta. Wuakakaka...
Back to the poem, dalam puisi itu Rendra bertanya, "kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?" Waktu masih muda dulu, saya sering tidak mengerti kok bisa-bisanya Rendra menilai bahwa yang tengah bertarung adalah maksud baik dan maksud baik. Bagi gw saat itu, yang tengah berlaga adalah maksud baik dan tirani, maksud baik dan sebuah kejahatan kemanusiaan.
Menonton X-Men: The Last Stand, tiba-tiba gw teringat kepada Rendra. Tidak seperti kedua film sebelumnya yang disutradarai Bryan Singer, X-Men 3: The Last Stand disutradai Brett Ratner yang ternyata memberi arahan visual dan tuturan yang berbeda, unique in a good way ketimbang dua film sebelumnya.
Film ini menggelar sebuah pentas pertarungan antara maksud baik dengan maksud baik. Sepasang sahabat yang sama-sama menginginkan tegaknya eksistensi manusia mutan (Magnetto dan Charles Xavier) , sepasang kekasih yang saling berusaha mempertahankan cintanya (Phoenix-Cyclops dan Rogue-Iceman), ayah yang ingin membebaskan anaknya dari kesakitan dan ketakutan (Warren Worthington II), anak yang ingin hidup 'normal' dengan minta diterima keberadaannya yang berbeda (Angel), diplomat yang ingin memperjuangkan aspirasi kaumnya (Dr. Hank McCoy), kaum tertindas yang ingin melawan dan mengabdi terus pada gurunya(Mystique), guru yang ingin melindungi murid-muridnya (Storm), dokter yang ingin menciptakan perdamaian (Dr. Kavita Rao) dan tentu saja sang jagoan yang terjebak antara pertarungan psikologis untuk memilih mempertahankan cintanya atau melindungi umat manusia (Wolverine).
Gw lantas saja tersadar dengan apa yang dikatakan Rendra dalam puisi itu. Ternyata maksud baik pun bisa berujung pada jalan-jalan yang brutal dan merugikan orang lain yang juga punya maksud baik, namun memilih jalan yang lain. Tiba-tiba terbuka mata gw, jangan-jangan berbagai tragedi di muka dunia ternyata hasil pertarungan dari maksud-maksud baik itu. Setiap maksud ternyata menawarkan seperangkat pilihan jalur yang pada titik ekstremnya bisa menampilkan wajah yang sama sekali bertolak belakang.
Semuanya bergantung pada pilihan kita sendiri. Kadang-kadang kitapun tidak bisa menduga, melainkan cuma berharap cemas misteri hidup akan menghilang dan bahagia di akhir cerita.
Bahkan gw gak pernah menyangka bahwa gw harus menyaksikan sebuah film ultra komersil Hollywood untuk memahami sebaris puisi Rendra. Seperti gw juga memilih untuk meletakan posting ini di halaman jurnal, alih-alih di Tamasya, serta menampilkan Halle Berry yang cantik, seksi dan berprestasi sebagai icon untuk mengutarakan maksud gw di posting ini.
Hah??? Maksud lohhh???
SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"
ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?"
kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )









