Wednesday, December 31, 2003

3 2 4 (baca dengan Bahasa Inggris)

Hari ini hari terakhir 2003, selanjutnya ke 2004. Sebenarnya gw mo bikin kaleideskop tahun ini. Tapi gw gak sempat mikirin pencapaian-pencapaian gw sepanjang tahun ini. Tapi setidaknya gw bikin catatan lah. Luckily, tahun ini gw gak mengalami masa-masa jobless yang menyakitkan. Hopefully, tahun-tahun selanjutnya akan makin baik. The first half actually went very well economically but the rest is not bad. Kalo resolusi tahun lalu yang berhasil adalah diet, maka tahun ini kebalikan banget. Yang ada semua kesuksesan diet di 2002 porak-poranda luar biasa, tahun ini malah kenaikannya jadi berlipat-lipat dari sebelum gw diet awal tahun 2002 lalu. Tapi rencana kuliah lagi gw juga gagal tahun ini karena berbagai sebab. Sekarang gw gak berani pasang resolusi itu lagi sih. Takut terlalu muluk-muluk.

Tahun ini gw makin kayak filmnya Wim Wenders, Faraway, So close dengan cita-cita bikin film. Makin hari kayanya makin deket tapi makin gak ada clue. Tahun ini juga gw gak nambah sebaris pun kalimat dalam novel gw. Tahun ini gw juga gak nulis artikel lepas satu pun di media lain kecuali tempat gw kerja. Tapi tahun ini jelas bukan tahun yang buruk. Banyak hal bagus juga tahun ini. Tahun ini gw bertemu dengan teman-teman baru yang luar biasa. Ini bisa jadi pengalaman terbaik tahun ini. Semoga tahan lama. Tahun ini juga Febby lahir. Tapi memang menurut gw, kalau ada momen untuk membekukan waktu seperti momen tahun baru begini. kita gak perlu inget pencapaian sih. Yang penting diingat tuh ketinggalan, jadi tahun depan bisa dikejar. Apa aja ya resolusi tahun baru gw? Banyak sih, tapi gak usah ditulis lah...

Btw, berbagai media sudah membuat catatannya tentang tahun ini. Salah satunya tuh The Best and The Worstnya Time Magazine. Di sana Lord of The Rings: The Return of The King dan Mystic River terpilih jadi Best Film of The Year. Sementara Mona Lisa Smile dan Cold Mountain terpilih jadi film terburuk. Sementara itu, Outkast dengan S p e a k e r b o x x x / T h e L o v e B e l o w terpilih sebagai Best Music dan Any Human Heart by William Boyd terpilih jadi The Best Fiction Book dan The Game Time menjadi Best Non Fiction Book (buku Krakatoa juga masuk dalam Best 5). Well, u can check the rest at their site. Kalo buat gw, The Best Movie of The Year tuh Matrix Reloaded dan Kill Bill: Volume 1 untuk film Barat. Arisan untuk film nasional. Film terburuk Lizzie McGuire dan Cinta 24 Karat.

Meniru Time, daftar lengkap buat film nasional (biar kayak Times): 1. Arisan; 2. Novel Tanpa Huruf R; 3. Rumah Ketujuh; 4. Kiamat Sudah Dekat; 5. Biola Tak Berdawai; 6. Biarkan Bintang Menari; 7. Eiffel, I'm in Love; 8. Untukmu; 9. Janus; 10.Tusuk Jaelangkung. Peti Mati, Cinta 24 Karat dan The Soul gak masuk daftar ini karena Peti Mati dan Cinta 24 Karat angkanya dibawah 10 dan kalo The Soul karena gw gak diundang preview-nya jadi ya gw gak tau mau bagaimana memberi rate-nya. Ada lagi gak film nasional yang belum dilihat tahun ini?

Ya sutra lah, gw cuma ingin ngucapin


SELAMAT TAHUN BARU 2004
Yakinlah tahun yang akan datang akan lebih baik...

Tuesday, December 30, 2003

Obituary

Turut berduka cita atas kematian:

ERSA SIREGAR
dalam menjalankan tugas kepahlawanan jurnalisme
di Nangroe Aceh Darussalam.

Semoga kepergiannya menyegarkan cita-cita perdamaian yang tumbuh dalam hati nurani setiap manusia.

Wednesday, December 24, 2003

HAVE YOURSELF A MERRY LITTLE CHRISTMAS


by Judy Garland - Meet Me in St. Louis (1944)

Have yourself a merry little Christmas.
Let your heart be light,
From now on our troubles
Will be out of sight.

Have yourself a merry little Christmas,
Make the Yule-tide gay,
From now on our troubles
Will be miles away.

Here we are as in olden days,
Happy golden days of yore,
Faithful friends who are dear to us
Gather near to us once more.

Through the years
We all will be together
If the Fates allow,
Hang a shining star
On the highest bough,
And have yourself
A merry little Christmas now.


SELAMAT HARI NATAL 2003
dan
SELAMAT TAHUN BARU 2004

From Love we were created, in Love we celebrate and Love is where we will come

Tuesday, December 23, 2003

CANDU

Kecanduan = Addicted.

Addict berasal dari kata dalam bahasa latin addictus, sebuah bentuk past participle of addicere to favor. Mulai umum digunakan sekitar tahun 1534. Arti resminya adalah: to devote or surrender (oneself) to something habitually or obsessively . Something disini bisa mengobyek pada segala hal. Jelas bisa narkoba (seperti yang sering digembar-gemborkan beberapa tahun terakhir), bisa jabatan, bisa pekerjaan, bisa gelar, bisa pengetahuan. Bahkan kalau Karl Marx menyebut agama sebagai salah satu obyek kecanduan. "Religion as Opium of the People", kata Marx.

Untuk hal ini perlu gw jelaskan pemahaman yang gw terima atas sabda Marx itu. Menurut Marx, agama adalah sebuah ekspresi dari realitas material dan economic injustice. Dengan demikian, problem dalam agama adalah sepenuhnya problem masyarakat. Agama bukan lah penyakit, tapi lebih merupakan sebuah symptom. It is used by oppressors to make people feel better about the distress they experience due to being poor and exploited. Ini lah sebenarnya asal usul komentarnya bahwa religion is the "opium of the masses" - tapi seperti kita lihat sekarang, pemikirannya jauh lebih kompleks dari pada commonly portrayed.

Sekarang kita bicara soal yang gampang-gampang saja, Drug Addiction. Menurut pengalaman gw, kalau lagi on, orang jadi mudah berhalusinasi. Ketika itu pula terjadi ekstensifikasi dari realitas yang ada. Kekacauan sense of everything. Emosi kita lebih ter-magnified, dll. Gak heran dalam film nasional yang tipikal, seperti Neina di Biarkan Bintang Menari, cowok biasa lebih mudah memperkosa ceweknya kalau sedang mabuk. Lhah kalo itu sih mabuk? Kalau nyandu khan beda lagi...Mencandu itu sendiri kan terjadi ketika kita tidak mampu lagi menolak dorongan untuk mengkonsumsi drugs. Kalau dimasukkan dalam kerangka definitif diatas.We devote, we surrender to drugs habitually, or obsessively!. Kalau sudah nyandu, kita sudah gak bisa lagi dibilangin. Ini salah, itu salah, ini benar, itu benar semua sudah di luar nalar kita. Pokoknya obyek kecanduan itu harus kita dapatkan. Untuk Drugs Addiction, eksesnya banyak. Berbagai kriminalitas yang dimuat Buser, dimulai dari drugs. Kita akan melakukan segala hal untuk memenuhi kebutuhan kita akan candu itu.

Salah sendiri, siapa suruh pakai narkoba? Sendiri suka sendiri rasa eoeee sayang...

Tapi apa cuma drugs yang kecanduannya merugikan. Tentu tidak. Kecanduan pada nature-nya adalah tindakan yang berlebih-lebihan atau melebihi takaran. Kecanduan alkohol jelas merugikan juga (malah ada istilah khusus alcoholic, buat para pecandu alkohol). Walaupun statusnya dilegalkan pemerintah, tapi tetap saja benda yang memabukkan. Begitu juga kecanduan terhadap jabatan, terhadap pekerjaan, terhadap gelar, terhadap agama. Contohnya kecanduan terhadap agama, akhirnya membabi buta, menyalahkan siapa saja yang berbeda, tanpa disadari telah menjadi Tuhan atas Tuhan. Yah, itu lah ekstensifikasi realitas tadi. Bahkan bookaholic pun ada efek negatifnya. Jadi kuper, lupa waktu dan yang jelas bikin kaca mata tambah tebel dan tambah mahal.

Khusus untuk drugs, dikenal juga istilah Functional Drugs Addict. Istilah ini merujuk orang yang menghasilkan karya kreatif ketika dia sedang menggunakan drugs. Dia seolah-olah jadi lebih kreatif ketika sedang menggunakan drugs. Kalau di party , ketika menggunakan alkohol atau drugs, kayanya lebih pede kalau ngedeketin cewe. Apa ini berarti drugs ada sisi baiknya juga? Ya, bisa aja sih, seperti banyak hal lain juga yang ada sisi baiknya. Tapi masalahnya yang harus kita pikirkan ketika sedang sadar adalah apakah benar bahwa penggunaan drugs itu menstimulasi kreativitas? Apa sebenarnya hanya kita saja yang menciptakan circumstances itu? Kita seolah-olah tidak mampu mencapai puncak prestasi tanpa drugs, padahal itu karena kita sudah tergantung saja sama obat. Coba kalau dia menciptakan drug free circumstances , mungkin saja dia bisa berkarya sebaik ketika on. Selain itu, perlu juga dihitung apa cost-nya sepadan dengan hasilnya?

Anyway, tujuan gw nulis ini sebenernya bukan untuk ikut-ikutan ngelarang pake drugs. Silakan aja sih, kalau memang itu pilihan sendiri dan siap ditanggung konsekuensinya sendiri. Point gw sendiri sebenarnya justru untuk lebih menunjukan bahwa sebenarnya kepada apa pun kecanduan itu punya efek merugikan. Jadi tidak jauh berbeda antara para pecandu drugs dengan pecandu kursi di parlemen. Sama-sama punya efek negatif pada publik. Tapi yah gak pa-pa juga selama emang itu pilihan sadarnya sendiri dan siap menganggung konsekuensinya sendiri.

Gw sih asik-asik aja lagi....

Monday, December 15, 2003

YUDISTIRA

Pada episode terakhir Mahabarata dari memori yang gw kumpulkan dari bacaan komik R.A. Kosasih waktu kecil. Judulnya gw lupa. Ketika Pandawa telah memenangkan peperangan di Bharata Yudha, keadaan pun mulai aman. Pembunuhan yang dilakukan Aswatama untuk membalas dendam atas kematian Resi Dorna tidak mampu mengguncang stabilitas yang dicapai kepemimpinan Pandawa. Yudistira sebagai raja pun berpikir untuk lengser. Sudah waktunya bagi dia dan Pandawa Lima plus istri mereka Drupadi untuk menyingkir ke puncak Mahameru dan moksa bersama-sama. Tahta pun diserahkan kepada Parikesit putra Abimayu, cucu Arjuna.
Setelah seluruh proses transisi kekuasaan berlangsung dengan mulus tanpa darah setetes pun, berangkatlah Pandawa Lima plus Drupadi ke puncak Mahameru. Di tengah jalan mereka bertemu seekor anjing kurap yang mengikuti mereka. Mereka tak keberatan, lalu melanjutkan perjalanan bersama si anjing.
Beratnya perjalanan ternyata mengorbankan Pandawa satu per satu. Dimulai dari Drupadi yang tidak kuat menanggung bebannya, dia pun terjatuh lalu tewas seketika. Selanjutnya berturut-turut tumbang Sadewa, Nakula, Arjuna lalu Bima. Tinggallah seorang Yudistira ditemani seekor anjing kurap melanjutkan perjalanan. Sampai di puncak ternyata Yudistira sudah di tunggu oleh se- Dewa (ayo apa satuannya untuk Dewa?), Betara zumthing lah namanya. Sementara itu si anjing pun menjelma menjadi se- Dewa lainnya yang namaya juga Betara zumthing juga deh. Kedua Betara itu lalu menuntun Yudistira untuk perjalaan selanjutnya yakni moksa dan memasuki nirwana, tanpa proses kematian.
Kisah pun dipersingkat hinga Yudistira kini sudah sampai di Nirwana. Alangkah terkejutnya Yudistira ketika menyaksikan nirwana ternyata berisi para Kurawa yang sedang bersantai memuaskan hawa nafsu, ditemani bidadari-bidadari cantik luar biasa yang senantiasa perawan. Setelah tour menyakitkan ke nirwana, Yudistira pun dibawa ke neraka. Alangkah terkejutnya lagi Yudistira, karena isi neraka ternyata seluruh keturunan Kunti yang nota bene adalah orang-orang baik banget. Ada Karna, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Drupadi, Gatot Kaca, Abimayu dkk. Mereka semua rotten in hell. Yudistira disuruh memilih, ke mana ia hendak bergabung. Setelah perjalanan yang begitu jauh dan penuh pengorbanan, akhirnya Yudistira memilih bergabung di neraka, bersama saudara-saudaranya. 30 hari kemudian kalo gak salah, mereka diberi tahu bahwa semua neraka dan nirwana yang mereka hadapi adalah semu. Itu hanya untuk menguji mereka saja. Mereka pun ditukar dengan Kurawa. Pandawa mengecap nikmatnya nirwana untuk selama-lamanya, sedangkan Kurawa terlempan ke eternal hell juga. Nah, coba in the 1st place Yudistira memilih bergabung di Nirwana, maka dia pasti ikut membusuk di neraka bersama Kurawa. Jadi inget EwinK, semua ha gak selalu seperti kelihatannya, jadi pasrah aja dan ikuti pilihan hatimu sendiri!!

Wednesday, December 10, 2003

TamasyA

Sebelum nonton bioskop, nyewa film atau pergi beli buku, coba lirik dulu halaman TamasyA gw, supaya tidak kecewa

THE MATRIX

Banyak yang merasa kecewa dengan The Matrix Revolutions. Banyak yang mencari jawaban tapi merasa tidak ketemu di babak final petualangan Neo itu. Gw sendiri sebagai bagian dari segelintir orang yang menyaksikan edisi final ini pada world premierenya yang diputar serentak di seluruh dunia ternyata merasa berbeda. Btw, gw diwawancarai Liputan 6 SCTV lho, disuruh ngasih komentar soal film ini hehehehe...
Kenapa harus mencari jawaban sih? Kalo gw gak kecewa sama sekali dengan babak final trilogi Matrix ini, karena memang sudah begitu lah seharusnya. Sebenarnya sejak awal kan Wachowski sudah mati-matian mengajak kita untuk 'thinking outside the box' dalam menonton film ini, jadi gak usah heran kalo akhirnya begitu. Bahkan bagian ketiga ini mengisyaratkan petualangan energi yang makin masuk ke maqom yang lebih tinggi, dimana pertempuran-pertempuran batiniah mencapai puncaknya dan bahwa musuh bebuyutan selama ini adalah diri kita sendiri. Pertarungan puncak antara kedua sisi diri itu akan memakan kedua sisi itu, untuk lantas memasuki maqam yang kekal, dimana matahari bersinar cerah dan terang benderang, tanpa permusuhan karena tidak ada lagi sisi kontradiktif. Karena sudah tercapai kekekalan. Nonton film ini seperti baca babak akhir Mahabharata. Dari awal gw juga udah yakin bahwa film ini adalah tafsir bible buat era teknologis, sampai film ini mencapai akhir, ternyata gw meyakini itu benar.

Sunday, October 26, 2003

KAWIN LARI

1976: Christine Hakim dalam Kawin Lari (Teguh Karya, 1976), Best Actress di Asia Pasific International Film Festival.

Sepuluh hari yang lalu, pada jam makan siang, seorang sahabat lama DAM (bukan nama sebenarnya) menelpon gw. Dia bercerita tentang rencana pernikahannya yang penuh hambatan. Memang DAM yang beragama Islam dan pacarnya SG (bukan nama sebenarnya juga he3x) yang beragama Kristen Pantekosta, menurut Undang-Undang dilarang menikah di wilayah Indonesia. Sebelumnya mereka sempat konsultasi dengan MM seorang artis yang tidak terlalu terkenal yang juga menikah dengan suaminya yang berbeda agama tapi berhasil menikah di Indonesia. Atas rekomendasi si artis tersebut, mereka pun pernah mengurus masalah ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan hasilnya mereka diizinkan negara untuk menikah. Tentu saja keputusan itu keluar dengan pelicin yang makan biaya besar. Namun apa mau dikata, begitu mereka menghadap catatan sipil, ternyata mereka tetap tidak dapat menikah karena tetap melanggar Undang-Undang Perkawinan. Lha, lantas mengapa pengadilan negeri mengizinkan?

Akhirnya mereka menemukan jalan lain, mereka bertemu seorang pendeta yang bekerja di catatan sipil dan bisa menikahkan mereka sekaligus mendaftarkan perkawinan itu ke catatan sipil. Karena kesibukannya, si pendeta hanya bisa menikahkan malam itu, atau ditunda lebih lama lagi. Lucunya, mereka pun mendapat konfirmasi bahwa mereka bisa menikah baru pada jam 11 siangnya. Jadi jam 12.30, seusai bercerita tentang kesulitan menuju pernikahannya, DAM meminta kesediaan gw menjadi saksi dalam pernikahan rahasianya, nanti malam!!! What??? Ya, nanti malam.

Gw langsung bersedia, you know lah, gw paling demen kalo mendapat pelajaran baru. Menyaksikan sebuah kawin lari actually happened in front of my bare eyes, whoa that's experience. Tapi crazy banget, mereka berdua pulang kantor, menjemput gw lalu kita langsung ke rumah pendetanya. Sampai disana, pendetanya menyuruh mereka tanda tangan beberapa surat (pake ada acara salah tanda tangan pula, karena pendetanya lupa)> DAM dan SG bahkan gak memamakai jas dan gaun, mereka pun gak membawa cincin untuk dipertukarkan. Bahkan dalam pernikahan Ross dan Rachel yang dalam keadaan mabuk berat dan cuma di serial komedi TV aja, at least mereka masih tukar cincin.

Yang bikin gw heran sebenarnya bukan mereka berdua. Mereka sih, cuma insan yang saling mencinta dan mendamba jalan yang paling mungkin untuk bersatu. Yang gw heran adalah perlakuan negara terhadap para calon penikah-penikah ini. Kepentingan negara terhadap pernikahan khan sebenarnya memberi perlindungan, jadi siapa pun yang hendak menikah mestinya diijinkan supaya terlindungi. Kepentingan negara terhadap pernikahan khan bukan soal syi'ar agama tertentu. Jadi seharusnya, kalau pencatatan perkawinan oleh negara yah dicatat aja. Masalah perkawinannya syah atau tidak, itu urusan instansi agama sendiri. Toh, ada juga aliran agama yan mengijinkan. Coba kalo mereka memilih kumpul kebo aja, lalu terjadi kekerasan dalam hubungan, khan gak ada yang melindungi secara hukum.Mestinya memanfaatkan jalur pindah agama by married buat menambah umat sudah sepatutnya ditinggalkan saja, karena terbukti kualitas lebih penting dari kuantitas. Keberagamaan tidak dinilai dari pengumpulan koin, banyak-banyakan umat. Jadi mengharuskan orang menikah seagama untuk bisa dicatat secara resmi oleh negara sudah tidak penting lagi. Daripada mendapatkan umat yang tidak ikhlas dan pindah agama hanya supaya bisa menikah aja khan gak memberi keuntungan apa pun bagi siapa pun. Kalau mau pindah yan harus karena panggila hati lah, jangan karena terpaksa mau kawin. Jangan masalah ini malah dimanfaatkan segelintir orang, untuk cari keuntungan lagi. Lucunya lagi, pernikahan beda agama dari luar negeri justru diakui keabsahannya. Tuh, khan seperti biasa tidak konsisten.

Akhirnya malam itu mereka menikah, saksinya gw dan Melly, cuma ada 2 foto pake HPnya Melly. Anyway, selamat berbahagia DAM dan SG, semoga langgeng !

Wednesday, October 15, 2003

Myself

The Test results are mine:

Conscious self
Overall self
Take Free Enneagram Personality Test


Enneagram Test Results
Type 1 Perfectionism |||||||||||| 50%
Type 2 Helpfulness |||||||||||||||||| 74%
Type 3 Ambition |||||||||||||||| 66%
Type 4 Sensitivity |||||||||| 34%
Type 5 Detachment |||||||||||||| 54%
Type 6 Anxiety |||||||||||||||| 62%
Type 7 Adventurousness |||||||||||||||||||| 82%
Type 8 Hostility |||||||||||| 46%
Type 9 Calmness |||||||||||| 50%
Your Conscious-Surface type is 7w6
Your Unconscious-Overall type is Omni
Take Free Enneagram Personality Test


Tuesday, October 14, 2003

GEN-WHAT?

Yah, memang gw easy to distract karena gw dibesarkan di era Windows, gw bisa chatting, browsing atau typing dalam satu waktu sekaligus.
Yah memang gw tidak suka linearitas karena gw dibiasakan menonton TV dengan remote control. Gw bisa menonton banyak acara sekaligus.
Yah memang gw tidak suka dikekang karena gw besar di era unlimited choices. Gw bisa lari ke pilihan-pilihan lain ketika satu pilihan dihambat.

Gw memang anak dari Gen-X? Gen-Y? Gen-What? ah... Gen Whatever !!!

Friday, September 26, 2003

CROSS COUNTRY

Beruntung sekali 2 weekend terakhir gw bisa menikmati hari-hari istirahat yang menyenangkan. Gw bisa jalan-jalan ke luar kota dan meninggalkan Jakarta. Berikut sedikit ceritanya, mudah-mudahan gak basi.

BALI SENSATION

Gw berangkat ke Bali hanya bermodalkan pakaian 3 hari and not quite sure akan pergi kemana sebenernya, walaupun udah dapet bocoran juga. Maklum lah nama programnya juga Destination Nowhere dalam rangka ulang tahunnya MTV Trax. Sampe di airport ternyata udah kumpul semua, konon katanya tinggal gw doank yg belum, tapi ternyata ada lagi yang nyusul belakangan. Sampe di airport gw baru tahu siapa aja yang ternyata ikutan di program ini, walaupun kita masih tetap belum tahu akan pergi kemana. Bareng gw udah ada tim wartawan seperti: Intan, Yulin, Popi, Ana, Sandra, Dody, Mas Franz, Zaldy, bang Remy dan beberapa kru Kabar-kabari, Hagi, Avi, Yulia. 3 yang terakhir itu merangkap panitia. Selain itu ada juga anak-anak label; Wita, Linda, Putri Irvi, Yasmine dan orang-orang Sony Music. Ada juga selebritis mulai dari Anya Dwinov, Putri Patrisia, Thomas Nawillis, Jody Superbejo, Ary MTV, Nina Warna dan Ria Warna. Terakhir Cokelat. Satu-satunya acara yang udah diumumin adalah cuma launching album barunya Cokelat, yang judulnya Segitiga. Secara penggemar Cokelat udah pasti lah gw girang bukan alang kepalang. Sampe naik pesawat, MTV Trax berhasil membungkam semua orang tentang tujuan keberangkatan, termasuk pramugari yang ngasih welcoming speech di pesawat gak nyebutin tujuan pesawatnya. Di atas pesawat, Cokelat pun memulai aksinya dengan launching. Wah hebat banget rasanya, Kikan nyanyi lewat microphone pesawat dan anak-anak Cokelat lainnya main akustik di pesawat. Sehabis nyanyi semua penumpang dihadiahi kaset terbaru Cokelat. Kewl...!!!
Pas mau turun kita baru diberi tahu akan mendarat di Bali. Semuanya langsung melonjak kegirangan. Sampai di Bali kita langsung makan di restoran yang pemandangannya indaaaaaaahhhhhh banget. Di sana Hagi diceburin rame-rame ke kolam renang. Habis itu baru check in ke Hotel Grand Mirage Jimbaran. Hotelnya juga kewl banget. Awalnya gw dapet pasangan ama Mas Franz, trus tukeran jadi ama Zaldy, trus tukeran lagi jadi ama Popi. Kami satu-satunya roommate campur dari semua peserta, yah maklum lah secara sama-sama anak mami.
Habis mandi-mandi dan beres-beres kita naik taksi ke Hard Rock Cafe. Karena jumlahnya tanggung dan tarifnya mahal, kita dempet-dempetan bertujuh dalam Taksi, mana gendut-gendut lagi, yang kecil cuma Putri, Wita dan Linda doank, yang lain XL semua. Di sana mulai lah mabuk-mabukan seperti biasa. Sesudahnya berlanjut ke Kamasutra yang isinya kita doank, jadi kaya private party. Pulangnya mampir ke Warung Manado yang enak banget.
Besoknya bangun pagi-pagi masih ngantuk dan lemes. Sesudahnya kirain akan mulai bertugas, ternyata kita malah disewain guru surfing dan surfing sampe puas di Kuta yang terkenal sedunia itu. Siang bolong with so much fun and without any single drop of alcohol at all. Dilanjutkan makan siang di Hard Rock Cafe lagi, terus wisata belanja di Kuta dan mampir ke outlet-outlet sponsor. Pulangnya dah pulang kecapekan, mandi dan harus siap-siap lagi ke Hard Rock buat acara puncak, konsernya Cokelat. Sehabis konser banyak banget yang mabok dan seperti biasa lah jadi petugas CPR. Detil maboknya gak usah dicritain deh kayanya...hehehehe...!!!
Besoknya baru acara bebas dan belanja seharian, sorenya langsung ke airport, wah benar-benar jadwal padat yang menyenangkan !!! Thx Trax! Walaupun akhirnya setelah balik gw dapet masalah karena ketololan luar biasa yang gw lakukan.


NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG

Minggu berikutnya adalah long weekend ke-2 sejak gw kerja di FHM dan itu penting. Sejak mau pulang kantor gw dah bersiap-siap menyusun rencana. Malam sabtunya banyak sekali party sampe bingung mo kemana. Akhirnya kita makan dulu di Bale Aer sekalian ada launching kaset (oh iya kasetnya ketinggalan di mobil Dedy) trus jemput Popi dan mo ke Bond The Nation, tapi karena susah parkir jadi batal dan langsung ke BC Bar pas ada Media Gathering Party yang diadain Kang Iyu sekalian launching milis Wartawan Gaul. BC tuh emang salah satu tempat hang out paling asik bagi gw selain MBC apalagi datengnya rame-rame, tambah asik aja. Baru jga mo masuk kita dah disuguhi Tequila sebagai welcome drink. Sebenernya sih jatahnya cuma segelas, tapi dasar pemabok, belom apa-apa gw dah minum 3 gelas...eh doyan..!!Tapi di atas gw gak banyak minum, karena takut lepas kontrol. Pulang dari BC lanjut ke Retro sampe jam 5 trus sarapan di Menteng seperti biasa. Wah niat banget partynya.
Sabtu memang dah rencana gak bakalan party. Rencananya sih mo pacaran dan istirahat. Sorenya masih sempet dateng ke preview film Untukmu (Asun Mawardi, 2003) di PPHUI. Terus si John telepon, ternyata dia jadinya berangkat malam itu ke Villa-nya Wita di Cijeruk dan mami besok belom tentu jadi berangkat. Jadi terpaksalah dengan terburu-buru, gw packing dan ngumpul di Sarinah. Berangkat dengan kloter pertama; Renny dan Wita sebagai Tour Organizer, Gw, John, Dedi, Djoko, Linda, David, Azza dan Daniel. Sampai disana udah after midnight dan langsung pada tepar. Besok pagi, bangun sambil dengerin anak-anak complain soal ngorok gw. Tapi semua langsung terobati demi melihat Mak Reni dan Ce' Wita sedang memasak nasi goreng yang unbelievably delicious tapi karena lagi laper banget enaknya jadi berlipet-lipet deh. Habis makan terus antri mandi. Sesudahnya kita semua siap jalan-jalan ke curug. Nah ini dia... Awalnya masih jalan kampung yang berbatu, lalu masuk ke pematang sawah. Di sana langsung tercium aroma dedaunan yang sama sekali tidak akrab dengan suasana Jakarta. Jalan sambi dorong-dorongan, ketawa-ketiwi dan pastinya foto-foto. Lewat dari pematang sawah, kita harus menyebrangi sungai berbatu lewat jembatan gantung yang udah rapuh banget. Waktu itu kita sempat foto-foto ala Raja Siam di film The King and I atau di film Anna and The King. Melewati jembatan kami memasuki kawasan hutan pinus. Ada anak-anak SMU 68 yang lagi kemah dan membuat Wita yang alumni 68 langsung jerit-jerit kegirangan. Jalan lebih jauh, wah ternyata hutan pinusnya indah sekali. Sambil jalan begitu gw nyanyi-nyanyi lagunya Ebiet G. Ade
pucuk-pucuk pinus, seperti berebut bergesek berdesak berjalin tangan
ranting kering luruh adalah nyanyian selaksa puisi bergayut di dahan
lebur lah disini....

Wah gw jadi bisa ngerasain apa yang sedang dihadapi Ebiet ketika dia menulis lagu romantis itu. Perjalanan kami berujung di sebuah curug yang segar. Udahlah secara tempat seindah itu, udah pasti lah kita semua foto-foto. Gw sempat didaulat untuk berpose ala FHM dan dengan tololnya gw mau aja, sampai sekarang foto-foto itu masih gw sesali. Hehehe... Pulang dari situ, bibinya Wita dah menyiapkan makan siang yang biasa cepatnya tandas. Sesudah itu, kita istirahat sambil nonton DVD, sayang sore itu Linda harus balik ke Jakarta karena ada acara.
Kloter kedua datang sesudah Maghrib. Ada Dirga, Stroo, Ia, Popi, Exo dengan Daniel sebagai pemandu. Mereka datang dengan suplai amunisi tambahan. Akhirnya setelah beberapa semalam tanpa alkohol, akhirnya we're back to da habit, mabuk-mabukkan !!! Sambil menyanyikan ratusan lagu yang gak pernah jelas mulai dan abisnya. Malemnya udah mabuk banget dan cape banget, jadilah gw ngoroknya kenceng banget. Paginya masih sempat jalan-jalan lagi, tapi gw gak ikut. Sorenya pulang dan kembali berkumpul dengan mami dan keponakan-keponakan. Malamnya banget I Like Monday deh yang nampilin Cokelat deh...reuni deh ama anak-anak Destination Nowhere.

Wednesday, September 17, 2003

Friday, September 12, 2003

TamasyA

Ada Artikel baru di Me and Media dan TamasyA, Baca ya terus komentari !!!

Thursday, September 11, 2003

Kematian

Fivi telah pergi, 9 September 2003. Malam itu di langit ada bulan purnama dan sebuah bintang mendekati bulan. Malam itu kami merintih bersama.
Pada siang hari itu, gw masih menelpon Fivi pas lunch time, tapi Fivi yang baik sedang sholat. Gw berjanji akan menelpon lagi, tapi gak gw lakukan sampai sorenya. Dan kini gw gak mungkin melakukan itu lagi, karena kini Fivi sudah pergi. Meninggalkan semua kenangan baik tentangnya di benak kami semua. Gw memang baru kenal Fivi sejak 22 Juli 2003, aduh baru banget ya...tapi sekarang dah gak akan ketemu lagi. Duh, Fivi only the good die young, and you're one of them
Kematian memang misteri besar....
Setelah semua terjadi, masih banyak yang tidak percaya. Tiba-tiba hidup jadi pertanyaan besar. Gw jadi inget kata-kata Walter Finch dalam Insomnia (Cristopher Nolan, 2002),"If life is so important, then why is it so fragile?". Ya hidup memang rapuh banget, ternyata yang mengambil keputusan atas diri kita sama sekali bukan kita. Kalau sudah begitu, apa lagi yang masih bisa disombongkan. Sekarang kita cuma bisa menunggu apa lagi yang bisa terjadi tanpa kita punya kendali atas apa yang akan terjadi. Sebuah puisi dari Sapardi Djoko Damono mewakili semua ketidakpastian gw.


METAMORFOSIS

Ada yang sedang menanggalkan pakaianmu
satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya,
"Tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?"
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu,
menimbang-nimbang hari lahirmu,
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang diam-diam berubah menjadi dirimu


Fivi, kami semua kehilangan kamu

Tuesday, August 26, 2003

26 on 26

Hari ini 26 Agustus:

55BC: Roman forces under Julius Caesar invade Britain
1346: Battle of Crecy, between English and French forces
1883: Krakatoa erupts with increasingly large explosions kills 36,000
1920: US Women given the right to vote

Birthday
1743 Antoine-Laurent Lavoisier Paris, father of mod chemistry (Oxygen)
1971 Thalia, Singer and Soap Opera Actrees (Marimar, Maria Mercedez, Rosalinda)
1981 Macauley Culkin actor (Home Alone, My Girl)

Hari ini 10 tahun yang lalu lagu yang lagi top di Jakarta itu lagu 'What's Up?" dari 4 Non Blondes

25 years of my life and still
I'm trying to get that great big hill of hope
for a destination

dulu gw pikir wah masih lama banget yeee umur 25 itu, ternyata sekarang sudah setahun berlalu dan apparently I'm still trying to get that great big hill of hope but is it for a destination? Padahal sekarang sudah 26 on 26 ternyata masih saja.....

I Pray every single day for a revolution...

Tapi apakah berdoa adalah jawaban? Styx lalu menjawab:

Every night I say a prayer in the hope that there's a heaven
And every day I'm more confused as the saints turn into sinners
All the heroes and legends I knew as a child have fallen to idols of clay
And I feel this empty place inside so afraid that I've lost my faith

Anyway, yeah hari ini gw ulang tahun. Gw gak tau mesti sedih atau senang tapi ya biasa aja, gw tambah tua tapi siapa bilang umur tambah kurang, emangnya umur tuh benda material apa? Tapi tetap aja thx buat temen-temen Lesmus, FHM, Cosmo, Cosmo Girl dll yang udah mo ngingetin dan ngeramein.

Hari ini 26 tahun yang lalu: Seorang bocah ganteng terlahir ke muka bumi dan dinamakan EwinK

Quote of the day for today:

" You're smart when you only believe half of what you hear, Wise is when you know which half to believe. "

Today in da past

Saturday, August 23, 2003

HIGH FIDELITY

Masih inget dengan DJ Rob Gordon yang membuka sebuah toko rekaman di Chicago dalam film High Fidelity (Stephen Frears, 2000)?. Film Indy produksi Working Title Films punyanya John Cusack ini pertama kali release di USA tanggal 17 Maret 2000, rasanya film ini gak pernah bener-bener main untuk publik di bioskop Indonesia, kecuali main di JIFFEST tanggal 4 November 2000, setelah itu VCDnya beredar. Setelah nonton film itu, tiba-tiba saja gw merasa bahwa film ini climb up to the chart of my Top Five Most Influencing Films. Di daftar gw ada juga Dead Poets Society (Peter Weir, 1989), In The Mood For Love (Wong Kar-wai, 2000), La Reine Margot (Patrice Chéreau, 1994) dan Surat Untuk Bidadari (Garin Nugroho, 1992)
Setelah bincang-bincang subuh ini dengan Timur Angin, fotografer kondang tiada tara itu, gw jadi pingin lagi nonton film ini. Ternyata masih berasa bagus aja, wong Roby Kulup aja mengakui strukturnya asik.
Menurut gw, ini salah satu film yang berhasil membuat narasi dan dialog dengan baik. Padahal kata si Edwin, film khan pada dasrnya masih disiplin visual, audio yang salah satunya adalah dialog itu cuma pendukung aja.
Film ini berhasil meyakinkan gw bahwa pekerjaan si Rob Gordon dalam film ini juga jadi my Top Five Dream Jobs, selain kerja di FHM ini tentunya. Ternyata Mur, nonton film ini setelah obrolan subuh dalam mabuk akan Jakarta kemaren bener-bener relevan. Apalagi sore ini Intan juga ngomong sesuatu yang meaningful, walaupun mungkin lo gak sadari Tan.
Berikut ada potongan-potongan dialog yang berhasil gw catet:

So, What am I gonna do now? Just keep jumping from rock to rock for the rest of my life until there aren't any rocks left?

I'm tired of the fantasy, because it doesn't really exist. And there are never really any surprises, and it never really... Delivers. And I'm tired of it. And I'm tired of everything else for that matter. But I don't ever seem to get tired of you, so....

What came first, the music or the misery? People worry about kids playing with guns, or watching violent videos, that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands, literally thousands of songs about heartbreak, rejection, pain, misery and loss. Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?

I always had one foot out the door, and that prevented me from doing a lot of things, like thinking about my future and... I guess it made more sense to commit to nothing, keep my options open. And that's suicide. By tiny, tiny increments.

Tuesday, August 19, 2003

Terbit

Horeeeeeeee.......
Majalah gw dah selesai cetak hari ini. Akan mulai beredar besok pagi. Jadi jangan lupa pada beli yaaaaa


ngintip majalah gw:
FHM Indonesia

Thursday, August 14, 2003

Mangga Atuh

Akhirnya semua menu yang gw inginkan sudah tersedia disini. Mangga diklik !
Tinggal ilustrasi gambar yang belum beres. Soalnya masih gak ngerti caranya. Padahal gw dah siapin foto-foto gw, gw dan Febby, Inul, Kikan, Dian Sastro yang cantik jelita, rupawan, lagi cerdas (IP-nya 3,7 bow! di Filsafat UI lagi), Leony, Agnes Monica, Dini Garin dan temen-temen tongkrongan gw; Lesmus waktu threesome kemaren, Cosmo Women(Intan, Rosa, Monique, Indah, Rugun dan Prita), FHMers (all crew), Novel Tanpa Huruf R, dan masih banyak lagi.
Meanwhile, jangan pada lupa ngeklik link-link yang udah ada. Karena setidaknya akan memberi sedikit informasi yang kali aja suatu saat akan berguna. Bagi yang belum berblogria segera lah! atau kau akan kecewa.

Wednesday, August 13, 2003

Pinter

Aduh siapa bilang pinter itu penting, huh? Ternyata setinggi apa pun nilai matematika lo waktu SD atau SMP atau SMU, bukan jaminan bahwa hidup lo gak screwed up pada akhirnya. Ada misteri hidup yang ternyata gak cuma butuh nilai matematika, atau mungkin gak butuh sama sekali. Ini baru dari soal ekonomi, kalo dari soal lain wah bisa lebih luas lagi dimensinya. Jadi tolong ingetin adik atau anak lo, gak usah jadi pinter di sekolah, biasa aja dari pada buang waktu percuma untuk sesuatu yang dia gak tahu orientasinya kemana.

Waktu gw SMU, di kelas 1 ada chapter logika di buku Matematika, tapi apa lacur, sesudah dapet ponten 10 waktu ulangan, emang kita jadi pandai berlogika? Ah, tidak juga sodara-sodara. Kalo lagi gini jadi inget Paulo Freire yang dibaca sebagai syarat jadi anak Polar dulu banget di tingkat 1. Conscientity! Kita emang harus sadar apa yang kita pelajari, untuk apa, dari mana dan arahnya apa. Kalo gak gitu ya sia-sia. Seperti kata Mukti-Mukti lewat Fatamorgana.


Melangkah yang tak pasti
Tak tentu
Hatiku terasa ragu
Khayalku semakin jauh
Termenung dibuai fatamorgana

Mendung tak berujung-berlalu meninggalkanku
Hitam, Kelam, Kecewa, Ternoda!

Tuesday, August 12, 2003

Saturday, August 09, 2003

Terrorist



One man's freedom fighter is another man's terrorist... Narator di film Braveheart berkata, "History is written by men who have killed heroes." Dunia yang kita tinggali sekarang telah dibentuk oleh orang-orang yang disebut teroris dan dikutuk oleh musuh-musuhnya. Australia, Amerika Serikat, Russia, China, sebagian besar Amerika Selatan, sebagian besar Afrika, sebagian besar Timur Tengah dan hampir seluruh Asia. Jadi, siapa yang benar dan siapa yang salah? Anda sendiri yang tentukan.
Tapi ternyata identitas kita dibangun atas kekerasan dan kebencian...

Atilla The Hun
Konflik: Pendudukan Danube
Pada tahun 433 M, Atilla menjadi menjadi Raja Kaum Barbar. Dengan menggunakan taktik hit and run, dia telah membunuh ribuan penduduk sipil dengan memenggal kepalanya. Nyatanya hal itu mendudukannya di tampuk kekuasaan selama 20 tahun dan banyak meletakkan pondasi Eropa modern yang masih terpakai hingga kini.

George Washington
Konflik: Revolusi Amerika
Pada tahun 1775 Washington menjadi komandan Tentara Kontinental. Dia menghabiskan waktu 6 tahun menyerang serdadu-serdadu Inggris untuk mengusirnya dari Amerika. Kesuksesan diraihnya karena penggunaan taktik gerilya daripada serangan frontal karena kelemahan tentaranya. Tapi kini dia disebut sebagai founding father bagi sebuah negara yang mengaku terkemuka di dunia dalam demokrasi.

Governor Phillip
Konflik: Genosida Aborigin
Pada tahun 1790, Phillip memulai program pembangunan yang menyebabkan banyak penduduk asli Australia dibantai. Dia mengirimkan sejumlah orang dengan kapak untuk berburu kepala Aborigin, lalu dibawa pulang. Tujuan pembantaian itu adalah untuk membebaskan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan. Hingga kini dia dinobatkan sebagai salah satu pendiri New South Wales dan salah satu pendiri Australia.

Vladimir Ilyich Ulyanov (Lenin)
Konflik: Revolusi Oktober
Dengan dukungan rakyat yang menetangnya, Tsar Rusia dilengserkan pada Maret 1917 dan sebuah pemerintahan provisional pul mengambil alih kekuasaan. Pada bulan Oktober, dengan kondisi rakyat yang tak tertolong, Lenin meyakinkan kaum buruh untuk menolak kapitalisme - dengan prediksi-prediksi dan fantasi komunisme. Memang nama Lenin cenderung jauh lebih bersih, ketimbang penerusnya yang haus darah, Stalin.

Bung Karno
Konflik: Revolusi Indonesia
Memulai pendidikan politik sejak usia belasan saat indekost di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, seorang pemimpin Syarikat Islam yang sangat disegani pada saat itu. Soekarno menjadi bulan-bulanan pemerintah Belanda. Pada akhirnya ia ditangkap dan mulai diadili sejak tanggal 18 Agustus 1930 di Bandung. Pidato pembelaannya yang terkenal adalah "Indonesia Menggugat", sejak itu menghabiskan waktu dari pembuangan ke pembuangan bahkan setelah Indonesia merdeka. Pemerintah Belanda yang sampai saat sekarang belum pernah mau meminta maaf atas penjajahan yang pernah dilakukan, lantas menyebut Bung Karno sebagai extrimist. 17 Agustus 1945, setelah didukung para pemuda dan Tentara PETA, Soekarno dan Hatta akhirnya memerdekakan Indonesia. Sesudah itu Soekarno pun duduk di tampuk kekuasaan selama 20 tahun walaupun paruh pertama kepemimpinannya adalah masa pengentalan identitas kebangsaan, sehingga memimpin sama sekali bukan jalan kemewahan. Pada akhirnya dia pun digulingkan oleh konspirasi internasional dengan beberapa elemen nasional, karena dia tetap terlalu extrim bagi zamannya. Dia adalah Bapak Bangsa Gw!

Ayatullah Rohullah Khomeini
Konflik: Revolusi Islam Iran
Pada tahun 1979, Khomeini menumbangkan Shah Reza Pahlevi, monarki yang berkuasa dengan dukungan Amerika Serikat dan mata-mata kaki tangannya yang terkenal kejam. Tak sampai 1 tahun kemudian, Imam Khomeini pun merestui penyanderaan yang terjadi di Kedutaan Besar AS di Teheran. Hal ini membuat Imam Khomeini menjadi salah satu musuh paling dibenci dunia pada masanya. Kendati selama masa pemerintahannya, Iran tak henti direcoki Amerika Serikat yang justru sempat membantu Saddam Husein muda dalam Perang Iran-Irak, namun hingga kini Imam Khomeini tetap dipuja sebagai pemimpin suci yang telah berhasil meletakkan kembali pijakan Islam sebagai pondasi politik sebuah negara. Dia menjadi inspirasi tiada henti bagi semua umat Islam di dunia. Dia pun bergelar Mata Air Kecemerlangan

Fidel Castro
Konflik: Revolusi Kuba
Pada tahun 1956, Castro memimpin sekelompok pemberontak dalam perang 3 tahun dengan tentara-tentara Batista, pemimpin Kuba saat itu. Castro pun berhasil mengagitasi rakyat untuk menjatuhkan Batista dan kabur. Fidel pun mengambil alih. Namun nyatanya, dalam kekuasaannya yang hingga kini, Castro berhasil meningkatkan standard hidup warga Kuba, meskipun tanpa bantuan (atau malah dengan embargo tiada henti) dari Amerika Serikat.

Dulu Diponegoro dianggap musuh negara, sekarang Diponegoro jadi Pahlawan. Dulu Joan of Arc dituduh orang gila dan sesat, kini diangkat menjadi Santa. Kemarin Amrozy dihukum mati sambil tertawa-tawa dan mengacungkan jempol. Kemarin pengebom J.W. Mariott kita kutuki ramai-ramai.
50 tahun lagi siapa yang bisa menduga?

Kita memang hidup dalam dunia pemaknaan-pemaknaan. Sehingga realitas tidak penah menemukan bentuk senyata-nyatanya. Tapi tak apa, kita toh manusia biasa...

Selamat berakhir pekan....!

Tuesday, August 05, 2003

BOM



Hari ini Jakarta dibom lagi!
"Entah apa kata dunia", kata Bang Naga
"Mengapa harus kata dunia Bang, mengapa bukan kata kita?"tanya si Bujang
"Karena kata kita sudah tak penting lagi, Bujang. Karena sudah bergalon-galon air mata tumpah ruah di bumi ketidakberdayaan ini memohon berhentinya kekerasan fisik, mental dan spiritual tapi semua tenggelam sia-sia"
Tampaknya masa-masa ini adalah do'a tak diijabah. Masa ini adalah masa-masa kita belajar mencari hikmah dan membakar samsara.
Karena begitu banyak luka, tapi begitu banyak yang lupa.

Bomb dalam Bahasa Perancis bombe, dalam Italia bomba, diduga dari bahasa Latin bombus yang artinya deep hollow sound, kemudian diadopsi Yunani menjadi bombos. Diduga pertama kali digunakan dalam bahasa modern sejak tahun 1684.

Para nelayan sudah lama membenci bom. Karena bom hanya jalan singkat orang-orang serakah untuk mendapat tangkapan.Bom membunuh masa depan di laut. Tak hanya bagi ikan-ikan dan ekosistem laut. Juga bagi mereka yang mengebom dan pencari nafkah di lautan itu, yang tidak berdosa dan tidak serakah. Mungkin para pengebom Jakarta itu lupa, bahwa tidak cuma orang lain, atau J.W. Mariott saja yang akan menderita kerugian. Tapi juga diri mereka sendiri. Kita sendiri hidup dalam tali temali bernama sistem, toh! Tapi, orang lain itu tidak berdosa, Bung! Mereka juga orang-orang yang berperang campuh dalam hidup.

Sekarang setelah dibom, apa yang bisa kita lakukan. Jelas, tidak cuma mengutuk. Aparat keamanan harus mencari siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini. Pemerintah harus menyelesaikan sebab kebuntuan yang membuat si pengebom merasa tak punya jalan lain, kecuali menularkan rasa sakitnya pada orang lain. Sedangkan kita, daripada tenggelam dalam luka berkepanjangan, lebih baik kita sampaikan salam damai setiap hari. Selain itu, seperti yang telah disebutkan tadi. Ini adalah masa-masa kita mencari hikmah dan membakar samsara. Last but not least, berdo'a!

Setelah Tragedi WTC 2 tahun yang lalu, Sean Penn pernah membuat film pendek yang menceritakan seorang kakek yang memelihara bunga. Namun bunganya tak dapat tumbuh karena sinar matahari di jendela si Kakek selalu terhalang oleh bayangan gedung WTC yang begitu tinggi. Setelah gedung WTC dibom, maka bunga itu pun dapat tumbuh dibawah sinar matari. Intinya semua ada hikmahnya, jadi jangan berkecil hati. Film itu sendiri cuma 1 segmen dari 11 segmen film pendek 9 menit yang disutradari oleh 11 sutradara dari 11 negara berjudul 11'09''01 - September 11 . Mereka adalah: Youssef Chahine (segment "Egypt"), Amos Gitai (segment "Israel"), Alejandro González Iñárritu (segment "Mexico"), Shohei Imamura (segment "Japan"), Claude Lelouch (segment "France"), Ken Loach (segment "United Kingdom"), Samira Makhmalbaf (segment "Iran"), Mira Nair (segment "India"), Idrissa Ouedraogo (segment "Burkina Faso"), Sean Penn (segment "USA"), Danis Tanovic (segment "Bosnia-Herzegovina"). Sayang gw juga cuma baru baca sinopsisnya aja, belom nonton sendiri.

buat yang mo ngintip film itu:
11'09''01 - September 11

Friday, August 01, 2003

POJOK KANAYAKAN by Miranda Risang Ayu



Pucuk bambu sentuh biru
Tak terbatas di dadaku
Percik air berkeriap
Melembabkan pojok-pojok hati

Terbangkanlah Angin
Pucuk daun segar
Ke permukaan danau sunyi
Yang terlindungi dari segala prasangka

Ketulusan hati mengalirlah cepat
dan mewarnai segala hasrat
yang hampir saja memenjara
Langkahku

Thursday, July 31, 2003

Bang Iwan, Buble dan Novel tanpa Huruf 'R'

Lama tidak hadir, karena sibuk mengisi halaman lain. Jadi jangan lupa pada mampir ke halaman gw yg lain. Lama gak ngisi jurnal bukan berarti gak banyak yang didapat. Banyak juga kepingan berarti yang didapat di pinggir jalan hidup:

Menyoal pendapatan, minggu ini diawali dengan konser Iwan Fals yang menyenangkan.

Biarpun sudah lama tidak serius mengikuti Bang Iwan, ternyata Konser Mini Malam Senin itu benar-benar mengembalikan spirit ke-fals-an gw. Apalagi Bang Iwan sebagian besar membawakan lagu-lagu lama yang sudah gw kenal dan hapalkan, jadi biarpun sudah tidak muda lagi, gw bisa ikut bersimbah peluh, larut dalam spirit konser yang begitu hangat. Ditambah pula nonton dengan teman-teman yang 'tepat' dari Lesehan Musik dan Intan yang paling enak di-ceng-in dan digangguin.
20 tahun perjalanan panjang Iwan Fals dalam kancah musik Indonesia, telah menjadikannya bagian integral yang penting dalam sejarah musik Indonesia. Bang Iwan telah menjadikan dirinya dan musiknya sebuah fenomena sosial yang tak terbantahkan. Bukan sekedar fenomen musiman a la Inul dan Joshua, tapi juga menjadi bagian dari transformasi sosial masyarakat Indonesia.
Lewat album In Collaboration With, Bang Iwan membuktikan bahwa dirinya bukan mahluk soliter dalam peta musik Indonesia. Bang Iwan pun mampu berkolaborasi dengan sejumlah musisi papan atas yang bisa dianggap paling dominant dalam 5 tahun terakhir; Pongki Jikustik, Eross Sheila On 7, Piyu, Kikan dan jagoan gaek Harry Roesli. Hampir semua lagu dalam album ini layak diunggulkan, namun Rinduku (Harry Roesli) bisa jadi mencuri perhatian lebih, selain tentu saja single pertamanya Aku Bukan Pilihan (Pongki). Lewat Ancur (Azis Jamrud), Iwan mampu memukau dengan interpretasinya yang memadai untuk karakter Jamrud.
Kenapa Bang Iwan mau berkolaborasi? Jawabnya simple saja, "Di televisi aku lihat mereka adalah musisi yang handal. Makanya aku putuskan untuk bekerjasama dengan mereka,"ungkap Iwan. Dan sebagai yang senior, Iwan pun memberi kebebasan pada mereka dalam lagu atau aransemen, "Aku biarkan mereka berkarya sebagai diri mereka sendiri, kendati pada akhirnya mereka pun mempelajari karakterku, tapi aku juga mempelajari karakter karya mereka. Jadi akhirnya sama-sama mendalami dan akhirnya ketemu."ungkap bang Iwan dalam press release resminya. Bang Iwan sendiri tak ragu-ragu memuji adik-adik kelasnya itu,"Kikan misalnya, aku suka mendengar cara dia bernyanyi. Rileks seperti mendengar seseorang bernyanyi di beranda rumah pada senja hari," ungkap Bang Iwan dengan puitis.
Masalah tema yang semua cinta itu, Bang Iwan menjelaskan pula, bahwa ini adalah targetnya dikekinian. Dalam kondisi yang carut marut begini, sepertinya semua orang mesti disiram dengan cinta, karena itu meneduhkan. Cinta dalam skala besar, hubungan antar manusia, dari yang pribadi sampai kasih sayang massal. Ternyata Bang Iwan tetap sedang melakukan aksi protes terhadap zaman, tapi kali ini dengan bahasa yang paling universal dan halus; cinta!


link menuju Iwan Fals:
Iwan Fals' Official Site

Minggu ini dilanjutkan dengan penemuan gw terhadap Michael Bublé.

Bagi penggemar Swing Jazz, Michael Bublé (baca Boo-Blaay) jelas-jelas merupakan alternatif yang menyegarkan. Bocah Vancouver ini mampu membangun suasana mengayun (baca: nge-swing). Bermodal 13 tembang daur ulang yang sebagian besar diaransemen ulang dan diproduseri oleh David Foster dan Humberto Gatica, sangat mungkin Bublé akan meramaikan bursa Swing Jazz dunia. Kissing A Fool dan Fever adalah 2 single yang diandalkan untuk menjadi hits. Namun pilihan terhadap tembang-tembang lawas ini membuat Bublé lebih lentur mencuri perhatian. Album ini diproduseri juga oleh penyanyi gaek Paul Anka. Tapi jangan kaget, kalau gambaran penyanyi aslinya membayangi kenikmatan mendengarkan, namanya juga lagu daur ulang. Tapi yang jelas album ini definetely recommended whenever you feel a little bit romantic. Cepet-cepet dengerin album ini, soalnya ada bocoran kalo tgl 17 September ini si Bublé ini bakal ke Jakarta untuk promo albumnya.

link menuju Michael Bublé:
Michael Bublé
Reprise

Satu penemuan terakhir minggu ini adalah Novel Tanpa Huruf "R".

Sebenernya gw baru nonton trailernya walaupun berkali-kali, ditambah video klip-nya Slank yang juga digarap sekaligus oleh Aria Kusumadewa. Hari ini kebetulan gw dapetin press releasenya Novel Tanpa Huruf 'R' karya Aria Kusumadewa yang dibintangi Lola Amaria, Agastya, Yatty Surachman, Ine Febriyanti, Irma Hutabarat

Bukan hal baru film nasional diproduksi dalam format video digital dan modus produksi independen. Yang tidak biasa adalah modus distribusi film yang juga independen dan tidak mengikuti jalur bioskop pada umumnya. Namun itu yang dipilih sineas muda Aria Kusumadewa (Dewi Selebriti & Beth). Tidak seperti umumnya film nasional yang diblow-up ke 35 mm. Arya menolak proses itu karena transfer ke seluloid itu akan menurunkan kualitas estetika gambar secara tragis dan drastis.
Film ini berkisah tentang kemalangan demi kemalangan yang harus ditimpa seorang solitarian bernama Drum (Agastya), sehingga dia menjadi pribadi yang lekat dengan kekerasan. Ia justru merekam kekerasan. Catatannya atas kekerasan itu diterbitkan dalam sebuah novel. Namun jalan hidup Drum itu tiba-tiba menikung ketika tiba-tiba muncul seorang Air Sunyi (Lola Amaria) yang menentangnya. Kehadiran Air Sunyi yang membangkitkan kenangan dan traumanya.
Aria berhasil membuktikan bahwa sineas Indonesia tak ketinggalan jauh dari film asing. Tak hanya mengandalkan jalan cerita yang kuat, film ini pun indah secara sinematografis. Aria berhasil mematahkan mitos bahwa film bagus itu harus tak jelas. Film produksi Tit's Film Workshop (Hihihi...kalo aja Aria kuliah jaman sekarang bisa jadi nama perusahaan filmnya Baks Film Workshop) ini pun didukung original score menawan yang digarap Fahmi Alatas (Aku Ingin Menciummu Sekali Saja) dan original soundtrack yang dinyanyikan oleh Slank, Rikka dan Rulionzo dari Gang Potlot. Herannya VK "Bulan-Bintang" yang digarap Aria koq tak kunjung tayang ya? Padahal bagus banget tuh. Satu pertanyaan yang tersisa, apakah melawan kekerasan akan berhasil dengan mempertontonkan perihnya kekerasan?


Thursday, July 17, 2003

Kamus Gaul

Masing-masing manusia punya kekuatan, keasyikan dan kelemahannya sendiri-sendiri. "Wong akeh pirang-pirang", kata Sugeng, seorang sahabat dari masa lalu. Kalau kata gw, kita harus siap hidup dimana saja. Ekstremnya itu bahkan kita miskin pun harus gembira. Kita dalam keadaan apa pun harus tetap menemukan kegembiraan hidup, semangat hidup.

Nah, masing-masing punya kelemahan, orang bergaul itu mesti mengerti jarak karena hidup itu sebenarnya disiplin jarak. Semua ada jaraknya supaya tetap obyektif.

Salah satu hakikat ilmu hidup konon hakikat magnet, kenapa bumi, bulan dan semua benda langit selalu berada di koordinat yang seimbang satu sama lain. Karena ada dialektika magnetik antara benda-benda langit, kalau ada yang nyolong dikit daya magnetnya, dia akan membentur dan mengacaukan alam semesta. Fisik juga sebenarnya seperti itu, badan kita juga seperti itu. Kenapa dia bisa jadi suatu komposisi seperti ini? Karena dia memiliki perhubungan magnetik satu sama lain diantara partikel-partikel atom-atom proton, elektron, neutron sehingga segala macam itu sedemikian rupa sehingga keseimbangannya terjaga.

Dari kosmologi makro dan biologi mikro tadi kita belajar bercermin untuk menciptakan masyarakat yang mengerti jarak, orang sekarang ini khan gampang tenggelam, gampang latah, ngikut. Ada ini mau, ada itu dimakan, orang tidak bisa ambil jarak, orang tidak tahu magnet sosialnya, itu yang bikin orang tidak punya tradisi obyektif dalam melihat segala sesuatu, karena dia langsung tenggelam. Masalahnya kita tidak terdidik sama sekali untuk itu sama sekali, bahkan juga tokoh-tokoh kita. Banyak yang jatuh karena keliru jarak itu akhirnya kehilangan kuda-kuda, kehilangan titik koordinat yang obyektif.

"Sebenarnya begini, Saya bergaul dengan siapa saja, tapi pergaulan saya dengan mereka itu menomorduakan status sosial", kata Emha Ainun Nadjib.

Ada teori transendensi yakni teori pembebasan diri. Boleh saja masuk kandang kambing tapi khan tidak harus mengembik, tak perlu jadi kambing, khan banyak yang seperti itu khan bisa jadi penyanyi tapi tak perlu jadi selebritis, anda bisa jadi camat tapi tetap bisa ke warung sehingga estetika atau kecenderungan budaya seorang camat yang birokratis bisa anda hancurkan dengan perilaku yang bersahaja.

Tapi banyak orang lebih mengandalkan status daripada kepribadiannya, makanya gubernur tidak ingin menjadi bukan gubernur, mengapa bupati ingin jadi bupati terus. Karena status bupatinya lebih besar dari pada dirinya, begitu tidak jadi bupati lagi maka hilang dirinya, karena dirinya kecil, itu namanya kekerdilan. Kalau anda orang besar, anda lebih besar dari status-status itu, anda tidak jadi apa pun anda besar. Ini yang namanya transendensi, kita transenden dari kedudukan-kedudukan


link hari ini:
Kamus Gaul Sederhana
Kamus Gaul via SMS

Wednesday, July 16, 2003

Puisiku

Waktu

Waktu
Kenapa tak mau menunggu
Lihatlah ku berlari mengejarmu
Langkah tersuruk di jalan berdebu

Mata kaki mata hati
Kenapa tak mau pergi
Bagai tersangkut pada duri
Terikat pada penggal memori


Sekeloa, 11 Februari 2002

Reportase Sunyi

Dan angin yang manja
Meniupkan kerinduan
Untuk pulang ke haribamu
Tapi jarak yang terlalu panjang
Membentang sebuah ruang
Antara kau dan aku
Hingga kita terasing
Satu sama lain
Hanya imaji tentang hadirmu
Menuntun pelayaranku
Semoga sampai di dermagamu


Jl. Kampus II Bandung, Juli 1999

Senja Kerinduan

Senja yang habis bersamamu
Sungguh mengguncang aras eksistensiku
Banjir cahaya di matamu
Menerbangkanku
Mencapai awan-awan ketinggian
Aku takluk padamu

Haruskah kini ditangisi
Bahtera karam di pantai mimpi
Akankah ada yang peduli
Jiwa yang lantas kering dan mati


Surabaya, 25 Desember 2001

Benak

Sebuah ruang bernama benak
Pertarungan abadi impian dan kenyataan
Cermin-cermin retak dalam tangisan
Atas bayang yang terpantulkan
Tentang kehancuran konstruksi impian
Menyisakan keterasingan
Sebuah hidup dalam keputusasaan
Pandangan kabus ke masa depan
Tanpa harapan

Mengapa diri sendiri
Ternyata sulit dicari


Manggarai, Agustus 2001

Friday, July 11, 2003

Pengorbanan

Kadang kala ada hal-hal dalam hidup yang menuntut kita memberikan lebih dari kapasitas kita. Semestinya hal-hal itu adalah hal yang menempati prioritas terpenting dalam hidup kita. Pertimbangannya bisa macam-macam; durasi, hubungan, pengaruh, maupun kapabilitas. Tapi ada kalanya kita mengacaukan berbagai prioritas dalam hidup kita karena apa yang disebut insting, intuisi atau hati nurani. Kalau begitu masih bagus, chaos of priorities bisa juga terjadi karena kebodohan-kebodohan kecil atau besar yang kita lakukan. Akibatnya kerugian yang diderita akibat pengorbanan yang harus dilakukan tidak sebanding dengan hasilnya, kalo dalam bahasa ekonomi Negeri Malaka,"Besar pasak daripada tiang", alias sia-sia. Kalo dah gitu maka Elton John yang punya jawabannya:

Mutual misunderstanding
After the fact
Sensitivity builds a prison
In the final act

We lose direction
No stone unturned
No tears to damn you
When jealousy burns

And it's no sacrifice
Just a simple word
It's two hearts living
In two separate worlds
But it's no sacrifice
No sacrifice
It's no sacrifice at all


Gw sendiri gak memungkiri bahwa gw sering mengabaikan prioritas dengan mengorbankan hal-hal penting dalam neraca rasional. Tapi, beberapa pengorbanan yang irrasional itu, to some extent punya alasan sendiri yang lebih kuat bagi gw sendiri secara instingtif. Kadang kala sebuah pengorbanan pun tidak membuahkan hasil yang kita inginkan, nah itu makanya disebut pengorbanan, jadi siap-siap aja jadi korban. Walaupun sebuah pengorbanan memang ada batasnya ! Seperti kata Bob Marley

I don't wanna wait in vain for your love

I don't wanna wait in vain for your love.
From the very first time I rest my eyes on you, girl,
My heart says follow t'rough.
But I know, now, that I'm way down on your line,
But the waitin' feel is fine:
So don't treat me like a puppet on a string,
'Cause I know I have to do my thing.
Don't talk to me as if you think I'm dumb;
I wanna know when you're gonna come - soon.
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love,
'Cause if summer is here,
I'm still waiting there;
Winter is here,
And I'm still waiting there.

--- Guitar solo ---

Like I said:
It's been three years since I'm knockin' on your door,
And I still can knock some more:
Ooh girl, ooh girl, is it feasible?
I wanna know now, for I to knock some more.
Ya see, in life I know there's lots of grief,
But your love is my relief:
Tears in my eyes burn - tears in my eyes burn
While I'm waiting - while I'm waiting for my turn,
See!

I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love;
I don't wanna wait in vain for your love, oh!
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna wait in vain.
No, I don't wanna (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
No I - no I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna - I don't
wanna - I don't wanna wait in vain) -
No, no-no, I, no, I (I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna wait in vain) -
It's your love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from.
It's Jah love that I'm waiting on (I don't wanna - I don't wanna -
I don't wanna - I don't wanna - I don't wanna wait in vain);
It's me love that you're running from


link pagi ini:
Marley Universe
Jangan sampe mengorbankan diri untuk begini!

Friday, July 04, 2003

Inuliscious

Puaskanlah mata Anda pada Inul Daratista, bintang Dang Dut asal Pasuruan yang tak sungkan tampil menggoyang bokong bak gasing yang masih baru dan mengkilat…

Inul memang fenomenal, Inul memang bintang, Inul memang loveable
Sejuta puja-puji mengalir banjir pada Inul. Perempuan lugu, bersuara merdu tapi sering tak terperhatikan karena goyang mautnya yang luar biasa. Inul yang bisa jadi berita sejak Februari sampai Mei, Inul yang pernah lebih sering muncul di tv ketimbang Megawati. Inul yang bukan aktivis sama sekali tapi bisa jadi simbol perlawanan kelompok.
Tapi benarkah Inul fenomena?

Tadi malam Inul mengadakan Malam Terima Kasihnya untuk wartawan di Pasir Putih. Ternyata Inul memang loveable, gw gak bisa nemuin cara yang paling efektif untuk mengungkapkan kesan gw. Gw dah gak peduli lagi sama suara Inul apalagi goyangnya, atau bagaimana dia memperoleh blessing in disguise lewat oposisi Oma Irama. Tapi bagi gw, Inul gak memancarkan aura yang sexual sama sekali, ketika kita melihat dia di atas panggung, maka kita melihat seorang pekerja seni yang tulus bekerja keras, ketika dia tertawa setelah diceburin rame-rame oleh wartawan hiburan yang begitu menyayanginya dia tertawa begitu tulus seperti anak kelas 3 SD yang tengah bercanda dengan sahabat-sahabatnya, ketika dia cipika-cipiki sebelum pulang, gak ada suasana kegenitan sama sekali yang ada adalah ketulusan seorang sahabat yang benar-benar takut kehilangan dan tidak bertemu kawan-kawannya. Inul memang dicintai, tapi Inul dicintai bukan karena goyang, Inul dicintai karena Inul ! Ternyata Inul bukan bintang, dia adalah sahabat. (Atau gw yang terlalu naif?)

Memang orang boleh berteori macam-macam tentang meteoric rise of Inul. Tapi bukankah Inul bukan seorang saja yang seperti itu? Dulu ada Joshua, apa-apa Joshua, tapi lihat lah dia sekarang, dulu ada Desy Ratnasari tapi lihatlah dia sekarang. Media memang bisa mengangkat seseorang ke puncak popularitas, tapi sanggupkah media memeliharanya? Seperti film Mad City karya Costa-Gavras yang dibintangi Dustin Hoffman, di situ bisa kita lihat bagaimana media bisa membuat seseorang bisa begitu dicintai pada suatu ketika, namun pada ketika yang lain dengan sekejap mata media bisa membunuh karakter itu dan menenggelamkannya tanpa belas kasihan! Makanya jangan main-main sama media.

Tapi Inul memang loveable, akan seberapa jauhkah sahabat-sahabat jurnalisnya ini setia mendampingi Inul, mengingatkan Inul kalau salah, bergembira bersama Inul kalau dia gembira. Atau seberapa lamakah Inul mampu mempertahankan cinta di hati sahabat-sahabatnya? Ataukah suatu saat masing masing akan berhadapan punggung lantas berjalan ke arah yang saling berbeda. Lantas Inul pun terkoyak oleh keganasan kapital karena sekarang pun Inul sudah jadi obyek yang lezat bagi kapital, karena Inul sudah jadi Inuliscious, Inul yang lezat. Ah, Entah...

Semoga Inul tetap terjaga.... Semoga kita tetap terjaga....

Yang pingin tahu lebih banyak soal Inul:

Buat yang mau ikuti goyangannya Inul
Lirik lagu hits terbaru Goyang Inul

Wednesday, July 02, 2003

Wartawan



Dua orang wartawan RCTI hilang di Aceh, entah mengapa, entah bagaimana dan sampai kini entah dimana.

Ada yang bilang kerja jadi wartawan itu enak, tapi gak sedikit juga yang mengeluh betapa melelahkannya jadi wartawan. Ada seorang teman yang cukup oke sebagai wartawan musik, akhirnya memilih retired dan memilih jalur perbankan sebagai pilihan karier. Gue sendiri gak terlalu pusing dengan pekerjaan ini, yah namanya juga kerja, kadang-kadang ada mumetnya tapi gak jarang juga asyiknya.

Menjadi Wartawan konon tak sekedar sebuah karier. Menjadi wartawan oleh beberapa orang teman juga dijadikan ladang menyemai idealismenya tanpa ikut memutar roda kapitalisme semu dan materialisme. Walaupun tentu gak semua begitu. Cuma aja, sejak lepas masa kuliah, gw berkesempatan jadi wartawan resmi cuma buat rubrik hiburan atau film doank. Jadi kadang-kadang kalo pingin nulis yang lebih serius dan yang jelas tidak menghibur, gw cuma bisa nulis artikel atau resensi buku aja. Sebenernya pingin juga bisa mengubah dunia dengan tulisan-tulisan gw. Setidaknya, gw pingin lewat tulisan menegaskan posisi gw dan sikap gw atas berbagai fenomena. Tapi apa benar bisa?

Seorang Produser Liputan 6 SCTV dipecat karena (konon) melanggar etos kerja jurnalisme

Nah, apa gw bilang ternyata bekerja jadi wartawan gak selamanya bisa benar-benar mengekspresikan apa yang kita mau. Karena kendati seperti ditulis Emha Ainun Najib dalam Opini Plesetan (Oples) di tabloid Detik bahwa wartawan menulis pun menggunakan sesuatu yang namanya relativitas subyektif namun penggunaannya pun gak bisa tanpa pertimbangan yang matang. Jelas harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip konvensional seperti cover both sides, dll. Jelas beda banget dengan masa-masa kuliah ketika harus nulis pamflet atau pers mahasiswa yang jelas sekali berpihak kemana.

Tapi seperti kata berbagai pengantar teori jurnalistik, bahwasanya Press is the Fourth Pillar, atau seperti judul bukunya Omi Intan Naomi, Pers adalah Anjing Penjaga. Maka guidelines seorang wartawan adalah kebenaran. Tapi kebenaran yang mana? Rendra si Burung Merak pun pernah menjerit lewat puisi Pamflet-nya yang terkenal itu "Mengapa kebenaran dengan kebenaran harus bertarung" (sala-sala kate maapin aje ye!!). Lantas apa yang harus gw yakini sebagai kebenaran? Khan gw pingin juga menulis sesuatu yang berpijak pada kebenaran, menulis sesuatu dengan kesadaran! Kalo kata Emha (lagi!) dalam puisi jadulnya

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?


Kembali ke kasus dua orang wartawan RCTI yang hilang di Aceh. Gw merasa kita harus bersikap. Tidak sekedar supaya orang harus mulai merasa penting menegakkan kedaulatan jurnalisme tapi juga karena perang ini telah berlangsung terlalu lama, kini sudah waktunya mengibarkan bendera perdamaian. Pedih juga membaca nama-nama tempat yang lekat dalam memori gw porak-poranda seperti itu, sekarang sudah waktunya berdamai. Semoga ada yang dengar.

Sepotong sya'ir dari Wiji Thukul yang sering dinyanyikan di aksi-aksi sebelum 1998:

"Ku harus melangkah dan berkata-kata...Ku harus melangkah dan berkata-kata.."

Friday, June 27, 2003

Bandung

Mengapa Bandung jadi begitu penting? Setidaknya begitu lah yang gw rasakan. Gak sekedar bahwa gw kuliah disana, atau gw lahir disana, tapi yang terpenting gw berkembang disana. Disana gw mengenal hitam, putih dan abu-abu. Disana juga gw mendalami merah, hijau, biru, lalu kembali jadi hitam. Setelah hampir 2 tahun secara intensif mengabdi pada peradaban kota, di Jakarta sini. Still, there's a part of my heart which always drive me back to Bandung. Kalo Koes Plus menyanyikan bahwa ke Jakarta aku khan kembali. Nah, theme song gw ya Ke Bandung aku khan kembali.

Waktu gw masih di Bandung dulu, gw benci banget sama org-org Jakarta yg suka ke Bandung pas weekend, bikin macet jalan aja, bikin transportasi susah, bikin pengap dan cape, eh sekarang gw bergabung dalam barisan mereka, berbondong-bondong ke Bandung setelah hari-hari kerja usai.

Minggu ini begitu penuh dengan kenangan akan Bandung! Minggu ini adalah kenangan akan Jatinangor, akan Dipati Ukur, akan Dago, akan BIP, akan KAU, akan GS, akan Mukti-Mukti, akan Mas Kris dan Rindu Order, akan Gedung Sate, akan KMUP dan Dede, akan Rospita, akan Pak Chandra, akan Dewi, akan Mbak Dhany, akan Tedy, akan CCF, akan Jurang dengan Luken, Bob, Iccang, Tari, Uni, Lulu, Yayan, Wawan, Lu'mank, Unru, AA', Teteh, Rera, Budi, Cuwith, GunX, De Wan, dll., akan Purnawarman, akan Buah Batu, akan Braga, akan cinta dan air mata, akan perjuangan dan kekalahan, akan malam-malam yang begitu dingin.

Minggu ini begitu penuh dengan kenangan akan kenangan. Gw ngejar kereta paling malam untuk mencapai Bandung, mencuci segala kepenatan dan sakit hati, impian-impian yang padam sebelum subuh tiba. Untuk kembali ke lingkaran sirkuler rutinitas lagi. Gw inget sebuah lagu lama dari Bimbo, yang gw senandungkan di atas kereta waktu gw tanpa sadar mulai pindah mukim ke Jakarta.


Jumpa Untuk Berpisah

Walaupun terlalu manis untuk dilukiskan
Dengan kata, untuk kujadikan sebuah syair

Tetapi terlalu pahit untuk dikenang
Kenanganku yang pernah kualami bersamamu

Jangan kau harapkan
Ku akan mencari gantimu
Kini ku pergi
Mencari diriku sendiri

Mengapa waktu itu kita harus berjumpa
Mengapa kini kita harus berpisah lagi

Monday, June 23, 2003

Porno

Pornografi...Pornoaksi...Sekarang naik daun lagi
Banyak orang yang mengomentari
Ada yang berteori, ada pula yang cuma basa-basi

Masalah pornografi ini gak pernah tuntas, sebagian orang menyalahkan kebebasan pers yang memungkinkan orang menikmati pornografi konon tanpa rasa bersalah. Lantas mulai banyak orang yang berkata-kata tentang betapa indahnya kala sensor masih dihalalkan. Walaupun banyak aspirasi, inspirasi dan ekspresi yang terberangus karenanya.

Padahal makin dikekang pornografi, maka makin mahal harganya. Menghentikan perdagangan pornografi? Ah itu cuma mimpi, pernah berhasil gitu usaha membunuh kesukaan orang pada hal yang berbau seks?
Rasanya gak juga deh. Gak Ratu Victoria...gak Jan Pieterzoon Coen, gak Jerry Falwell, gak juga Soeharto. Yang ada justru legalisasi dan formalisasi dengan harga tertentu tapi pada intinya pengumbaran hawa nafsu dasar manusia juga.

Gw sendiri berpendapat bukan pornografinya yang harus diberantas. Biarkan lah pornografi jadi salah satu pilihan, nah sediakan lah juga pilihan lain. Agama, pengetahuan, dan yang terpenting adalah kesadaran. Bak kata Rendra dalam Paman Doblang yang dinyanyikan Kantata Takwa, Kesadaran adalah Matahari. Dengan pilihan kita bisa menempatkan pornografi pada porsinya yang tepat. Cuma diakses kalo dibutuhkan. Yah sebagai alat bantu pada kondisi tertentu.

Kalau mengingat dahsyatnya kesuksesan marketing majalah Play Boy, kendati sex cukup bebas di AS. Kita boleh saja lantas ragu, apa mungkin pilihan-pilihan itu akan bekerja dengan baik. AS cukup terkenal sebagai pelopor free world di dunia. Tapi ternyata pornografi tetap marak dan meluas dimana-mana.
Tapi bukan kah itu berarti pembangunan terhadap aspek-aspek lainnya yang tidak dibangun dengan utuh, tidak ditegakkan pada aras eksistensinya, dalam kasus pornografi di AS saja misalnya sikap yang ada dari pilihan lain bersifat reaksioner (yah sama lah seperti di Indonesia...) akhirnya musuhnya sebatas pornografi dan perang usai ketika pun pornografinya dihambat, sementara itu pilihan lain itu tidak lantas mengembangkan diri secara utuh untuk menjadi filter yang ketat dan mengantar manusia pada peradaban cahaya. Jadi ketika pornografi muncul lagi, ya semarak lagi...Kalau memang begitu, buat apa dilarang?

Ketakutan akan pornographic rules hanya memperlakukan manusia secara tidak manusiawi, karena mengabaikan bahwa manusia dapat berpikir dan berakal sehat, mengabaikan kenyataan bahwa manusia bisa punya kesadaran untuk memilih mana yang baik untuk dirinya dan mana yang buruk untuk dirinya, mana yang ia butuhkan dan mana yang tidak ia butuhkan.

Waktu kasus Sex, Lies and Video CD's nya Nanda-Adi (alias Anak ITENAS) muncul gw sempat bikin tulisan yang dimuat di Sinar Harapan. Kasusnya sudah out of date tapi mudah-mudahan masih ada yang nyangkut dalam kasus ini:


"Represi Seksualitas, Kapitalisme dan Krisis Keberagamaan", Tulisan gw tentang Seksualitas di Sinar Harapan

Friday, June 20, 2003

Sahabat

Sahabat datang dan pergi tanpa dapat tertebak, kadang kala seorang sahabat yang telah berbagi cerita bertahun-tahun, berbagi impian, cita-cita, suka dan duka, lantas walk away hanya karena sesuatu yang sangat sepele. Lantas kita cuma bisa menyenandungkan 2 baris dari lagu Burung Camar-nya Vina Panduwinata

Tiada teman berbagi derita
Bahkan untuk berbagi cerita



Pada suatu ketika dulu, gw sering banget ngerasa kenapa harus terjadi? tapi sekarang setelah berkali-kali sahabat datang dan pergi, ternyata dah jadi biasa aja. Once, Mariza pernah bertanya, lo gak punya sahabat yang selalu bersama ya sejak kecil? Dulu pertanyaan begitu memukul banget, tapi sekarang gw dah bisa angkat kepala dan bertanya, kenapa hal itu jadi masalah banget?

Tapi ternyata semua orang mengalaminya. Bahkan kalo mau jujur, tanya aja ke diri lo sendiri, benarkah loe punya sahabat yang bener-bener sahabat sejak lo kecil. Tempat loe bisa berbagi segala hal dalam sisa perjalanan hidup loe.

Jadi gak usah khawatir, ternyata tiap orang punya sisi kesepian dalam dirinya. Kalau sudah gitu, nikmati aja lagi. Kali aja loe bisa lebih kreatif dan menghasilkan banyak karya dalam kesendirian itu. Inget aja yang penting tuh bukan durasi tapi kualitas hubungannya. Kembali ke masalah sahabat, Gordie Lachance dalam film Stand by Me karya Rob Reiner, berkata di akhir film, It happens sometimes. Friends come in and out of our lives like busboys in a restaurant.

Nah khan....
jadi biasa aja. Tapi apa jadinya hidup tanpa seorang sahabat? Mark Renton dalam Trainspotting aja akhirnya berani meninggalkan sahabatnya untuk kemudian mencari hidup yang menuju cahaya. Gw sih selalu yakin akan selalu ada teman yang berkualitas yang hadir setiap saat. Kalo nanti dia pergi yah gw tingal nyanyi lagu Carole King yang jadi theme songnya A League of Their Own yang sempat jadi lagu favorit gw bertahun-tahun...


Now And Forever
Carole King


Now and forever you are a part of me
And the memory cuts like a knife
Didn’t we find the ecstasy
Didn’t we share the daylight
When you walked into my life

Now and forever I’ll remember
All the promises still unbroken
And think about all the words between us
That never needed to be spoken

We had a moment
Just one moment
That will last beyond the dream
Beyond the lifetime
We are the lucky ones
Some people never get to do
Oh we got to do
Now and forever I will always think of you

Didn’t we come together
Didn’t we live together
Didn’t we cry together
Didn’t we play together
Didn’t we love together
And together we lit up our world

I miss the tears
I miss the laughter
I miss the day we met
And all that followed after
Sometimes I wish I could always be with you
The way we used to do
(oh)
Now and forever I will always think of you
Now and forever I will always be with you
(oh)


Tapi ingat lah 1 hal lain, seperti kata Iwan Fals,: Jangan tutup dirimu... Jadi teruslah mencari sahabat sebanyak-banyaknya

Blog

Akhirnya berkat kesabaran dan kerja keras serta sedikit bimbingan dari Nabinya Blogger Indonesia --(ssst...You know Him!!!) akhirnya weblog gw menampakan wajah aslinya, maaf masih garink, kebanyakan baru coba-coba
Kantor, Kancut dan Kiamat

Masih belom banyak yang bisa dilakukan di kantor... yang jelas sementara yah menikmati waktu luang dengan chatting dan browsing, tapi gak banyak juga hal baru yang bisa ditemukan.

Tadi malam sempat ke launchingnya Netral dan dapet kancut beneran sebagai marchandise. Freak juga sih! Tapi ternyata emang anak-anak Netral asik-asik orangnya. Album barunya yang berjudul Kancut juga lumayan, musiknya dinamis dan kayanya se-album bisa jadi hits semua.

Setelah Janus meluncur di peta film nasional, malam ini akan ada lagi film nasional terbaru judulnya Kiamat Sudah Dekat karya sutradara Deddy Mizwar, bagus gak ya? Besok deh gw critain


Link pagi ini:


Missheard Lyric-Ayo pada ngaku, suka salah nebak lirik !!!

Thursday, June 19, 2003

My Blog

Kayanya gw dah mulai tahu dimana kesalahannya, btw we just have a nice, happy and warm lunch. To finish the day I suggest you to check out this one:

master of psycho test...kalo mo look inside yourself...good luck!

PAGI YANG CERAH, PAGI YANG LELAH

Akhirnya gue pindah kos (again?), dari Kebayoran Baru yang resik, tenteram dan ijo royo-royo ke Cikini yang ramai dan entah...,

It feels like deja vu, seperti waktu meninggalkan Bandung dan menuju Jakarta, gw meninggalkan sebuah kehidupan yang begitu menyenangkan atas nama masa depan, iya gituh?

Anyway, Pagi ini kantor dilanda morning sickness kekeke..., kalo gw emang kurang tidur gara-gara pindahan tadi malam, kalo yang lain mengeluh betapa macetnya jakarta,hari ini semua telat kecuali gw, Rika n' Richard.

Emang macet di Jakarta, susah diduga dan seperti kata Vero, bisa macet aja tanpa sebab musabab atau asal muasal. Kalaupun ada asalnya, bisa apa aja dari mulai keluarga B1 atau B2 lagi jalan-jalan, demo kerusuhan, kecelakaan, sampai Inul bisa bikin macet. Nah, bener khan gw memilih nge-kost?


link pagi ini:...(biasa masih belajar...)

Janus Prajurit Terakhir - Film Nasional terbaru yang dibintangi Jamie Aditya, Reggie Lawalatta dan Derby Romero

When You Have Nothing Better To Do kalo bosen-bosen klik sini aja beberapa diantaranya bener-bener aneeeeh....

Ini kalo mau tau di bidang apa gue bekerja...kekeke

Wednesday, June 18, 2003

Foreword

Setelah berusaha mempelajari blog dalam 4 tahun ternyata berhasil juga gw posting, ko bisa ya dulu rasanya susah banget ternyata hari ini gampang-gampang aja. semoga aja berhasil
IBX5899AACD4E772